Author: admin

Jangan Sepelekan Anak Indigo (Tentang Indigo Bagian 3)

Pada bagian pertama dan kedua, saya sudah menceritakan pengalaman-pengalaman yang terjadi karena ‘kekhususan’ yang saya punya sejak kecil sampai dewasa ini. Menurut saya, menjadi seorang anak atau seorang dewasa indigo, bukanlah suatu kelebihan khusus.

Bagi saya seorang anak atau seorang dewasa lainnya yang pandai matematika, pandai bermusik, melukis, menyanyi atau menulis lebih baik daripada seseorang yang indigo karena kepandaian-kepandaian mereka menurut saya lebih bermanfaat dan bisa dinikmati oleh orang lain.

Sebab terkadang bila saya mendapat suatu mimpi, perasaan atau pengelihatan yang jelas, saya bingung tindakan apa yang harus saya ambil. Namun dari beberapa pengalaman saya yang terus berkembang, berikut adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan bila anak atau keluarga Anda mempunyai kemampuan seperti ini:

1. Dengarkan omongannya.

Jangan sepelekan omongan dan perasaan anak bila dia bisa melihat hal-hal yang di luar kewajaran, makhluk halus misalnya. Temani dia, katakan padanya tidak perlu takut, ada mama papa di sini. Ajak berdoa atau mengusir makhluk tersebut dengan kuasa doa. Tolong jangan matikan lampu sampai dia benar-benar pulas. Pasang musik yang lembut juga dapat membantunya memiliki perasaan yang nyaman sebelum tidur. Bila anak Anda mempunyai teman khayalan yang sering mengikutinya, ajar dia untuk tidak berinteraksi dengan teman khayalannya dan ‘usir’ dengan doa.

2. Ajar anak Anda berdisiplin dan belajar bertanggungjawab.

Anak indigo biasanya anak yang pemberontak dan tidak taat aturan karena dia merasa dia memiliki kemampuan untuk mempelajari segala sesuatu sendiri (walaupun dia tidak menyadari sikapnya). Pikirannya sangat aktif dan melanglang buana. Ajarkan dia berdisiplin dan teratur secara bertahap, misalnya mengatur keperluan sekolahnya sendiri agar pikirannya lebih terkelola. Anak indigo juga memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari sesuatu. Jadi bila Anda menemukan ciri-ciri ini pada anak Anda, berikan dia aktivitas, keahlian, hobi yang bisa dia tekuni agar energinya teralih kepada hal-hal yang lebih positif dan bisa mengontrol sifatnya yang reaktif atau impulsif.

3. Jangan menjadi orangtua yang otoriter.

Orangtua yang otoriter tidak bisa bekerjasama dengan anak indigo. Sifat otoriter orangtua hanya akan membuat anak indigo semakin memberontak dan marah. Ini pengalaman saya.

4. Bila kemampuan-kemampuan supranaturalnya terus berlanjut hingga dewasa, ingatkan dia untuk bijaksana dan berhati-hati menyampaikan sesuatu yang ia ketahui kepada orang lain.

Misalnya dia mendapat mimpi tentang seseorang atau melihat seseorang melakukan sesuatu dalam pengelihatannya, pikir dulu matang-matang apa perlu dia menyampaikan hal tersebut kepada orang yang bersangkutan. Bila tidak bijaksana hubungannya malah bisa rusak dengan orang tersebut.

5. Bila anak Anda tidak dapat Anda tangani, bawa anak Anda ke psikolog untuk mendapat medikasi atau arahan dan bimbingan yang tepat.

***

Demikian hal-hal yang bisa saya bagikan mengenai anak-anak indigo menurut pengalaman saya pribadi.

Sekali lagi saya katakan ini bukanlah sesuatu yang istimewa dan patut dibanggakan atau disombongkan, karena saya meyakini semua manusia adalah ciptaan Tuhan dan diciptakan seturut dan serupa dengan gambar-Nya. Sehingga semua manusia juga mempunyai karakter dan kemampuan ke-Ilahian.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan saya ini dengan berpesan kepada siapa saja yang membacanya untuk tidak berusaha menghubungi saya untuk menanyakan nomor togel seperti kebiasaan seorang teman saya…hehehe..

Tulisanku ini kupersembahkan untuk :
1. Anakku terkasih William Benjamin yang sangat keras kepala dan sulit diatur. Sepertinya kamu juga seorang anak indigo, nak.

2. Phillipa (Pippa) Supra Brillian, anak perempuanku yang masih dalam pengelihatan indigoku. Well, let’s see if you will really come in the future.

Rachel Rosalyn

Foto: danmo/pixabay

Sebelum Tsunami Aceh Terjadi, Saya Merasakannya.. (Tentang Indigo Bagian 2)

Minggu pagi, 26 Desember 2004. Beberapa saat sebelum tsunami Aceh terjadi, saya terbaring sakit di kamar. Sekonyong-konyong saya menangis keras-keras dan berteriak-teriak pada suami, bukan karena rasa sakit tapi rasa tertekan yang amat sangat.

Saya mengatakan pada suami seperti ada sesuatu yang terjadi. Saya merasakan seperti Tuhan turun ke muka bumi dan saya memaksa untuk diizinkan ke gereja walaupun akhirnya tidak diizinkan. Untuk mengalihkan perasaan saya, saya menyalakan televisi dan ada berita tentang tsunami di sana.

Peristiwa itu sangat membekas dalam ingatan saya dan saya kira itu adalah salah satu ciri khas anak-anak indigo.

Oleh sebab ketajaman panca indera yang luar biasa dari manusia indigo, mereka pun bisa melihat atau merasakan hal-hal yang tidak pada umumnya dirasakan atau dilihat oleh orang lain.

Sebenarnya apa sih ciri-ciri orang indigo? Kalau bercermin pada pengalaman sendiri, maka ciri indigo adalah sebagai berikut:

1. Memiliki daya ingat yang sangat baik dan kemampuan tajam untuk mengamati.

Jangankan peristiwa 10 atau 20 tahun yang lalu, beberapa kejadian di atas 30 tahun yang lalu pun saya masih ingat secara mendetail. Saya bertanya, bayi siapa yang ibu saya gendong dalam gendongan merah pada saat kami menuju suatu tempat. Ibu saya pun terkaget-kaget ketika saya menanyakan hal itu setelah besar, karena dia pikir saya tidak memperhatikan kejadian tersebut. Ada sebuah rahasia keluarga besar yang ia simpan rapat dari saya dan itu kemudian terbongkar.

2.Cerdas dan kreatif. Bahkan ada anak-anak indigo yang mampu berbahasa asing dengan cepat padahal dia tidak dibesarkan dalam keluarga yang berbahasa asing.

Saya bukanlah anak yang berprestasi ketika masa-masa sekolah bahkan boleh dikategorikan bodoh dan pemalas. Namun daya tangkap saya berkembang seiring berjalannya waktu dengan keinginan kuat untuk berkonsentrasi dan berdisiplin dalam belajar. Belajar bahasa asing bukanlah perkara sulit buat saya. Dua sampai tiga bahasa saya pelajari dalam waktu yang bersamaan dan nilai memuaskan selalu saya dapatkan. Sekarang saya adalah seorang guru bahasa Inggris privat dengan kemampuan mengajar sebagian besar saya olah sendiri dan semua orangtua murid puas dengan hasil bimbingan saya pada anak-anak mereka.

3. Berjiwa tua. Mempunyai rasa empati dan spiritualitas yang besar. Mempunyai keinginan melayani sesama yang besar.

Waktu saya kecil hingga remaja, ibu sering terkaget-kaget mendengar perkataan-perkataan saya yang terlontar menasihati ibu saya seperti orang dewasa. Misalnya, sewaktu saya remaja pernah bilang pada ibu, “Buat apa seorang wanita itu bekerja terlalu keras, seorang ibu seharusnya berada di rumah bersama anak-anaknya. Uang bukan segalanya.”

Sungguh tidak ada yang mengajari saya berkata seperti itu dan tidak saya dapatkan dari mana-mana. Mungkin karena itu pula ibu saya pensiun dini dari pekerjaannya…hehehe. Saya kemudian mencoba masuk ke sebuah seminari teologia karena ada keinginan kuat ingin melayani sesama. Namun pendidikan itu saya tinggalkan karena sesuatu hal, dan juga terutama karena sekolah itu tidak sesuai aspirasi saya untuk masuk ke pedalaman Papua.

4. Berpikiran di luar kotak (Out of the box).

Sering berpikir hal-hal yang tidak pada umumnya. Di luar konteks yang orang lain sedang bicarakan (berbeda).

5. Sangat sensitif dan intuitif.

Bisa merasakan bila keadaan seseorang sedang tidak baik, sakit, bersedih, dan lain-lain. Perkataan-perkataan seperti ini biasanya terlontar oleh saya: “Kamu lagi tidak enak badan ya? Kamu kayaknya lagi kurang konsentrasi, ada masalah?”

Sangat mudah bagi saya menilai apakah suami saya berbohong, seseorang sedang sakit, seseorang jatuh cinta atau ada relasi dengan seseorang tanpa diberitahu orang lain. Bahkan terkadang saya bisa mengetahui apabila seseorang yang saya kenal sedang atau baru memposting sesuatu di sosial media bukan karena tanda notifikasi, mengikuti saya di jalan, atau di sosial media (padahal saya tidak memberikan nomor telepon atau ID sosmed saya).

Rachel Rosalyn

Foto: Dlee/pixabay

Pengalaman Supranaturalku, Aku Ini Indigo Atau… (Tentang Indigo Bagian 1)

…? You’re my little indigo girl, indigo eyes, indigo mind… ?

-Watershed-

Usia 4-5 tahun
Tidur adalah hal yang menakutkan bagi saya di masa kanak-kanak (sekitar usia 4 atau 5 thn). Nyaris setiap malam saya melihat barang-barang berterbangan di langit-langit kamar: pakaian ayah ibu saya, barang-barang di kamar dan bahkan saya melihat ular-ular dan binatang aneh lainnya. Jika sedang beruntung, 3 peri kecil manis sebesar Peterpan atau Tinkerbell menari-nari menemani di samping tempat tidur atau seorang pria setengah badan yang (setelah besar) saya pahami memakai model rambut bangsawan dan mengenakan pakaian batik dan selalu tersenyum kepada saya.

Tiap malam saya sangat tertekan karena orangtua saya tidak mempercayai apa yang saya lihat dan memaksa saya untuk tidur dengan lampu dipadamkan.

Usia 13-14 tahun
Suatu malam, kurang lebih sewaktu saya kelas 2 SMP, saya sedang belajar di kamar dan mendengar tamu datang dan ngobrol dengan orangtua. Sejenak saya keluar kamar untuk ke kamar kecil. Sambil melewati seberang ruang tamu saya pun melemparkan senyum kepada kedua tamu yang saya lihat. Kak Vera, isteri sepupu jauh saya, dan seorang ibu tua.

Saya kembali ke kamar dan melanjutkan belajar. Setelah saya dengar tamu pulang, saya keluar kamar kembali dan bertanya pada orangtua, dengan siapakah kak Vera datang tadi. Orangtua saya mengatakan bahwa kakak itu datang sendiri tanpa didampingi siapa pun. Argumentasi pun terjadi karena saya ngotot bahwa saya melihat dua orang. Argumentasi dengan orangtua saya membuat saya merasa sangat tolol.

Usia 37 tahun
Pada suatu hari saya merasa sahabat saya akan ditipu seseorang secara finansial. Tanpa berpikir panjang saya pun menelepon dia dan menasihati dia untuk berhati-hati dalam berbisnis dan ternyata dia akan melakukan suatu transaksi. Sayang nasihat saya tidak disambut baik dan dia pun benar-benar ditipu 100 juta dan hubungan kami rusak, tidak saling berbicara selama 2 tahun.

38 tahun
Lewat petang hari sewaktu saya sedang berdoa di kamar (lampu saya matikan), saya melihat sebuah batu besar melayang di langit. Pandangan mata saya seperti bisa menembus atap rumah. Tanpa tahu apa artinya dan tidak tahu ke mana saya harus cerita, saya hanya menyimpannya di dalam hati. Dua hari kemudian diberitakan di TV bahwa ada sebuah benda angkasa (kemungkinan sisa meteor) jatuh di Duren Sawit, tidak jauh dari tempat saya tinggal.

37-40 tahun
Mendapatkan mimpi sebelum gunung Sinabung meletus. Saya juga mendapatkan mimpi sebelum pesawat German Wings jatuh di perbukitan di Perancis.

Apa yang Terjadi pada Saya?

Hal-hal seperti itu sering terjadi di dalam hidup saya dan membuat saya dilema untuk menceritakannya kepada orang lain. Saya sering jadi merasa aneh dan tolol ketika saya ceritakan kepada orang lain, karena mereka malah menyepelekan omongan saya, atau bahkan mengatakan saya sok tahu, negatif thinking, suka meramal, dan sebagainya.

Saya pun berusaha memahami dan menggali sendiri beberapa informasi yang dapat membantu saya memahami apa sebenarnya yg terjadi dalam diri saya. Berbagai perspektif saya gali, secara pandangan Kristen yang saya anut, yang disebut sebagai karunia, dan pandangan psikologi populer.

Dalam tulisan saya ini, saya ingin sedikit berbagi dari apa yang saya dapat pahami dari pandangan psikologi populer.

Pernahkah Anda mendengar istilah Indigo?

Istilah indigo sebenarnya sudah ada sejak tahun 70an tapi mulai populer sejak diterbitkannya sebuah buku mengenai hal ini pada 90-an. Beberapa definisi pun diberikan kepada orang-orang, khususnya anak-anak yang mempunyai kelebihan yang disebut indigo ini.

Beberapa definisi itu adalah:

1. Anak indigo adalah anak-anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat spesial, tidak biasa atau supranatural (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati).

2. Anak indigo juga sering didiagnosa sebagai pengidap ADHD (Attention deficit Hyperactivity Disorder), yang mana anak-anak ini sulit konsentrasi, hiperaktif dan impulsif sehingga biasanya mempunyai masalah dalam tidur dan belajar tetapi bukan berarti mereka miskin intelijen. Anak indigo juga sering didiagnosa sebagai anak penderita autisme.

3. Anak indigo juga didefinisikan sebagai anak yang mempunyai Extra Sensory Perception (ESP).

Pertanyaannya, apakah saya anak indigo?

Ikuti kelanjutan tulisan soal indigo ini, yang akan disajikan secara berseri ya.

 

Rachel Rosalyn

Foto: danmo/pixabay

Berbagi Tips Membangunkan Anak

Anak-anak sudah mulai sekolah. Mulai deh rutinitas harian orangtua saban pagi, yaitu membangunkan mereka untuk bersiap-siap berangkat sekolah.

Rutinitas ini ada yang mudah bagi sebagian orangtua, ada juga yang sulit. Tiap-tiap keluarga punya cara yang berbeda-beda untuk membangunkan putra-putrinya. Simak yuk cerita mereka:

Shanty Gloria
Tinggal di Jakarta, punya anak yang baru masuk SMA.

Saya membangunkan anak jam 05.00, tapi tak apa kalau kemudian dari tempat tidur dia pindah tidur sebentar di kursi, setelah itu dia saya suruh mandi. Setelah mandi, anak akan pakai baju sendiri, lalu sarapan. Kalau diantar dengan mobil, enggak apa-apa dia tidur sebentar di mobil kalau lalu lintas macet.

Samuel Lapudo’oh
Tinggal di Yogyakarta, ayah dari PJ yang duduk di kelas 8 Jogja Patriae Academy (semi home-school)

Saya tidak menyarankan anak dibangunkan terlalu pagi. Orangtua saja tidak suka, apalagi anak-anak kan? Biasanya sih anak bangun paling cepat jam 06.30. Sekolahnya sendiri dimulai jam 08.00. Karena tinggal di Yogyakarta, semua bisa dilakukan dalam range waktu 30 menit. Kecuali kalau musik mudik atau long weekend.

Sarwendah Palupi
Tinggal di Pekayon, Bekasi. Ibu dari Dani, kelas 4 di SDK Marsudirini.

Kalau sekolahnya menyenangkan, anak pasti mau bangun pagi. Seperti Toto Chan. Heheh

Rachel Rosalyn
Tinggal di Jakarta, ibu dari William Benjamin umur 2,5 tahun dan baru masuk PAUD.

Anakku tidak kukasih bobo siang biar tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Soalnya kalau dikasih bobo siang 2-3 jam, malamnya dia tidur terlalu larut, bisa sampai jam 01.00, atau bahkan pernah sampai jam 02.00. Jadi bangunnya malah kesiangan.

Linda Saerang
Tinggal di Bekasi, ibu dari Azarya yang duduk di kelas 3 SMP.

Anakku susah bangunnya terutama hari Senin karena hari Minggu biasanya full kegiatan, seperti ibadah dan main dengan teman-temannya di gereja. Jadi perlu tiga tahap. Dibangunkan, dia pindah ke sofa. Dibangunkan lagi, pindah ke kamarku. Akhirnya, diancam dengan kata-kata: “Jemputan datang, ditinggal ya!” baru benar-benar bangun.

Natalia Tobing
Tinggal di Jakarta, Guru TK Tutor Time Kebon Jeruk.

Pastikan anak tidur paling lambat jam 21.00 sehingga durasi tidurnya cukup. Jangan main game selama 5 hari kecuali Sabtu dan Minggu. Bisa bangunkan anak dimulai dengan mematikan AC dan lampu, buka jendela. Lakukan sambil memanggil nama anak untuk membangunkannya. Contoh: “Nuel, bangun yuk.” Berkali-kali sampai si anak bosan mendengarnya. Hehe

Seru ya berbagai pengalaman orangtua dalam membangunkan anak. Apa pengalamanmu?

 

Foto: condesign/pixabay

Mempersiapkan Anak Masuk TK

Senin ini (18/7) adalah hari pertama sekolah. Anak Anda mungkin ada yang baru masuk Taman Kanak-Kanak.

Coba cek, apakah Anda sudah melakukan hal-hal berikut ini untuk mempersiapkan anak masuk TK:

1. Ajak anak touring sekolah, terutama sebelum mendaftar.

2. Ajak anak untuk bermain di kelas yang akan sesuai umurnya pada saat itu. Lalu orang tua sebisa mungkin melihat fasilitas dan guru-gurunya. Kalau memungkinkan berbicara dengan guru kelasnya untuk mendapat kesan pertama.

3. Lakukan Free Trial untuk melihat reaksi anak, aktivitas, dan aksi guru. Catatan free trial tidak menjamin seorang anak akan suka atau tidak suka datang ke kelas. Tapi ini penting.

4. Di rumah katakan pada anak bahwa di sekolah ada banyak hal yang menyenangkan, seperti: bermain dengan teman, banyak teman, banyak mainan. Katakan segala hal yang membuat anak tertarik datang ke sekolah.

5. kalau memungkinkan jangan paksa anak memakai baju seragam. Minta izin kepada gurunya untuk memakai baju rumahan, agar ada kesan seperti di rumah.

6. kalau anak belum bisa menyesuailan dirinya dengan lingkungan yang baru dan itu ditunjukan dengan menangis, alangkah baiknya anak ditemani oleh orang tua di dalam kelas, dan lihat kondisinya siap atau tidak siap dtinggal. Orang yang dikenal oleh anak bisa juga menemaninya, kalau orang tuanya tidak sempat. Orang tua perlu menginformasikan yang penting diketahui oleh guru atau sekolah mengenai anak, seperti makanan, kebiasaan, kesehatan, karakter, dan lain-lain.

7. Ajak anak bercerita tentang aktivitas yang dilakukan pada hari itu, karena TK adalah taman bermain dan berteman banyak, maka tanyakan: Bermain apa hari ini? Bermain dengan siapa hari ini? Ibu Guru mengajak kamu main apa hari ini? Setiap hari lakukan hingga anak ada mengalami rutinitas, dan akhirnya mau bercerita dengan sendirinya.

Semoga sang anak senang terus datang ke sekolah.

NATALIA TOBING

Foto: OmarMedinaFilms/Pixabay

 

4 Aplikasi Android Bikin Kamu Saat Teduh Di Mana Saja dari Smartphone-mu

Saat teduh, kadang niat sih memang besar untuk bisa melakukan hal ini setiap hari, bahkan pagi dan malam. Namun, berbagai kesibukan dan rutinitas harian kita malah sering bikin kegiatan bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus ini terpinggirkan.

Kalau sudah begini, rasa bersalah malah jadi sering timbul. “Kok mau saat teduh jadi susah ya?” Bayangkan saja, pagi bangun harus buru-buru beberes buat ke kantor, atau mempersiapkan segala sesuatunya supaya anak-anak bisa berangkat sekolah tepat waktu.

Malam, setelah pulang kantor atau sehabis melakukan kegiatan padat keseharian, kondisi fisik sudah lelah. Bagaimana mungkin mau bersaat teduh di kamar? Episode “masuk kamar”-nya sih benar, tetapi saat teduh di kamar, belum tentu. Yang ada ketika kita merebahkan kepala ke bantal, langsung “doa syafaat” sampai pagi, alias ketiduran sampai jam weker berbunyi sebagai tanda aktivitas harus dimulai lagi.

Nah, jika kondisi seperti ini terjadi pada kamu, ini mungkin bisa menjadi jalan keluar. Pasang saja aplikasi berbasis Android untuk bersaat teduh. Kalau ada aplikasi saat teduh di smartphone kamu, bersaat teduh bisa dilakukan di mana saja, di jam istirahat kantor mungkin, atau di saat-saat jeda sejenak sebelum aktivitas berikutnya.

Ini 4 aplikasi Android untuk saat teduh berbahasa Indonesia yang paling banyak diunduh:

1. WarungSaTeKamu

Saat teduh-WarungSaTeKaMu

Namanya unik sekali. Jika kita mengetik “Saat Teduh” di bagian “Search” di Google Playstore, pastilah aplikasi ini akan muncul paling atas.

WarungSaTeKaMu kepanjangan darri Warung Saat Teduh Kaum Muda. Basis dari Apps ini adalah website WarungSaTeKaMu.org. Di Apps ini kita akan menemukan menu Santapan Rohani. Di bagian inilah kamu bisa membaca Firman Tuhan setiap hari. Kamu juga bisa langsung membagikan bagian saat teduh hari ini di Facebook-mu.

Di Apps ini juga kita bisa melihat berbagai artikel, cerpen, puisi, wallpaper, lagu, video, bahkan komik strip tentang gaya hidup Kristen.

 

2. Renungan Harian

Saat teduh-Renungan Harian

Aplikasi buatan Yayasan Cahaya Bagi Negeri (CBN) juga layak dijadikan referensi. Tak banyak yang diberikan dari segi fasilitas oleh aplikasi ini. Tapi, sederhana itu indah, begitu bukan pepatah yang sering kita dengar?

Renungan Harian bisa kita lihat di kolom Daily Devotional, lalu ayat Alkitab yang layak untuk diingat di hari itu tampil lewat Daily Quotes, kemudian terakhir adalah referensi Bacaan Setahun.

Meski tak banyak kolom fasilitas dari aplikasi ini, terbukti kesederhanaannya telah membuat aplikasi ini banyak diunduh.

 

3. Our Daily Bread

Saat teduh-ODB

Our Daily Bread (ODB) bisa jadi telah menjadi bacaan saat teduh yang akrab di khalayak umum. ODB versi bahasa Indonesia lebih dikenal dengan Santapan Rohani. Di aplikasi ini memang yang akan diunduh adalah versi globalnya, namun setelah itu kita bisa memilih yang bundel versi bahasa Indonesia.

Setelah memilih versi Bahasa Indonesia, kamu bisa memilih bundel Santapan Rohani setiap bulannya sesuai tahun. Kamu juga bisa memakai fasilitas built-in audio player. Ada juga fasilitas pengingat yang bisa kamu atur, kapan waktu yang pas buat kamu melakukan saat teduh.

Tentu, sekarang zaman sosial media, aplikasi ini juga menyediakan fasilitas berbagi apa yang kamu baca ke sosial mediamu atau ke email temanmu.

 

4. E-Renungan PSM

Saat teduh-Renungan Harian PSM

Buat kamu-kamu yang biasa menyusun khotbah, situs Sabda.org pastilah sering menjadi bahan pegangan dalam mencari referensi paling bagus. Sabda.org memang menyajikan banyak sekali pengetahuan dan data-data terkait kekristenan di Indonesia, maupun berbagai referensi mendalam tentang firman Tuhan dari berbagai sisi.

Kali ini, Sabda.org bisa jadi menantang kamu-kamu agar makin rajin bersaat teduh. Tantangan itu hadir dalam bentuk Renungan PSM yang merupakan singkatan dari Pagi-Siang Malam. Jadi, kalau kamu unduh aplikasi ini, diharapkan kamu juga berkomitmen saat teduh bukan cuma sekali sehari, tapi tiga kali sehari.

Bisa juga sih, kamu justru memilih dengan enak apakah hari ini mau saat teduh pagi, atau besok malam saja. Yang jelas, bahan bacaannya di Daily Devotional berbeda-beda.

 

Nah, semoga saja dengan mengetahui berbagai aplikasi untuk saat teduh ini, niatan kamu untuk terus membangun relasi dengan Tuhan selalu terpenuhi. Syukur-syukur kalau aplikasi saat teduh di smartphone-mu ini bisa lebih sering dibuka, bersaing dengan game permen berjejer alias Candy Crush Saga yang kadang bikin kamu kelihatan sibuk banget saat pegang smartphone. #Eeeaaa

 

Job Palar

Tentang Rasa Suka

Saya suka novel (dan film) Hunger Games. Ada banyak pesan moral dalam kisah fiksi itu. salah satunya adalah tentang rasa suka.

Haymitch, dalam film Hunger Games, dalam satu cuplikan, memberitahu Katniss, tips untuk bertahan hidup, sambil menunjuk pada Peeta yang sedang mendadahi penonton. “Dia, telah melakukannya.”
Nasihat Haymitch, cara bertahan hidup adalah dengan disukai. Membuat dirimu disukai orang. Dalam pertarungan saling membunuh untuk menjadi satu-satunya peserta yang hidup, hanya peserta yang disukai penontonlah yang akan mendapat bantuan dari sponsor, berupa makanan, obat atau peralatan bantu untuk bertarung, selama mereka berada dalam arena pertarungan yang mematikan.

Rasa suka ini ternyata sungguh berefek besar.

Mungkin teman-teman pernah menonton film kriminal, di mana orang yang dibunuh pertama kali adalah yang paling tidak disukai. Tidak usah jauh-jauh ke film, di dalam sebuah perusahaan juga, biasanya orang yang tak disukai adalah yang disingkirkan terlebih dahulu, bukan?

Lalu saya pikir, mungkin itulah yang dilakukan oleh para penjilat. Para penjilat ini berhasil membuat orang lain merasa disukai dengan jilatan-jilatan maut dan dahsyat mereka, hingga mereka jadi disukai, dan efeknya, para penjilat ini mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka pun sukses bertahan.

Dalam psikologi, mungkin itulah salah satu contoh istilah mirroring.
Kita akan menyukai orang yang cenderung mirip atau punya kesamaan dengan kita. Ada juga kecenderungan kita lebih menyukai orang yang menyukai kita juga. Hubungan yang baik, seperti pertemanan, biasanya dimulai dengan rasa saling menyukai.

Sebaliknya, kita cenderung tidak menyukai orang yang tidak menyukai kita, kan? Karena kita tidak menyukai orang tersebut, itu bisa menimbulkan sikap yang membuat orang tersebut akhirnya tidak menyukai kita. Orang yang tidak suka pada kita juga seringkali bersikap yang membuat kita tidak menyukai orang itu.

Ada sebuah kejadian yang menggelitik saya pada ironi tentang rasa suka.
Pada suatu pertemuan tahunan keluarga besar, di mana setiap orang diberikan waktu untuk mengungkapkan isi hatinya, seorang anggota keluarga besar kami (sebutlah si Z) dengan cara yang sehalus mungkin tapi terdengar sangat gamblang, membandingkan si X dan si Y. Si Y baginya adalah orang yang paling disukainya di keluarga besar kami. Dan dengan sengaja, walaupun tanpa kata-kata yang eksplisit, dia berusaha menunjukkan sejelas-jelasnya bahwa dia tidak suka seseorang (sebutlah si X) dan tidak cocok dengan si X. Sementara si Y, sangat dipuja-pujinya sepanjang penuturan yang bertele-tele dengan bumbu-bumbu kata-kata manis, yang walau terasa beracun buat si X. Tapi si X hanya diam.

Dalam hati saya merasa bahwa si Z sedang berusaha menyindir-sindir si X. Ibarat sebuah ilustrasi gambar kartun, dalam imajinasi saya membayangkan si Z ini tengah menusuk-nusuk si X dengan pedang yang tajam dan berharap si X mati kesakitan, padahal si X malah tergeli-geli tertawa dan tidak mati-mati sambil terus tertawa berguling-guling.

Saya sempat merasa simpati dan kasihan pada si X. Tapi melihat sikapnya yang tenang, saya malah jadi kagum padanya. Dan otomatis runtuhlah respek saya pada si Z. Pada akhirnya, kami semua toh bisa mengerti dan menerima sikap si Z ini, mengingat bahwa si Z ini memang memiliki masa lalu yang kurang indah, hingga sampai saat ini rasa suka tidak suka sangat penting baginya.

Pada akhirnya, ketika giliran si X tiba, dia mengucapkan beberapa kalimat yang lebih diplomatis, walau tidak ditujukan secara khusus untuk membalas si Z.

Kira-kira demikian:

Saya rasa, pada dasarnya tak ada orang yang cocok di dunia ini. Yang ada adalah orang-orang yang berusaha untuk mencocokkan dirinya dengan dengan orang lain, suka atau tidak suka. Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan menyukai atau minimal menerima apa yang tidak disukai. Orang lain tidak bertanggung jawab atas perasaan kita. Kitalah yang harus mengendalikan perasaan kita. Suka tak suka, kita harus bisa hidup berdampingan dengan orang lain dengan harmonis. Tak seorangpun dari kita dilahirkan untuk menyenangkan hati orang lain. Kita juga tidak berhak memaksa orang lain menyukai kita. Kita diciptakan untuk menyenangkan hati sang Pencipta saja.

Setelah acara itu, bukan hanya saya yang merasa bahwa si Z sudah keterlaluan, dan apakah dia sadar atau tidak sadar, dia seolah tengah memicu perang pada si X. Pada hari raya (Lebaran misalnya), pertemuan tahunan dengan keluarga besar adalah saat untuk menjalin silaturahmi, mengungkapkan apresiasi, saling memaafkan, dan bukan ajang untuk mendiskreditkan orang lain. Dia tak sadar dengan caranya itu dia tengah menumpuk bara api di atas kepalanya sendiri. Dengan mengekspos ketidaksukaannya pada si X, dia telah membuat dirinya tidak disukai orang lain, dianggap kekanakan dan bersikap tidak sesuai dengan usianya.

Lalu saya simpulkan untuk diri sendiri. Sesungguhnya, hidup kita ini, teman, tidak terdiri dari hal-hal yang kita sukai saja. Hidup tak terdiri dari orang-orang yang baik pada kita, suka pada kita, dan kita sukai, saja.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk menyukai kita dan membuat kita bahagia. Itu bukan tugas orang lain. Tak seorangpun di dunia ini berkewajiban membuat anda bahagia. Kebahagiaan adalah keputusan anda sendiri. Anda tak berhak harus disukai, diterima dan dicintai.

Memang keinginan untuk diterima, disukai dan dihargai adalah kebutuhan dasar manusia. Tapi tak ada hukum yang memaksa orang lain untuk menyukai kita.

Sesungguhnya rasa suka itu sungguh subjektif, Saudara! Menurut psikolog, perasaan itu adalah sebuah bentuk subjektifitas. Kita sendiri kadang bisa bingung mengapa kita bisa menyukai orang lain atau tidak menyukai orang lain, tanpa alasan yang jelas.

Dan seperti si Z, untuk apa kita terus seperti orang yang kehausan akan perhatian dan rasa suka dari orang lain? Apakah kita tidak bisa bertahan hidup dengan menyadari bahwa tidak semua orang menyukai kita? Seolah hanya itu yang menentukan siapa kita. Lihat betapa banyaknya haters para selebriti di samping banyaknya fans mereka. Hidup kita tak selalu ditentukan oleh siapa yang menyukai kita. Kita memang bertugas melakukan hal yang baik dan benar, tapi itu bukan untuk tujuan agar kita disukai, layaknya para penjilat.

Kita hidup bukan untuk menjadi favorit orang lain. Demikian juga orang lain bukan tercipta untuk menjadikan kita orang kesukaan mereka. Hidup ini sungguh tak sepicik urusan suka-menyukai. Memang keadaan akan lebih baik jika kita disukai, tapi jika memang tidak disukai, apakah kita tidak bisa survive?

Kalau kita refleksi, cobalah kita ingat-ingat. Memangnya kita selalu menyukai orang lain? Seperti contoh, tetangga kita? Apakah kita selalu menyukai rekan kerja kita? Saudara ipar atau mertua kita? Atasan atau bawahan kita? Bahkan pacar atau pasangan sendiripun tak selalu cocok dan kita sukai, bukan? Mungkin terkadang kita kesal dan membenci mereka. Tapi kita memutuskan untuk menerima mereka, terlepas dari rasa suka atau tidak. Kita mengambil tindakan logis untuk mengendalikan perasaan kita. Kita mengambil keputusan untuk menjadi dewasa dengan berusaha mengesampingkan sentimen pribadi kita, atau perasaan sesaat kita. Itu adalah keputusan dewasa.

Mungkin hanya anak kecil sajalah yang terus memilah-milah hidup ini berdasarkan apa yang enak dan tidak enak, apa yang manis dan pahit, apa yang disukai dan tak disukai, dan seterusnya. Sebab anak kecil memang cenderung tak bisa mengendalikan perasaannya.

Ada seorang teman, tidak suka naik kopaja. Dia tak suka kenek kopaja yang katanya kadang bau dan kurang sopan, dan kadang tidak mengembalikan uang kembalian dengan pas, ditambah supir kopaja yang suka mengebut dan merokok sembarangan di dalam bus. Tapi dia butuh mereka untuk mengantarkannya pada tujuan, jadi dia kesampingkan perasaan tidak sukanya demi tujuan yang lebih prioritas. (Dan dia juga tak berharap keneknya menyukai dia, hingga dia selalu diberi tempat duduk kosong dan siapa tahu ongkos jadi gratis, hahaha…)

Barangkali kita pernah juga berusaha membuat orang lain menyukai kita, tapi tetap saja, entah dengan alasan apa, orang tetap tak suka pada kita. Tapi itu bukan masalah kita. Itu masalah mereka. Jadi kalau kita tidak berbuat sesuatu yang baik untuk membuat orang lain menyukai kita, mengapa kita berharap orang harus menyukai kita?

Pada akhirnya, disukai atau tidak disukai orang lain, mari nikmati sajalah. Asal jangan kita yang bersikap yang memancing kebencian dari orang lain.

Hidup ini sudah berat, mari dijalani dengan gembira sajalah yaaa…

Jadi, siapa kira-kira yang tidak suka pada anda? ?

 

Almino Situmorang

Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?

Judul buku: Mengapa Engkau meninggalkan aku?: pertanyaan abadi tentang Tuhan dan penderitaan
Penulis: Philip Yancey
Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2016
Halaman: vi, 131 hlm, 21 cm
ISBN: 978-602-231-300-7
Harga: 39.000 rp.

Refleks naluriah pada manusia adalah ingin menghindari penderitaan. Namun pada suatu saat akan ditemui juga penderitaan yang tak terelakkan bahkan hal yang menakutkan seperti kejahatan dan kematian. Dalam penderitaan berat laksana lembah kekelaman itulah, umat beragama mempertanyakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup orang percaya. Hal ini yang akan dijawab dalam buku ini.

Sang penulis buku adalah seorang wartawan internasional yang menyaksikan banyak peristiwa memilukan di dunia. Beberapa adalah penembakan Sandy Hook, perang Serbia, tsunami Jepang, penderita kanker. Ia sendiri mengalami berbagai pengalaman sedih seperti sakit berat dan kehilangan figur ayah -seorang pekabar injil- pada usia muda. Berbagai peristiwa tersebut membawanya pada pencarian jawaban tentang bagaimana sikap seorang kristen menghadapi penderitaan sebagai pribadi dan komunitas jemaat.

Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna dan menyediakan banyak contoh kasus sehingga pembaca dapat mengambil hikmah dari berbagai kejadian tersebut

 

Sarwendah Palupi

Biarkanlah Kami

Saya teringat ketika saya beraktivitas bersama teman-teman yang mendampingi komunitas anak jalanan di Jombor. Perempatan Jombor selalu ramai di sore hari, dengan para pengendara yang tidak sabar lagi ingin cepat pulang ke rumah.Sejak kami memulai program kami di sana, perempatan itu menjadi makin ramai lagi dengan anak-anak dan beberapa relawan bertampang mahasiswa yang beraktifitas dengan penuh semangat. Sebenarnya saya tidak terlibat langsung dalam program-program yang langsung turun ke jalan, tapi karena ada seorang Bapak yang mengajukan permintaan kepada kami untuk berkenan mengasuh dan menyekolahkan anaknya lewat program Pengasuhan kami, saya merasa sebaiknya saya yang bertemu langsung dengannya.Ketika kemudian saya melihat mereka bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan LSM kami di sana, saya jadi bersemangat lagi untuk lebih sering mendatangi mereka.

Kegiatan yang kami lakukan sendiri sebenarnya tidak terlalu ‘menghebohkan’. Kami cuma mengadakan les calistung (baca tulis hitung) untuk beberapa anak, yang kami antar jemput dari perempatan Jombor untuk belajar di kantor kami, 5 hari dalam seminggu. Lalu kami juga mengajak mereka berkreasi lewat kegiatan menggambar/melukis bersama, seminggu sekali. Ada juga yang membawa kotak berisi buku-buku bacaan, yang kami namai Ko-PER (Kotak Perpustakaan). Dan yang terakhir, yang mungkin sedikit unik adalah kami meminjamkan beberapa kamera analog kepada anak-anak jalanan, untuk mereka pakai mengabadikan aktifitas mereka sehari-hari. Film untuk kamera-kamera itu kami sediakan, dan kami juga akan memproses foto-foto hasil jepretan mereka.

Sore itu saya kembali ke perempatan ramai itu. Betapa senangnya melihat wajah anak-anak yang penuh senyum dan kegembiraan walau dalam segala keterbatasan. Sewaktu saya sedang berbicara dengan Bagas dan Eno, dua bocah berusia 6 tahun yang sangat lucu, tanpa sengaja mata saya tertuju kepada para pengendara yang sedang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Ada seorang Bapak yang memandang dengan tajam ke arah kami. Dari pakaiannya saya menduga dia mungkin seorang pegawai pemerintah, entah dari instansi mana. Sedikit ge-er karena ada yang memandangi, saya mencoba tersenyum. Akan tetapi Bapak itu malah semakin melotot. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Dia memandangi saya tanpa berkedip sedikit pun, sampai rambut halus di tengkuk saya pun berdiri karenanya. Tetapi Bapak itu tidak memalingkan wajahnya sama sekali, matanya melotot dan penuh selidik. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Untungnya lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, dan si Bapak pun meneruskan perjalanannya, dengan, sekali lagi, entah apa yang ada di dalam pikirannya.

Ah, saya jadi teringat adegan beberapa tahun yang lalu sewaktu kami diadili warga sebuah kelurahan yang menolak di lingkungannya ada rumah yang menampung anak-anak yang “belum jadi manusia seutuhnya”. Apakah saya masih trauma oleh peristiwa itu, sehingga menghadapi pelototan seorang Bapak di perempatan saja, saya sudah bergidik? Mudah-mudahan ini hanya masalah saya sendiri, karena bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli kepada sesamanya. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli bukan hanya dengan retorika kata-kata atau tindakan-tindakan seremonial. Teman-teman kami di jalanan butuh kesempatan, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk sekedar bermain dan tertawa. Biarkanlah kami memberikan itu kepada mereka, Bapak.

You don’t know what it’s like to love somebody, the way I love you…

Sammy Ladh

Photo: courtesy of LSM Rumah Impian (thedreamhouse.org)

 

Batu Karang

Seperti karang di tengah lautan, begitulah hidup seharusnya berdasar. Seperti pesan Yesus Kristus kepada Simon yang kemudian disebut-Nya Petrus atau batu karang. Sebab di atas batu karang itulah, jemaat Tuhan akan didirikan.