Author: admin

Bagaimana Cara Menguasai Bumi?

Ada dua modal untuk manusia bisa menguasai bumi. Ilmu pengetahuan, dan Kitab Suci.

Apa itu ilmu pengetahuan?
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Bagaimana dengan Kitab Suci?
Dalam 2 Tim. 3: 15 disebutkan bahwa fungsi kitab suci adalah menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus. Mengingat hal tersebut mempelajari kitab suci adalah dalam rangka mencapai keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus.

Dalam 2 Tim. 3:16 disebutkan bahwa Kitab Suci diilhamkan Allah, sehingga sebagai Kristen kita percaya bahwa tulisan dalam Alkitab adalah juga adalah Firman Allah.

Kitab suci adalah buku tentang keselamatan manusia. Dia tidak membahas ilmu pengetahuan, sejarah, sastra atau lainnya, walaupun dalam kitab suci terdapat ilmu pengetahuan, sejarah dan juga karya sastra.

 

Kitab Suci vs ilmu Pengetahuan

Karena fungsinya sebagai buku iman maka Alkitab tidak bisa dipakai sebagai acuan ilmu pengetahuan. Sejarah Gereja pernah tersesat dalam hal ini, yaitu pada masa Copernicus (1473-1543) dan Galileo Gallilei (1564-1642) yang menentang teori Heliocentris (Matahari sebagai pusat Tatasurya) yang diusulkan oleh keduanya karena gereja pada saat itu menganggap bumi sebagai pusat tata surya (geocentric).

Gereja bahkan sampai menghukum pengucilan sampai ia meninggal bagi Galileo karena karyanya itu dianggap sebagai penyesatan. Walau akhirnya gereja katolik melalui Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa hukuman itu salah (1992) dan 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Tetapi kita juga tidak boleh terlalu mendewakan ilmu pengetahuan sehingga sesuatu yang tertulis dalam Alkitab yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan adalah khayalan saja. Alkitab juga kadang mencatat sesuatu yang tidak sesuai dengan zamannya, contohnya Yesaya 40:22.

Disebutkan bahwa bumi adalah bulat. Pemahaman pada waktu itu adalah bahwa bumi itu datar dan pemahaman bumi adalah bulat baru ditemukan pada tahun (1451-1506). Sesuatu yang tidak masuk rasio kita saat ini bisa dianggap sebagai pengertian kita saat ini yang belum mampu mencernanya tetapi bukan berarti tidak masuk akal.

 

Sikap Kitab Suci terhadap Ilmu Pengetahuan

Dalam Kej. 1:26 Alkitab mencatat bahwa tujuan penciptaan manusia adalah supaya mereka berkuasa atas ciptaan lainnya. Bahkan dalam Kej 1: 28 salah satu perintah Tuhan kepada manusia adalah menaklukkan bumi. Kata berkuasa dan menaklukkan itu erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan.

Manusia diberi kuasa dan kemampuan untuk menguasai ciptaan lainnya supaya kemudian ciptaan itu dikelola dengan baik untuk kepentingan manusia selanjutnya. Mempelajari alam adalah perintah Tuhan sehingga alam bisa dikelola dengan baik.

Tuhan Yesus dalam Matius 25:14-30 mengajarkan para murid dengan sebuah perumpamaan tentang Talenta. Inti dari perumpamaan ini adalah sebagai murid Kristus kita harus mengembangkan talenta yang Tuhan berikan termasuk jika talenta kita adalah dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Dengan cara itulah kita bisa menguasai bumi.

 

Maafkan Aku, Guru

Di masa kanak-kanak
ia berkhayal jadi guru
seperti gurunya
yang selalu tersenyum
dan tak lelah mengajarinya menebar senyum

Di masa remaja
ia mulai mengenal cinta
jatuh hati pada gurunya yang tampan
meskipun ia tahu itu tak layak

Tadi pagi…
ia berdiri di depan kelas
dengan bangga menganggukkan kepala setiap kali mendengar ucapan
“Selamat pagi guru…!”

Tapi saat ini…
ia berdiri di depan cermin
tak berani mengangkat kepala…
karena ia tahu…
sosok di depannya belumlah layak untuk digugu dan ditiru
wajahnya jarang menebar senyum
tangannya terlalu sibuk menyusun administrasi
waktunya habis mengumpulkan poin demi tunjangan sertifikasi dan inpasing
belum lagi urusan politik dan setumpuk bisnis sampingan berdalih demi sesuap nasi

Tangannya terlanjur lunglai
tak sempat lagi menepuk pundak anak-anak didiknya untuk menghalau beban yang semakin menumpu di sana
bahkan…
guratan di wajahnya
adalah lukisan seribu warna
keinginan mencipta tertutup warna amarah
kerinduan meneduhkan terhalang dengki dan akar pahit
luka
dendam
kecewa….

Setengah berbisik
ia menutur
“Untuk guruku yang dulu pernah mengasihiku dengan tulus…
untuk guruku yang jejaknya kuingin turut…
maafkan anakmu…
aku
tak layak disebut guru seperti dirimu.
Selamat Ulang Tahun…
Semoga engkau masih berkenan memberiku senyum…”

-*-

Suryani Waruwu

Penulis adalah alumnus FIB UI, berprofesi sebagai seorang Pendidik

Foto: Pixabay

Aku Meratapimu Hari Ini

Dulu Aku menolak untuk meratap
Di depan maut yang sengatnya telah dipatahkan
Ketika Engkau pergi meninggalkan kami

Dulu Aku menolak untuk meratap
Dan berjanji meneruskan impian-impian kita
Mendidik camar-camar liar terbang tinggi ke awan

Dulu Aku menolak untuk meratap
Dan berusaha tetap berdiri dengan langkah tertatih
Menjaga kawanan domba-domba liar di kandang itu

Setelah lima belas tahun berlalu dari waktu itu
Ternyata ratapan itu tak dapat ku tahan
Mengalir begitu saja seperti banjir bandang

Ratapan itu tak dapat kutahan hari ini karena tak ada lagi
Suara lembut dari tubuh ringkihmu yang penuh energi
Yang selalu bisa membangkitkan gelora di hati yang letih

Aku tetap ingin meneruskan impian-impian kita
Melihat camar-camar muda menaklukkan badai
Dan kawanan domba-domba liar itu menemukan damai

Aku tetap ingin menghidupi nyanyian kredo kita:
Achor’s vale or desolate waste, there we’d bear the Gospel You gave
Carry love through streets like Sodom’s, anywhere to seek and to save

Ah, Maafkan aku, karena meratapimu hari ini.

 

Yogyakarta, 22 April 2016

Tanpa Harus Jadi Pastor dan Pendeta, Kamu Bisa Nulis Buku Rohani yang Bikin Meleleh

Entah apa definisi buku rohani sebab senyatanya semua buku nyaris dikonsumsi untuk mengenyangkan rohani–kecuali buku petunjuk pengoperasian hape dan mesin cuci yang kita peroleh saat beli produk.

Tapi kita bersepakat dulu sebelum teman-teman di penerbitan mengoreksinya. Buku rohani adalah buku yang percaya diri nyebut-nyebut Yesus, Gereja (G besar maupun g kecil), mengutip ayat, bahkan secara vulgar memasukkan doa-doa ke dalam naskah. Sesekali sertakan ungkapan semacam “rusa merindu air” atau “Tuhan gunung batuku” atau sebangsanya biar tone Kristen-nya makin terasa. Itu buku rohani Kristen. Sori kalau definisi saya rada urakan.

Saya sendiri baru dua kali menerbitkan naskah buku rohani, keduanya lahir di penerbit yang sama di bilangan Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Di tempat lain, belum pernah. Sedangkan aktivitas mengedit naskah rohani sudah beberapa kali termasuk membuatkan kata pengantar buku atas nama Uskup 😀

 

Bukan Pendeta atau Pastor Nulis Buku Rohani?

Ya, saya awam—sama sekali bukan pastor dan pendeta–dan saya nekat menulis buku rohani. Buku pertama saya adalah kisah seorang santo yang adalah pelindung gereja saya. Lumayan, saat ada rekoleksi pengurus dewan gereja, buku saya diborong ratusan eksemplar untuk dibagikan gratis di acara itu.

Oke, balik ke pertanyaan awal: kok orang awam nulis buku rohani? Jawaban saya: ya karena non-awam tidak semua hobi nulis. Toh banyak ceruk tema yang bisa ditulis dengan lihai oleh orang awam.

Tema kisah seru menjadi aktivis gereja, misalnya. Rohaniwan sih bisa menulis hal itu dari sisi alkitabiah. Tapi awam pun boleh dan malah harus menuliskannya dari sudut pandang yang tidak mungkin bisa detail ditulis oleh rohaniwan. Soal laku yang mana–tulisan rohaniwan atau tulisan awam–ya biarlah Tuhan yang bekerja (nah … kalimat ini adalah model tulisan Kristen, bentar-bentar sebut Tuhan :D)

Contohnya, buku rohani tema “menjadi aktivis gereja”. Tema ini saya tulis dan bersaing dengan tema serupa yang ditulis oleh pastor dan diterbitkan oleh satu penerbit yang sama juga. Mana yang laku? Ya entah. Yang pasti, hari Minggu yang lalu keduanya dijual obral di pelataran parkir gereja saya. Mungkin sama-sama payah penjualannya.

 

Cara Nulis Buku Rohani?

Saya suka menulis kisah inspiratif, pun halnya untuk tema buku rohani. Tak susah untuk menulis kisah inspiratif yang ke-Kristen-Kristen-an. Anggap saja sedang menulis untuk tema umum dan penerbit umum. Bahkan lebih mudah. Sebab, di dalam buku rohani kita bebas secara vulgar memasukkan ayat dan sebutan Tuhan dan nabi di dalam naskah. Sebaliknya, di dalam naskah buku inspiratif untuk pembaca umum, Anda harus mencari padanan istilah yang lebih universal. Susah kan? Lha iya … nulis buku Kristen memang lebih gampang daripada bikin naskah dengan tone religiositas universal.

Sori, melantur. Kisah inspiratif paling enak ditulis dalam bentuk pointer alias kisah per kisah secara lepas. Mirip model buku serial Chicken Soup itu. Tentu ada formula rahasianya. Ini formulanya.

Pertama, awali dengan kisah seru, nakal, bikin nangis, atau bikin marah. Sukur-sukur bikin pembaca benci Anda tapi penasaran dan tetap ingin baca kisah sampai tuntas.

Kedua, masukkan opini Anda. Bahas kisah tadi dari sudut pandang Anda.

Ketiga, tutup cerita Anda dengan memasukkan aturan dan atau pandangan resmi Gereja tentang hal itu. Dah gitu.

Formula itu tentu perlu dibolak-balik dalam satu ikat naskah buku Anda. Kalau di Bab ke-1 Anda sudah pakai urutan itu, cobalah pada Bab ke-2 Anda mulai dari opini Anda.

Misalnya Anda menggugat mengapa sudah baptis di gereja ini kok tidak diakui baptisnya di gereja yang sono. Atau, mengapa di sini bebas ikut ibadat dengan kaos yukensi dan celana mepet sedangkan di tempat lain mah suka-suka. Nah itu ditulis di bagian awal tulisan. Baru setelah itu masuk ke bagian ilustrasi cerita dan ditutup dengan argumen aturan gereja.

Simpel kan? Yap. Sesimpel saya ngajarin anak saya doa di muka umum biar lancar dan ketahuan dia anak siapa.

“Nak, kalau doa itu awali dengan pujian pada Tuhan, lantas ucapkan terima kasih pada Tuhan, lanjutkan dengan permohonanmu, dan tutup dengan menyerahkan keputusan pengabulan doa pada Tuhan. Dah, gitu aja urutan doanya. Pasti jos!” 😀

Selamat nulis ….

 

Foto: Pixabay

 

Penampilan Fisik

Seorang narapidana penjara New York, AS, mendapatkan cara jitu dan sederhana untuk keluar dari penjara dengan berpenampilan sangat meyakinkan. Saat persidangan dia mengenakan setelah jas rapi lengkap dengan dasinya. Dengan begitu, seorang petugas mengira narapidana itu seorang pengacara dan bertanya, “Sedang apa di sini Konselor?”

Ronald Tuckman, si narapidana, menyadari kesalahan itu dan dengan ringan bertanya, “Ke mana jalan ke luar?” Dengan senang hati, penjaga menunjukkan jalan menuju lobi. Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan Tuckman. Dia lalu pergi mengunjungi ibunya yang berusia 81 tahun untuk bertukar pakaian lalu menghilang.

Jangan terkecoh oleh penampilan. Jangan terpesona oleh bungkus.

1 Samuel 16:1-13

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7)

Pada zaman modern, kemasan menjadi faktor yang sangat penting. Sebuah produk bagus susah dipasarkan jika tidak dikemas dengan baik. Celakanya, sebuah produk yang pas-pasan dapat didongkrak pemasarannya dengan pengemasan yang baik.

Pepatah mengatakan “Don’t judge the book by its cover“, artinya jangan gegabah menghakimi sebuah buku hanya berdasarkan sampulnya. Kita harus membaca isi buku lebih dulu sebelum menilai buku tersebut baik atau buruk. Demikian juga terhadap manusia. Sebaliknya kita mengenalnya baik-baik lebih dulu sebelum mengeluarkan penilaian.

SMS from God: Isi belum tentu sama dengan kulit. Dondong berkulit halus tapi berisi duri. Salak berkulit kasar, tapi isinya halus.

 

Purnawan Kristanto

Catatan: Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis.

Laman asli tulisan ini lihat di: http://renungan.purnawan.web.id/?p=20

Penulis adalah writer | trainer | humanitarian volunteer | video & photo hobyist | jazz & classic lover | husband of priest | father of two daughters |

Pahlawan yang Gagah Berani

“TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” (Hakim-Hakim 6:12 )

Identitas atau jati diri seseorang dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan yang terdekat pertama yang membentuk seseorang adalah keluarganya, lalu kemudian pergaulan dan pendidikannya.

Identitas rohani juga dibentuk oleh lingkungan rohani. Bila kita mengaku percaya kepada TUHAN dalam Kristus Yesus, maka identitas rohani kita akan terbentuk oleh lingkungan di mana kita mendalami kepercayaan kita itu.

Kitab Hakim-Hakim pasal 6 dan 7 menceritakan sebuah kisah yang berkaitan erat dengan soal identitas itu, yaitu kisah tentang Gideon. Gideon hidup di zaman ketika bangsa Israel hidup dalam penyembahan berhala, kepada dewa-dewa Baal.

Perjanjian yang dibuat bangsa Israel dengan TUHAN sudah begitu jelas, yaitu jika mereka setia menyembah TUHAN mereka akan selamat, namun jika mereka berbalik menyembah berhala, mereka akan mengalami kebinasaan.

Itulah yang dialami bangsa Israel di masa hidup Gideon. Mereka ditindas oleh bangsa Midian dan Amalek. Penindasan itu sudah berlangsung selama 7 tahun dan membuat bangsa Israel terancam kelaparan dan binasa.

Di dalam kesesakan, bangsa Israel berseru kepada TUHAN, dan TUHAN menjawab melalui seorang nabi-Nya bahwa mereka harus bertobat dari dosa penyembahan berhala mereka terlebih dahulu. Untuk menggerakkan kebangkitan rohani bangsa Israel, TUHAN mengangkat seorang hakim atas mereka, dan TUHAN memilih Gideon.

TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” (Hak 6:12 ).

Siapakah Gideon yang disebut gagah berani oleh Malaikat TUHAN ini? Dia mengirik gandum di tempat pemerasan anggur. Dia penuh keraguan kepada Malaikat TUHAN yang datang kepadanya.

Secara manusiawi, Gideon bukanlah seorang yang istimewa sama sekali. Dia tidak dapat dikatakan seorang pemberani sama sekali, kalau tidak mau disebut penakut. Dia juga seorang peragu dan bimbang.

Akan tetapi, seperti apa Gideon sebelumnya tidak terlalu penting bagi TUHAN.

TUHAN telah memilih dia, dan karena itu TUHAN memberikan identitas yang baru kepada Gideon, “Pahlawan yang gagah berani”. Identitas itu bukan karena Gideon telah melakukan sesuatu, tetapi karena TUHAN menetapkannya demikian.

Setelah itu kita bisa melihat di pasal 7 bagaimana Gideon membangun pasukan untuk melawan tentara Midian dan Amalek yang datang untuk menyerang Israel. Tentara musuh begitu banyak, seperti pasir di laut banyaknya.

Oleh karena itu, Gideon memberi kabar ke seluruh suku di Israel untuk membantunya. 30.000 orang pun datang berkumpul untuk menjadi pasukan Gideon. Akan tetapi, apa kata TUHAN tentang hal itu? Terlalu banyak.

TUHAN memerintahkan Gideon untuk menyuruh mereka yang takut untuk pulang, dan pulanglah 2/3 dari orang banyak itu. Namun 10.000 orang pun masih terlalu banyak bagi TUHAN.

TUHAN menyuruh Gideon untuk melakukan seleksi berdasarkan bagaimana kewaspadaan mereka ketika minum air di sungai, dan dari jumlah itu didapatilah 300 orang yang tersisa.

TUHAN tidak tertarik dengan jumlah yang banyak. TUHAN punya cara sendiri untuk memberikan kemenangan kepada orang-orang pilihan-Nya. Identitas kita adalah apa yang dikatakan TUHAN tentang kita.

TUHAN menyebut kita pahlawan-Nya, namun pahlawan TUHAN bergerak mengikuti cara TUHAN bergerak. TUHAN tidak bekerja dengan cara-cara kita yang sempit dan terbatas, tetapi dengan cara-Nya tidak terbatas. Dengan 300 orang, Gideon memunahkan tentara Midian dan Amalek yang jumlahnya bisa menjadi 100.000 orang.

Hari ini mungkin Anda bergumul dengan kondisi Anda yang tidak ideal menurut ukuran-ukuran dunia. Mungkin kondisi keuangan Anda tidak ideal, kondisi keluarga Anda tidak ideal, atau dalam hubungan dengan pasangan hidup Anda dalam keadaan tidak ideal.

Mungkin juga Anda sudah berdoa dan merasa tidak ada jalan yang terbuka, atau mungkin Anda sudah bekerja keras mencoba banyak jalan, namun belum ada yang berhasil. Jika itu adalah keadaan Anda hari ini, mungkin Anda perlu berhenti sebentar dan memasang telinga kepada apa yang TUHAN ingin katakan tentang Anda.

Luangkan waktu kembali untuk membuka buku tua itu, dan merenungkan dalam keteduhan apa yang ingin dikatakan TUHAN tentang keadaan Anda.

Gideon si penakut, disebut pahlawan, dan dijadikan pahlawan oleh TUHAN. Identitas Anda adalah apa yang TUHAN katakan tentang Anda, dan setidaknya Anda bisa mendengar kata-kata ini bagi Anda: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16).

Saya percaya TUHAN juga mau memakai Anda dan saya sebagai pahlawan-Nya. dan bagi TUHAN Tidak Ada yang Mustahil. Haleluya!

 Not because of who I am
But because of what You’ve done
Not because of what I’ve done
But because of who You are *

* (Penggalan lirik  “Who Am I”, dari Casting Crowns)

Fantastic Beasts, Menundukkan Makhluk Paling Kejam di Dunia

Anda yang telah kangen dengan “ledakan-ledakan” ide unik dari kisah Harry Potter, wajib nonton film ini. Niscaya, kerinduan atas dunia lain ciptaan JK Rowling akan terobati.

Fantastic Beasts and Where to Find Them, sebuah film spin off dari dunia rekaan JK Rowling. Ini juga merupakan sebuah film “test the water” dari JK Rowling dan Warner Brothers sebagai perusahaan pembuat, apakah publik telah siap dan akan menerima lagi keseruan dunia sihir.

Pasalnya, akan ada 5 film yang segera dibuat dengan latar belakang dunia Harry Potter. Film-film itu mengisahkan beberapa dekade sebelum era Harry Potter. Dan seperti yang telah dilaporkan di banyak situs yang mengulas tentang film ini, sepertinya Warner Brothers “menang banyak” atas pemunculan Fantastic Beasts and Where to Find Them.

Fantastic Beasts and Where to Find Them mengisahkan tentang Newt Scamander ( Eddie Redmayne), seorang magizoologist, yang menciptakan sebuah buku wajib bagi para pelajar sihir di sekolah sihir Hogwarts.

Bukunya berupa katalog tentang binatang-binatang di dunia sihir yang harus diketahui oleh para penyihir itu sendiri. Dari nama katalog yang disusun Scamander itulah, judul film ini dibuat.

Newt Scamander datang ke tanah Amerika Serikat dari negeri leluhur, Inggris. Eddie Redmayne yang memerankan Scamander benar-benar aktor kelas Oscar–dan memang dia langganan nominasi Oscar sekaligus memenanginya lewat akting sebagai Stephen Hawkings.

Gaya canggung Scamander plus gaya progresif dari penduduk Amerika Serikat jadi sangat terasa terbentur begitu Scamander keluar dari kapal yang mengantarnya ke pelabuhan di New York. Akibatnya, tas ajaib yang dibawa-bawa Scamander pun lewat dari pengawasannya.

Beberapa “penghuni” tas berhasil keluar. Para penghuni ini tentu saja binatang-binatang yang ajaib, sesuai dengan lingkungan mereka di dunia magis.

Sebut saja, si biang keladi kekacauan sekaligus pengawal cerita, Niffler. Bentuknya seperti platipus, kegemarannya adalah benda-benda mengkilat dan bersinar. Niffler terlepas di depan sebuah bank. Binatang ini langsung mengincar uang logam berpendar dan seterusnya ke brankas berisi emas perak berkilau. Ini saja sudah menghasilkan kegaduhan tersendiri.

Ada lagi yang terlepas, Demiguise. Hewan seperti kera namun berbulu perak. Bulu itu pula yang membuat dia bisa tak terlihat. Demiguise sangat sulit ditangkap jika telah lepas, karena hewan ini bisa membaca masa depan. Jadi, kita harus melakukan gerakan tak terduga untuk menangkapnya.

Bowtruckle, makhluk manis berbentuk batang pohon kecil. “Bowtruckle adalah pemakan serangga dan sangat pemalu. Dia juga makhluk yang sangat setia pada tuannya, sekaligus sangat jago membuka lubang kunci,” kata Newt.

Kemudian penonton akan menyaksikan makhluk-makhluk perkasa, seperti Graphorn. Graphorn berperawakan seperti bison raksasa.

Ada lagi Erumpent, gabungan antara gajah dan badak. Scamander wajib melakukan gerakan-gerakan yang dijamin akan membuat penonton terbahak-bahak, hanya demi menundukkan keganasan Erumpent.

Kemudian Thunderbird, burung raksasa yang telah jadi legenda di dunia nyata. Thunderbird menjadi penurut ketika sang tuan mengelus-elusnya dengan penuh kasih sayang.

Beberapa binatang terakhir ini hadir dengan ukuran raksasa dan tingkat kengerian yang masif sebenarnya. Namun, ternyata yang paling berbahaya dari semua ini adalah Obscurus. Dari tampilan fisiknya, Obscurus hanya berupa bayang-bayang hitam. Scamander berhasil menundukkannya dengan mengisolasi Obscurus menggunakan gelembung udara.

Namun, diceritakan Obscurus ini menjadikan manusia sebagai media penghancur. Obscurus muncul jadi energi dahsyat yang bisa menghabisi apa saja jika dia telah berada di dalam manusia. Makin besar emosi manusia itu, makin kuat daya ledak dan rusak Obscurus yang keluar tubuh manusia.

Tak ada yang lebih menyeramkan dan menyulitkan untuk ditaklukkan dari hanya sekadar makhluk gabungan gajah dan badak mengamuk di taman kota, dibanding Obscurus yang mengamuk dan membuat kota hancur lewat media tubuh seorang anak bernama Credence.

Sesuatu yang lembut, mengambang di udara, ternyata menjadi kekuatan hebat dan sangat berbahaya. Obscurus seperti sebuah ledakan emosi besar, nyata dan merusak, yang ternyata bisa dihadirkan manusia.

Manusia-manusia bersumbu pendek, mudah meledak, berpikiran sempit, yang beberapa kali berkelebat di televisi dan menghinggapi media sosial kita, mungkin telah dirasuki oleh Obscurus ini.

Dan, terakhir dan yang paling merusak dari semua itu, melebihi Obscurus, adalah manusia.

“Aku harus menangkap kembali binatang-binatang itu dan menyimpannya lagi ke dalam koper ini, sebelu mereka terluka. Mereka sedang dalam bahaya saat ini. Mereka sedang dikelilingi jutaan makhluk paling kejam, manusia,” kata Newt Scamander.

Bahkan kekuatan Obscurus ini saja, yang paling berbahaya, desktruktif, dan paling sulit ditaklukkan di antara makhluk lain, masih bisa ditunggangi demi kepentingan sesaat manusia dalam berpolitik.

Percival Grave, seorang petinggi di antara mahkamah sihir AS, memanfaatkan kekuatan Obscurus di tubuh Credence demi memuluskan agenda-agenda politiknya. Inilah manusia, jika rasa picik dan licik sudah muncul, kekuatan dahsyat semurni apa pun bisa ditunggangi demi mencapai apa yang diinginkan.

Kalau dengar kata “tunggang-menunggangi” begini, saya jadi ingat pidato Presiden Joko Widodo tentang “Aksi ini telah ditunggangi aktor-aktor politik”. Relevan banget ya. Saya sih yakin Jokowi belum menonton film ini, ini cuma “cita rasa” saya saja.

Pada akhirnya, film Fantastic Beasts and Where to Find Them ini memberi satu inspirasi. Tak ada yang lebih menyeramkan, lebih menghancurkan dan lebih kejam dibanding nafsu dan kepicikan manusia.

Dan untuk menundukkan kepicikan manusia, Newt Scamander mengajarkan,” Jangan panik, tidak ada alasan untuk itu!” Di lain waktu dia mengatakan,”Kekhawatiran membuatmu menderita dua kali lipat.”

Panik dan khawatir hanya akan membuat orang picik sukses mencapai tujuannya. Sementara, ketenangan dan melihat segala sesuatu lebih jelas justru akan membuat segala usaha destruktif menjadi sia-sia.

 

Foto: imdb.com

Dwayne Jones:  Kuasa Mayoritas itu!

Ada ribuan waria tua terlunta-lunta, demikian sari berita yang saya baca pada suatu pagi di koran langganan. Informasi tersebut disampaikan Ketua FKWI (Forum Komunikasi Waria Indonesia). Bagi banyak orang yang tahu atau setidaknya ikut membaca berita tersebut, mungkin tak ada pentingnya kabar tersebut–apalagi dipikirkan.

Apa faedahnya membicarakan waria? Bukankah mereka digolongkan manusia “salah cetak” yang tak berguna, malah bikin malu keluarga dan karenanya, umumnya diusir, tak diakui sebagai bagian dari anak, sanak-saudara, atau kerabat?

Bahkan penganut agama-agama dari “langit” atau Samawi menganggap mereka sejenis najis berlumur dosa, melawan kodrat, menyimpangi “kemauan” Tuhan, yang layak dimusnahkan; pembawa sial yang memalukan.

Jadilah mereka individu-individu yang tak pernah mereguk kemerdekaan, dikucilkan, objek olok-olok, meskipun keadaan mereka yang digolongkan transgender itu bukan karena pilihan–sebagaimana sering disalahpahami orang-orang yang merasa diri normal atau straight atau hetero.

Mereka ditepikan di satu dunia yang serbaterbatas, tak berkesempatan melakoni dan menikmati kehidupan sebagaimana orang-orang mayoritas yang merasa normal itu. Mereka adalah manusia-manusia aneh yang seolah tak punya hak sekadar menunjukkan diri yang sesungguhnya, dan mungkin telah dilupakan para petugas pencacah jiwa.

Siapakah yang sudi peduli memikirkan jiwa-jiwa yang dianggap cacat dan memalukan itu? Siapakah yang memberi mereka tumpangan dan makanan ketika mereka tak lagi bertenaga mengais recehan di pelosok-pelosok kota yang ganas dan kejam?

Adakah yang menangisi saat nyawa mereka pupus di gubuk-gubuk kumuh? Adakah yang berupaya mencegah atau menunda kematian mereka?

Barangkali, di situlah dipertegas apa yang disebut absurditas. Dalam detik-detik pertarungan melawan jemputan maut, entah apa yang memenuhi pikiran mereka. Kepasrahan? Keinginan segera mati, atau…?

Tentu perasaan dan pikiran mereka pun sama halnya dengan orang-orang mayoritas itu. Ada ketakutan yang tak terkira karena tak siap meninggalkan dunia ini meski diketahui kefanaannya. Kendati realitas yang dihadapi sepanjang hidup, amat kejam, termasuk rasa sepi yang menikam-nikam dan pedihnya menjadi orang yang dibuang.

Pengisi dunia ini memang sering berbuat kejam pada penyandang status minoritas (dalam pelbagai hal). Norma-norma yang menjadi anutan umum yang diyakini oleh kalangan terbanyak sebagai “kebenaran,” bisa menjadi pedang yang setiap saat menebas leher mereka tanpa kesempatan mengajukan pleidoi berdasarkan nurani dan akal sehat.

Kaum mayoritas selalu merasa diri paling benar dan paling berwenang menentukan apapun, termasuk hal-hal pribadi yang amat pelik dan sulit diuraikan dengan logika.

Bukankah manusia dan problematika yang mengitari tak selalu bisa dijelaskan dengan pikiran-pikiran rasional?

Itu pulalah salah satu kelemahan asas demokrasi yang menyanjung suara terbanyak, sebab mayoritas suara tak berarti cerminan atau pemenuhan rasa keadilan (sense of justice) yang berlaku umum, diterima semua orang. Para mayoritas malah kerap mengenyampingkan suara-suara tersembunyi yang sunyi, dibungkam ketidakberdayaan, dan itu menyimpan kepedihan.

***
Di negerinya Dwayne Jones, Jamaica, ada satu hukum yang berlaku tegas dan sebetulnya dimaksudkan untuk menciptakan masyarakat beradab: seks anal dilarang! Tetapi, entah ditujukan kepada satu golongan atau tidak, hukum tersebut langsung menuding kaum transgender dan gay.

Dwayne, remaja dari keluarga miskin dan besar di lingkungan kumuh pantai utara Montego Bay, lahir dengan kecenderungan atau orientasi seksual yang dianggap tak lazim. Ia lelaki namun merasa dirinya perempuan.

Fakta tersebut membuat ayahnya gusar dan geram, lalu sering menyiksa remaja yang pandai menari itu. Dwayne dianggap aib yang memalukan keluarga hingga harus disiksa demi mengembalikan kelelakiannya. Ayahnya tak juga percaya bahwa menjadi transgender bukan kemauan anaknya.

Segala cara kekerasan yang dilakukan untuk “menormalkan” Dwayne sia-sia, dan karena tak tahan terus disiksa, remaja yang “mendua jiwa” itupun kabur dari rumah orangtuanya.

Dia memilih tinggal di pemukiman sekaumnya, di lingkungan yang sama kumuhnya. Orang-orang yang terbuang dan dibenci para mayoritas yang merasa normal!

Malam itu, dengan polos, ia bercerita pada satu sahabat wanitanya bahwa dirinya baru menghadiri pesta para straight namun saat itu dia tampil dengan busana perempuan, dan pengakuannya, itulah penampilannya pertama kali sebagai “wanita” di tempat orang normal, para mayoritas itu.

Pengakuannya lagi, ia menari bagus dan kemudian diganjar pujian. Dengan bangga ia tuturkan, wajahnya membersitkan kegembiraan.

Kawannya itu mendengar setengah tak percaya, namun kemudian memberitahukan pengakuan Dwayne tersebut pada lelaki-lekaki seumurannya.

Mereka lalu mendatangi Dwayne, menginterogasi, mengusut keaslian kelaminnya, kemudian menghujami remaja yang terbuang itu dengan pukulan, tendangan, bahkan tikaman, hingga babak belur dan telentang di tepi jalan yang remang itu.

Kawanan orang muda yang marah itu meninggalkan Dwayne dengan perasaan puas. Mereka tak peduli bahwa korban mereka akhirnya mengembuskan nafas terakhir di tepi jalan yang muram itu.

Dwayne mereka matikan untuk menebus “dosanya,” dan para pelaku penganiayaan merasa layak melakukan; para mayoritas yang merasa berotoritas menghukum siapa saja yang dianggap tak sama, menyimpang,  melanggar hukum buatan Tuhan.

Mereka terlahir dengan orientasi seksual yang dianggap jamak, normal. Mereka beruntung tak seperti Dwayne. Mereka lakukan perbuatan biadab tersebut yang menurut pikiran dan keyakinan mereka, demi keberadaban yang berasal dari norma-norma hukum, juga agama-kepercayaan yang mereka yakini.

Mereka tidak mau tahu problema apa sesungguhnya yang mendera Dwayne sejak menyadari kelainan hormon dan arah seksualitasnya. Mereka tak mau berpikir sejenak bahwa manusia bisa berbeda karena disengaja atau karena kesadaran, pilihan, atau telah koheren dalam diri seseorang.

Mereka merasa paling benar dan dengan kuasa mayoritas boleh melakukan apa saja, termasuk menghentikan hak hidup orang lain yang tak sama. Kuasa mayoritas  telah mencabut nyawa lelaki belia yang malang itu, meskipun tak melakukan kejahatan yang merugikan sesiapa. Hanya karena ia dianggap menyimpang dan jumlahnya sedikit.

Tak Ingin seperti Kaum “Mardjiker”

Tasum Sudarohi hanya penjual es dan teh botol di depan Gereja Sion, di Jl. Pangeran Jayakarta. Kala ibadah gereja di hari Minggu selesai dan jemaat keluar dari gedung gereja hendak pulang, itulah momen terbaik bagi Tasum.

Dagangannya bakal laris manis. Itu semua dijalaninya pada tahun 1983.

Memang Tasum tak hanya mengandalkan momen selesainya ibadah gereja. Tak akan cukup momen seminggu sekali itu untuk memenuhi kebutuhannya. Ia pun mengambil bagian trotoar jalan, tetap di depan Gereja Sion, untuk mangkal sehari-hari. Saat itu, Jl Pangeran Jayakarta belum dilebarkan seperti sekarang ini.

Sepanjang hari, sepanjang minggu, Tasum dengan setia berdagang di depan Gereja Sion. Mau tak mau, interaksi pun terjadi. Gereja Sion yang dibangun pada tahun 1695 ini sekarang telah menjadi gereja tertua di Jakarta. Gereja Sion memang terkesan gagah dan anggun baik dari luar maupun dari dalam, namun keramahan dan kesahajaan rupanya tetap berpendar.

Melihat kesetiaan Tasum berdagang di depan gereja, akhirnya pengurus gereja pun tergerak untuk membuat nasibnya lebih baik. Pada tahun 1987, Tasum pun ditawari bekerja di gereja.

Tasum tak menunggu lama untuk mempertimbangkan tawaran yang datang itu. Ini pekerjaan yang jauh lebih baik dengan gaji yang lebih pasti, pikirnya.

Tasum pun diangkat menjadi pegawai gereja pada 12 Oktober 1987. Tugasnya bermacam-macam, dari merawat halaman gereja, menjaga kebersihan gereja, sampai mempersiapkan berbagai peralatan yang diperlukan saat gereja akan melaksanakan ibadah. Gaji tetap pun ia terima.

Gereja Sion dulu dikenal dengan nama gereja Portugis. Ada dua gereja yang dikenal dengan sebutan gereja Portugis, pertama Gereja Sion yang dijuluki “Gereja Portugis di luar Kota” dan Gereja Binnenkerk yang disebut “Gereja Portugis di dalam Kota”. Namun, yang terakhir ini telah habis terbakar pada tahun 1808, sementara Gereja Sion tetap berdiri tegak dengan segala kemegahannya sampai hari ini.

Sebutan untuk “Kota” di atas mengacu pada wilayah Batavia sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Orang Portugis sendiri tidak pernah berkuasa di Batavia. Sebutan Gereja Portugis muncul karena banyaknya budak belian dari pesisir India, khususnya Pantai Koromandel dan Malabar, dan dari Bengal dan Arakan, atau Sri Lanka yang diangkut Belanda sebagai tawanan perang ke Batavia.

Sebelumnya, para budak belian itu milik Portugis, namun Portugis kalah perang dalam perebutan sumber rempah-rempah di Asia oleh Belanda.

Para budak belian itu masuk ke Batavia sekitar tahun 1628, dan mereka berbahasa Portugis. Mereka adalah penganut Katolik yang taat, tetapi pemerintah Belanda menekan mereka untuk tidak mengamalkan agama mereka. Akhirnya sedikit demi sedikit mereka beralih ke Protestan, dan mereka pun dibebaskan dari status budak. Jadilah istilah “Mardjiker” muncul yang memiliki kesamaan makna dengan “merdeka”.

Orang Kampung
Apa kata orang kampungnya di Cirebon yang tahu Tasum kerja di gereja? Tasum notabene beragama Islam, dan sampai saat ini pun dia tetap seorang muslim.

“Ah, biarin aja. Kan saya kerja halal. Lagian, orang gereja juga baik-baik sama saya. Saya nggak pernah diajak ikut kebaktian. Jadi, saya nggak khawatir sama anggapan orang kampung saya,” katanya.

Walau begitu, Tasum mengakui ada suara-suara miring tentang keberadaan Tasum di Gereja Sion, namun dia tak ambil pusing. “Emangnya orang-orang itu yang mau kasih makan anak-istri saya di kampung?” katanya.

Sayangnya, gaji Tasum belum cukup untuk membuat dia mampu bertahan bersama keluarga di sebuah kota metropolitan semacam Jakarta. “Mending duitnya saya kirim buat keluarga di kampung. Di sini mah saya bisa urus diri saya sendiri. Saya cukup-cukupkan saja kebutuhan hidup di sini. Yang jelas, saya nggak mau dagang lagi. Saya sudah dikasih yang jauh lebih baik oleh gereja, saya juga tidak akan nuntut macam-macamlah,” katanya.

Yang membuat dia betah tetap kerja di gereja dan rajin mempersiapkan segala kebutuhan gereja untuk ibadah adalah interaksi yang bersahabat antara dia dan para jemaat. “Jemaatnya baik-baik, saya punya banyak kenalan di sini.”

Perayaan Natal menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu juga oleh Tasum. Pengelola gereja memberi tunjangan hari raya dan bingkisan-bingkisan. “Pas Lebaran, saya malah nggak dapat apa-apa,” katanya.

Tapi itu tak masalah bagi Tasum. Kepedulian pengurus gereja dan jemaat menjadi bagian terpenting bagi Tasum sehingga dia betah bekerja di sana.

Harapan
Harapan Tasum ke depan tak banyak. Dia hanya ingin gereja ini terpelihara dengan baik dan pemda peduli pada gedung gereja ini. Gereja Sion memang telah ditetapkan menjadi jagar budaya oleh Pemda DKI Jakarta, namun wilayahnya telah terkikis sedikit demi sedikit atas nama pembangunan.

Tasum tak ingin seperti Kaum Mardjiker yang saat ini telah menghilang dari lingkungan Gereja Sion. Tak ada lagi “jemaat asli” di Gereja Sion. Keturunan Kaum Mardjiker telah menyingkir dari sana dan kebanyakan dari mereka menetap di Gereja Tugu.

Tasum sebagai pendatang yang mengadu nasib di Ibu Kota akhirnya mampu bertahan dan hidup berkat gereja yang mempekerjakannya. Dia tak bisa membayangkan jika tiba-tiba gereja memberhentikannya sehingga dia harus menyingkir.

“Saya akan di sini sampai gereja sudah tak membutuhkan saya lagi,” katanya mantap.

Di sisi lain, tak ada niat sedikit pun bagi pengurus gereja untuk mempengaruhi keimanan Tasum, dan Tasum pun tak terusik dengan kegiatan kerohanian yang setiap kali diadakan di gereja. Dia malah membantu mempersiapkan segala yang diperlukan untuk kebutuhan ibadah.

Ini Makanan yang Bisa Usir Ngantuk Selain “Ngopi”

Rasa kantuk sering kali datang tanpa diharapkan. Bisa ketika akhir pekan, ketika kita sedang siap-siap menonton tayangan sepakbola. Pertandingan sudah mau mulai, eh ngantuk malah mendera.

Rasa ngantuk juga bisa datang, entah di tengah kerja, atau saat berkendara. Apalagi jika kita habis melewati weekend seru bersama keluarga, hari Senin bisa-bisa tenaga kita belum pulih, dan ngantuk pun datang di saat kerja.

Kalau mau instan, alias berefek cepat buat mengusir ngantuk, tentu saja minum kopi jadi jawabannya. Masalahnya, nggak semua orang punya selera buat minum kopi, apalagi yang punya gangguan lambung, sudah pasti bakalan menjauhi menyeruput kopi.

Nah, ini ada beberapa panganan yang bisa mengatasi rasa ngantuk. Beberapa menu malah bisa kamu bawa dan makan di mana saja dan kapan saja.

Yogurt
Nggak susah bawa sekotak kecil yogurt ke mana-mana, dan sangat mudah dikonsumsi. Tinggal disendok, dan hap. Kandungan gula dan protein di dalam yogurt akan membuat tubuhmu jadi segar kembali dan mengusir rasa kantuk.

Kacang dan Biji-bjian
Kacang kenari, almond, dan kismis yang kaya dengan omega 3 serta lemak tentu bakalan memberikan energi untuk kamu. Ditambah lagi, usaha kita buat gigit-gigit kacang atau biji-bijan, dijamin ngantuk langsung hilang.

Bayam
Banyak yang percaya bayam justru bikin kita cepat mengantuk. Ternyata nggak juga tuh, zat besi yang terkandung di dalam bayam akan mengurangi rasa ngantuk kamu.

Telur
Kalau kamu bisa mengonsumsi telur mentah ya bagus, tapi dimasak pun bisa kok efeknya. Telur akan merangsang hormon norefineprin yang membuat detak jantung meningkat sehingga kamu menjadi tidak ngantuk.

Vitamin C
Vitamin C dari jus jambu atau jeruk rasanya cukup praktis. Vitamin C mengandung karnitin yang fungsinya untuk mengurangi kelelahan dan membuat kamu segar kembali.