Komunitas Tanpa Syarat

dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. (Kolose 3:11)

Kita hidup di dalam dunia di mana ada begitu banyak syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Dalam hubungan pekerjaan atau bisnis, syarat dan ketentuan memang diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi kekacauan. Akan tetapi masalahnya adalah, syarat dan ketentuan itu pun sudah menjadi bagian dalam hubungan antara manusia. Bahkan pasangan yang akan menikah pun sekarang sudah lazim membuat perjanjian pra-nikah, yang mengatur apa yang akan terjadi seandainya nanti mereka bercerai.

Gereja sebagai komunitas orang percaya, yang dipanggil keluar dari kehidupan yang penuh dosa oleh kasih karunia Allah, harus menghadapi kenyataan ini sebagai sebuah tantangan. Mengapa demikian? Karena banyak orang sekarang ini juga takut atau enggan datang ke gereja karena merasa diri mereka tidak dapat memenuhi ‘syarat dan ketentuan’ yang berlaku untuk dapat diterima di gereja. Apakah syarat dan ketentuan untuk diterima di gereja? Kekudusan, atau banyak lagi yang lain?

Kalau kita membaca Injil, kita akan menemukan bahwa ada banyak kisah tentang orang-orang yang tidak memenuhi ‘syarat dan ketentuan’ yang bahkan ada dalam kitab suci. Lihatlah cerita Saulus. Ketika Ananias, seorang hamba Tuhan di Damsyik, disuruh Tuhan untuk mendoakan dia, Ananias menolak, karena Saulus terkenal sebagai seorang yang memimpin teror terhadap orang Kristen di Yerusalem. Demikian juga Zakheus, seorang kepada pemungut cukai. Di mata orang Yahudi dia sama sekali tidak memenuhi syarat untuk mendapat keselamatan. Akan tetapi, Yesus mengatakan tentang dia: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.” (Lukas 19:9). Begitu juga dengan seorang yang kerasukan roh jahat sebanyak legion Romawi. Dia yang begitu ganas sehingga harus dikucilkan di pekuburan di Gerasa. Dia bahkan bukan orang Yahudi. Akan tetapi, Yesus melintasi danau yang dilanda angin topan hanya demi menemui dia. Dan untuk membebaskan dia Yesus membiarkan satu kampung di Gerasa kehilangan mata pencaharian (Markus 5:1-20). Atau Anda mungkin ingat cerita perempuan yang diseret ke depan Yesus karena kedapatan berzinah (Yohanes 4), dan perempuan Samaria yang sudah menikah 5 kali dan hidup bersama dengan laki-laki yang bukan suaminya (Yohanes 8)? Mereka semua tidak layak untuk disambut di gereja? Yesus menyambut mereka dengan hangat.

Gereja adalah tempat di mana kasih Allah nyata. Kasih Allah harus dinyatakan dengan sekuat-kuatnya, sama seperti kuasa dan kebenaran-Nya. Jika orang-orang berdosa tidak dapat lagi datang ke gereja karena terhalang oleh ‘syarat dan ketentuan’ yang dibuat oleh gereja, ke manakah lagi mereka dapat pergi? Padahal Yesus jelas mengatakan: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:10).

Gereja harus menjadi tempat di mana tidak ada syarat dan ketentuan yang diajukan. Siapapun boleh datang. Sekelam dan sehancur apapun masa lalunya, dia boleh datang. Sekeji dan sebrengsek apapun dosa-dosanya, dia diterima dengan hangat. Tidak ada pembedaan status sosial, ras, ataupun suku bangsa. Petrus menyatakan hal ini di rumah Kornelius, seorang perwira Italia yang didoakannya, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kisah Para Rasul 10:34-35). Siapapun diterima, dan mengalami hidup yang baru di dalam kasih karunia. Haleluya!

 

Foto: Shine Jogja

0 Likes

Sammy Ladh

Just a bastard saved by grace. Studied English literature and Theology. Founder of Yayasan Rumah Impian Indonesia and a humble servant at Shine Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This