Simak Panduan MOS yang Benar, Kalau Aneh Laporkan!

Tradisi perploncoan apa pun alasannya harus dihentikan! Dalam hal ini, sepakat dengan sikap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang secara resmi melarang kegiatan perploncoan di acara Masa Orientasi Sekolah (MOS) pada awal tahun ajaran baru.

Perploncoan sangat dekat dengan bullying dan bullying jelas tak bisa dibiarkan terus berkembang dan berkelanjutan, terutama di dalam lembaga pendidikan.

Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengatakan, kegiatan MOS sebaiknya benar-benar diisi dengan acara pengenalan kegiatan sekolah dan mendekatkan pihak sekolah dengan orangtua.

Itulah sebabnya, mulai tahun ajaran yang baru mendatang, OSIS tak diizinkan lagi jadi penyelenggara MOS. Ini termasuk larangan memakai atribut-atribut yang tak logis dan aneh-aneh di tubuh siswa baru.

Penyelenggaraan MOS jadi tanggung jawab guru. “Kalaupun ada murid yang diajak, harus diseleksi dengan ketat,” kata Pak Menteri.

Aturan dan tata cara MOS yang benar sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.

Berikut panduan MOS seperti diatur oleh Permendikbud itu:

Arti MOS:
Pengenalan lingkungan sekolah adalah kegiatan pertama masuk Sekolah untuk pengenalan program, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur Sekolah.

Tujuan MOS:
1. Membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah.
2. Menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai siswa baru;
3. Mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya
4. Menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong.
5. Pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari pada minggu pertama awal tahun pelajaran.
6. Kegiatan pengenalan lingkungan sekolah dilaksanakan hanya pada hari sekolah dan jam pelajaran.
7. Kepala sekolah bertanggung jawab penuh atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam pengenalan lingkungan sekolah.
8. Perencanaan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah disampaikan oleh sekolah kepada orang tua/wali pada saat lapor diri sebagai siswa baru.
9. Pengenalan lingkungan sekolah wajib berisi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan.
10. Evaluasi atas pelaksanaan pengenalan lingkungan sekolah wajib disampaikan kepada orang tua/wali baik secara tertulis maupun melalui pertemuan paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pengenalan lingkungan sekolah berakhir.

Kalau ada yang melanggar, sanksi berat sudah disiapkan Kemendikbud. Mulai dari teguran sampai pemberhentian dan penghentian bantuan pemerintah kepada sekolah.

Masyarakat bisa membantu pemerintah mengawasi praktek MOS dengan melaporkan pelanggaran yang terjadi ke:
Nomor telepon
– 0811976929
– 021-57903020 / 021-5703303
Atau ke alamat email: laporkekerasan@kemendikbud.go.id

 

DEDDY SINAGA

Foto: OpenClipart.Vectors/Pixabay

4 Aplikasi Android Bikin Kamu Saat Teduh Di Mana Saja dari Smartphone-mu

Saat teduh, kadang niat sih memang besar untuk bisa melakukan hal ini setiap hari, bahkan pagi dan malam. Namun, berbagai kesibukan dan rutinitas harian kita malah sering bikin kegiatan bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus ini terpinggirkan.

Kalau sudah begini, rasa bersalah malah jadi sering timbul. “Kok mau saat teduh jadi susah ya?” Bayangkan saja, pagi bangun harus buru-buru beberes buat ke kantor, atau mempersiapkan segala sesuatunya supaya anak-anak bisa berangkat sekolah tepat waktu.

Malam, setelah pulang kantor atau sehabis melakukan kegiatan padat keseharian, kondisi fisik sudah lelah. Bagaimana mungkin mau bersaat teduh di kamar? Episode “masuk kamar”-nya sih benar, tetapi saat teduh di kamar, belum tentu. Yang ada ketika kita merebahkan kepala ke bantal, langsung “doa syafaat” sampai pagi, alias ketiduran sampai jam weker berbunyi sebagai tanda aktivitas harus dimulai lagi.

Nah, jika kondisi seperti ini terjadi pada kamu, ini mungkin bisa menjadi jalan keluar. Pasang saja aplikasi berbasis Android untuk bersaat teduh. Kalau ada aplikasi saat teduh di smartphone kamu, bersaat teduh bisa dilakukan di mana saja, di jam istirahat kantor mungkin, atau di saat-saat jeda sejenak sebelum aktivitas berikutnya.

Ini 4 aplikasi Android untuk saat teduh berbahasa Indonesia yang paling banyak diunduh:

1. WarungSaTeKamu

Saat teduh-WarungSaTeKaMu

Namanya unik sekali. Jika kita mengetik “Saat Teduh” di bagian “Search” di Google Playstore, pastilah aplikasi ini akan muncul paling atas.

WarungSaTeKaMu kepanjangan darri Warung Saat Teduh Kaum Muda. Basis dari Apps ini adalah website WarungSaTeKaMu.org. Di Apps ini kita akan menemukan menu Santapan Rohani. Di bagian inilah kamu bisa membaca Firman Tuhan setiap hari. Kamu juga bisa langsung membagikan bagian saat teduh hari ini di Facebook-mu.

Di Apps ini juga kita bisa melihat berbagai artikel, cerpen, puisi, wallpaper, lagu, video, bahkan komik strip tentang gaya hidup Kristen.

 

2. Renungan Harian

Saat teduh-Renungan Harian

Aplikasi buatan Yayasan Cahaya Bagi Negeri (CBN) juga layak dijadikan referensi. Tak banyak yang diberikan dari segi fasilitas oleh aplikasi ini. Tapi, sederhana itu indah, begitu bukan pepatah yang sering kita dengar?

Renungan Harian bisa kita lihat di kolom Daily Devotional, lalu ayat Alkitab yang layak untuk diingat di hari itu tampil lewat Daily Quotes, kemudian terakhir adalah referensi Bacaan Setahun.

Meski tak banyak kolom fasilitas dari aplikasi ini, terbukti kesederhanaannya telah membuat aplikasi ini banyak diunduh.

 

3. Our Daily Bread

Saat teduh-ODB

Our Daily Bread (ODB) bisa jadi telah menjadi bacaan saat teduh yang akrab di khalayak umum. ODB versi bahasa Indonesia lebih dikenal dengan Santapan Rohani. Di aplikasi ini memang yang akan diunduh adalah versi globalnya, namun setelah itu kita bisa memilih yang bundel versi bahasa Indonesia.

Setelah memilih versi Bahasa Indonesia, kamu bisa memilih bundel Santapan Rohani setiap bulannya sesuai tahun. Kamu juga bisa memakai fasilitas built-in audio player. Ada juga fasilitas pengingat yang bisa kamu atur, kapan waktu yang pas buat kamu melakukan saat teduh.

Tentu, sekarang zaman sosial media, aplikasi ini juga menyediakan fasilitas berbagi apa yang kamu baca ke sosial mediamu atau ke email temanmu.

 

4. E-Renungan PSM

Saat teduh-Renungan Harian PSM

Buat kamu-kamu yang biasa menyusun khotbah, situs Sabda.org pastilah sering menjadi bahan pegangan dalam mencari referensi paling bagus. Sabda.org memang menyajikan banyak sekali pengetahuan dan data-data terkait kekristenan di Indonesia, maupun berbagai referensi mendalam tentang firman Tuhan dari berbagai sisi.

Kali ini, Sabda.org bisa jadi menantang kamu-kamu agar makin rajin bersaat teduh. Tantangan itu hadir dalam bentuk Renungan PSM yang merupakan singkatan dari Pagi-Siang Malam. Jadi, kalau kamu unduh aplikasi ini, diharapkan kamu juga berkomitmen saat teduh bukan cuma sekali sehari, tapi tiga kali sehari.

Bisa juga sih, kamu justru memilih dengan enak apakah hari ini mau saat teduh pagi, atau besok malam saja. Yang jelas, bahan bacaannya di Daily Devotional berbeda-beda.

 

Nah, semoga saja dengan mengetahui berbagai aplikasi untuk saat teduh ini, niatan kamu untuk terus membangun relasi dengan Tuhan selalu terpenuhi. Syukur-syukur kalau aplikasi saat teduh di smartphone-mu ini bisa lebih sering dibuka, bersaing dengan game permen berjejer alias Candy Crush Saga yang kadang bikin kamu kelihatan sibuk banget saat pegang smartphone. #Eeeaaa

 

Job Palar

Tentang Rasa Suka

Saya suka novel (dan film) Hunger Games. Ada banyak pesan moral dalam kisah fiksi itu. salah satunya adalah tentang rasa suka.

Haymitch, dalam film Hunger Games, dalam satu cuplikan, memberitahu Katniss, tips untuk bertahan hidup, sambil menunjuk pada Peeta yang sedang mendadahi penonton. “Dia, telah melakukannya.”
Nasihat Haymitch, cara bertahan hidup adalah dengan disukai. Membuat dirimu disukai orang. Dalam pertarungan saling membunuh untuk menjadi satu-satunya peserta yang hidup, hanya peserta yang disukai penontonlah yang akan mendapat bantuan dari sponsor, berupa makanan, obat atau peralatan bantu untuk bertarung, selama mereka berada dalam arena pertarungan yang mematikan.

Rasa suka ini ternyata sungguh berefek besar.

Mungkin teman-teman pernah menonton film kriminal, di mana orang yang dibunuh pertama kali adalah yang paling tidak disukai. Tidak usah jauh-jauh ke film, di dalam sebuah perusahaan juga, biasanya orang yang tak disukai adalah yang disingkirkan terlebih dahulu, bukan?

Lalu saya pikir, mungkin itulah yang dilakukan oleh para penjilat. Para penjilat ini berhasil membuat orang lain merasa disukai dengan jilatan-jilatan maut dan dahsyat mereka, hingga mereka jadi disukai, dan efeknya, para penjilat ini mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka pun sukses bertahan.

Dalam psikologi, mungkin itulah salah satu contoh istilah mirroring.
Kita akan menyukai orang yang cenderung mirip atau punya kesamaan dengan kita. Ada juga kecenderungan kita lebih menyukai orang yang menyukai kita juga. Hubungan yang baik, seperti pertemanan, biasanya dimulai dengan rasa saling menyukai.

Sebaliknya, kita cenderung tidak menyukai orang yang tidak menyukai kita, kan? Karena kita tidak menyukai orang tersebut, itu bisa menimbulkan sikap yang membuat orang tersebut akhirnya tidak menyukai kita. Orang yang tidak suka pada kita juga seringkali bersikap yang membuat kita tidak menyukai orang itu.

Ada sebuah kejadian yang menggelitik saya pada ironi tentang rasa suka.
Pada suatu pertemuan tahunan keluarga besar, di mana setiap orang diberikan waktu untuk mengungkapkan isi hatinya, seorang anggota keluarga besar kami (sebutlah si Z) dengan cara yang sehalus mungkin tapi terdengar sangat gamblang, membandingkan si X dan si Y. Si Y baginya adalah orang yang paling disukainya di keluarga besar kami. Dan dengan sengaja, walaupun tanpa kata-kata yang eksplisit, dia berusaha menunjukkan sejelas-jelasnya bahwa dia tidak suka seseorang (sebutlah si X) dan tidak cocok dengan si X. Sementara si Y, sangat dipuja-pujinya sepanjang penuturan yang bertele-tele dengan bumbu-bumbu kata-kata manis, yang walau terasa beracun buat si X. Tapi si X hanya diam.

Dalam hati saya merasa bahwa si Z sedang berusaha menyindir-sindir si X. Ibarat sebuah ilustrasi gambar kartun, dalam imajinasi saya membayangkan si Z ini tengah menusuk-nusuk si X dengan pedang yang tajam dan berharap si X mati kesakitan, padahal si X malah tergeli-geli tertawa dan tidak mati-mati sambil terus tertawa berguling-guling.

Saya sempat merasa simpati dan kasihan pada si X. Tapi melihat sikapnya yang tenang, saya malah jadi kagum padanya. Dan otomatis runtuhlah respek saya pada si Z. Pada akhirnya, kami semua toh bisa mengerti dan menerima sikap si Z ini, mengingat bahwa si Z ini memang memiliki masa lalu yang kurang indah, hingga sampai saat ini rasa suka tidak suka sangat penting baginya.

Pada akhirnya, ketika giliran si X tiba, dia mengucapkan beberapa kalimat yang lebih diplomatis, walau tidak ditujukan secara khusus untuk membalas si Z.

Kira-kira demikian:

Saya rasa, pada dasarnya tak ada orang yang cocok di dunia ini. Yang ada adalah orang-orang yang berusaha untuk mencocokkan dirinya dengan dengan orang lain, suka atau tidak suka. Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan menyukai atau minimal menerima apa yang tidak disukai. Orang lain tidak bertanggung jawab atas perasaan kita. Kitalah yang harus mengendalikan perasaan kita. Suka tak suka, kita harus bisa hidup berdampingan dengan orang lain dengan harmonis. Tak seorangpun dari kita dilahirkan untuk menyenangkan hati orang lain. Kita juga tidak berhak memaksa orang lain menyukai kita. Kita diciptakan untuk menyenangkan hati sang Pencipta saja.

Setelah acara itu, bukan hanya saya yang merasa bahwa si Z sudah keterlaluan, dan apakah dia sadar atau tidak sadar, dia seolah tengah memicu perang pada si X. Pada hari raya (Lebaran misalnya), pertemuan tahunan dengan keluarga besar adalah saat untuk menjalin silaturahmi, mengungkapkan apresiasi, saling memaafkan, dan bukan ajang untuk mendiskreditkan orang lain. Dia tak sadar dengan caranya itu dia tengah menumpuk bara api di atas kepalanya sendiri. Dengan mengekspos ketidaksukaannya pada si X, dia telah membuat dirinya tidak disukai orang lain, dianggap kekanakan dan bersikap tidak sesuai dengan usianya.

Lalu saya simpulkan untuk diri sendiri. Sesungguhnya, hidup kita ini, teman, tidak terdiri dari hal-hal yang kita sukai saja. Hidup tak terdiri dari orang-orang yang baik pada kita, suka pada kita, dan kita sukai, saja.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk menyukai kita dan membuat kita bahagia. Itu bukan tugas orang lain. Tak seorangpun di dunia ini berkewajiban membuat anda bahagia. Kebahagiaan adalah keputusan anda sendiri. Anda tak berhak harus disukai, diterima dan dicintai.

Memang keinginan untuk diterima, disukai dan dihargai adalah kebutuhan dasar manusia. Tapi tak ada hukum yang memaksa orang lain untuk menyukai kita.

Sesungguhnya rasa suka itu sungguh subjektif, Saudara! Menurut psikolog, perasaan itu adalah sebuah bentuk subjektifitas. Kita sendiri kadang bisa bingung mengapa kita bisa menyukai orang lain atau tidak menyukai orang lain, tanpa alasan yang jelas.

Dan seperti si Z, untuk apa kita terus seperti orang yang kehausan akan perhatian dan rasa suka dari orang lain? Apakah kita tidak bisa bertahan hidup dengan menyadari bahwa tidak semua orang menyukai kita? Seolah hanya itu yang menentukan siapa kita. Lihat betapa banyaknya haters para selebriti di samping banyaknya fans mereka. Hidup kita tak selalu ditentukan oleh siapa yang menyukai kita. Kita memang bertugas melakukan hal yang baik dan benar, tapi itu bukan untuk tujuan agar kita disukai, layaknya para penjilat.

Kita hidup bukan untuk menjadi favorit orang lain. Demikian juga orang lain bukan tercipta untuk menjadikan kita orang kesukaan mereka. Hidup ini sungguh tak sepicik urusan suka-menyukai. Memang keadaan akan lebih baik jika kita disukai, tapi jika memang tidak disukai, apakah kita tidak bisa survive?

Kalau kita refleksi, cobalah kita ingat-ingat. Memangnya kita selalu menyukai orang lain? Seperti contoh, tetangga kita? Apakah kita selalu menyukai rekan kerja kita? Saudara ipar atau mertua kita? Atasan atau bawahan kita? Bahkan pacar atau pasangan sendiripun tak selalu cocok dan kita sukai, bukan? Mungkin terkadang kita kesal dan membenci mereka. Tapi kita memutuskan untuk menerima mereka, terlepas dari rasa suka atau tidak. Kita mengambil tindakan logis untuk mengendalikan perasaan kita. Kita mengambil keputusan untuk menjadi dewasa dengan berusaha mengesampingkan sentimen pribadi kita, atau perasaan sesaat kita. Itu adalah keputusan dewasa.

Mungkin hanya anak kecil sajalah yang terus memilah-milah hidup ini berdasarkan apa yang enak dan tidak enak, apa yang manis dan pahit, apa yang disukai dan tak disukai, dan seterusnya. Sebab anak kecil memang cenderung tak bisa mengendalikan perasaannya.

Ada seorang teman, tidak suka naik kopaja. Dia tak suka kenek kopaja yang katanya kadang bau dan kurang sopan, dan kadang tidak mengembalikan uang kembalian dengan pas, ditambah supir kopaja yang suka mengebut dan merokok sembarangan di dalam bus. Tapi dia butuh mereka untuk mengantarkannya pada tujuan, jadi dia kesampingkan perasaan tidak sukanya demi tujuan yang lebih prioritas. (Dan dia juga tak berharap keneknya menyukai dia, hingga dia selalu diberi tempat duduk kosong dan siapa tahu ongkos jadi gratis, hahaha…)

Barangkali kita pernah juga berusaha membuat orang lain menyukai kita, tapi tetap saja, entah dengan alasan apa, orang tetap tak suka pada kita. Tapi itu bukan masalah kita. Itu masalah mereka. Jadi kalau kita tidak berbuat sesuatu yang baik untuk membuat orang lain menyukai kita, mengapa kita berharap orang harus menyukai kita?

Pada akhirnya, disukai atau tidak disukai orang lain, mari nikmati sajalah. Asal jangan kita yang bersikap yang memancing kebencian dari orang lain.

Hidup ini sudah berat, mari dijalani dengan gembira sajalah yaaa…

Jadi, siapa kira-kira yang tidak suka pada anda? ?

 

Almino Situmorang

6 Ide Mengisi Libur Lebaran

Lebaran sebentar lagi. Umumnya perusahaan memberikan libur resmi ditambah cuti bersama. Alhasil, libur lebaran tahun ini bisa mencapai 9 hari, karena sudah plus libur akhir pekan.

Dengan masa liburan selama itu, ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga, meski kamu tak merayakan Lebaran. Ini 6 ide yang bisa kamu coba:

1. Mudik
Mudik alias pulang kampung tak hanya milik mereka yang merayakan Idul Fitri lho. Kamu yang tak merayakannya pun bisa ikut meramaikan mudik, kalau mau. Hanya saja siapkan mental menghadapi kemacetan lalu lintas jika mudik dengan kendaraan pribadi atau bus, ke arah Jawa Tengah dan Timur atau ke Pulau Sumatera. Lebih baik jika kamu mudik naik transportasi publik seperti pesawat udara atau kereta api, tapi dengan catatan belilah tiket jauh-jauh hari jika tak ingin kehabisan.

2. Rekreasi di Jakarta dan sekitarnya
Biasanya lalu lintas di Jakarta tak seramai hari kerja. Ada banyak tempat rekreasi yang bisa kamu kunjungi, mulai dari yang murah seperti Taman Margasatwa Ragunan sampai yang membutuhkan uang ratusan ribu rupiah sekali masuk per orangnya, seperti di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jungleland, dan sebagainya. Tapi waspada juga, seringkali lalu lintas dari dan ke tempat rekreasi itu ramai bukan main.

3. Berkemah dengan keluarga
Kegiatan yang berhubungan dengan alam ini makin banyak diminati. Ada banyak lokasi camping ground yang bisa dipilih. Mulai dari yang menyediakan semua perlengkapan (kamu tinggal bawa badan dan duit), atau kamu mau bawa perlengkapan sendiri. Tipsnya, carilah tempat berkemah yang lokasinya tak terlalu ekstrem untuk anak-anak, seandainya kamu memiliki anak kecil. (Lebih lengkap soal berkemah ini, baca: Tips Berkemah dengan Keluarga)

4. Beberes rumah
Tak ada salahnya mengisi waktu liburan di rumah dengan seluruh anggota keluarga. Ayah bisa mengajak anak-anak membereskan rumah, seperti mengecat tembok, memperbaiki atap, menata taman, dan sebagainya. Sementara bunda bisa mempersiapkan camilan dan minuman yang enak-enak. Ini bisa jadi quality time untuk keluarga, kalau kamu dan keluarga sulit punya waktu bareng pada hari kerja.

5. Rekreasi di rumah
Di rumah, waktu libur bisa diisi kegiatan-kegiatan yang bikin segar dan menghadirkan suasana bahagia. Misalnya berolah raga bersama. Bisa juga mengisi waktu dengan memainkan board games seperti Ludo, Ular Tangga, Catur, dan sebagainya. Atau bermain kartu. Bisa juga bernyanyi dan bermain musik bersama.

6. Bikin rekreasi dadakan dengan komunitasmu
Mengadakan acara rekreasi dadakan dengan komunitasmu, misalnya dengan jemaat gereja, itu seru juga. Kamu bisa melemparkan usul (misalnya di grup chatting atau selepas ibadah minggu) dan lihat siapa yang antusias dan berangkatlah. Seringkali yang dadakan seperti ini malah lebih seru dan banyak yang ikut ketimbang direncanakan jauh-jauh hari.

Ini hanya enam contoh dari sekian banyak kegiatan yang sebetulnya bisa kamu lakukan pada masa libur lebaran ini, dan itu tergantung seberapa kreatif kamu. Selamat berlibur ya!

Deddy Sinaga

Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?

Judul buku: Mengapa Engkau meninggalkan aku?: pertanyaan abadi tentang Tuhan dan penderitaan
Penulis: Philip Yancey
Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2016
Halaman: vi, 131 hlm, 21 cm
ISBN: 978-602-231-300-7
Harga: 39.000 rp.

Refleks naluriah pada manusia adalah ingin menghindari penderitaan. Namun pada suatu saat akan ditemui juga penderitaan yang tak terelakkan bahkan hal yang menakutkan seperti kejahatan dan kematian. Dalam penderitaan berat laksana lembah kekelaman itulah, umat beragama mempertanyakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup orang percaya. Hal ini yang akan dijawab dalam buku ini.

Sang penulis buku adalah seorang wartawan internasional yang menyaksikan banyak peristiwa memilukan di dunia. Beberapa adalah penembakan Sandy Hook, perang Serbia, tsunami Jepang, penderita kanker. Ia sendiri mengalami berbagai pengalaman sedih seperti sakit berat dan kehilangan figur ayah -seorang pekabar injil- pada usia muda. Berbagai peristiwa tersebut membawanya pada pencarian jawaban tentang bagaimana sikap seorang kristen menghadapi penderitaan sebagai pribadi dan komunitas jemaat.

Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna dan menyediakan banyak contoh kasus sehingga pembaca dapat mengambil hikmah dari berbagai kejadian tersebut

 

Sarwendah Palupi

Biarkanlah Kami

Saya teringat ketika saya beraktivitas bersama teman-teman yang mendampingi komunitas anak jalanan di Jombor. Perempatan Jombor selalu ramai di sore hari, dengan para pengendara yang tidak sabar lagi ingin cepat pulang ke rumah.Sejak kami memulai program kami di sana, perempatan itu menjadi makin ramai lagi dengan anak-anak dan beberapa relawan bertampang mahasiswa yang beraktifitas dengan penuh semangat. Sebenarnya saya tidak terlibat langsung dalam program-program yang langsung turun ke jalan, tapi karena ada seorang Bapak yang mengajukan permintaan kepada kami untuk berkenan mengasuh dan menyekolahkan anaknya lewat program Pengasuhan kami, saya merasa sebaiknya saya yang bertemu langsung dengannya.Ketika kemudian saya melihat mereka bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan LSM kami di sana, saya jadi bersemangat lagi untuk lebih sering mendatangi mereka.

Kegiatan yang kami lakukan sendiri sebenarnya tidak terlalu ‘menghebohkan’. Kami cuma mengadakan les calistung (baca tulis hitung) untuk beberapa anak, yang kami antar jemput dari perempatan Jombor untuk belajar di kantor kami, 5 hari dalam seminggu. Lalu kami juga mengajak mereka berkreasi lewat kegiatan menggambar/melukis bersama, seminggu sekali. Ada juga yang membawa kotak berisi buku-buku bacaan, yang kami namai Ko-PER (Kotak Perpustakaan). Dan yang terakhir, yang mungkin sedikit unik adalah kami meminjamkan beberapa kamera analog kepada anak-anak jalanan, untuk mereka pakai mengabadikan aktifitas mereka sehari-hari. Film untuk kamera-kamera itu kami sediakan, dan kami juga akan memproses foto-foto hasil jepretan mereka.

Sore itu saya kembali ke perempatan ramai itu. Betapa senangnya melihat wajah anak-anak yang penuh senyum dan kegembiraan walau dalam segala keterbatasan. Sewaktu saya sedang berbicara dengan Bagas dan Eno, dua bocah berusia 6 tahun yang sangat lucu, tanpa sengaja mata saya tertuju kepada para pengendara yang sedang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Ada seorang Bapak yang memandang dengan tajam ke arah kami. Dari pakaiannya saya menduga dia mungkin seorang pegawai pemerintah, entah dari instansi mana. Sedikit ge-er karena ada yang memandangi, saya mencoba tersenyum. Akan tetapi Bapak itu malah semakin melotot. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Dia memandangi saya tanpa berkedip sedikit pun, sampai rambut halus di tengkuk saya pun berdiri karenanya. Tetapi Bapak itu tidak memalingkan wajahnya sama sekali, matanya melotot dan penuh selidik. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Untungnya lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, dan si Bapak pun meneruskan perjalanannya, dengan, sekali lagi, entah apa yang ada di dalam pikirannya.

Ah, saya jadi teringat adegan beberapa tahun yang lalu sewaktu kami diadili warga sebuah kelurahan yang menolak di lingkungannya ada rumah yang menampung anak-anak yang “belum jadi manusia seutuhnya”. Apakah saya masih trauma oleh peristiwa itu, sehingga menghadapi pelototan seorang Bapak di perempatan saja, saya sudah bergidik? Mudah-mudahan ini hanya masalah saya sendiri, karena bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli kepada sesamanya. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli bukan hanya dengan retorika kata-kata atau tindakan-tindakan seremonial. Teman-teman kami di jalanan butuh kesempatan, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk sekedar bermain dan tertawa. Biarkanlah kami memberikan itu kepada mereka, Bapak.

You don’t know what it’s like to love somebody, the way I love you…

Sammy Ladh

Photo: courtesy of LSM Rumah Impian (thedreamhouse.org)

 

Batu Karang

Seperti karang di tengah lautan, begitulah hidup seharusnya berdasar. Seperti pesan Yesus Kristus kepada Simon yang kemudian disebut-Nya Petrus atau batu karang. Sebab di atas batu karang itulah, jemaat Tuhan akan didirikan.

Tips Berkemah dengan Keluarga

Sebentar lagi libur lebaran sepekan lebih. Bila tak mudik, ayah bunda sudah punya rencana ke mana? Bagaimana kalau ayah bunda mengajak anak-anak menikmati alam bebas, berkemah misalnya?
Berdasarkan pengalaman pribadi, mengenalkan anak ke alam bebas sejak dini ada banyak manfaatnya. Anak bisa belajar mencintai alam, mendapatkan ketrampilan baru, dan kalian bisa menikmati waktu-waktu berkualitas.
Pada zaman sekarang, sebetulnya sudah banyak tempat yang menyediakan fasilitas berkemah untuk keluarga. Bagi ayah bunda yang memang belum punya perlengkapan sendiri, bisa memilih paket-paket yang disediakan. Tinggal datang bawa badan dan duit. Perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, bahkan makan, sudah disediakan.
Saya sendiri lebih memilih untuk membeli perlengkapan berkemah sendiri. Selain bisa dipakai kapan saja, anak-anak pun akan merasa memiliki kegiatan itu.
Berikut ini beberapa tips untuk menikmati aktivitas berkemah yang seru dan bermanfaat:
Persiapkan perlengkapan berkemah
Kalau ayah bunda ingin membeli sendiri, sekarang ini sudah banyak jenis maupun kualitas perlengkapan berkemah. Tapi di beberapa bumi perkemahan sudah tersedia kok penyewaan alat-alat berkemah, jika memang ayah bunda enggan membeli sendiri. Ayah bunda tinggal mengumpulkan informasinya.
Bila ingin membeli sendiri, beberapa perlengkapan standar yang harus ayah bunda persiapkan adalah: tenda, matras, kantung tidur, jas hujan, perlengkapan memasak portable, lampu badai atau baterai, dan senter.
Saya tidak menyarankan untuk membeli perlengkapan yang sekadarnya. Tenda misalnya, jangan membeli tenda mainan seperti yang dijual di pinggir jalan itu.
Belilah tenda doom yang memiliki pelindung ganda. Selain lebih mudah memasangnya, tenda ini juga relatif aman dari curahan hujan dan terjangan angin. Memang untuk perlengkapan yang bagus ada harganya. Tapi yakinlah ayah bunda, itu layak kok untuk tujuan kegiatan berkemah keluarga tersebut.
Mencari tempat berkemah
Agak gampang-gampang susah untuk menemukan tempat berkemah yang pas dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, terutama yang memiliki anak kecil.
Saya lebih memilih camping ground yang arealnya rata, bukan yang berkontur miring atau dekat dengan sungai beraliran deras atau ngarai. Keselamatan anak, itu pertimbangan saya.
Lansekap yang rata seperti itu aman buat anak-anak yang suka bermain atau berlarian ke sana ke mari. Ingat, kita masih pada tahap awal mengenalkan alam pada mereka, bukan? Jadi biarkan mereka menyukai dulu aktivitas itu.
Pada waktunya nanti bisa dilanjutkan ke level yang lebih sulit, misalnya berkemah di lereng gunung. Atau bahkan naik gunung sekalian.
Untuk menemukan tempat yang relatif aman seperti ini, ayah bunda bisa berselancar di Internet. Atau bergabung saja ke komunitas berkemah keluarga yang mulai banyak bertebaran di dunia maya.
Saya dan keluarga punya tempat favorit di Bandung Selatan, yaitu bumi perkemahan Ranca Upas. Kawasan ini relatif datar arealnya, udaranya sejuk, dan ada banyak warung makanan kalau malas memasak sendiri.
Selain ada kolam renang air hangat, di sana juga ada penangkaran rusa. Anak-anak senang sekali memberi makan wortel muda pada rusa-rusa itu.
Tempat lain yang layak dicoba adalah bumi perkemahan Cibubur.
Aktivitas saat berkemah
Saat tiba di perkemahan, biasanya aktivitas pertama yang disukai anak-anak adalah memasang tenda dan perlengkapan kemah.
Anak-anak bisa dilibatkan dalam mengikat ujung tenda atau memasukkan tiang ke tendanya. Bisa juga diminta membersihkan bagian dalam tenda. Anak-anak akan dengan senang hati membantu. Ayah bunda cukup membimbing mereka supaya efektif.
Ajak juga mereka berkreasi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Misalnya membuat rak piring dari dahan-dahan pepohonan di bumi perkemahan. Atau membuat jemuran. Aktivitas memasak bersama juga mengasyikkan lho.
Tak ketinggalan mengajak mereka membuat api unggun. Pada saat ini, anak-anak bisa diajak menampilkan kebolehannya, storytelling, atau sekadar bernyanyi-nyanyi bersama.
Libatkanlah anak-anak dalam semua aktivitas saat berkemah, sehingga mereka merasa memiliki kegiatan tersebut. Berkemah akan menjadi momen yang takkan terlupakan oleh mereka.
Di akhir, bersihkan sisa-sisa aktivitas berkemah
Ini penting untuk mengajarkan anak mencintai alam dan menjaga kelestariannya. Seperti pesan yang kerap didengar para pendaki gunung, jangan tinggalkan apa-apa kecuali jejak kaki. Begitu pun untuk aktivitas berkemah.
Jangan meninggalkan sampah apa pun di lokasi bekas berkemah. Lakukan ‘operasi semut’, ajak seluruh anggota keluarga untuk memungut semua sampah yang tertinggal di bekas area kemah kalian dan membuang sampah itu ke tempatnya. Periksa juga jangan sampai ada bagian-bagian tenda yang tertinggal, misalnya pasak.
Bekas-bekas cangkulan, seperti parit tenda, juga harus ditimbun kembali sampai rata. Bekas api unggun pun dibersihkan, timbun dengan tanah.
Mudah-mudahan tips-tips ini membantu ayah bunda untuk merancang dan mengadakan aktivitas berkemah yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Selamat berlibur dan selamat berkemah.
Deddy Sinaga