Author: Deddy Sinaga

Orang Indonesia Makin Kaya Saja, Ini Buktinya

Siapa bilang Indonesia secara ekonomi susah? Faktanya kekayaan rumah tangga dan pribadi di Indonesia itu naik setiap tahun.

Kekayaan rumah tangga di Indonesia tumbuh 6,4 persen pada tahun ini. Kekayaan orang per orang dewasa juga naik lho.

Fakta itu adalah hasil riset Credit Suisse Research Institute (CSRI) yang diterbitkan dalam laporan tahunan Global Wealth Report. Ini adalah tahun ketujuh CSRI melakukan riset itu.

Menarik, bahwa di saat pertumbuhan kekayaan secara global kurang begitu baik, pertumbuhan kekayaan rumah tangga di Asia Pasifik justru naik 4,5 persen.

Sejak 2013, pertumbuhan kekayaan global tak memperlihatkan angka yang memuaskan. Ini dipicu krisis finansial pada 2008. Sebelumnya, menurut laporan CSRI itu, kekayaan global bisa bertumbuh sampai dua digit.

Di balik pertumbuhan kekayaan Asia Pasifik yang menjanjikan, Indonesia juga fantastis. Kekayaan rumah tangga di Indonesia tumbuh 6,4 persen pada 2016 dengan nilai total US$1,8 triliun. Rupanya, krisis finansial dunia tak berpengaruh besar pada kekayaan di Indonesia.

Laju kekayaan rumah tangga di Indonesia sejak 2008 adalah rata-rata 5,9 persen. Diproyeksikan, kekayaan rumah tangga di Indonesia akan meningkat 7,9 persen per tahun selama lima tahun ke depan ini, dan akan mencapai US$2,6 triliun pada 2021.

Sedang kekayaan orang per orang dewasa dalam rupiah juga meningkat 6 kali lipat selama kurun waktu 2000-2016 (12,2 persen per tahun). Ini sejalan dengan pertumbuhan PDB per orang dewasa di Indonesia yang mencapai 12,3 persen antara 2000-2016.

Kalau rumah tangga Indonesia terbilang kaya, apa saja kekayaannya? 88 persen aset bruto adalah aset riil lho. Sedang utang hanya 6 persen.

Sebanyak 84 persen orang dewasa kita itu memiliki kekayaan senilai US$10.000 atau sekitar Rp130 juta. Rata-rata di dunia, hanya 74 persen orang dewasa.

Sedang yang di atas rata-rata (kita bicara soal kaum miliuner), jumlahnya juga bertumbuh pesat 13 persen. Saat ini sudah ada 112.000 miliuner di Indonesia dengan total kekayaan mereka US$500 miliar.

CSRI memprediksi, jumlah miliuner kita akan bertambah 9,1 persen per tahun dan akan mencapai 173.000 orang pada 2021.

Bagaimana CSRI menghitung kekayaan? Menurut mereka sih, kekayaan itu dihitung berdasarkan nilai aset finansial dan aset riil (berupa properti), setelah dikurangi utang.

China, Korea, dan Indonesia, adalah negara-negara di Asia Pasifik yang kekayaan penduduknya menanjak di piramida kekayaan dunia.

Foto: Pixabay/Stevepb

 

Solusi-Solusi Gampang di Sekitar Kamu – Bagian 2

Hidup tak perlu repot. Dengan langkah sederhana atau memanfaatkan benda-benda yang gampang kamu temukan di sekitarmu, kamu bisa mendapatkan solusi dalam mengatasi sejumlah persoalan sehari-hari yang rasanya rumit. Seperti disarikan dari Life Hack:

1. Ribet membuang bekas tangkai buah stroberi? Tusukkan sedotan plastik dari ujung buah stroberi sampai tembus ke pangkalnya.

2. Alarm ponsel kurang kencang. Taruh ponsel di dalam gelas kosong sebelum kamu tidur.

3. Gunakan karet gelang, lilitkan di tengah mulut kaleng cat sebagai alat kamu mengurangi cairan cat di ujung kuas. Sehingga bagian tepi kaleng tetap bersih dan tak penuh cat lagi.

4. Cairan mendidih buihnya luber melewati panci? Gunakan sendok kayu, letakkan melintang di atas panci. Buih tadi takkan luber lagi. Mengapa? Ini karena gelembung tadi pecah saat menyentuh sendok. Jangan gunakan sendok logam, sebab ia penghantar panas.

5. Ujung sandal jepit copot melulu, jepit ujungnya dengan penjepit plastik pembungkus roti tawar.

6. Penjepit plastik roti tawar ini juga bisa kamu tempelkan di ujung gulungan selotip, supaya kamu gampang menggunakan selotip itu lagi.

7. Kerah bajumu kurang rapi? Gunakan catokan rambut untuk merapikannya.

8. Gunakan huruf/karakter beraksen sebagai passwordmu. Tak seorang pun bisa menebaknya.

9. Sering kena pukul palu saat hendak memasang paku? Jepit paku dengan penjepit rambut atau tang, jangan dengan jarimu.

10. Kalau kamu di bar dan minumanmu belum habis, sementara kamu hendak pipis atau hendak pergi sejenak saja, tutup gelas dengan alasnya. Itu maknanya: “Saya akan kembali!”

Foto: Pixabay/Monoar

Solusi-Solusi Gampang di Sekitar Kamu – Bagian 1

Hidup tak perlu repot. Dengan langkah sederhana atau memanfaatkan benda-benda yang mudah kamu temukan di sekitarmu, kamu bisa mendapatkan solusi dalam mengatasi sejumlah persoalan sehari-hari yang rasanya rumit. Seperti disarikan dari Life Hack:

1. Kamu tahu post-it, kan? Ini adalah lembaran kertas kecil yang salah satu ujungnya mengandung perekat, jadi bisa ditempelkan. Kalau kamu punya post-it bekas yang akan dibuang, tahan dulu niatmu. Gunakan post-it bekas itu untuk membersihkan kotoran yang bersembunyi di sela-sela tombol keyboard komputer. Gunakan bagian post-it yang berperekat ya.

2. Dryer sheet adalah semacam tissue dengan pewangi, yang biasanya digunakan untuk mengeringkan pakaian. Lembaran dryer sheet ini bisa kamu pakai untuk mengurangi bau tak enak yang keluar dari alat penyejuk udara (AC). Cukup rekatkan lembaran dryer sheet di unit AC dan nyalakan.

3. Tak punya penopang saat kamu ingin menonton video di layar smartphone? Coba deh gunakan kacamatamu.

4. Tempat sampah becek dasarnya karena cairan dari sisa makanan? Taruh koran bekas di dasar tempat sampahmu untuk menyerapnya.

5. Sulit meletakkan buku resep di dapur saat kamu hendak memasak? Gunakan hanger baju berpenjepit.

6. Arahkan cahaya senter dari ponselmu ke dasar botol berisi air untuk mendapatkan pencahayaan yang lebih baik di tempat gelap.

7. Mencegah kabel charger melintir dan rusak, gunakan per dari pulpen.

8. Belepotan saat menuang adonan pancake ke wajan? Pindahkan adonan ke botol kecap yang bersih.

9. Sulit membedakan kunci yang bentuknya sama? Kenapa tak coba mewarnai kunci itu dengan cat kuku?

10. Isi selai cokelat sudah hampir habis. Bersihkan dengan memasukkan es krim ke dalamnya, dan nikmati sampai tandas.

Foto: Pexels/Pixabay

Mengenang Dunia Digital 9 Tahun Lalu (Berkat Kado Cantik Facebook)

Kemarin sebuah kado menarik diberikan oleh Facebook untuk saya. Sebuah video faceversary yang mengingatkan bahwa 28 November, sembilan tahun yang lalu, saya membuat akun Facebook pertama kali. Wow sudah 9 tahun!

Sesungguhnya itu video biasa saja. Tapi menjadi penting bagi saya, terkait dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini.

Akhir-akhir ini, membuka Facebook adalah kegiatan yang sangat menyesakkan. Tak hanya Facebook sebetulnya. Itu juga terjadi di Twitter dan jejaring sosial lain, bahkan di LinkedIn pun mulai ketularan. Banyak sekali fitnah bertebaran. Begitu juga ujaran kebencian.

Padahal, saya sangat memerlukan jejaring sosial ini. Sebagai tempat eksis, tempat bersosialisasi dan berbagi, serta sebagai tempat untuk mendistribusikan konten.

Selama beberapa waktu, setelah saya merenung-renung, mengingat-ingat, apa yang terjadi pada 9 tahun lalu itu,  saya jadi kangen masa-masa itu. Masa yang damai. Masa antusiasme pengguna sedang tumbuh merespons perkembangan teknologi yang dibawa Facebook dan jejaring sosial lainnya.

Jadi, kalau mau diingat-ingat, kira-kira inilah yang bisa saya ceritakan kembali untuk kalian:

Bandingkan Datanya

Begitu saya selesai membuat akun, 28 November 2007, saya menjadi satu dari sekitar 20.000.000 pengguna Facebook di seluruh dunia. Catat ya, seluruh dunia!

Di Indonesia, Facebook belum banyak dilirik pengguna Internet tanah air, yang saat itu baru mencapai sekitar 5 persen dari populasi (data Bank Dunia). Populasi kita saat itu adalah 231 juta orang. Sampai Februari 2009, pengguna Indonesia terdaftar di Facebook baru sekitar 1.333.000 orang.

Bandingkan dengan data sekarang. Saat ini pengguna Facebook di seluruh dunia sekitar 1.800.000.000 orang. Di Indonesia, pengguna Facebook (sampai Juni 2016) adalah 30.000.000 orang dari 132.700.000 pengguna Internet nasional. Menurut data eMarketer, Facebook masih menjadi platform media sosial terpopuler di negeri ini.

Ngapain saja pengguna Facebook pada 2007?

Saya ingat, selain berbagi status (kebanyakan tak penting, hehehe), aktivitas saya di Facebook adalah menambah pertemanan, tentu saja. Terus terang saya tak ingat bagaimana pertumbuhan daftar teman di friendlist saya. Tapi, yang jelas, dari hari ke hari saya berselancar di jejaring itu, mencari teman dan merespons ajakan pertemanan.

Siapa saja kelompok FRIEND yang muncul di sana? Kira-kira bisa saya kelompokkan ke dalam beberapa, yaitu: kelompok teman baru yang memiliki mutualism, kelompok teman yang benar-benar baru kenal, kelompok teman sekolah dari TK, SD sampai kuliah, kelompok saudara/kerabat, dan (ini tak boleh lupa), kelompok para mantan… Wkwkwkw.

Jejaring sosial apa yang ada saat itu?

Sudah pasti nama Friendster harus disebut. Sebab inilah jejaring sosial paling OK saat itu, menurut saya lho ya. Friendster didirikan pada 2002, tahun berikutnya lahir MySpace dan Hi5, lalu tahun berikutnya lagi, lahirlah Facebook.

Di Friendster kami membangun lingkaran pertemanan, berbagi cerita, hobi, konten dan multimedia. Friendster benar-benar jejaring sosial yang lengkap, sehingga dijuluki “Kakeknya Jejaring Sosial”.

Tapi layanannya kemudian kalah populer dibandingkan Facebook dan pada 2009, popularitasnya terus menurun. Seingat saya, hoax dan hate speech jarang sekali saya temukan di Friendster, Hi5, MySpace, dan bahkan Facebook saat itu.

O iya, kalian tahu, developer Indonesia juga mengembangkan jejaring sosial lokal lho. Saya ingat waktu itu yang cukup populer adalah Aku Cinta Sekolah (ACS), yang diluncurkan kalau tak salah, Mei 2007. Meski bisa disebut jejaring sosial, karena kita juga membangun lingkaran pertemanan, ACS ini lebih dibangun sebagai website komunitas sekolah dan alumni.

Smartphone apa yang ada pada 2007?

Sudah pasti, tahun 2007 dikenang di seluruh dunia sebagai tahun peluncuran Apple iPhone pertama. Saya ingat, edisi perdana iTempo (sisipan gaya hidup digital terbitan Koran Tempo yang saya asuh) pada 2007 membahas peluncuran smartphone ini. iPhone perdana ini tak masuk Indonesia dan penggunanya di sini, saat itu, bisa dihitung dengan jari. Mereka biasanya membeli di Amerika Serikat.

Harganya, alamak mahalnya. Padahal di Amerika Serikat sendiri US$399 saja.

Smartphone lain adalah Nokia N95. Ponsel ini sudah memiliki kamera belakang 5 Megapiksel, GPS, dan mediaplayer, serta konektivitas WiFi. Tak lupa juga BlackBerry 8300 Curve. Ini ponsel yang memakai kamera 2 MP dan tentu layanan push email BlackBerry yang legendaris itu. Vendor lain yang cukup populer lain saat itu adalah Motorola dengan andalannya RAZR. Ini ponsel lipat tipis yang penampilannya terbilang mewah.

***

Sembilan tahun yang lalu, dunia digital sedang menggeliat dan berkembang. Semua berkat Internet yang merevolusi dunia.

Bagaimana dengan manusianya? Saya belum sempat meriset. Sudah terlanjur sesak lagi, saat teringat betapa mengerikannya penyebaran fitnah dan kebencian di jejaring sosial saat ini. Ah sudahlah. Lain kalilah kita bahas yak.

Foto: Screenshot akun Facebook saya.

Reblog dari blog pribadi sendiri. Link aslinya:

http://bangdeds.com/2016/11/29/kado-faceversary-dari-facebook-mengingat-dunia-digital-9-tahun-lalu

Belajar Tangguh dari Pak Tua: Stewart dan Stewart

Rod Stewart dan Jon Stewart. Nama pertama, dunia sudah mengenalnya sebagai penyanyi legendaris. Nama kedua? Saya baru mengetahuinya saat menonton tayangan “American Ninja Warrior”, baru-baru ini.

Stewart pertama adalah seorang penyanyi legendaris dari Inggris. Kiprahnya di industri musik dunia telah menempatkannya sebagai salah satu penyanyi terbaik sepanjang masa versi Billboard, Q Magazine, dan Rolling Stone.

Sedang Stewart kedua, adalah seorang pemanjat tebing dan manager konstruksi dari Washington City, Washington County. Namanya diperbincangkan dengan hangat lantaran lolos di babak final Oklahoma City dan melaju ke final nasional di Las Vegas.

Apa yang menghubungkan kedua Stewart itu, menurut saya? Mereka adalah sosok yang tangguh dengan caranya masing-masing. Mereka mencapai impiannya, tak peduli sesulit apapun tantangannya.

Rod Stewart divonis menderita kanker tiroid pada 2000, yang memaksanya untuk menjalani operasi. Operasi itu membuatnya terancam tak bisa menyanyi lagi. Meski terpaksa harus belajar menyanyi lagi, Rod Stewart maju terus sampai kini.

Sedang Jon Stewart berjuang dengan caranya sendiri. Kamu tahu, dia adalah atlet American Ninja Warrior tertua yang lolos ke Las Vegas. Itu bukan usaha pertama pria berusia 52 tahun itu.

Sudah tiga tahun berturut-turut Jon Stewart menjajal final kota dan pada tahun ketiga barulah dia lolos dan akhirnya masuk ke jajaran 15 atlet yang lolos ke Gunung Midoriyama di Las Vegas.

Belum selesai sampai di situ. Yang patut dicatat adalah apa yang sudah ditaklukkannya di babak final kota.

Hanya ada dua atlet yang menyelesaikan seluruh tantangan dan salah satunya adalah Jon Stewart, yang saat bertanding ditemani istri dan lima anaknya, termasuk si bungsu, Miriam, yang baru berusia 7 tahun.

Apa yang diperlihatkan kedua Stewart kita adalah bahwa tak ada kata ‘menyerah’ dalam kamus mereka. Penyakit berat macam kanker tak bikin Rod Stewart mundur dari panggung musik. Umur tak membuat Jon Stewart jerih menantang American Ninja dan lawan-lawan yang didominasi atlet-atlet muda penuh energi.

“Miriam itu punya banyak energi, menurut saya itu membantu saya tetap muda,” kata Stewart, sebelum bertanding menyelesaikan semua tantangan dengan penuh tenaga. Miriam, putri bungsunya, adalah inspirasinya.

Kamu, apa tantangan terbesar dalam hidupmu? Berusahalah dan taklukkan. Tak bisa sekali, coba lagi, tak bisa lagi, coba lagi. Ada kutipan yang selalu menguatkan saya: “Kegagalan adalah ketika kamu terlalu cepat berhenti”.

 

Reblog dari blog sendiri:

link asli: http://bangdeds.com/2016/11/27/belajar-tangguh-dari-pak-tua-stewart-dan-stewart/

Foto: commons.wikimedia.org/gorri | cdn.deseretnews.com

Tanpamu Guru, Apa Jadinya Aku

Pagiku cerah matahari bersinar
ku gedong tas merahku dipundak
selamat pagi semua kunantikan dirimu
di depan kelasmu menantikan kami

Guruku tersayang
guruku tercinta
tanpamu apa jadinya aku
tak bisa baca tulis
mengerti banyak hal
guruku terima kasih ku

Nyatanya diriku
kadang membuatmu marah
namun segala maaf kau berikan.

***

Kalian masih ingat penggalan lagu Terima Kasih Guruku di atas? Ya lagu, itu menggambarkan benar apa yang aku rasakan mengenai guru-guruku, sejak aku sekolah di taman kanak-kanak hingga kuliah.

Tanpamu, apa jadinya aku? Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di telinga, hingga akhirnya aku menyadari betapa besar peran guru dalam kehidupanku.

Dari yang tak bisa baca tulis, jadi bisa membaca dan menulis. Dari yang tak mengerti banyak hal, jadi bisa melakukan banyak hal.

Meskipun, karena mereka juga manusia, banyak juga guru di luar sana yang melenceng dari tanggung jawabnya. Hanya bekerja sebagai pengajar, mereka lupa fungsi lain sebagai pendidik para siswanya.

Tak cuma ilmu yang seharusnya diwariskan, melainkan juga pendidikan karakter. Supaya siswa tak tumbuh menjadi manusia yang hanya cerdas otaknya, tapi juga cakap karakternya. Inilah justru yang menjadi kunci masa depan mereka.

Ada yang memang karena karakter diri sang guru memang ‘tuna’ dari sananya. Tapi ada juga yang mempersalahkan beban kehidupan.

Kita sama-sama tahu, masih banyak guru yang diupah jauh di bawah standar. Sementara kebutuhan hidup kan tak bisa dikompromikan. Akhirnya apa? Mereka terpaksa mencari sambilan dan ‘sabetan’. Atau abai memperlihatkan diri sebagai teladan.

Ini adalah otokritik. Bagi kita sebagai pengguna jasa mereka, yang tak tahu bertimbang rasa. Bagi institusi dan negara yang belum bisa memberikan upah yang bikin mereka, para guru itu, dengan bangga menepuk dada.

Juga otokritik, bagi kalian para guru, untuk terus menyadari bahwa panggilannya tak sekadar jadi pengajar, melainkan juga pendidik.

Dan biarlah itu jadi perenungan kita bersama di tengah peringatan Hari Guru Nasional hari ini.

Selamat Hari Guru, untuk kalian para guru yang sudah berjuang sekuat tenaga meski dihimpit berbagai problema.

Cukup Adit, Jangan Biarkan Jatuh Korban Lagi

“Bunda, adik tidur ya. Adik sakit.”

Itu kalimat terakhir Aditya Fadilah, bocah 4 tahun, kepada ibunya, Siska, 23 tahun. Bocah yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan ini, tak bangun-bangun lagi.

Ketika polisi memeriksa jenazahnya, ya Tuhan, ditemukan jejak-jejak penyiksaan. Ketahuan, sang ibulah yang diduga menyiksa bocah itu. Sebelum tidur, sang ibu memukul, menggigit, dan menendang ulu hati anaknya.

Mengerikan sekali.

Saya punya anak berusia hampir 2 tahun. Sebagai orangtua, kadang-kadang saya juga marah kalau kelakuannya menjengkelkan.

Tapi ketika air matanya bercucuran, kemarahan di dada pun langsung lenyap tak berbekas. Saya kira, begitulah cinta.

Sulit membayangkan, seorang ibu bisa menyakiti anaknya sedemikian rupa. Meskipun persoalan rumah tangga yang membikin stres dan marah, tak semestinya kemarahan dilampiaskan pada anak-anak.

Kekerasan terhadap anak atau child abuse bukanlah hal yang main-main. Child abuse ini sebetulnya tak sekadar penyiksaan fisik.

Mengabaikan kebutuhan anak, membiarkan mereka tanpa pengawasan, situasi berbahaya, atau membuat anak merasa tak berharga atau bodoh, ternyata juga termasuk child abuse.

Kekerasan fisik hanya satu tipe dari child abuse. Pengabaian dan penyiksaan secara emosi, juga memberikan dampak yang sama buruknya dengan penyiksaan fisik. Malah lebih parah, sebab karena sifatnya yang subtil, orang lain cenderung mengabaikannya.

Child abuse juga tak hanya dilakukan oleh orang-orang yang jahat. Keluarga terdekat pun bisa jadi abuser. Di keluarga yang terlihat bahagia, child abuse bisa terjadi tanpa diketahui orang lain.

Korban penyiksaan ketika dewasa bisa jadi juga akan mengulangi penyiksaan itu kepada anak-anaknya secara tak sadar.

Tetapi, ada juga korban penyiksaan yang akhirnya tumbuh dewasa dengan motivasi kuat untuk melindungi anak-anaknya dari child abuse. Seharusnya, beginilah yang terjadi.

Hal yang memprihatinkan, kasus yang menimpa Adit ternyata bak fenomena gunung es. Kasus Adit hanya satu dari begitu banyak kasus child abuse di Indonesia.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sampai 2015, selama periode 4 tahun, mereka sudah menerima 16.000 lebih laporan kekerasan terhadap anak di 34 provinsi dan 179 kota.

Sebanyak 50 persen kasus melibatkan kekerasan seksual, yang bisa berujung pada pembunuhan. Kasus lain berupa penyiksaan fisik, penculikan, eksploitasi ekonomi, dan penyelundupan anak.

Nah, yang memprihatinkan dari fakta itu adalah, 93 persen pelaku adalah orang dekat korban, termasuk ayah dan ibu.

***

Saya percaya, Tuhan tak menitipkan anak pada kita untuk disakiti dan disiksa sedemikian rupa. Lewat anak, Tuhan mengajari kita untuk mengasihi dan berkorban.

Ayah dan ibu, kakak-adik, Om-Tante, mari melihat anak-anak sebagai manusia, yang punya hak untuk tumbuh merdeka dari berbagai kekerasan.

Saya percaya, teladan hidup, adalah guru terbaik untuk mengajarkan apa saja kepada anak. Segala sesuatu, mulailah dari diri sendiri terlebih dahulu. Saya juga belum sempurna. Karena itu saya tak berhenti berusaha.

Setelah dari diri sudah berusaha, ada upaya lain, menurut saya, yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi agar tak jatuh korban Adit-Adit lainnya.

Stand with them. Kalau melihat child abuse di sekitar kita, jangan diam saja. Peringatkan pelaku, siapapun dia, akan bahayanya perlakuan itu.

Kita pun bisa melaporkan peristiwa child abuse kepada pihak berwajib, termasuk ke KPAI. Selain kesaksian, ambillah foto supaya alat buktinya kuat.

Foto: Pixabay/Unsplash

Jadilah Cerdas di Tengah Berita Palsu yang Mendera

Media sosial kita berisi banyak berita palsu. Apalagi di tengah suasana pemilihan kepala daerah yang panasnya luar biasa. Ini sungguh menyedihkan.

Banyak media abal-abal bermunculan dengan ‘berita-berita’ bombastis. Keberpihakan ditunjukkan dengan begitu telanjangnya.

Bahkan ada juga media yang bisa disebut kredibel, juga jatuh ke jurang yang sama.

Ini semua mengangkangi upaya sungguh-sungguh para wartawan di luar sana yang jujur menyampaikan berita berdasarkan fakta.

Di tengah situasi semakin sulitnya membedakan mana fakta dan mana yang bukan fakta di dunia online, menurut saya, media harus tetap berpegang pada ‘kitab suci’ jurnalisme.

Wartawan harus bekerja dengan prinsip check and recheck, cover both sides, prinsip-prinsip jurnalisme yang menjadi andalan dalam menyajikan berita.

Sebab ini adalah gerbang pertahanan para pewarta. Tak boleh ada kompromi. Apalagi dibutakan oleh nafsu mengejar traffic atau click belaka. Kredibilitas jadi taruhannya.

Berita itu Berdasarkan Fakta..

Sebagai wartawan, saya belajar banyak di media tempat saya bekerja sebelumnya. Salah satu senior di sana pernah berkata: “Berita dibangun berdasarkan fakta.”

Apa itu fakta? Fakta adalah informasi yang sudah diverifikasi. Kalau belum diverifikasi, sifatnya masih informasi belaka. Bisa benar dan bisa hanya rumor saja. Fakta pun, kalau hendak disiarkan, harus punya newsvalue atau nilai berita.

Menurut saya, media yang gemar ‘bermasturbasi’ dengan hoax atau berita palsu, sesungguhnya masih belum sampai pada fakta. Atau mungkin memang sengaja dibangun untuk mengaburkan fakta. Entahlah.

Kalau sudah begini, pembacalah yang harus cerdas dan banyak usaha. Informasi apapun yang beredar di media (apalagi yang abal-abal) dan media sosial harus dicek sebaik-baiknya.

Tak apa membandingkan informasi yang sama dari media lain, meski tak sepaham dengannya.  Karena kadang memang sebuah cerita memang bisa jadi punya nuansa yang berbeda meski mengacu pada fakta yang sama.

Ini sih memang karena sudut pandang saja.

Foto juga dengan mudah bisa dicek kebenarannya. Sekarang kan sudah ada mesin pencari yang pintar luar biasa. Cukup drag and drop foto itu di kolom pencarian. Saya cukup sering melakukan hal ini. Biasanya, foto-foto hoax bisa dengan mudah diketahui benar atau tidaknya.

Kamu cuma dimanfaatkan

Pembaca perlu menyadari adanya dugaan tentang persoalan ekonomi di balik kehadiran media penyebar berita palsu itu.

Target mereka adalah mengejar pengunjung sebanyak-banyaknya. Makin banyak pengunjungnya, makin besar trafffic-nya. Makin besar traffic-nya, patut diduga makin besar kemungkinan mendapatkan uang masuk dari pengiklannya.

Kadang mereka tak peduli pada konten yang disajikan. Itu hanyalah pemancing, perangkap, saja.

Tapi mereka ini sedang bermain-main dengan api. Dan kamu pembaca, entah sadar atau tidak, ikut ambil bagian di dalamnya.

Sebab berita palsu berpotensi besar jadi penyebab perpecahan, pertikaian, dan masalah-masalah berbahaya lainnya, ketika kamu menyebarkan berita palsu itu begitu rupa.

Sebab, penyakit pembaca yang tak acuh pada fakta adalah bahwa mereka juga tak acuh juga saat menyebarkan/men-share lagi hoax itu di lingkaran sosialnya. Lalu berita palsu itu menyebar ke mana-mana, dan seterusnya, dan seterusnya.

Waspada aturan penjeratnya

Kita punya undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau biasa disebut UU ITE, yang mengatur soal hoax atau berita palsu ini.

Pada bab mengenai “Perbuatan yang Dilarang”, pasal 28 disebut begini:

(1) Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang
mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan
rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku,
agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Penegakan undang-undang ini memang masih perlu dipertanyakan keseriusan dan kepastiannya. Meskipun begitu, kita harus tetap berhati-hati, sebab bisa jadi kita termasuk golongan yang mencicipi penjara karena tak acuh pada fakta.

Foto: Pixabay/Mattysimpson

Manusia ‘Beracun’ yang Sebaiknya Dijauhi atau Ditinggalkan

Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, tak mungkin kita bisa menjauh dari pergaulan dengan sesama. Tapi kadang-kadang, ada saja manusia yang jadi ‘racun’ bagi kita.

Mereka itu menggerogoti semangat kita, mengkhianati kepercayaan kita, atau menyebarkan hal-hal negatif di sekitar kita.

Siapa saja golongan orang-orang ‘beracun’, yang sebaiknya kamu hindari atau bahkan kamu tinggalkan? Simak delapan macam orang itu, seperti disarikan dari Lifehack:

1. Mereka yang hanya menghabiskan waktumu

Bisa jadi mereka itu adalah famili atau temanmu. Tapi mereka menyita banyak waktumu untuk mendengarkan ocehannya yang tak penting, yang itu dan itu saja. Tapi giliran diminta bantuan tak pernah ada, atau tak mau. Tak ada imbal balik yang berguna buatmu.

Ada baiknya kamu mulai mengurangi waktu bersama dengan mereka. Mereka hanya akan menghabiskan waktumu.

Mungkin kalau dengan famili, kamu harus bijak juga. Bisa dengan cara mematikan ponsel pada waktu-waktu tertentu, di mana kamu ingin sendirian saja.

Mengambil waktu untuk diri sendiri banyak lho gunanya. Malah menurut Oscar Wilde, mengambil waktu sendiri itu menyehatkan.

2. Mereka yang terlalu jauh mengkritikmu atau selalu ingin melukai hatimu

Tak ada salahnya memberikan feedback yang jujur dan fair. Tapi kalau kamu merasa ada orang yang secara konstan melancarkan kritik membabibuta terhadapmu, jangan diam saja. Kalau kritiknya tak lagi membangun, katakan bahwa kritikannya tidak membantu dan mengecewakan. Jangan takut kehilangan orang seperti itu, kalau terpaksa.

Ada juga golongan orang yang punya banyak taktik untuk melukai hatimu. Mereka akan mempertanyakan kejujuranmu, kemampuan atau kecerdasanmu. Atau teman yang selalu melanggar janji atau tak mau melakukan permohonanmu.

3. Mereka yang selalu play victim

Mereka ini orang yang ‘jago’ menimpakan kesalahan. Mereka tak pernah mau bertanggung jawab pada kesalahan sendiri. Pokoknya, mereka adalah korban dan segala sesuatu bukan salahnya. Hindari orang semacam ini, karena bisa jadi suatu ketika, kamu akan menjadi salah satu korbannya.

4. Mereka yang selalu punya mindset negatif

Mereka menyebarkan aura negatif seperti penyakit menular. Vaksin satu-satunya adalah dengan menghindari mereka. Mereka adalah orang yang selalu gelisah, khawatir, pesimistis, depresi, dan banyak komplain.

Kalau kamu ingin hidup lebih lama, cara pandang yang positif sangat membantumu. Sebuah studi dari Universitas Yale mendapati bahwa memiliki sikap yang positif akan membantumu hidup 7 tahun lebih lama.

5. Si sumbu pendek

Mereka ini betul-betul akan menghabiskan energimu. Sebab kamu harus berhadapan dengan perilaku bodoh dan kadang kekanak-kanakan. Mudah sekali marah, kadang untuk urusan sepele. Tak perlu berada dalam lingkaran orang semacam ini.

6. Tak punya empati dan welas asih

Sebab mereka takkan bisa menunjukkan simpati atau berbelas kasih pada saat kamu membutuhkannya. Mereka ini punya masalah kepribadian dan bertendensi narsistik.

7. Mereka yang berbohong padamu

Dalam sebuah hubungan, pertemanan, atau apapun namanya, dibutuhkan kejujuran dan kepercayaan. Kalau seseorang mengkhianati kepercayaanmu atau berbohong padamu, mereka tak layak jadi temanmu.

8. Mereka yang manipulatif dan akan mengeksploitasimu

Ada orang yang hanya ingin memanfaatkanmu, misalnya untuk berkenalan dengan seseorang. Mereka biasanya memakai gosip sebagai senjata dan selalu punya agenda tersembunyi. Kalau kalian akan melamar sebuah pekerjaan, dia akan berusaha supaya kamu tak ikut melamar. Sehingga dia akan menceritakan hal-hal yang buruk, mengenai pekerjaannya, atasan di sana, atau gaji yang terlalu kecil.

Mereka hanya ingin mengurangi pesaing demi keuntungan pribadi. Orang yang manipulatif tahu bagaimana mendapatkan informasi darimu atau membuatnya menyingkapkan kelemahanmu dan kemudian akan memakainya untuk menjatuhkanmu. Mereka akan mengeksploitasi kebaikanmu demi mendapatkan banyak, tanpa harus keluar apapun. Kamu akan menyadarinya ketika pada satu titik kamu tahu, kamulah selalu yang jadi pihak pemberi dan membayar untuk segala sesuatu.

Foto: Pixabay/Geralt

Realitas Pernikahan yang Tak Terungkap di Media Sosial

Banyak pasangan yang ‘memamerkan’ indahnya pernikahan atau hubungan mereka di media sosial. Tapi realitas biasanya tak sesempurna gambaran yang terlihat di postingan-postingan itu.

Jay Hill, seorang penulis dan psikolog bercerita, setidaknya ada beberapa realitas pernikahan yang takkan banyak kamu temukan di media sosial. Ini dia:

Adu pendapat, itu seni…

Saat kita tinggal bersama pasangan kita, berhari-hari, berbulan, bahkan bertahun-tahun, adu argumentasi takkan terelakkan. Tak peduli betapa kamu sangat mengasihi pasanganmu. Kadang-kadang, hal yang sepele, konyol, bisa membuat suami meninggikan suara dan sebaliknya. Biasanya, argumentasi-argumentasi kecil akan berakhir dan dilupakan dalam waktu singkat. Pasangan mudah jatuh dalam perdebatan kalau kalian sama-sama tak mau kalah. Bahkan, siapa yang harusnya membuang sampah pun bisa jadi perdebatan sengit.

Tidur dan mendengkur…

Apa lagi yang lebih romantis ketimbang saat kamu tertidur di samping pasangan pada akhir hari yang panjang dan melelahkan. Tapi pada foto-foto yang kelihatan romantis itu pasti ada hal-hal lain yang takkan bisa tergambarkan. Misalnya suara dengkuran berisik pasanganmu, atau bahkan suara dengkuranmu sendiri. Dan selama bertahun-tahun, kalian sudah terbiasa dengan keberisikan itu.

Maunya sih ngobrol dulu…

Teorinya, masa menjelang tidur, kamu dan pasangan menciptakan waktu berkualitas dengan ngobrol apa saja di atas tempat tidur, mulai dari hal-hal remeh sampai yang serius. Faktanya, kalian berdua sudah terlalu capai dengan pekerjaan atau mengurus rumah tangga. Ketika sampai di atas ranjang, dorongan untuk tidur lebih besar ketimbang ngobrol.

Bebersih rumah…

Mungkin ada yang nge-posting tentang kegiatan gotong royong bareng pasangan membersihkan kamar atau rumah. Faktanya, tak sehari-hari seperti itu dan kebanyakan pasangan tak begitu. Apalagi pasangan yang sama-sama bekerja. Kalau tak ada asisten rumah tangga, maka yang terjadi adalah: sesampainya di rumah, dorongan terbesar adalah untuk merebahkan badan dan istirahat, ‘berdamai’ dengan rumah yang berantakan. Sampai akhirnya, pada satu titik, salah satunya memaksa diri bangun dan mengambil sapu atau vacuum cleaner.

Foto: Pixabay/Unsplash