Category Archive : Renungan

Peran Kaum Awam di Gereja: Studi Kasus GSRI

Laity menurut kamus Merriam-Webster memiliki pengertian : (1) orang-orang yang beragama yang dibedakan dari para klerus, (2) kelompok massa yang dibedakan dari mereka yang memiliki profesi tertentu atau mereka yang memiliki keahlian khusus.

Di dalam catatan sejarah gereja, pemisahan peran laity dan klerus (kaum imam) belum tampak pada gereja abad pertama. Barulah pada pertengahan abad ketiga, ketika orang Kristen semakin banyak, ikatan persatuan tidak lagi terkait eschatological hope, melainkan soal sakramen yang dikelola oleh kaum klerus. Apostolic Constitutions pada awal abad ke-empat melahirkan definisi laity yang lebih tepat dan kaum rohaniawan memiliki peran yang lebih besar di gereja, serta terjadinya pemisahan kaum laity dan klerus dalam ibadah .

Tapi bila hari-hari ini adalah masanya gereja, maka pastilah ini adalah masanya kaum laity di gereja. Sebab tak ada masa-masa seperti ini di dalam sejarah, di mana kita bisa mengakui bahwa orang-orang Kristen, apapun kedudukan dan statusnya, sama-sama dipanggil untuk memenuhi hidup sebagai orang Kristen. Semua umat Allah bisa berdialog, berbagi ide dan wawasan, tentang fungsi khas mereka di gereja .

Kesetaraan ini nampak nyata di Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI). Meski pemisahan peran tetap berlaku, namun partisipasi kaum laity di GSRI terbilang signifikan. Tak hanya terlibat dalam berbagai pelayanan dan program gerejawi, kaum laity juga diizinkan menyampaikan kotbah di mimbar pada ibadah raya hari Minggu, dan menjadi ketua Badan Pengurus Sinode. Mengapa kaum laity mendapat peran sedemikian besar di GSRI?

Latar Belakang Gereja
Pada Juni 1942, Pendeta Timothy Dzao Zse Kwang dan lima rekan kerjanya mendirikan badan misi bernama Ling Liang Church di Shanghai. Ling Liang di Shanghai ini selanjutnya menjadi gereja induk bagi Ling Liang World-Wide Evangelistic Mission. Pada musim gugur tahun 1947, Gereja Ling Liang mengangkat Rev. Chuanzhen Lan dan Rev. Moses Chou sebagai pendeta misionaris. Rev. Lan dan istrinya diutus ke Calcutta, India, sedangkan Rev. Moses Chou ditugaskan melayani di Jakarta, Indonesia

Jejak pelayanan di Indonesia sebelumnya sudah dirintis oleh Pendeta Timothy Dzao Zse Kwang yang mengunjungi Indonesia pada 1941 dan mendirikan Gereja Sidang Kristus Batavia. Ke gereja inilah Pendeta Moses Chow diutus pada 1947 dan ditugaskan sebagai Gembala Sidang. Pada tanggal 25 November 1950, gedung gereja baru diresmikan dan tanggal ini ditetapkan sebagai tanggal berdirinya GSRI. Pada 27 Februari 1961 gereja ini resmi menyandang nama Gereja Santapan Rohani Indonesia.

Dalam usaha untuk memenuhi rencana jangka panjang, GSRI membuka Sekolah Latihan Pengabaran Injil di Kebayoran Baru, yang ditutup tak lama kemudian sebagai imbas peristiwa perpolitikan nasional. Dengan anugerah Tuhan, gedung Sekolah Latihan Pengabaran Injil ini dikembalikan pada tahun 1979 dan sekolah pekabaran Injil dibuka kembali pada 1981 dengan nama Institut Misi Alkitab Nusantara (IMAN), kini dikenal dengan nama STT Iman Jakarta.

GSRI kini terdiri dari 25 gereja mandiri yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, dari Sumatera sampai ke timur Indonesia.

Sistem Pemerintahan GSRI
Tata Gereja GSRI pasal 15 tentang Majelis Jemaat pada ayat 1 menyebutkan, sesuai dengan bentuk Gereja Santapan Rohani Indonesia yang presbiterial, maka pelayanan Sidang Jemaat dilaksanakan oleh Majelis Jemaat Gereja Santapan Rohani Indonesia. Pada ayat 2 disebutkan, Majelis Jemaat terdiri dari para pejabat gereja yaitu (Pendeta, Guru Injil) bersama-sama dengan para penatua.

Sistem ini mengatur, pemerintahan gereja ada di tangan pejabat-pejabat gerejawi yang secara kolektif disebut Majelis Jemaat. Setiap anggota Majelis Jemaat mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Masing-masing juga memiliki tugasnya sendiri.

Apabila kita mengamati tata gereja di atas, dapat disimpulkan bahwa GSRI memiliki sistem pemerintahan presbiterian. Pada sisi lain, GSRI juga menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang mengikat dan cenderung menerapkan sistem sinodal. Maka GSRI, dan tentu saja GSRI Depok, dapat dikatakan menganut sistem pemerintahan yang disebut presbiterian sinodal.

Ciri lain sistem presbiterian sinodal adalah kepenuhan dalam kesatuan. Tiap-tiap jemaat yang dipimpin oleh Majelis Jemaat mempunyai kemandirian penuh; tetapi pada saat yang sama tiap-tiap jemaat yang ada berada dalam kesatuan dengan jemaat-jemaat lain dalam satu sinode.

Hal ini mempunyai implikasi positif sebagai berikut: Jemaat mempunyai otonomi (kemandirian penuh) tetapi terbatas; yang membatasinya ialah sinode. Sebaliknya Sinode mempunyai kekuasaan tetapi terbatas; yang membatasinya ialah jemaat-jemaat. Dalam sistem presbiterial sinodal, semua keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama bukan berdasarkan wewenang yang ada pada salah satu pihak.

Pembahasan
Kaum laity memiliki peran yang cukup signifikan di GSRI, bahkan sejak dari berdirinya. Di dalam sejarah misinya, GSRI termasuk gereja Tionghoa di mana kaum awam atau jemaat biasa berperan besar dalam mengabarkan injil kepada sesamanya dan berbuah banyak. Hal ini menepis anggapan bahwa kekristenan di Jawa Barat semata-mata adalah warisan badan zending. Para pekabar Injil Tionghoa tersebut, dianggap juga sebagai soko guru bagi beberapa jemaat di wilayah ini .

Di dalam sistem pemerintahannya, berdasarkan tata gereja di atas, dapat dikatakan bahwa Jemaat mandiri memiliki kekuasaan yang lebih besar ketimbang sinode, dan di dalam jemaat ini, kaum laity berperan besar. Ambil contoh GSRI Depok yang pernah diobservasi oleh penulis, hamba Tuhan atau pendeta di GSRI Depok secara otomatis termasuk ke dalam Majelis Jemaat, begitu juga Guru Injil. Adapun anggota Majelis Jemaat yang lain berasal dari jemaat laity, yang dipilih oleh sesama jemaat secara aklamasi dan terbuka dalam Sidang Jemaat.

Majelis Jemaat di GSRI Depok menjabat selama 3 tahun dan otomatis diperpanjang satu kali lagi. Setelah dua periode, mereka harus berhenti. Setelah satu periode berselang, jemaat yang pernah menjadi majelis, berhak untuk dipilih lagi menjadi anggota Majelis Jemaat. Anggota Majelis Jemaat yang berasal dari kaum laity mendapat gelar Penatua.

Tidak hanya di dalam pemerintahan, GSRI juga memberikan kesempatan yang besar bagi jemaat awam untuk melayani di berbagai bidang, termasuk berkotbah di mimbar ibadah raya. Tentu dengan kualifikasi tertentu dan telah mendapat persetujuan dari Gembala Sidang dan Majelis Jemaat. Kaum awam juga berkesempatan untuk melayani di bidang-bidang lain, seperti menjadi pemimpin kelompok sel, pemimpin pujian, pendoa, pengumpul persembahan, pembaca warta, pemusik, singers, usher, panitia hari besar gereja, dan sebagainya. Pendeta Ayub Rusmanto M.Th, gembala siding GSRI Depok berkata: “Keterlibatan kaum awam sangat nyata dan memberikan dampak positif di tengah tengah jemaat, karena dalam penggembalaan, seorang pendeta bukanlah semata-mata menjadi sentral pelayanan. Tetapi pendeta adalah pembina, pembimbing jemaat untuk terus bertumbuh di dalam Kristus melalui salah satunya adalah pelayanan di gereja.”

GSRI bahkan melangkah lebih jauh ketimbang gereja-gereja lain. Gereja ini juga memberikan kesempatan kepada laity untuk menjadi Ketua Sinode. Mengapa ini bisa terjadi?

Rupanya sistem pemerintahan gereja ini memang membuka peluang tersebut. Sebab menurut pasal 8 Tata Gereja GSRI , Sinode Gereja Santapan Rohani Indonesia (G.S.R.I) adalah suatu badan yang dibentuk/didirikan oleh Sidang-sidang Jemaat Gereja Santapan Rohani Indonesia (G.S.R.I) sebagai suatu wadah organisasi yang telah diakui dan mendapat pengesahan dari pemerintah (Dirjen Bimas Kristen Protestan) Kementerian Agama RI. Sinode, berdasarkan aturan ini, bukanlah pemerintah melainkan sekadar organisasi.

Organ Sinode GSRI terdiri dari: (1) Badan Penasihat Sinode, dan (2) Badan Pengurus Sinode. Badan Penasihat terdiri dari paling sedikit 5 (lima) orang dan para kandidatnya diajukan oleh Sidang Jemaat GSRI Mandiri dalam Sidang Raya Sinode. Untuk menjadi anggota Badan Penasihat, syaratnya antara lain: (1) mengetahui sejarah dan latar belakang Gereja Santapan Rohani Indonesia, (2) pernah menjadi anggota Badan Pengurus Sinode GSRI.

Adapun Badan Pengurus Sinode terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara, yang dipilih, diangkat dan disahkan dalam Sidang Raya Sinode. Syarat menjadi anggota Badan Pengurus Sinode antara lain: (1) Anggota GSRI, (2) sekurang-kurangnya berusia 30 (tiga puluh) tahun dan paling sedikit sudah 10 (sepuluh) tahun menjadi anggota GSRI, dan (3) Jabatan Ketua Badan Pengurus Sinode dapat dijabat oleh pejabat gereja atau penatua. Jika ketua Sinode seorang pejabat gereja, maka wakilnya seorang penatua dan sebaliknya.

Tentang tugas dan wewenang Badan Pengurus Sinode bisa dilihat pada pasal 14 Tata Gereja GSRI, antara lain: (1) memelihara hubungan dan kerjasama di antara Sidang Jemaat GSRI dalam usaha untuk mencapai tujuan jemaat setempat dan kepentingan bersama, (2) melaksanakan semua keputusan yang telah ditetapkan dalam Sidang Raya Sinode, (3) bertanggung jawab atas pemberlakuan ketentuan-ketentuan Tata Gereja dan Tata Laksana GSRI, (4) mempersiapkan Sidang Raya Sinode, (5) menyampaikan laporan pertanggung jawaban, usul-usul dan saran-saran kepada Sidang Raya Sinode, dan (6) dalam rangka penggembalaan, Badan Pengurus Harian Sinode menyelenggarakan perlawatan pada Jemaat.

Jadi jelas, di dalam kewenangannya, Badan Pengurus Sinode hanya berfungsi sebagai pemelihara hubungan/fasilitator kerjasama antar Sidang Jemaat di GSRI. Tak mengherankan apabila kaum laity memiliki ruang berkontribusi yang besar di sini.

Penutup

Kaum awam atau laity adalah orang-orang yang beragama yang dibedakan dari para klerus atau pendeta (imam). Sekarang adalah masanya kesetaraan antara laity dan klerus. Hal ini bisa dipelajari dari kasus Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI). Di Gereja ini, laity dan klerus sama-sama dipanggil untuk memenuhi hidup sebagai orang Kristen dan bisa berdialog, berbagi ide dan wawasan, tentang fungsi khas mereka di gereja.

Meski pemisahan peran tetap berlaku, partisipasi kaum laity di GSRI terbilang signifikan. Kaum laity mendapatkan porsi yang cukup besar dalam aktivitas gerejawi, dari pemerintahan sampai berbagai macam bentuk pelayanan, bahkan menjadi ketua Badan Pengurus Sinode. Hal ini memang dimungkinkan oleh Tata Gereja yang menempatkan Badan Pengurus sebagai organ gereja yang berfungsi sebagai fasilitator dan pengelola belaka, bukan merupakan bagian dari sistem pemerintahan.

Daftar Pustaka

Firdaus, Yogi Fitra. “Peran Orang-Orang Tionghoa Dalam Pekabaran Injil: Kajian Historis Terbentuknya Jemaat Tionghoa Di Jawa Barat.” Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Musik Gereja 4, no. 1 (2020): 77–97.
Parrella, Frederick. “The Laity in the Church.” In Proceerings of the Catholic Theological Society of America, 265–266, 1980.
“Laity | Definition of Laity by Merriam-Webster.” Accessed November 12, 2020. https://www.merriam-webster.com/dictionary/laity.
“Sejarah GSRI – Sinode GSRI.” Accessed November 17, 2020. http://sinodegsri.com/sinode/index.php/2015/07/20/sejarah-gsri/.
Tata Gereja Santapan Rohani Indonesia. Jakarta: Badan Pengurus Sinode GSRI, 2018.

Aku, Kau, dan Batu

Selama masa lock down pandemi ini, batu menjadi sesuatu yang menarik perhatian saya, mungkin karena punya waktu untuk mengamati taman-taman bunga dengan batu hias yang menarik di kompleks tempat tinggal saya.

Kisah tentang batu, rupanya sudah menjadi ilham dari banyak kisah menarik bagi saya pribadi sejak kecil.

Yang teranyar adalah kisah tentang batu infiniti di dalam kisah fiksi film Avenger, End Game. Di mana jika kelima batu infiniti itu terkumpul, akan menjadi kekuatan tanpa batas dan kemudian dimanfaatkan oleh Thanos untuk menghancurkan setengah penduduk dunia.

Kisah batu lainnya yang berkesan sejak masa kecil, adalah cerita di masa Sekolah Minggu, tentang batu ketapel yang dipakai oleh Daud untuk membidik jidat raksasa pendekar tentara Filistin, panglima perang Mesir. Batu kecil yang bisa membuat raksasa rubuh dan mati seketika.

Di dalam injil Markus, disebutkan bahwa jika ada seorang yang menyesatkan iman seorang anak kecil, maka penyesat itu harus dihukum dengan batu kilangan yang diikatkan ke lehernya lalu dibuang ke laut.

Lalu legenda tentang Malin Kundang, anak durhaka yang malu mengakui ibu kandungnya. Dia dikutuk menjadi batu, di mana tubuhnya berubah menjadi batu dalam kondisi tengah bersujud meminta ampun pada ibunya.

Kemudian, sebuah legenda tentang Batu Gantung di tepi Danau Toba, yang dianggap perwujudan seorang gadis yang patah hati karena dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Gadis itu terperosok dalam lubang batu dan meminta batu menelan dirinya yang tak lagi ingin hidup. Batu itu pun menggantung dengan bentuk mirip tubuh gadis itu.

Yang paling menohok adalah tentang batu yang dijadikan perumpamaan oleh Yesus dalam kisah perempuan yang berzina. Ketika sang perempuan yang berzina diarak massa dan akan dihukum rajam atau dilempari dengan batu, maka Yesus berkata kepada massa: Siapa yang tidak berdosa, silakan melempar batu pada wanita itu. Namun rupanya pada akhirnya tak seorangpun yang melemparinya batu.

Batu adalah benda kecil, yang banyak gunanya. Bukan hanya untuk bangunan, batu juga bisa untuk hiasan atau perhiasan.
Saya ingat beberapa tahun lalu ketika keluarga besar kami menjahitkan kebaya seragam untuk acara pernikahan saudara, yang membedakan seragam kami adalah hiasan pada kebaya itu. Salah satu hiasan terindah pada kebaya itu adalah batu manik-manik hias yang berkilau.

Manfaat batu bermacam-macam. Batu bisa mempercantik taman, bisa dipakai untuk melukai orang, untuk memperkokoh bangunan, mengusir binatang, menjadi hiasan, bahkan ada yang percaya mitos, batu dipercaya jika diikat dalam baju, bisa menahan mual perjalanan, atau menolak bala.

Sejatinya, batu adalah barang yang fungsional, meski sering dipakai dalam makna konotasi. Kepala batu, artinya manusia keras kepala. Berhati batu, artinya keras hati. Makna positif contohnya dalam kata Batu Karang, yang artinya kuat dan teguh dalam guncangan problema, atau Gunung Batu, artinya tempat pertahanan dan perlindungan.

Dari semua kisah dan fungsi batu di atas, yang paling bikin saya bergidik adalah batu rajam. Di jaman Yunani Kuno, Rajam adalah hukum mati dengan melempari orang dengan batu sampai mati. Hukuman rajam ini terdengar sebagai cara yang keji untuk mati, mengerikan dan seolah tak beradab, serta tak berperikemanusiaan.

Saya teringat suatu kali pernah berhasil menangkap tikus dengan jerat lem tikus di rumah. Karena takut tikus terlepas lagi, buru-buru saya minta tukang sampah membuangnya, namun rupanya kepala si tikus dipukul dulu dengan batu hingga berdarah. Melihat itu seketika saya merasa mual ingin muntah. Saya membayangkan betapa mengerikan hukum rajam, melempari orang hingga mati, pasti seluruh kepala/badannya luka-luka berdarah.

Barangkali memang, seperti kata seorang bijak, kita semua memiliki ‘batu’ dalam diri kita. Batu itu bisa kita keluarkan dalam wujud bahasa atau tindakan. ‘Batu’ kita bisa menjadi benteng buat diri kita. ‘Batu’ kita juga bisa menjadi kerikil bagi orang lain. Kita bisa melempari ‘batu’ pada orang lain dengan bahasa yang kasar atau tindakan yang jahat. Sebaliknya, orang lain juga bisa melakukannya pada kita. Sadar tak sadar, kita bisa perang ‘batu’ dengan saling menghakimi, walau akhirnya kita semua yang terluka.

Namun, sesungguhnya siapakah kita hingga berhak melempar ‘batu’ pada orang yang kita anggap berdosa. Padahal kita juga sama, sesama pendosa. Hanya saja, mungkin dosa kita tidak terekspos.

Alangkah indah dan lebih baik jika kita bisa ‘mengolah batu’ kita untuk manfaat positif. Untuk memperindah, membuat lebih baik, dan membangun. Bukan untuk menjadi senjata untuk melukai sesama kita.

Bukan Tanpa Akhir

Ada sebuah restoran favorit keluarga kami, yang minimal sekali dalam sebulan kami kunjungi. Salah satu menu favorit saya adalah mie lamian khas yang mereka buat secara langsung. Biasanya sambil menunggu pesanan dimasak, saya memerhatikan proses pembuatan mie lamian itu. Tepung yang diadon, diremas, diputar, ditekan, diulen, dibanting, diregang, dibanting, ditarik lagi, berulang-ulang, sampai berkali-kali, hingga bisa dibentuk menjadi mie.

Bagi saya mie lamian itu enak. Beda dengan mie lainnya. Mungkinkah karena proses pembuatannya lebih ‘keras’ dan lama? Mungkin kalau hanya diulen sekali lalu dipotong-potong, bisa saja bentuk atau rasanya berbeda, bukan? Seperti kata orang, proses tidak mengkhianati hasil.

Lalu saya terpikir, apakah hidup kita memang kadang seperti itu. Ketika ada pergumulan, kita merasa menderita seolah hati kita diremas, ditarik, diputar, dibanting-banting, dipukul, disayat-sayat, berulang-ulang, seolah tak ada akhirnya.

Pada akhirnya semuanya ternyata berakhir juga. Dan tanpa sadar, kita sudah setingkat lebih kuat, lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih tahan banting. Naik kelas.

Kalau dianalogikan dengan mie lamian tadi, kita sudah sampai pada fase proses akhir, terbentuk menjadi mie, siap dihidangkan, dan menjadi hidangan nikmat, membawa kesenangan bagi yang menikmati.

Saya jadi ingat, minggu lalu setelah ulang tahunnya yang keenam belas, suatu pagi anak saya ke dapur dan bertanya: Mam, susu sarapanku mana?
Saya menjawab: Mama nggak bikin.
Dia bertanya: Mengapa. Tapi minuman adek Mama bikin.
Saya jawab: Kamu bisa bikin sendiri, kan?
Dia sahuti: Kan biasanya Mama yang bikin.
Jawab saya: Kamu lupa ya, umurmu sudah berapa. Saatnya kamu sudah harus belajar bisa mandiri.
Dia manyun sebentar. Lalu saya mengambil gelas dan memberikan padanya. Dia mengambil susu dan air panas dan menyeduhnya sendiri.

Saya ingat setelah pesta ulang tahun saya ke-17, saya pernah mengeluh, bahwa menjadi dewasa itu tidak enak. Tidak bisa bermanja-manja lagi, semua harus saya kerjakan sendiri. Apalagi kedua orangtua saya bekerja. Kami tidak ada pembantu, saya harus membersihkan rumah sendiri ditambah harus les tiap hari untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi.

Proses pendewasaan itu memang tidak enak, tapi kita harus melaluinya, kata orangtua. Salah satu contoh proses yang ‘menyebalkan’ itu adalah perubahan. Saat itu saya harus bisa mengadaptasi perubahan dari bangun menjadi lebih pagi dan tidur lebih malam, pekerjaan rumah dan pelajaran yang lebih banyak.

Orang yang paling kuat adalah orang bisa beradaptasi dengan perubahan. Begitu kata bapak saya.

Kalau saya ingat hal itu sekarang, terutama dalam kondisi pandemi saat ini, kata-kata itu menjadi motivasi bagi saya untuk saya teruskan pada anak-anak.

Virus Covid-19 entah kapan berakhir, kita harus siap berubah dan menghadapi kondisi ‘new normal’. Semua takkan sama lagi. Kita harus siap menghadapi perubahan, dan terus beradaptasi.

Mungkin saat ini kita sedang dalam fase diregang-regang dan dibanting-banting seperti adonan tepung mie lamian. Mari, bersabarlah, dan tetap bertahan, nanti akan indah pada waktunya.

Jarak antara Kita

Jika ada dua kata yang mendadak familiar dan populer tahun ini bagi saya adalah: Corona dan Masker.

Hampir tiap hari kita menyebutkan atau membaca kedua kata tersebut.

Kedua kata ini, bagi saya, mengandung selipan makna: jarak, atau batas. Karena virus Corona, kita menjaga jarak dengan orang lain. Dengan masker, kita membuat batas dengan orang lain, agar tidak tertular virus Corona.

Karena pandemi ini, kita perlu batas dan jarak dengan orang lain, agar aman. Berbeda dengan kondisi normal, orang-orang menggaungkan pendobrakan batas, mengagungkan pembauran dan memangkas jarak.  

Yang lucu, sementara saya dan teman-teman sudah saling merindu, dan ingin cepat-cepat kopi darat lagi, ada seorang teman, sebutlah X, yang mengungkapkan demikian: Saya lebih suka masa karantina ini. Saya jadi tak perlu bertemu orang-orang yang (sebenarnya) tak saya sukai. Saya tidak masalah tidak harus bertemu orang lain. Yang tak saya sukai di masa karantina ini adalah tidak bisa ke luar rumah untuk melakukan hobi, seperti ke pusat kebugaran atau kafe.

Kalau dipikir-pikir, di satu sisi, si X ada benarnya juga. Hidup kita memang dipenuhi orang-orang, yang tak semuanya kita sukai, atau menyukai kita, tapi kita tak bisa menghindari mereka. Seperti seorang teman lain, Y, yang rupanya, setelah masa karantina ini, baru menyadari, hidupnya selama ini dihabiskan dengan bergaul bersama orang-orang yang tak terlalu ‘berguna’ bagi hidupnya. Si Y merasa lebih bahagia, karena ternyata tanpa teman-teman pergaulannya itu, hatinya lebih damai.

Masa karantina ini memang masa yang bisa membuat orang lebih banyak mengenali dirinya sendiri. Dalam ‘kesendirian’, orang bisa jadi lebih mengetahui apa yang paling diinginkannya dan apa yang paling perlu baginya. Masa isolasi ini, bagaikan masa pemurnian, menjadi wadah bagi kita untuk menyaring lingkaran orang yang berarti bagi kita, yang paling penting dan yang paling kita kasihi.

Sejak beberapa minggu ini sejak pandemi Covid-19, sudah tak ada lagi acara kumpul-kumpul. Physical distancing. Tempat hiburan sudah ditutup. Pesta pun, ada yang dibubarkan. Bahkan ibadah di tempat ibadah pun resmi dilarang. Semua, demi menghindari penularan virus. Orang yang sakit tak lagi boleh dibesuk, orang yang meninggal pun tak lagi bisa dihadiri.  

Lalu, suatu hari, di Jakarta, tiba-tiba saja, di bulan April ini, seorang artis di Jakarta meninggal dunia. Dan, uniknya, semua aturan pembatasan itu seolah tak berlaku. Seolah tak ada aturan physical distancing, ratusan orang lebih, mendatangi jenazah dan berbondong-bondong mengantarkannya hingga ke pemakaman. Tak ada pihak berwajib yang menghalangi atau menahan massa.

Mengapa? Siapa dia, bukan pejabat, bukan rohaniwan terkenal, bukan milyuner, bukan petinggi negara, tetapi mengapa dia begitu istimewa? Sebelumnya juga ada artis yang meninggal dunia, tapi tak boleh dikerumuni banyak orang. Apa yang berbeda dengan orang ini?

Konon, dia tak hanya sekedar artis. Dia juga adalah influencer yang peduli masyarakat dan menjadi penggerak pekerja seni untuk lebih bersumbangsih positif pada negeri ini. Selain suara merdu, otaknya juga cerdas, berjiwa sosial dan berhati tulus.

Bagi saya pribadi, masa muda saya, dipenuhi dengan lagu-lagunya yang penuh arti dan penghayatan. Saya tak mengenalnya secara personal, tapi ada celah dalam hidup saya yang dimasukinya dan dibuatnya lebih indah. Padahal dia tak mengenal saya. Secara tak langsung, dia memberi pengaruh yang baik dalam hidup saya, dan saya berterima kasih atas hal itu, walaupun dia totally stranger dalam hidup saya.

Demikian juga dengan teman saya si X, yang diam-diam sangat berat hati jika harus bertemu dengan kerabatnya, begitu mendengar artis ini meninggal dunia, langsung loncat dan pergi mendatangi rumah duka. Dia juga tak kenal artis ini. Artis ini juga tak mengenalnya. Ini murni hubungan artis dan penggemar. Rupanya Corona pun tak bisa membatasi atau menghalangi rasa ‘kasih’ yang dia miliki bagi orang yang sebenarnya bukan ‘siapa-siapa’nya. Mengapa? Karena, lebih besar dari kadar yang saya punya, bagi si X, artis ini memberi banyak pengaruh positif dalam hidupnya.   

Memang agak ironis.

Kita bisa dekat dengan orang lain secara fisik, tapi bisa jadi hati kita tak berada di sana. Bisa saja kita jauh secara fisik, tapi hati kita berada pada orang-orang yang kita pedulikan, dan orang yang sungguh kita kasihi serta mengasihi kita.

Akan tetapi, jika kita cukup bijak, kita tentu boleh kurang setuju dengan sikap si X. Kita tak bisa hidup hanya dengan orang-orang yang kita sukai saja. Ada kalanya, orang-orang yang tidak kita sukai itu justru bersumbangsih positif dalam hidup kita. Mau tak mau, mereka membuat kita lebih baik, atau harus berubah lebih baik. Bukankah kita memang sering terpaksa oleh keadaan? Contohnya, karena terbiasa bergaul dengan tukang gossip, kita jadi ‘terpaksa’ belajar untuk memilih ucapan dan menyimpan rahasia. Hal itu baik, bukan?

Bagaikan emas, mungkin mereka adalah api yang membakar dan menyepuh kita hingga kita memiliki bentuk yang lebih bagus.

Mungkin bukan analogi yang paling tepat, tapi, seperti seorang bayi yang dilemparkan ke kolam renang, dia bisa bertahan dengan belajar terus bergerak agar terapung dalam air, walaupun itu melelahkan dan tak menyenangkan. Demikian juga hidup. Kita harus bisa bertahan dengan kehadiran orang lain, kita sukai atau tidak, memberi sumbangsih dalam pembentukan karakter hidup kita. Manusia menajamkan sesamanya. Kita tak bisa hidup tanpa orang lain.

Terkadang orang hadir dalam hidup kita dengan peran yang  berbeda. Tapi kita harus bisa menerimanya, semuanya. Itu mungkin sudah satu paket. Tak bisa kita tawar, jika kita ingin mengalami pertumbuhan.

Orang-orang hadir dalam hidup kita dengan alasan atau tujuan tertentu. Ada orang yang hadir dalam hidup kita untuk menjadi ujian bagi kita, ada untuk menjadi berkat. Percayalah. Semua itu baik untuk kita, eventually.

Memang mudah untuk dikatakan, tak semudah prakteknya.

Hehehe.

Penyesalan

Wahai Petrus,

Ingatkah kau,

di malam Perjamuan Terakhir,

Ketika Yesus berkata,

“Malam ini kamu semua akan tergoncang iman karenaKu.”

Lalu dengan lantang kau langsung lebih dulu menyahut,

“Bukan aku, Tuhan! Mereka semua mungkin tergoncang imannya, tapi aku tidak akan!”

Ah, Simon, nelayan dari Galilea. Mentang-mentang kau adalah murid pertama yang direkrut Yesus, kau merasa paling hebat rupanya.

Lalu Yesus menatapmu dan berkata,

“Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Tatapan itu tajam dan dalam. Sendu.

Tapi kau tetap terlihat percaya diri. Kau tidak yakin. Kau memang selalu begitu. Pernahkah ucapan Yesus salah?

Lupakah kau, di danau Genesaret, ketika Yesus menyuruhmu menebarkan jala, setelah semalaman tidak mendapatkan ikan, terjadi mujizat, kau mendapat ikan dalam jumlah besar.

Duhai Petrus,

Ketika Yesus ditangkap,

Kau sedang duduk di luar di halaman.

Tak diduga, seorang hamba perempuan,

mengenali kau dan berkata,

“Kamu terlihat sering bersama Yesus, kan?”

Kau adalah murid yang paling sering bersama Yesus di depan orang banyak. Misalnya ketika Yesus bertemu pemungut cukai, ketika Yesus mengamuk di Bait Suci karena dijadikan tempat berdagang, atau ketika Yesus mengutuk pohon ara. Kau tentu populer.

Hamba perempuan itu sampai-sampai bisa mengenalimu. Dia hanya seorang hamba, pun seorang perempuan, tetapi bisa membuat kau ketakutan:

“Apa kau bilang, aku nggak mengerti ucapanmu! Ngawur saja!” jawabmu dan pergi menjauh.

Di mana keberanianmu, seperti yang kau tunjukkan, dulu.

Di danau Galilea, ketika kau juga ingin berjalan di atas air, seperti Yesus. Oh rupanya, sama saja, kala itu pun kau menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu Yesus memegangmu naik ke kapal.

Lalu di pintu gerbang,

Masih saja ada, seorang hamba lain, yang mengenalimu juga.

“Bukannya kau sering bersama Yesus?”

Hanya seorang hamba, tapi kau makin ketakutan:

“Sembarangan, aku tidak kenal sama dia!” sahutmu makin garang.

Tak kuduga sikapmu sepengecut itu. Padahal ketika Yesus akan ditangkap, kau sungguh gagah, menghunus pedang dan memotong telinga kanan  Malkhus, hamba Imam Besar yang mencoba menangkap Yesus.

Lalu orang-orang di sekitarnya pun memerhatikanmu

Karena logat bahasamu berbeda.

“Pasti kamu teman Yesus, ketahuan dari logat bahasamu,” kata mereka, mulai mendesakmu.

Lalu kamu panik, tak kuasa menahan ketakutan,

Mulai mengutuk dan bersumpah:

“Sumpah! Aku tidak kenal orang itu.”

Orang itu, katamu. Orang itu, Yesus.

Yang beberapa jam lalu kau katakan dengan percaya diri yang berlebihan:

 “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”

Dan pada saat itu berkokoklah ayam.

Lalu berpalinglah Tuhan memandang kau, Petrus.

Lihat. MataNya penuh kesedihan.

Ucapanmu terngiang: “Imanku tak akan tergoncang! Mereka semua mungkin tergoncang imannya, kecuali aku!”

Kemudian kau teringat ucapan Yesus.

Ayam berkokok baru sekali, kau sudah menyangkal Yesus tiga kali.

Lalu kau hanya bisa melarikan diri menyembunyikan tangis.

Aduhai, Petrus,

kau yang paling suka tampil, selalu ingin di depan, sok gagah, sok kuat, sok pemimpin, sok paling hebat,

ternyata kau

Tak lebih baik dari murid-murid yang lain.

Tak juga lebih baik dari aku.

Aku, tak menyangkali Yesus di depan orang lain.

Aku bahkan menyapa dan menciumNya di hadapan para Imam dan Farisi.

Aku,

yang tak mengira Yesus diam saja ketika ditangkap.

Bukankah Dia anak Allah? Bisa melakukan mujizat?

Aku tak menyangka Yesus terima saja dijatuhi hukuman mati.

Bukankah mudah saja bagiNya melepaskan diri?

Mengapa Dia diam saja disesah, disiksa dan dihukum tanpa bukti, lalu disalibkan?

Mengapa?

Mengapa harus aku yang menjualNya hanya dengan uang tiga puluh perak,

yang kukembalikan ke pada imam kepala dan Tua-tua tapi ditolak,

lalu kulempar ke Bait Suci,

itu tak sebanding dengan nyawa Tuhanku!

Kita sama saja, rupanya, Petrus.

Kau menyangkal, aku berkhianat.

Kita sama-sama melarikan diri

dalam tangis dan penyesalan.

-*-

10Apr20 -Good Friday-

Serasa Mimpi

Rasanya bagai mimpi.

Tahun lalu, bersama dua sahabat, kami bertiga sudah merencanakan perjalanan ke luar negeri, yang akhirnya kami tunda dan diganti menjadi tahun ini, dan batal lagi.

Masih terasa seperti kemarin, di akhir tahun, bersama keluarga merencanakan wisata ke benua di seberang samudera, tapi harus diundur entah sampai kapan.

Serasa bagai lelucon, ketika di awal tahun kita mendengar berita tentang virus Corona di Wuhan, dan banyak gurauan yang mengatakan bahwa virus itu takkan mampu bertahan di Indonesia karena di Indonesia sudah banyak saingannya.

Kami masih ngopi di café, makan di restoran, menonton film di bioskop, membeli barang online dari luar negeri, ke pusat kebugaran, jalan-jalan ke mall, bahkan ke luar kota.

Baru di bulan Maret, secara resmi dinyatakan virus Corona sudah masuk Indonesia.

Ada sedikit rasa kuatir. Masih sedikit.

Tapi kita semua seolah masih menganggap itu seperti virus lain yang pernah ada dan akan hilang dalam beberapa minggu, dan rasanya virus itu jauh dari kita.

Lalu jumlah korban mulai diberitakan. Alamat korban diberitakan. Korban meninggal pun masuk berita. Ternyata sang korban adalah tetangga, rekan, saudara, selebriti, dan si Corona pun terasa makin dekat di depan kita!   

Dan sekolah pun resmi di’rumah’kan. Anak sekolah belajar di rumah. Orangtua mulai resah. Jika sekolah sudah diliburkan, tentu virus ini tidak main-main. Lalu perusahaan mulai ikut. Karyawan pun dialihkan bekerja dari rumah. Masyarakat makin gusar. Angkutan umum mulai dibatasi. Fasilitas umum dikurangi. Aktivitas umum diminimalisasi. Tembok dibangun. Jarak diperluas.

Kemudian negara lain mengumumkan ribuan korban. Mata kita makin terbuka. Itu bukan film. Itu bukan hoax. Itu bukan sekedar berita. Itu realitas. Kejadian itu tidak hanya di televisi. Ada di depan mata kita! Korbannya adalah saudara kita, rekan, tetangga, orang yang kita hormati, kasihi, kagumi. Orang-orang yang ada di sekitar kita! Selama sakit tak boleh dibesuk, ketika meninggal pun tak boleh dilihat. Menyedihkan.

Dan kita tertampar realita pahit. Ini bukan mimpi!

Virus Corona ada di depan hidung kita. Hidung kita perlu ditutupi masker agar tidak dirasuki si virus. Kita dihimbau tetap di dalam rumah. Kita ketakutan jika keluar rumah. Bahkan ketakutan menyentuh apapun. Kita bolak-balik mencuci tangan. Apakah pintu mall ini ada virusnya, apakah tombol lift ini terpapar virus, apakah helm si Bang Ojek kena virus dari penumpang sebelumnya, apakah kopi yang kita minum diseduh oleh orang yang terinfeksi virus, apakah rekan kantor kita diam-diam sudah terinfeksi virus, apakah anak-anak di rumah bergaul dengan teman yang terkena virus, apakah mobil kita harus disemprot disinfektan tiap hari, apakah barang belanjaan kita bebas dari infeksi virus, apakah tangan kita bersih dari virus sehabis memencet tombol mesin ATM, apakah uang kembalian tukang sayur sudah kena virus? Dan seterusnya.

Tak diduga kita menjadi paranoid. Virus yang tak bisa dilihat mata normal itu menjadi momok yang menghantui siang dan malam. Saya pribadi, sejak pemberlakuan Working From Home (WFH), jam tidur saya jadi mundur lebih larut. Tidak ada rasa kantuk, bahkan kadang memaksa diri untuk tidur di malam hari. Tidur siang pun tak lagi bisa. Apakah saya diam-diam sudah paranoid?

Kita tak lagi dianjurkan bersosialisasi dalam jarak dekat. Physical distancing. Kita terpaksa mencurigai apapun, siapapun, di manapun. Tak ada lagi pesta. Tak ada kebaktian di gereja. Tak ada yang datang di pusat kebugaran. Tak lagi ada janjian ngopi bareng sahabat. Tak ada acara arisan. Semua pertemuan yang melibatkan kerumunan dilarang.

Tak ada lagi jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri. Ke mall pun sudah sepi. Semua diisolasi. Kita di rumah hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Bagi yang memiliki tas dan baju bermerk mahal dan segala perhiasan pun, kini teronggok tak terpakai. Kita makin tertampar pertanyaan hakiki tentang kehidupan. Apa yang terpenting dalam hidup rupanya bukan harta yang kita miliki.

Masih saja banyak yang membuat lelucon. Ada yang lucu, ada yang garing, bahkan sarkastis. Sekalipun terasa sarkastis, lelucon itu masih jauh lebih ringan daripada manusia berjiwa hater yang hanya bisa menyebar hoax, menyebar kabar buruk, memaki-maki pemerintah, juga manusia egois yang menumpuk bahan makanan dan memonopoli masker.

Dalam keadaan genting, ada saja manusia yang mencari kesempatan dalam kesempitan, memancing di air keruh. Ada lagikah makhluk yang lebih jahat daripada itu?

Dalam pandemi Covid-19 ini, tak harus bertemu orang lain masih bisa saya terima. Tak harus ke luar rumah masih bisa saya atasi. Harus menahan bosan, lelah dan kuatir, masih bisa saya kendalikan. Yang tak tertahankan adalah tidak mengetahui kapan ini akan berakhir. Kapan semua kembali ke normal. Ketidaktahuan bagaikan racun yang menggerogoti jiwa, mengguncang iman dan merampas kebahagiaan.

Ketidaktahuan bisa membuat kita menderita, tak tahan, tak sabar, tak yakin, tak bahagia, curiga dan penuh prasangka. Mungkin itu yang menyebabkan banyak manusia berjiwa hater yang menebarkan kebencian dan berita busuk, sebab dia tak ingin mengalami penderitaan jiwanya sendirian.  

Namun, apa lagi yang bisa kita lakukan dalam kejadian ini?

Khotbah pendeta kami, memberikan sisi pandang lain. Dalam penderitaan, manusia potensial bertumbuh. Penderitaan membuat kita makin dekat pada Tuhan. Kita makin berharap dan berserah dan bersyukur pada Tuhan. Tuhan punya rencana baik dalam setiap peristiwa. Penderitaan juga membuat kita lebih peka akan sesama. Seperti saat ini, gerakan saling membantu sesama dengan menyumbang kebutuhan pokok sudah mulai digerakkan. Daripada kita galau tiap kali membaca postingan berita di media sosial, lebih baik berfokus pada hal positif yang bisa kita lakukan.

Seperti tertulis di Galatia 6:2. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

Kehilangan Kekasih Hati

Corona Virus-19 telah menghantui kita sejak awal tahun 2020 ini. Tercatat di awal April, mulai terdengar berita gembira tentang perkembangan angka kesembuhan pasien penderita positif Covid-19. Hal ini tentu menimbulkan optimisme masyarakat dengan harapan virus yang menjengkelkan itu akan segera berakhir.

Namun berita sukacita itu tentu tidak mampu menyembuhkan kesedihan dan luka di hati mereka yang ditinggal oleh kekasih hatinya yang jadi korban virus ini. Demikian juga dengan saya pribadi. Sahabat saya, seorang Ibu pendeta muda, telah pergi karena terinfeksi Covid-19.

Secara khusus di kalangan umat Kristen, duka berkepanjangan masih terasa. Bagaimana tidak, hamba-hamba Tuhan juga ada yang harus pergi mendahului kita dikarenakan Covid-19. Mereka, para Hamba Tuhan yang senantiasa tekun melayani jemaatNya, para Hamba Tuhan yang dirasakan banyak menyentuh relung kehidupan para jemaatnNya. Gereja berduka. Rohani jemaat menangis, bahkan ada yang merasa Tuhan meninggalkan kita.

Ada yang jadi mempertanyakan kekuatan Tuhan. Mengapa covid-19 harus seganas ini. Di mana kekuasaan Tuhan yang maha kuasa. Ada yang merasa tidak didengarkan Tuhan. Di mana Tuhan ketika malapetaka ini menimpa umat.
Berbagai macam pertanyaan yang mengguncang iman pun masuk ke dalam kotak pesan pribadi, media sosial dan menyebar luas. Saya, termasuk pribadi yang ikut dilanda kecemasan, dan psikosomatik menyerang seluruh persedian tubuh, hingga saya tidak mampu menjelaskan atau menenangkan orang lain.

Saudara, kematian adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi kematian mereka yang semasa dalam keadaan sakit tidak dapat dikunjungi, bahkan di akhir hayatnya pun teman atau kerabat, atau jemaat tidak bisa mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan yang terakhir. Sungguh menyesakkan, jeritan tangisan penyesalan pun berderai. Saya adalah salah satu yang mengalaminya.

Namun, di balik kejadian ini, adakah sisi lainnya yang bisa kita lihat, selain bermuram durja dan mempertanyakan Tuhan atau menyalahkan pemerintah? Kita bisa merenungkan hal ini dan mencari hikmah. Mereka yang telah pergi mendahului kita, selesai sudah masa pelayanan mereka. Lalu, kita yang masih eksis hingga sekarang, apa bagian kita?

Tentu kita bersyukur bahwa hingga saat ini kita dijauhkan dari virus yang mematikan itu. Lalu? Mungkin ini adalah momen yang baik bagi kita untuk mempersiapkan diri ketika waktunya tiba. Adakah kita mengetahui kapan tanggal ‘bersejarah’ itu akan datang menjemput kita? Karena tidak satupun dari kita dapat mengetahui kapankah Tuhan akan memanggil kita.

Saya memang kehilangan pendeta yang telah membuat saya makin dekat kepada Tuhan. Tapi saya tidak kehilangan kotbah dan pesan-pesan beliau, yang masih terngiang di telinga saya: Sudahkah kita menjadi cerminan gambar Allah dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah kita hadir bagi mereka yang membutuhkan, jadi telinga untuk mendengar, sudahkah kita mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita semua? Sudahkah kita lakukan, agar ketika waktunya tiba kita sudah siap, karena hidup kita sudah menjadi saluran berkat bagi sesama.

Terakhir, saya mengucapkan: Selamat jalan, para Hamba Tuhan terkasih. Selamat berjumpa di surga dengan Allah Bapa.

“Berharga di mata Tuhan kematian orang yang dikasihiNya.” (Mazmur 116:15)

Tio Sinaga
Konselor

Tak Mampu Beli Sisir

Tadi pagi, (bukannya ingin menyalahkan cuaca), karena hujan, saya agak kesulitan mendapatkan kendaraan pesanan online. Akhirnya saya dapat juga, bukan mobil, tapi ojek online, karena waktu yang sudah mepet, walau masih agak gerimis, saya ambil saja.

Saya tiba di stasiun  MRT sambil berlari-lari mengejar waktu, agar tidak terlambat.

Di bagian dalam dinding lift, kebetulan ada cermin, jadi saya merapikan rambut dengan jari-jari. Rambut saya kusut karena gerimis hujan dan karena helm ojek. Di dalam lift ada dua orang lain yang tak saya kenal, dua-duanya wanita. Yang lebih tua, diam saja. Yang lebih muda, dengan tatapan mencela, berdesis: “Sisir mahal sih, ya…”

Saya nyaris tak percaya dengan apa yang saya dengar. Apakah dia sedang mengejek saya yang tengah menyisir rambut dengan jari? Apakah dia tengah menyindir saya tidak mampu membeli sisir?

Tapi saya tidak menghiraukan. Sebab segera setelah itu saya sudah keluar lift, dengan terburu-buru.

Tapi ucapan orang itu masih terngiang di telinga saya. Dan saya masih ingat rambut orang itu juga bukan seindah iklan shampoo. Sesama rambut kusut kok merasa punya hak mencela? Nyinyir sekali dia.

Kalau posisi saya tadi adalah teman saya si D yang tukang berdebat, dia akan segera membalas orang itu: Siapa sih lu? Memang kenapa kalau gue nggak pakai sisir? Apa urusan lu? Masalah buat lu?

Kalau itu adalah teman saya si P yang centil tapi menyentil, dia akan membalas: Idih, nggak pakai sisir juga nggak masalah, Sis, rambut saya lembut dan mudah diatur, seperti habis direbonding, cuma pakai jari aja cukup kok!

Kalau tadi itu teman saya si Y yang tak suka basa-basi, dia akan membalas: Berisik lo, urus aja rambut lo sendiri, sisir rambut lo tuh kusut kayak cacing pita! Ngaca sebelum ngomong!

Ada rasa greget tertahan yang kemudian saya tertawakan mengingat kejadian pagi itu. Seperti kata teman saya. Lucu benar manusia jaman sekarang, suka sekali mengomentari orang lain, suka sekali mencampuri urusan yang bukan urusannya.

Kalau saja tadi pagi saya tidak buru-buru, atau mungkin jika dalam keadaan mood sedang emosi, saya bisa saja membalas ejekan orang di lift berambut kusut yang tak saya kenal itu. Rambutnya lebih kusut daripada saya tapi kok beraninya menyindir saya tidak mampu membeli sisir?

Yang membuat saya ingin terbahak adalah, apa iya tampang saya sebegitu miskinnya hingga dia – orang yang tak kenal saya- berani mengatai saya kemahalan beli sisir?

Saya sama sekali tidak tersinggung. Saya hanya takjub keheranan. Kok bisa ya, ada orang, tak dikenal, seenak jidat berkomentar, mengurusi orang lain, mengejek, menghakimi orang yang tak dia kenal?

Andai dia tahu di rumah kami kebetulan banyak sisir (karena anak-anak sering asal menaruh, jadi saya beli banyak sekalian), dan tadi itu saya hanya merasa tidak sopan jika menyisir rambut di dalam lift (fasilitas umum terbuka, bukan ruang rias toilet), jadi saya pikir lebih sopan pakai jari-jari saja…

Tapi memang kita tak bisa mengatur pikiran dan mulut orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita saja.

Saya berusaha menertawakan kejadian itu dengan mengingat lagu Iwan Fals. Temanya sama, sama-sama tak mampu. Kalau di lagu itu, masalahnya tak mampu beli susu, kalau saya, tak mampu beli sisir. Hahaha.

Dia beruntung sifat saya bukan seperti teman saya si D, P atau Y, yang pasti akan balas mendampratnya. Saya memang tipe yang menarik diri, memilih menjauhi orang yang potensial menimbulkan konflik atau masalah.

Atau mungkin saya harusnya menjadi seperti teman saya si S, yang suka bercanda, yang jika diejek tak mampu beli sisir, akan menjawab: “Iya nih, tanggal tua, belum gajian. Boleh pinjam sisirnya Mbak? Tapi Mbak nggak kutuan, ketombean, atau pitak, kan?”

Hidup memang harus diakali. Jangan terlalu serius. Banyakin humor saja. Diejek juga, bawa ketawa saja. Mungkin orang itu yang punya masalah. Seperti kata lagu Iwan Fals: Hidup sudah susah, jangan dibikin susah.  

Saya pun teringat pendeta saya yang selalu menggaungkan prinsip: Gunakan kata-kata yang lembut!

Seperti di buku suci:

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kolose 4:6).

Bagai Bangkai Tikus di Tengah Jalan

Sabtu pagi, ketika saya berjalan kaki melewati komplek dekat rumah, saya melihat ada bangkai tikus ukuran jumbo di tengah jalan. Maksud hati saya ingin olahraga dan menghirup udara pagi yang segar, apa daya malah ‘kesamprok’ bangkai tikus!

Spontan saya menutup hidung dan dan membuang muka setelah melihat bangkai tikus yang berauran dan menyebarkan aroma busuk itu. Pemandangan yang tak terhindarkan, sebab tepat berada di depan mata, di tengah jalan. Seketika saya merasa mual dan cepat-cepat melangkah menjauh. Rasanya ingin muntah. Selain merasa mual, saya juga merasa kesal.

Sebenarnya saya sudah sering melihat hal seperti ini. Bangkai tikus di tengah jalan. Tapi kali ini karena langsung di depan mata dan baunya langsung tercium, rasanya lebih kesal (biasanya hanya melihat dari dalam mobil).

Dan pertanyaan saya masih sama.

Mengapa bangkai tikus itu harus dilempar ke tengah jalan?

Selain merusak pemandangan, juga merusak penciuman. Padahal di tepi jalan sudah bagus. Banyak bunga di tepi jalan. Seperti judul sebuah film.

Mengapa tidak dibuang ke tempat sampah, atau dikubur ke tanah, supaya baunya tidak menyebar?  Bukankah tikus itu sudah mati?

Sekali lagi, mengapa, bangkai tikus itu harus ada di tengah jalan?

Apakah agar semakin mati berkeping-keping digilas mobil-mobil yang lewat?

Saya benci tikus. Sumpah, benci sekali. Barang-barang di rumah banyak yang rusak digigiti tikus. Juga di rumah, makanan yang dicuri dan dihabiskan tikus, sering membuat saya emosi. Jadi memang kalau berhasil menangkap tikus dan membunuhnya, ada rasa puas tersendiri.

Tapi, mencium bangkai tikus di depan mata, di tengah jalan, bukan bagian dari kepuasan tersebut, bagi saya.

Bayangkanlah. Jika bangkai tikus itu digilas ban mobil/motor, serpihan daging busuk itu bisa menempel di ban dan baunya pun tertempel, dan semua mobil yang menggilasnya membawa bangkai dan bau itu turut serta sepanjang perjalanan dan pulang ke garasi masing-masing? Apakah memang tujuannya agar semua mobil yang melewatinya ikut menggilasnya dan membawa bau busuk bangkai tersebar ke segala arah? Membawa pulang bau busuk hingga ke rumah kita?

Seorang teman dengan bergurau menanggapi: Ada terbersit, apakah itu perlambang sebagian tabiat orang Indonesia? Melempar topik korban bermasalah ke depan massa, lalu mengumbar aib di depan umum hingga semua orang bebas mencibir, mengumpat, memaki, menghakimi, menggunjingkan, alias menyebarkan bau busuknya kemana-mana?

Contohnya seperti kejadian baru-baru ini di berita, tentang seorang pemuda Indonesia pelaku kriminal kelamin di London. Pemuda itu yang kriminal, tapi berita tentang orangtua dan keluarganya ikut diseret, dibahas seperti dikuliti sampai habis, nyaris tanpa privasi, oleh media dan netijen ‘mahabenar’ dan ‘tak pernah berdosa’?

Tetapi teman saya yang lain berkata: Mestinya, kasih menutupi pelanggaran.

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Amsal 10:12-13).

Hatred stirs up conflict, but love covers over all wrongs.

Makna Natal, Antara Kemuliaan dan Damai Sejahtera

Kemarin, saya agak terkejut ketika tiba-tiba ada nomor tak dikenal mengirimkan pesan masuk di HP saya. Yang membuat saya terkejut karena itu bukan semacam pesan-pesan illegal berkedok penipuan yang sudah biasa.

Pesan yang ini mengirimkan ucapan Selamat Natal. Setelah saya baca teliti, ada nama pengirimnya. Saya harus memutar otak sebentar untuk mengingat siapa nama tersebut. Ada juga fotonya dengan seragam pejabat pemerintahan, tapi agak berbeda sebab waktu kami bertemu, dia dengan tampilan kasual. Setelah saya perbesar fotonya, baru saya ingat itu adalah teman kuliah pascasarjana, yang mungkin hanya sekali bertemu waktu ujian semester.

Yang membuat saya agak terkesan dan tersentuh adalah, dia adalah pejabat daerah dan berbeda keyakinan dengan saya, dan dia tidak hanya mengirim ucapan lewat grup, tapi juga mengirim lewat jalur pribadi (japri) kepada saya, padahal kami tidak terlalu kenal.

Menyadari ketika saat ini, hal menerima ucapan selamat natal dari orang yang tidak seiman, menjadi sesuatu yang langka (dan ‘terlarang’), membuat saya agak trenyuh. Hal itu mengingatkan saya pada sebuah kejadian, tentang seorang anak tetangga yang dulunya tiap hari main ke rumah dengan anak saya, dan tiba-tiba suatu hari tidak mau lagi main ke rumah, dan bilang kepada anak saya: Aku nggak boleh lagi main sama kamu, dilarang ayah, karena kamu beda agamanya.

Sesungguhnya saya tidak mau menjadi ‘melo’ dalam urusan seperti ini. Saya hampir tertawa sendiri ketika dulu mengingat waktu jaman mahasiswa ketika kuliah di Tokyo, ada teman mahasiswa dari negara lain yang merayakan hari besar entah aliran agama apa, saya turut mengucapkan selamat sekalipun saya tidak tahu apa yang dia rayakan dan ucapan selamat apa yang harus saya ucapkan, apalagi dalam bahasa asing. Saya hanya mengucapkan: Selamat merayakan ya. Semoga bahagia.

Lalu dia mengucapkan terima kasih dan menyahut dengan berkelakar: ‘Semoga bahagia’ bukanlah ucapan yang tepat, memangnya saya mau menikah? Hahaha.

Apa yang saya praktekkan dari hal itu adalah masalah penghargaan. Saya menghargai teman saya walau saya tidak tahu apa yang dia percayai, dan bukan berarti saya ikut menyetujui apa yang dia percayai itu.  Saya hanya menghomati dia sebagai teman saya, menghargai apa yang penting baginya, dan mengharapkan yang baik baginya. Itulah alasan saya mengucapkan selamat.

Di tengah menurunnya toleransi antar umat beragama, ironisnya, kemarin lusa malah seorang teman yang atheis mengucapkan Selamat Natal kepada saya. Saya berkelakar dengan berkata: Bukannya kamu tidak percaya soal agama?

Dan dia dengan guyon membalas: Memangnya saya jadi percaya agama kamu?

Dan kami pun sama-sama tertawa ringan dalam suasana damai.

Kemarin di gereja, yang menjadi sangat berkesan bagi saya dalam khotbah Natal dari pendeta kami adalah, bahwa makna hari Natal adalah: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.

Dari nats Lukas 2:14 ini jelas terbaca, hanya Allah yang layak menerima kemuliaan. Bagian manusia hanyalah damai sejahtera. Awal penderitaan dan masalah manusia adalah ketika manusia juga mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, baik itu dalam bentuk penghargaan, pujian, penghormatan, kekuasaan, dan sebagainya.

Saya pun tidak mau mencari penghargaan dengan menunggu ucapan selamat dari orang lain yang tak ingin memberikannya. Seperti khotbah pendeta saya, kemuliaan hanya bagi Allah. Saya hanya mau damai sejahtera. Tak perlu diberi ucapan penghargaan pun saya tetap damai sejahtera.

Selamat Hari Natal. Mari damai sejahtera