Tag Archives: Polisi

Kepada Prajurit Muda yang Gugur Saat Bertugas; Kepada Nurani Kita

Sudah jamak buat kami, wartawan foto yang bertugas, saat akan memotret demo atau aksi massa, kami akan mengambil gambar dari sisi aparat keamanan, bisa itu polisi atau tentara.

Kenapa begitu? Karena dari sisi keamanan, memotret di belakang aparat dan kamera menghadap ke massa merupakan hal yang jauh lebih baik dan dari segi nilai berita pun jauh lebih tinggi karena pembaca atau pemirsa pun ingin tahu ekspresi demonstran dan apa yang dilakukan para demonstran.

Saya sendiri sebagai wartawan foto di Harian Sinar Harapan dan sekarang di sinarharapan.net juga sering melakukan hal yang sama dengan teman-teman fotografer lainnya.

Karena itulah, tak heran antara wartawan–dalam hal ini wartawan foto atau wartawan tulis–punya kedekatan dengan aparat keamanan.

Kami memang simbiosis mutualisma, selain soal memilih posisi yang aman saat bertugas. Wartawan butuh berita yang sifatnya “paling pertama” diketahui dan sahih yang biasa didapat dari pergerakan aparat yang memberi informasi, dan juga aparat butuh wartawan agar apa yang dilakukan terpublikasi sehingga pesan yang ingin disampaikan ke masyarakat akan teramplifikasi dengan baik.

Wartawan dan aparat keamanan juga sering kali menghadapi bahaya yang bisa saja terjadi di lapangan dan mengancam keselamatan jiwa raga. Banyak kisah wartawan meninggal dalam bertugas di lapangan, sama seperti aparat–baik polisi maupun tentara–yang meregang nyawa dalam bertugas.

Karena itu, saya merasa sedih dan berempati yang amat sangat setiap kali mendengar bom yang diledakkan teroris dan yang menjadi korban adalah aparat keamanan. Akhir-akhir ini, aparat kepolisian memang menjadi incaran aksi teror.

Tak terkecuali ketika bom bunuh diri meledak di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Rabu, 23 Mei 2017, tepatnya di Halte Transjakarta. Korban yang tewas ternyata juga terdiri dari unsur kepolisian.

Bripda Imam Gilang, Bripda Taufan Tsunami, dan Bripda Ridho Setiawan adalah korban yang gugur ketika bertugas mengamankan jalannya pawai obor yang melewati Terminal Kampung Melayu. Dan masih ada enam lagi anggota kepolisian yang berjibaku dengan luka-luka yang mereka alami saat ini.

Sedih.

Para polisi ini baru bertugas sekitar dua-tiga tahun. Usia pun rata-rata baru 21-25 tahun. Karir masih panjang, dan sudah pasti jadi kebanggaan orang tua dan keluarga.

Namun, usia muda dan semangat melayani masyarakat itu hilang lenyap terenggut bom bunuh diri yang ditilik dari segi mana pun enggak akan ketemu faedahnya buat orang-orang yang meledakkan diri itu terlebih lagi bagi masyarakat.

Secara normal, kejadian seperti ini pasti bisa membuat kecut Bripda-bripda lain, meskipun para senior mereka seperti Wakapolri memberi semangat dan kekuatan untuk tidak takut dan terus fokus bertugas.

Yang lebih membuat sedih, kematian para pemuda ini pun masih ada yang menganggapnya sebagai bagian dari rekayasa polisi untuk mengalihkan isu dan untuk menghantam “umat”.

Rasa kemanusiaan sudah tumpul. Jasad para polisi muda itu baru saja tertutup tanah, dan keluarga belum kering air matanya. Bagaimana perasaan keluarga dan orang-orang tercinta para Bripda ini jika mereka mengetahui tuduhan-tuduhan seperti itu di jagat media sosial?

Beberapa orang di medsos memicu isu rekayasa untuk memuaskan dahaga mereka sendiri atas teori konspirasi, tetapi menafikan adanya nyawa orang lain. Hai kawan, nurani Anda sudah matikah?

Bagaimana jika ada orang lain bermain-main dengan teori rekayasa yang memakai nyawa orang-orang tercinta Anda sendiri?

“Eh besok dari keluarga lu bakal ada yang kenapa-kenapa deh kayaknya. Nah kalau benar, jangan-jangan itu cuma pengalihan isu doang” …Apakah Anda ingin ada orang yang berbicara seperti itu depan muka?

Nurani kita harus bicara. Jika nurani sudah mati, setidaknya ingatlah bahwa kita tidak ingin hal-hal buruk terjadi atas orang-orang yang kita cintai, sehingga janganlah berpikir hal-hal yang buruk tentang orang lain, karena orang lain itu juga ada yang mencintai.

 

Foto: Jessica Wuysang, wartawan foto Kantor Berita Antara Biro Kalimantan Barat.

Keterangan foto: Dua prajurit TNI AD berupaya menahan aksi warga saat terjadi keributan di Jalan Gajahmada, Pontianak, Kalbar, Sabtu (20/5/17).

 

Tentang #fitsahats dan BAP

Sedang trending #fitsahats di media sosial. Bermula dari keterangan salah satu saksi kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama di dalam BAP alias Berita Acara Pemeriksaan.

Saya bukan pakar hukum, tapi saya pernah berurusan dengan hukum beberapa kali. Sebagai wartawan, saya juga pernah ditugaskan meliput kasus-kasus hukum. Karena itu, mau tak mau, saya harus belajar mengenai hukum, perundang-undangan, hukum pidana, perdata, sampai hukum acaranya.

Tujuannya, supaya saat memberitakan sebuah kasus kepada publik, saya bisa memahami persoalannya dan bisa menulis dengan jernih.

Makanya, saya mengerti pentingnya BAP ini. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pada pasal 187 huruf (a) sudah mengatur bahwa berita acara, termasuk berita acara pemeriksaan saksi, merupakan alat bukti surat.

Pakar hukum juga mengatakan bahwa sesungguhnya berita acara itu dapat disamakan dengan suatu keterangan saksi yang tertulis. Ia adalah bukti yang sah di pengadilan.

Sebagai bukti hukum yang sah, adalah sebaiknya BAP ini disusun dengan sebenar-benarnya. Soalnya kalau keterangannya palsu, di pemberi kesaksian bisa kena pidana.

Saya ingat, dalam pemeriksaan untuk pembuatan BAP di depan polisi yang pernah saya jalani, petugas akan mengkonfirmasi betul keterangan yang saya ucapkan.

Kalau ada keterangan yang kurang jelas, polisi akan meminta saya mengulang atau mengejanya. Termasuk untuk penyebutan kata-kata asing, nama, tempat, dan sebagainya.

Setelah itu, polisi akan membacakan kembali keterangan itu, meminta saya memastikan bahwa semua keterangan sudah benar adanya. Setelah itu, saya akan diminta menandatangani BAP.

Typo dalam pengetikan? Sebetulnya biasa saja terjadi.

Tapi sepanjang pengalaman saya bekerja di dunia tulis menulis, kalau typo sampai dua suku kata, menurut saya sih bukan typo namanya. Itu mah sengaja. Bisa jadi, si saksi memang menginginkan keterangannya begitu.

Atau polisi mungkin menulis persis seperti pengucapan saksi. Tapi kan habis itu si saksi disuruh periksa sebelum ditandatangani.

Meski begitu, kalau melihat materinya, sebetulnya enggak signifikan banget sih soal #fitsahats ini dalam kasus hukum yang sedang berproses di pengadilan itu. Kurang ngaruh lah.

Kita ambil hikmahnya saja rame-rame ini. At least, ada hiburan baru di media sosial yang panas. Sesuatu yang bikin kita bisa ketawa bareng. Kalau ada yang kupingnya panas, ya mohon maap yak. Bukan maksud.