Category Archive : Tips

Rayakan Cinta Tanpa Banyak Kata, Tanpa Cokelat dan Tetap Tidak Maksiat

Bila sepotong cekelat yang ingin kau berikan di Hari Valentine tanggal 14 Februari ini malah akan membuat kau jadi “maksiat secara otomatis” alias “auto-maksiat”, atau bahkan mengucapkan Happy Valentine aja bikin kau jadi “autokafir”, tapi kau pengen banget menunjukkan rasa kasih sayang kau ke orang terdekat dalam hidupmu.

Ada beberapa cara kok, tidak mesti dengan memberi cokelat atau bahkan tidak perlu berkata-kata secara verbal. Meskipun masih cukup membingungkan bagaimana sebuah benda yang fana sekaligus menggiurkan seperti cokelat begitu bisa menentukan kadar keimanan kamu.

Dikutip dari Brightside, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan secara tidak langsung untuk menunjukan rasa sayang kamu kepada pasangan. Beberapa penjabaran di sini bisa berlaku untuk pasangan hidup, dan tentu saja untuk yang baru berstatus pacaran. Jadi tetap…jauhi maksiat!

Ini seperti merayakan cinta tanpa perlu banyak kata-kata.

  1. Kasih waktu pasanganmu untuk istirahat

Setelah menjalani aktivitas dan hari yang panjang, kita semua pasti membutuhkan waktu untuk beristirahat. Usahakan jangan terlalu buru-buru memberikan pasangan kamu pekerjaan rumah.

Berikan waktu untuk dia beristirahat. Tindakan ini juga berfungsi untuk menurunkan tingkat emosional dan membuat kamu terhindar dari konflik.

  1. Jadi Pendengar yang baik

Jika pasangan kamu ingin bercerita atau mengobrol, jangan langsung menolak, apalagi kalau pembicaraan itu terasa penting. Pasangan kita membutuhkan sosok yang mau mendengarkan keluh kesahnya, cerita kesehariannya, dan semua mimpinya.

  1. Jangan melarang pasanganmu bertemu dengan teman-temannya

Saat sedang menjalin hubungan dengan seseorang, kamu secara enggak sadar pasti menganggap dia adalah milikmu. Tapi sadarilah, bahwa setiap orang memerlukan ruang dan waktu pribadi yang ingin mereka habiskan bersama teman-temannya.

  1. Perhatikan hal-hal yang pasanganmu sukai

Terkadang kamu memang ingin membahagiakan pasangan dengan kejutan, tapi terkadang kebahagiaan itu datang dari hal-hal yang kecil, misalnya apa makanan kesukaan dan hobinya. Saat kamu mengingat apa yang dia sukai, ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.

  1. Berikan pujian

Semua orang suka mendapatkan pujian, hal itu juga berlaku bagi pasangan kamu. Enggak ada salahnya kok kamu memberikan pujian jika pasanganmu terlihat cantik atau tampan. Meski terbilang sepele, ini adalah hal-hal kecil uang bisa membuatnya merasa nyaman.

  1. Bangun mimpi bersama

Memiliki mimpi yang sama dan dibangun dari nol akan memberikan pengaruh baik bagi hubungan. Kamu dan si dia akan bisa tumbuh bersama dengan tujuan yang baik.

  1. Jadilah pacar dan teman yang baik

Terkadang secara enggak sadar, rasa sayang yang kita miliki membuat protektif terhadap si dia, padahal sikap tersebut akan membuat pasangan merasa tidak nyaman.

Ada baiknya posisikan diri sebagai seorang teman baik yang selalu mendukung apapun keputusannya.  Biarkan dia mandiri dan mebuat keputusan sendiri.

  1. Masak dan makan bersama

Jika kamu dan pasangan sama-sama memiliki waktu luang, enggak ada salahnya untuk menghabiskan waktu dengan memasak bersama. Ini akan membuat hubungan kamu bersama pasangan semakin harmonis dan hangat.

Enggak hanya memasak, kamu juga bisa melakukan aktivitas seperti belanja ke supermarket dan makan bersama.

  1. Jangan ungkin kekurangan pasangan

Semua orang pasti memiliki kekurangan, hal itu juga berlaku buat pasangan kamu. Agar hubungan kalian tetap harmonis, kamu harus berusaha menerima kekurangan dan belajar untuk tidak memperhatikan hal yang terlalu detail.

Usahakan jangan mengeluh tentang kekurangan si dia. Karena itu akan peluang konflik semakin besar dan membuat hubungan kamu tidak harmonis.

Lihat “Smartphone” Melulu? Jangan-jangan Kamu “Phubbing”

Suatu ketika saya bersama seorang kawan memasuki sebuah kafe di salah satu mall di Jakarta Pusat. Kami memang janjian untuk membincangkan berbagai hal sambil menunggu malam agar kemacetan Jakarta tidak parah karena orang pulang kantor.

Saat duduk, seorang pelayan memberi kami buku menu. Saya membuka-buka menu untuk memesan hidangan. Namun, teman saya ini beda. Tak berapa lama si pelayan memberi menu, kawan ini langsung bertanya,” Mbak, ada Wi-Fi?”

Mbaknya menjawab,”Ada mas.”

Temanku menimpali segera,”Passwordnya apa?”

Mbaknya, sambil siap-siap mencatat pesanan karena melihat saya sudah memberi kode akan memesan, kembali menjawab,”Pesan menu dulu, mas.” Tak lupa senyuman manis tersungging di bibir Mbaknya.

Namun temanku rupanya sudah ngebet banget ingin online malah menjawab,”Iya mbak. Kita pasti pesan kok, kan kita dah duduk di sini. Takut amat sih.” Weleh, ngegas.

Mbaknya menjawab,”Bukan mas. Password-nya itu, ‘pesan menu dulu’, tanpa spasi ya mas.”

Temanku wajahnya memerah dan hanya meluncur satu kata yang terdengar seperti lenguhan saja,”Ooooh”.

Saya tertawa. Kawan pun akhirnya tertawa. Mbaknya tertawa sambil menulis pesan.

Setelah koneksi Wi-Fi masuk di smartphone-nya…lupa pesan menu, kawanku ini. Sibuk dia dengan ketak-ketik di HP-nya itu.

Beginilah sekarang suasana yang lazim saat orang sedang berkumpul atau—apalagi—duduk sendiri di sebuah sudut kafe. Semua sibuk dengan berbagai urusan di smartphone-nya.

Istilah baru pun mengemuka. Phubbing.

Phubbing berasal dari kata phone dan snubbing, diciptakan oleh Alex Haigh, mahasiswa Australia yang magang di perusahaan periklanan terkenal McCann di Australia seperti dikutip dari kumparan.com.

Tepatnya, phubbing adalah sebuah istilah tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadget dari pada membangun sebuah percakapan. Silakan tinjau di laman http://stopphubbing.com/

Tak jarang, saya sendiri pun sering terjangkit gejala ini, apalagi jika kawan di hadapan saya sudah phubbing duluan.

Kitab Amsal 15:14 menuliskan, “Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.”

Nah, apakah kita memang sedang mencari pengetahuan saat mengecek terus-menerus smartphone kita? Sering kali yang kita lakukan malah hanya sibuk dengan hal-hal remeh yang tidak mendesak, semacam update status sendiri di Facebook, lihat status orang, update Instagram, dst.

Akibatnya, gara-gara kita mengakses media sosial di smartphone dan menjadikan kita phubbing, malah hubungan sosial kita dengan orang di depan mata malah terganggu.

Nah ini beberapa tips agar kita bisa stop phubbing seperti dikutip dari viesta education.

 

  1. Tahan diri untuk tidak update kemana kita akan pergi

Langkah pertama yang harus kita lakukan agar tidak menjadi tersangka maupun korban phubbing adalah berhenti update. Rasa selalu ingin melihat handphone saat bersama orang lain biasa terjadi setelah kita membuat status di jejaring sosial.

Biasanya, kita akan penasaran sudah berapa like yang muncul, komentar apa saja yang masuk dan sebagainya. Alhasil, kamu akan lebih tertarik untuk bermain Handphone dari pada ngobrol.

 

  1. Kumpulkan Handphone saat berkumpul

Sebuah game sederhana yang bisa kamu lakukan agar kumpul-kumpul makin seru adalah dengan mengumpulkan gadget. Buat juga aturan tambahan.

Contohnya, siapa saja yang tidak tahan dan mengambil gadgednya terlebih dahulu akan mendapat sebuah hukuman.

Entah harus memberi traktiran atau apapun. Dengan begini, semua orang akan lebih fokus satu sama lain.

 

  1. Kumpul di tempat yang antimainstream

Kemungkinan lain penyebab phubbing terjadi adalah kita berkumpul di tempat yang itu-itu saja. Karena merasa bosan, banyak dari kita yang mulai membuka handphone. Bagaimana jika kita berganti lokasi?.

Kumpul bersama bukan lagi dengan judul nongkrong. Bisa saja diganti dengan travelling bersama atau melakukan sebuah kegiatan sosial. Dengan banyak beraktifitas bersama, komunikasi langsung pasti akan lebih intensif.

 

  1. Jauh-jauh dari gadget

Langkah terakhir ini memang terlihat sedikit ekstrem. Tapi meletakkan gadget jauh-jauh dari dirimu memang sangat efektif. Atau jika sedikit susah, taruh gadget dalam tas. Jangan di samping tangan.

 

Siap-siap Jakarta Padat Lagi, Ini Kiat Usir Stres Saat Macet

“Loh, ini Bundaran HI ada kembang-kembangnya? Sejak kapan? Kok aku lewat setiap hari nggak sadar ada bunga-bunga di sekeliling Bundaran HI?”

Ya, ampun. Segitu abainyakah bapak ini dengan lingkungan sekitar? Si bapak yang berujar di atas padahal mengaku kerja di kawasan Jalan MH Thamrin, setiap hari lewat, tetapi baru sadar kalau Bundaran HI dikelilingi dengan berbagai jenis tanaman dan bunga-bunga sungguhan.

“Maklum deh, lewat sini selalu macet, jadi ya di mobil cuma fokus lihat mobil di depan, terus maju sedikit-sedikit,” kata bapak itu lagi membela diri, saat saya tanya kok bisa anda lewat sini tiap hari tapi enggak tahu ada perubahan di lingkungan sekitar.

Perbincangan ini terjadi saat saya dan beberapa teman hobi fotografi meniatkan diri untuk memotret lansekap kota Jakarta yang sedang sepi ditinggal warganya, Senin, 26 Juni 2017, tepatnya hari kedua Lebaran. Beberapa foto saya sertakan di tulisan ini.

Bundaran HI adalah tempat kami berkumpul, dan seperti yang sudah kami duga, ruas-ruas Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin sepi banget, apalagi saat kami berkumpul sekitar pukul 07.00-08.00 WIB.

Sesekali bus Transjakarta lewat, lalu para pesepeda memanfaatkan Jakarta sepi. Mobil dan motor pun lewat, tetapi terasa hanya satu-dua saja yang lewat dan itu pun memacu kendaraan dengan kencang. Mumpung sepi.

Ya, saya maklum. Di tengah kemacetan Bundaran HI di jam-jam sibuk kantoran, pastilah pikiran kita cuma tertuju ke pertanyaan “kapan mobil ini terbebas dari antrean kendaraan’.

Jika sudah waktunya mobil berjalan di tengah ketersendatan, mata kita hanya menatap ke depan, ke bemper mobil di depan kita. Terus-menerus begitu sampai kita mesti berbelok ke gedung atau kantor yang kita tuju.

Pantaslah bapak itu tak tahu kalo Bundaran HI mempercantik diri.

Manusia Jakarta kadang memang sering kali menjadi serupa dengan mesin. Fokus saat harus berjalan karena ada ruang di tengah macet, lalu setop lagi. Memajukan kendaraan inci demi inci. Semua dilakukan dengan berbatas ruang karoseri mobil yang ditumpangi.

Saat three in one sudah tidak berlaku, dan diganti sistem ganjil-genap, makin banyaklah kendaraan yang hanya diisi satu-dua orang saja, padahal kapasitas mobil 7 seats atau 5 seats. Akibatnya, interaksi antarindividu di dalam mobil berkurang, tetapi pertanyaannya: kalau sendirian di mobil, kenapa bisa nggak sempat ya lihat-lihat suasana Jakarta.

Jawabannya: apa yang mau dilihat! Bangunan-bangunan menjulang tinggi, kemacetan yang enggak kelihatan “ekor” dan “buntut”-nya, sangat tidak menarik buat dipandang. Bikin tambah stres.

Nah, karena hari Senin, 3 Juli 2017, seminggu setelah Lebaran sepertinya akan jadi “hari normal” kemacetan di Jakarta. Ada baiknya kita bersiap-siap menghadapi kemacetan. Ingat-ingat kembali kiat-kiat menghindari stres saat macet.

Langkah-langkah ini bisa Anda lakukan ketika terjebak di kemacetan :

1. Bila Anda merasa mulai stres, segera tarik napas dalam dari hidung dan keluarkan dari mulut. Lakukan ini minimal 5 kali. Tujuannya agar oksigen tersuplai ke otak dan Anda dapat berpikir jernih.

2. Pikirkan segala hal positif. Cara ini membantu untuk mengalihkan pikiran dari pemicu stres tersebut. Bila Anda di mobil bersama keluarga atau teman, cari topik obrolan ringan sebagai pengalih pikiran terhadap situasi lalu lintas yang macet.

Nah, jika Anda langganan lewat Bundaran HI, nikmatilah pemandangan penghilang stres berupa tanaman-tanaman warna-warni dan tanamann berbunga yang memang diletakkan untuk mempercantik kota, sekaligus menenangkan jiwa.

3. Lakukan kegiatan yang menyenangkan, misalnya dengan mendengarkan musik dan ikut bernyanyi. Terlebih bila lagu yang Anda nyanyikan adalah kesukaan. Selain itu juga bisa melakukan stretching ringan sambil duduk di belakang kemudi.

4. Menjaga jarak aman saat macet. Dengan menjaga jarak aman kemungkinan stres dapat diminimalkan, karena Anda sebagai pengemudi jadi tidak terpancing oleh kesalahan pengemudi di depan yang bisa rem mendadak.

 

Foto: Dok Pribadi

  1. Foto Head: Suasana Bundaran HI yang sepi kendaraan pada Senin, 26 Juni 2017, Hari Kedua Lebaran
  2. Foto Tengah: Suasana sepi di Jalan Jenderal Sudirman
  3. Foto Bawah: Suasana sepi di Jalan MH Thamrin

Hati-hati Persekusi

Kalian tahu nggak, sampai hari ini ada 59 orang yang dilabel sebagai penista agama/ulama. Identitas (foto profil, pekerjaan, alamat rumah, kantor, dll) dan postingan mereka disebar ke media sosial.

Mereka diintimidasi, digeruduk di rumah atau kantor, diancam dengan kekerasan, dipaksa meminta maaf secara lisan atau tulisan, dan digiring ke kantor polisi. Keseluruhan aksi ini disebut sebagai persekusi.

Pelaku intimidasi juga kerap memalsukan akun-akun pengguna media sosial yang berasal dari etnis/agama minoritas, mengambil foto dan identitas pemilik akun asli. Pemalsu akun lantas memposting konten yang menghina ulama supaya oemilik akun asli menjadi target initimidasi.

Aksi ini mengancam demokrasi karena sekelompok orang mengambil alih peran negara untuk menetapkan orang bersalah dan menghukum mereka. Ini adalah upaya untuk menyebarkan teror supaya kita takut untuk menyampaikan pendapat, berdebat secara damai, dan menyikapi perbedaan secara dewasa.

Jika kalian menjadi target atau menemukan teman-teman kalian menjadi target intimidasi dan persekusi:

1. Laporkan ke HOTLINE KOALISI ANTI-PERSEKUSI
Telepon atau SMS ke 0812.8693.8292
Email: [email protected]

2. Ingat selalu bahwa jejak digital tidak dapat dihapus, siapapun bisa mengcapture dan menyebarkan ulang data pribadi dan postingan di media sosial.

3. Selalu berhati-hati dan menahan diri untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian, anda dapat terjerat UU ITE dan KUHP.

4. Selalu saling menjaga dan mengingatkan di antara sesama pengguna media sosial dan lingkungan pertemanan untuk berhati-hati dalam berbagi data dan konten.

5. Jangan menampilkan identitas seperti: tanggal lahir, nomor telepon, alamat, detail anggota keluarga, orientasi seksual, riwayat pendidikan dan pekerjaan karena informasi ini dapat disalahgunakan oleh orang lain.

Jadilah pengguna media sosial yang bijak. Saling mengingatkan satu-sama lain!

Koalisi Anti Persekusi

Jakarta, 1 Juni 2017

Tips Praktis Memastikan Berita Hoax atau Bukan

Setelah merumuskan tujuh tips praktis untuk mencegah tersebarnya hoax, yang dimulai dari diri sendiri, kali ini kita bicara soal cara menentukan sebuah berita itu hoax atau tidak, secara praktis. (Tentang tips mencegah penyebaran hoax, baca di sini)

Tips ini adalah hasil jajak pendapat komunitas alumni persekutuan mahasiswa Kristen di Fakultas Ilmu Budaya UI, dan inilah hasilnya:

Berita itu hoax kalau:

1. Terkesan bombastis dan timbul perasaan tak enak saat membacanya.
Hehehe.. untuk melakukan ini memang tak bisa instan ya. Kamu harus banyak-banyak membaca berita sehingga tahu mana yang bombastis dan mana yang tidak. Apalagi kalau main perasaan. Kata Yustinus Yuniarto sih, kalau menimbulkan kegalauan nasional, patut dicurigai itu.

2. Tak sesuai logika atau tak masuk akal.
Poin ini cukup banyak responden yang seia sekata. Menurut Sury Waruwu, berita hoax itu pasti tidak logis dan punya kecenderungan menjatuhkan seseorang atau produk.

3. Keterlaluan ngaconya
Eva Sinaga mengatakan, berita hoax itu adalah berita yang aneh dan ngaconya keterlaluan.
Dalam istilah lain, kata Elsye Meilani, kalau berita itu terkesan lebay. “Bikin males nerusin membaca sampai habis,” tutur Tyas.

4. Terlalu berbeda dengan berita-berita lain
Betul juga, kalau mayoritas media bilang A, terutama media-media yang memiliki reputasi baik atau mainstream, tiba-tiba ada yang bilang Z, maka patut dicurigai berita beda sendiri itu adalah hoax.

5. Tidak nyambung
“Berita hoax suka enggak nyambung atau bombastis lebay tralala,” kata Budi Harnata.

6. Kalau sumber-sumber terpercaya sudah mengkonfirmasi
Maksudnya, kalau ada berita yang kamu curigai, ada baiknya lakukan cross check ke mesin pencari, seperti yang dilakukan Dyah Kristiani. Kamu juga bisa tanya-tanya orang yang lebih punya wawasan atau. Lalukan juga cross check ke sumber lain yang punya reputasi.

Mudah-mudahan membantu ya. Semoga kamu termasuk orang yang tak terlalu mudah pada berita-berita yang palsu apalagi menyebarkannya. Say no to hoax. #turnbackhoax

7 Tips Mengatasi Hoax yang Wajib Kamu Coba

Berita palsu alias hoax yang beredar akhir-akhir ini telah menimbulkan keprihatinan kita. Dunia maya dan media sosial menjadi saluran penyebaran hoax yang sulit sekali dikendalikan.

Sebetulnya, untuk menangkal hoax bisa kita mulai dari diri sendiri. Sebab tak bisa dicegah, kita semua bisa terpapar hoax. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah hoax itu tersebar lagi dengan berhenti menyebarkannya ke lingkaran pertemanan kita.

Ada beberapa tips untuk menghentikan peredaran hoax di Internet, berdasarkan survei kecil-kecilan yang dilakukan PETRA di komunitas alumni persekutuan mahasiswa Kristen Fakultas Ilmu Budaya UI, baru-baru ini:

1. Pastikan kebenarannya
Cukup mudah memastikan kebenaran sebuah informasi di era googling saat ini. Kita tinggal mengetik di kolom pencarian. “Baca baik-baik, lihat sumber beritanya,” kata Dyah Kristiani. Kalau sudah pasti hoax, “Langsung saya hapus,” ujar Sury Waruwu.

2. Kalau ragu
Kamu bisa memanfaatkan komunitasmu, keluarga, orang dekat, atau siapa saja yang kemungkinan besar punya informasi yang lebih bisa dipercayai mengenai sebuah berita, kalau kamu meragukan kebenarannya.

3. Jangan terpikat kata pancingan
Kata “Ini bener enggak ya?” bisa jadi pemancing yang baik dan pembuat hoax tahu itu. Karena itu tepat seperti kata Job Palar, “Saya enggak bakal teruskan atau share meskipun dengan embel-embel kalimat itu, saya akan delete.”

Terlepas dari adanya pancingan, Aster Silalahi memilih membaca saja hoax yang ada, “Sambil nyela-nyela beritanya, tapi dalam hati saja.”

4. Cuekin
Langkah ini paling banyak dipilih oleh responden Petra dan ini ampuh untuk membuat berita hoax berhenti di kamu, tidak tersebar ke mana-mana lagi.

5. Tegur pengirimnya
Cara ini dipandang ampuh untuk membuat si pengirim hoax tak meneruskan aksinya, khususnya kalau si pengirim adalah orang yang kamu kenal. Ingat, sampaikan teguran melalui jalur pribadi, kata Sury.

6. Unfollow
Kalau penyebar hoax ada di jejaring sosialmu, langkah ini dipandang efektif untuk menghindarkan kamu dari hoax dan tak terjebak ikut menyebarkannya. “Sedang berita hoax-nya, abaikan saja, tidak diteruskan,” kata Sarwendah Palupi.

7. Tertawakan
Tips ini lucu dan menarik juga. “Tertawa ngakak atau tertawa miris lalu lupakan,” kata Eva Sinaga.

***

Kamu bisa baca tulisan saya yang lain soal hoax di:  http://bangdeds.com/2017/01/09/melawan-hoax/

Adat/Tradisi versus Kekristenan, Bagaimana Menyikapinya?

Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki tradisi/adat. Tapi ada juga banyak tradisi dalam adat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Bagaimana kita menyikapinya?

Verkuyl menulis bahwa kata ‘adat’ berasal dari bahasa Arab ‘ada’ yang berarti cara yang telah lazim atau kebiasaan yang terjadi pada masyarakat.

Adat merupakan hasil karya manusia dalam mengatur kehidupannya serta relasi antar sesamanya agar memiliki ketertiban dan keteraturan untuk menuju kesejahteraan yang diharapkan.

Pertemuan antara kekristenan dan adat sering sekali terjadi proses saling mempengaruhi, baik secara sadar atau tidak. Lalu bagaimana manusia bersikap menghadapi tradisi itu?

Setidaknya ada tiga kecenderungan yang dijadikan panutan sikap manusia menghadapi adat-istiadat di sekelilingnya.

Pertama, sikap antagonistis/penolakan akan segala bentuk adat-istiadat yang tidak diingininya, gejala ini kita lihat dalam bentuk fundamentalisme yang ektrim. Kelompok ini memandang seolah-olah tidak ada sesuatu yang baik didalamnya, alias semuanya jahat.

– Mat.15: 6b “… Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.
– 1Pet.1:18-19 “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus…”

Kedua, sikap terbuka yang kompromistis yang menerima segala bentuk adat-istiadat lingkungannya. Sikap demikian sering terlihat dalam kecenderungan liberalisme ekstrim yang sering menganut faham kebebasan.

Ketiga, sikap dualisme.
Sikap ini tidak mempertentangkan dan tidak mencampurkan faham-faham adat itu, tetapi membiarkan semua adat-istiadat itu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Sikap ini menggunakan standar ganda, yaitu dilingkungan kristen ia berusaha hidup suci sesuai standar lingkungan jemaatnya tetapi didalam adat dia juga melaksanakan adat sesuai dengan standard perilaku adat yang berlaku.

Bagaimana sikap kita seharusnya?

Rasanya ketiga kecenderungan sikap demikian kurang tepat bagi seorang Kristen. Verkuyl dalam salah satu buku etikanya mengatakan bahwa umat Kristen terjerat diantara daya tarik antara libertinisme dan farisiisme. Di satu segi ia ditarik oleh kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, di segi lain ia ditarik oleh kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Kenyataan yang disebutkan Verkuyl itu memang benar, dan sikap di antara itu juga tergoda sikap mendua yang ada di antara kedua kecenderungan itu.

Lalu bagaimana selayaknya gereja bersikap?

Bagi mereka yang takut akan Allah, rasanya semua tindakan kita dalam menerima adat-istiadat perlu berorientasi pada Allah dan kehendak-Nya, ini menghasilkan empat pertimbangan berikut, yaitu

sikap dalam menghadapi adat-istiadat :

(1) Memuji dan memuliakan Allah
(2) Tidak menyembah berhala
(3) Mencerminkan kekudusan Allah
(4) Mengasihi manusia dan kemanusiaan.

Keempatnya berurutan dari atas ke bawah dimana memuji dan memuliakan Allah adalah tugas utama umat Kristen (Mazmur 150) dan ketiga lainnya diukur dari apakah itu meneguhkan kepujian dan kemuliaan Allah atau tidak.

Lalu adakah tingkat-tingkat pertumbuhan yang menentukan umat kristen bersikap?

Kedewasaan umat kristen dalam bersikap perlu mengarah pada kecenderungan transformatif, yaitu ia hidup dengan mentransformasikan setiap adat-istiadat agar sesuai dengan kepujian, kemuliaan dan kehendak Allah.

Ia semula hidup berkajang dalam dosa dan melakukan adat-istiadat dimana kuasa dosa banyak berpengaruh. Pengenalannya akan Tuhan Yesus Kristus membawanya kepada pertobatan (metanoea) dimana ia mulai merasakan perubahan arah dalam hidupnya dari dosa menuju kebenaran, dan seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor.5:17).

Dari perubahan yang transformatif inilah ia terus menerus melakukan transformasi dari dosa menuju kebenaran sehingga kehidupannya makin hari makin baik. Rasul Paulus mengatakan bahwa: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya (Flp.3:12).

Namun, harus disadari bahwa transformasi itu bukanlah hasil usaha manusia dengan kekuatannya sendiri tetapi sebagai hasil interaksi iman kita yang mendatangkan rahmat Allah: Dan semuanya itu dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).

Sebagai kesimpulan:
1. Penerimaan dan penghargaan kita terhadap Adat tersebut sebenarnya juga sejalan dengan Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
2. Kita harus selektif terhadap Adat, menerima yang sesuai dan menolak yang bertentangan dengan Alkitab.
3. Kita juga harus mengikuti teladan Tuhan Yesus, yang tidak hanya selektif terhadap Adat, tapi juga terus menerus membaharuinya.
4. Dalam penerapan Adat tersebut, kita harus selalu waspada agar tidak tersesat dan menghambat pertumbuhan Iman kita. Sikap waspada tersebut sesuai dengan pemahaman kita tentang doktrin manusia, termasuk diri sendiri, yang telah jatuh ke dalam dosa.
5. Penerimaan dan penghargaan kita terhadap Adat secara umumnya, juga sejalan dengan pengakuan dan penghargaan kita kepada nilai luhur kemanusiaan kita yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah.
6. Penerimaan dan penghargaan kita terhadap Adat dapat juga dilihat sebagai penghargaan kita kepada karya nenek moyang sebagai salah satu warisan sangat berharga. Karena itu, kita bukan saja bersikap menerima Adat tersebut tetapi juga terus menerus membaharuinya.
7. Penerimaan dan pengakuan kita terhadap Adat juga dapat dilihat sebagai pengakuan dan penghargaan akan karya Allah yang sanggup bekerja di dalam diri nenek moyang, entah mereka menyadari hal itu atau tidak.
8.

Penerimaan dan penghargaan kita terhadap Adat juga dapat menjadi sarana bersaksi. Jadi jika kita menolak adat, maka kita sebenarnya kehilangan kesempatan utk bersaksi.

Ingat kesaksian rasul Paulus pada Gal.1:14-16; 1Kor.9:19-23.

“Di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku” (Gal.1:14).
-“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi…bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang, aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil… ” (1Kor.9:19-23).

-*-

Ironi Sebuah Pilihan

Pilihan itu adalah sebuah kemewahan. Pilihan itu adalah sesuatu yang menarik. Pilihan itu memberi rasa kemerdekaan, kedewasaan, dan kemanusiaan.

Tapi di sisi lain, pilihan juga bisa menakutkan, sebab kita tidak tahu mana yang benar pada akhirnya.

Pilihan itu pun disertai dengan resiko. Jika pilihan tepat, semua berjalan baik. Jika pilihan salah, siap-siap menanggung resikonya.

Seorang teman pernah curhat. “Kayaknya gue salah pilih suami deh,” katanya. Saya hanya diam mendengarkan. Sejujurnya saya pernah menduga hal ini sejak awal. Tak seorangpun dari pihak keluarganya yang merestui rencana pernikahan mereka sejak semula. Saya sendiri sebagai teman pun bisa melihat bahwa lelaki itu bukan tipe suami yang tepat untuknya.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah memberi bumbu dan ‘aksesoris’ pelengkap agar bubur itu bisa tetap dinikmati.

Rekan saya dulu juga pernah menyesal telah salah pilih dalam merekrut karyawan untuk jadi anak buahnya. Program dan kondite tim-nya memburuk karena karyawan ini. Untungnya karyawan tersebut masih dalam masa kontrak, sehingga bisa diterminasi tanpa masalah.

Salah pilih pembantu rumah tangga pun, bisa sangat merugikan kita. Seorang teman lama saya, pernah mengalami kejadian buruk, babysitter yang dipilihnya dari yayasan ternama, mencoba membawa kabur anaknya yang yang masih bayi tapi berhasil digagalkan, dan itu sempat membuatnya trauma.

Seorang sepupu saya, salah memilih jurusan waktu kuliah. Dia tidak suka jurusan itu dan dia tidak bisa mengikutinya. Akibatnya, dia drop out. Dia telah menghabiskan beberapa tahun dengan percuma, rugi waktu, uang, energi dan korban perasaan diri sendiri dan kekecewaan orangtua, hanya karena kesalahpilihan itu.

Saya suka alpukat. Tapi sampai kini, saya paling tidak bisa memilih alpukat yang bagus. Kadang saya dapat yang bagus, tapi lebih sering dapat yang tidak bagus. Dan itu kadang membuat saya jadi agak malas membeli alpukat. Saya menyebut hal ini sebagai resiko pilihan. Betapa pilihan itu kadang tidak mudah, memusingkan dan bikin frustasi.

Ironi sebuah pilihan adalah ketika kita sudah tahu sesuatu hal itu tidak baik, tapi tetap kita pilih juga.
Saya pernah salah pilih teman gaul. Untungnya saya segera sadar karena ibu saya mengingatkan. Kalau tidak, saya mungkin akan sama nasib dengannya sekarang, luntang-lantung tanpa pekerjaan yang jelas.

Seorang teman saya di kampus dulu, pernah mengakui bahwa dia buruk sekali dalam hal pilihan pacar. Dia sudah tahu lelaki itu buaya, tapi karena dia ganteng, dia suka pada lelaki itu, dia akan memilihnya jadi pacar. Dan tak lama kemudian mereka akan putus, dia akan kecewa dan patah hati, dan menangis mengadu pada saya.

Seorang rekan kantor yang sedang diet, tahu bahwa gorengan tidak bagus untuknya, tapi jika disodorkan pilihan gorengan atau buah segar, dia akan tak tahan untuk tidak memilih gorengan. Bagaimana bisa sukses dietnya kalau begitu? Sudah tahu lemak harus dikurangi, tapi masih dimakan.

Masa kita sudah tahu dia koruptor tapi kita suka karena ganteng, kita memilih dia jadi pemimpin, misalnya? Sudah tahu dia punya istri, masa kita mau memilihnya jadi suami, mau menjadi istri simpanan? Sudah tahu dia mata keranjang, tapi kita masih mau jadi pacarnya?

Ketika kita sudah tahu bahwa sesuatu itu tidak baik, walau kita menyukainya, beranikah kita, sanggupkah kita, kuatkah kita, untuk tidak memilihnya?

Sesungguhnya, pilihan kita menunjukkan siapa kita. Jika kita memilih pemimpin koruptor, jangan protes nanti jika pembangunan tidak berjalan, dan masa depan negara dan anak-cucu kita suram.
Hidupmu pilihanmu. Pilihan ada di tanganmu. Jangan karena alasan sentimental karena subjektifitas sekedar rasa suka saja, karena ganteng, karena kenalan atau kerabat, sesuku atau seagama, menjadi alasan untuk tidak memilih kandidat yang sebenarnya paling bagus untuk jadi pemimpin.

Saya tidak suka sayur dan air putih. Tapi saya memilih untuk memaksa diri makan sayur dan minum air putih secukupnya setiap hari, sebab saya ingin tetap sehat, segar dan awet muda.

Demikian saya coba aplikasikan dalam bidang kehidupan lainnya. Sekalipun misalnya guru anak saya galak, kalau memang dia bagus membuat anak saya disiplin, saya akan memilihnya.

Jika harus memilih, saya akan memilih pemimpin yang walaupun berbeda dengan saya, tapi memiliki integritas untuk mengabdi pada bangsa dan negara, bukan yang diam-diam menggerogoti uang negara untuk kepentingan pribadi dan membiarkan ketidakadilan terjadi.

‘Salah pilih’. Kata yang sangat mengerikan. Betapa fatalnya jika kita salah pilih. Salah pilih suami, rumah tangga hancur. Salah pilih karyawan, perusahaan hancur. Salah pilih pembantu, menimbulkan masalah besar. Salah pilih pekerjaan, tidak bahagia.

Salah pilih pemimpin?

-*-

Melawan Berita Hoax

Sebelum era kampanye pilkada DKI Jakarta, istilah hoax mungkin belum seramai sekarang. Padahal, istilah ini sudah lama sekali dikenal.

Hoax berasal dari kata hocus yang artinya “untuk menipu”. Segala yang disebut hoax dimaksudkan untuk menipu. Istilah ini sudah ada sejak akhir abad ke-18.

Begitu pun informasi-informasi yang sekarang dikategorikan sebagai hoax, memang ditujukan untuk menipu.

Sebagai wartawan, melakukan check and recheck terhadap setiap informasi yang kami terima atau baca, adalah sebuah standar.

Berita yang kami terbitkan, seharusnya berangkat dari informasi-informasi yang sudah diverifikasi kebenarannya alias fakta.

Masalahnya, sekarang ada begitu banyak media atau yang menyebut dirinya media. Sulit sekali memastikan bahwa sekian banyak media itu sudah menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang benar.

Oleh sebab itu, alih-alih mengharapkan media, tak ada salahnya masyarakat awam pun menerapkan check and recheck saat menerima informasi apapun. Terutama berita atau informasi yang beredar di dunia maya dan media sosial.

Untungnya, sekarang sudah ada tools yang bisa kita manfaatkan.

Kalau polisi beberapa waktu lalu punya kampanye melawan kejahatan bernama Turn Back Crime, sekarang pun sudah ada kampanye melawan hoax yang disebut Turn Back Hoax.

Tools ini diciptakan oleh Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Ia berbentuk ekstensi peramban. Datanya berdasarkan mekanisme crowdsourcing.

Artinya, kitalah yang berinisiatif melaporkan konten-konten Internet yang diduga sebagai hoax. Kemudian mereka akan menyatukannya jadi satu basis data.

Kita bisa mengunjungi basis data ini melalui PC atau perangkat mobile di website data.turnbackhoax.id. Ia bisa menjadi rujukan bagi kita untuk memilah informasi-informasi yang beredar di dunia maya.

Supaya input yang diterima tak salah, para pengguna bisa saling memverifikasi laporan yang masuk. Tata cara untuk melapor bisa dibaca di sini.

Foto: Pixabay.com

Tulisan ini dikutip dari blog sendiri: http://bangdeds.com/2017/01/09/melawan-hoax/

Perubahan Hidup

Tahun yang baru adalah momentum yang tepat untuk membuat komitmen untuk melakukan perubahan hidup. Akan tetapi hal ini bukan perkara mudah. Mengubah kebiasaan biasanya menimbulkan ketidaknyamanan. Meski begitu, perubahan hidup bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai.

Langkah pertama untuk mengubah hidup adalah dengan menyadari adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan hidup. Kebutuhan akan memotivasi kita untuk melakukan sesuatu. Mengapa kita mau berjalan ke dispenser? Karena kita butuh minum. Demikian juga kalau kita sudah menetapkan bahwa perubahan hidup adalah sebuah kebutuhan maka kita akan termotivasi untuk mencapainya.

Berikutnya, Anda perlu menetapkan tujuan dengan menggunakan pendekatan “SMART”. Dalam metode ini, tujuan Anda harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Specifik, Measured (dapat diukur), Appropriate (sesuai kebutuhan Anda), Realistis, dan Time-bound (terikat waktu).

Mulailah dengan menentukan tujuan yang spesifik. Misalnya, jika Anda perlu meningkatkan aktivitas fisik Anda, jangan hanya berkata “saya akan meningkatkan aktivitas saya nanti”. Target ini tidak jelas, dan untuk mencapainya akan lebih sulit.

Cobalah menggantinya menjadi “saya akan berjalan 1 kilometer atau 2.000 langkah setiap hari.” Tapi ingat, sesuaikan target Anda dengan kondisi tubuh. Jangan memaksakan diri untuk berjalan terlalu jauh jika Anda tidak fit. Konsultasikan dengan dokter tipe olahraga yang sesuai untuk Anda.

Kunci lainnya adalah dengan menetapkan target yang realistis. Lakukan langkah demi langkah menuju target utama Anda. Misalnya, jika Anda ingin mahir mengemudi mobil, maka mulailah dengan belajar mengemudi di tempat yang aman dulu.

Setelah itu, mulai mengemudi di jalan raya yang sepi. Jika sudah percaya diri, mulai mengemudi di tempat yang lebih ramai.

Dengan menjalani perubahan setahap demi setahap, Anda akan tetap termotivasi untuk menyelesaikan keseluruhan program. Namun jika Anda menetapkan target yang tidak realistis, misalnya langsung menjuarai balapan mobil, maka Anda akan lebih cepat merasa frustasi.

Ketika perubahan dimulai, maka catatlah perkembangannya dalam catatan harian. Dalam diari ini, Anda bisa mencatat apa yang Anda lakukan dan perkembangan apa saja yang mulai terlihat. Sekecil apa pun itu.

Yang Anda perlukan hanyalah sebuah buku. Mulailah menuliskan kondisinya sebelum dimulai perubahan, kemudian rekamlah perkembangannya. Diari membantu Anda tetap bersemangat menjalani keseluruhan program sampai selesai.

Jika Anda mulai mengalami kemajuan, jangan lupa memberikan hadiah dengan pada diri sendiri. Berikan hadiah yang positif. Jangan sampai ketika Anda berhasil berhenti merokok selama sebulan, maka Anda memberikan hadiah dengan membiarkan Anda merokok sebatang.

Ketika Anda memulai target baru, tawarkan diri Anda sebuah janji hadiah, misalnya, “Jika saya mencapai target ini, saya akan membeli CD lagu kesukaan saya.”

Dengan melakukan perubahan ini, maka Anda kehidupan Anda akan menjadi lebih baik.

 

Purnawan Kristanto

Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis.

Laman asli tulisan ini lihat di: http://renungan.purnawan.web.id/?p=716

Penulis adalah writer | trainer | humanitarian volunteer | video & photo hobyist | jazz & classic lover | husband of priest | father of two daughters |