Cukup Adit, Jangan Biarkan Jatuh Korban Lagi

Cukup Adit, Jangan Biarkan Jatuh Korban Lagi

“Bunda, adik tidur ya. Adik sakit.”

Itu kalimat terakhir Aditya Fadilah, bocah 4 tahun, kepada ibunya, Siska, 23 tahun. Bocah yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan ini, tak bangun-bangun lagi.

Ketika polisi memeriksa jenazahnya, ya Tuhan, ditemukan jejak-jejak penyiksaan. Ketahuan, sang ibulah yang diduga menyiksa bocah itu. Sebelum tidur, sang ibu memukul, menggigit, dan menendang ulu hati anaknya.

Mengerikan sekali.

Saya punya anak berusia hampir 2 tahun. Sebagai orangtua, kadang-kadang saya juga marah kalau kelakuannya menjengkelkan.

Tapi ketika air matanya bercucuran, kemarahan di dada pun langsung lenyap tak berbekas. Saya kira, begitulah cinta.

Sulit membayangkan, seorang ibu bisa menyakiti anaknya sedemikian rupa. Meskipun persoalan rumah tangga yang membikin stres dan marah, tak semestinya kemarahan dilampiaskan pada anak-anak.

Kekerasan terhadap anak atau child abuse bukanlah hal yang main-main. Child abuse ini sebetulnya tak sekadar penyiksaan fisik.

Mengabaikan kebutuhan anak, membiarkan mereka tanpa pengawasan, situasi berbahaya, atau membuat anak merasa tak berharga atau bodoh, ternyata juga termasuk child abuse.

Kekerasan fisik hanya satu tipe dari child abuse. Pengabaian dan penyiksaan secara emosi, juga memberikan dampak yang sama buruknya dengan penyiksaan fisik. Malah lebih parah, sebab karena sifatnya yang subtil, orang lain cenderung mengabaikannya.

Child abuse juga tak hanya dilakukan oleh orang-orang yang jahat. Keluarga terdekat pun bisa jadi abuser. Di keluarga yang terlihat bahagia, child abuse bisa terjadi tanpa diketahui orang lain.

Korban penyiksaan ketika dewasa bisa jadi juga akan mengulangi penyiksaan itu kepada anak-anaknya secara tak sadar.

Tetapi, ada juga korban penyiksaan yang akhirnya tumbuh dewasa dengan motivasi kuat untuk melindungi anak-anaknya dari child abuse. Seharusnya, beginilah yang terjadi.

Hal yang memprihatinkan, kasus yang menimpa Adit ternyata bak fenomena gunung es. Kasus Adit hanya satu dari begitu banyak kasus child abuse di Indonesia.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sampai 2015, selama periode 4 tahun, mereka sudah menerima 16.000 lebih laporan kekerasan terhadap anak di 34 provinsi dan 179 kota.

Sebanyak 50 persen kasus melibatkan kekerasan seksual, yang bisa berujung pada pembunuhan. Kasus lain berupa penyiksaan fisik, penculikan, eksploitasi ekonomi, dan penyelundupan anak.

Nah, yang memprihatinkan dari fakta itu adalah, 93 persen pelaku adalah orang dekat korban, termasuk ayah dan ibu.

***

Saya percaya, Tuhan tak menitipkan anak pada kita untuk disakiti dan disiksa sedemikian rupa. Lewat anak, Tuhan mengajari kita untuk mengasihi dan berkorban.

Ayah dan ibu, kakak-adik, Om-Tante, mari melihat anak-anak sebagai manusia, yang punya hak untuk tumbuh merdeka dari berbagai kekerasan.

Saya percaya, teladan hidup, adalah guru terbaik untuk mengajarkan apa saja kepada anak. Segala sesuatu, mulailah dari diri sendiri terlebih dahulu. Saya juga belum sempurna. Karena itu saya tak berhenti berusaha.

Setelah dari diri sudah berusaha, ada upaya lain, menurut saya, yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi agar tak jatuh korban Adit-Adit lainnya.

Stand with them. Kalau melihat child abuse di sekitar kita, jangan diam saja. Peringatkan pelaku, siapapun dia, akan bahayanya perlakuan itu.

Kita pun bisa melaporkan peristiwa child abuse kepada pihak berwajib, termasuk ke KPAI. Selain kesaksian, ambillah foto supaya alat buktinya kuat.

Foto: Pixabay/Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published.



%d bloggers like this: