Author: admin

Makan Malam Bersama Yesus

Desember telah kembali. Orang Kristen pun mulai bersiap-siap untuk merayakan hari Natal, hari kelahiran Yesus. Tahun ini di rumah kami Natal akan sedikit berbeda, karena perempuan tercantik di rumah kami sedang menunaikan cuti sabatnya yang telah terlalu lama tertunda. Tanpa dia Natal jelas akan berbeda, karena tidak akan ada masakan lezatnya, dan terlebih lagi, ide-ide cemerlangnya.

Di antara Natal yang pernah kami rayakan di rumah, ada satu Natal yang tidak akan pernah terlupakan. Itu adalah Natal sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu istriku mengusulkan untuk memberi hadiah Natal yang istimewa kepada Yesus. Dia mengundang Yesus untuk makan malam di rumah kami.

Sejak pagi, kami menyiapkan makan malam istimewa itu. Memilih beras yang terbaik, menyiapkan ayam panggang, sayur-sayuran yang paling segar, dan minuman yang paling memuaskan dahaga.

Beberapa teman datang membantu. Ada yang membantu menyiapkan makanan, ada yang membantu membersihkan rumah dan menyiapkan tempat.

Anakku pun tidak ketinggalan. Dia meminta membelikan snack dan kue-kue untuk Yesus yang akan datang ke rumah kami. Tidak lupa dia menyiapkan mainan kesukaannya dan film kartun favoritnya untuk dinikmati bersama Yesus.

Menjelang malam, Yesus pun datang ke rumah kami. Ah, ini bukan tulisan metafisis atau gaib. Injil Matius mencatat perkataan Yesus: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Jadi, kami mengumpulkan 30 anak jalanan untuk menikmati makan malam istimewa di hari Natal itu.

Mereka pun datang. Gembira, ramai, dan bahkan berisik (setidaknya keesokan harinya kami harus menjelaskannya kepada para tetangga). Dimulai dengan sedikit permainan, kemudian makan-makan, dan ditutup dengan nonton dan bermain bersama; ah, aku tidak akan bisa melupakan hari Natal itu.

Itu adalah hari Natal yang paling melelahkan, namun luar biasa. Istriku puas karena makanan yang disediakannya licin tandas. Anakku gembira karena bisa bermain dan bahkan berteriak bersama dengan begitu banyak anak.

Dan aku, suaraku menjadi serak, karena harus terus berbicara selama beberapa jam, termasuk beberapa kali memisahkan pertengkaran di antara tamu-tamu istimewa kami itu.

Ya, di hari Natal itu kami makan malam bersama Yesus. Aku akan selalu mengingat malam itu. Malam itu begitu istimewa sehingga sejak waktu itu, anak-anak jalanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kami. Terima kasih Tuhan, Engkau mau datang, sudah datang. Haleluya!

 

Foto: Dok Pribadi

 

Imagine

Di masa kecil, di kampung saya yang ketika itu minim edukasi, minim pengetahuan tentang Tuhan dan agama, hanya sejumlah kecil orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan, juga hanya sebagian kecil orang yang benar-benar menjadi pemeluk agama (kebanyakan hanya sekadar formalitas di KTP), saya justru menikmati banyak hal yang indah….

Di bulan Ramadhan, saya ikut berkeliling, dari rumah ke rumah, mengincar kue-kue lebaran. Saya ikut menunggu bedug, membunyikan petasan bambu, bahkan ikut merayakan lebaran di sekolah dan di masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saya bahkan masih ingat beberapa lirik dan lagu yang dulu kami nyanyikan sambil bermain rebana di sekolah.

Teman-teman saya yang muslim juga tidak menolak ketika di sekolah ditawarkan ikut tarian “Malam Kudus” dan ikut bersukacita merayakan Natal.

Kami memang tidak pernah merayakan hari raya agama lain selain yang dua itu karena memang penganutnya juga tidak ada di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal kami. Di sisi lain, kami juga tidak memahami bagaimana merayakannya. Kalaupun pernah ada siswa beragama Hindu atau Budha, hanya satu atau dua orang saja di satu sekolah.

Di masa-masa itu, kami tidak pernah tahu, satu dengan yang lain beragama apa, kecuali bertanya langsung ke yang bersangkutan. Pokoknya, kami sama-sama berburu kue-kue Natal dan Lebaran. Kami sama-sama menikmati perayaannya, lagu-lagunya, dan sukacitanya.

Saat ini, ketika 95 persen orang Indonesia sudah mengenyam pendidikan dan semakin paham tentang Tuhan dan agama, begitu juga di kampungku, semua jadi terasa berbeda…

Saya jadi teringat lirik sebuah lagu tahun 70-an, “Imagine” karya John Lennon.

“Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today… Aha-ah…

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too
Imagine all the people
Living life in peace… You…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world… You…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one”

Terlepas dari iman saya pada Tuhan dan agama yang saya anut, saya mulai berpikir dan berkhayal… mungkin seperti khayalan John Lennon ketika ia menuliskan lagu itu.

Alangkah indahnya jika kita bisa hidup tanpa dinding-dinding pembatas bernama agama, suku, bangsa, ras atau apapun itu.

Alangkah indahnya jika kita bisa mengulurkan tangan tanpa harus memikirkan apakah tangan yang saya raih itu berwarna putih atau hitam, najis atau halal, kawan atau lawan.

Alangkah indahnya….

Foto: Pixabay/Alexas_Fotos

Dosakah Menjadi Orang Kaya?

Siapa yang tak ingin jadi orang kaya? Jadi orang kaya itu dosa nggak, sih?

Tidak masalah bila seseorang mempunyai banyak uang atau kekayaan. Masalahnya terletak pada bagaimana mengelolanya. Yang salah adalah jika menjadi tamak.

Siapa itu orang tamak?

Pertama, dia adalah orang yang mengira dapat menggantungkan hidupnya pada kekayaannya, dan bukan pada Tuhan (Luk 12:15).

Kedua, kalau hartanya makin banyak maka yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara menyimpannya, dan bukan mencari orang yang sedang kekurangan untuk ditolong (Luk 12:18).

Ketiga, visi hidupnya adalah bagaimana bisa menyimpan hartanya begitu rupa agar tahan bertahun-tahun, supaya bisa bersenang-senang (Luk 12:19).

Keempat, hartanya hanya terfokus untuk kepentingan diri sendiri. (Luk 12:21)

Ajaran Rasul Paulus tentang hal ini, adalah:

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. 1Tim. 6:17

Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi. 1Tim. 6:18

Dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. 1Tim. 6:19

Amsal juga mengajarkan tentang harta, demikian:

Amsal 3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

Amsal 3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Di tanah Palestina ada danau Galilea dan Laut Mati. Di sekeliling pantai Galilea ada banyak kota. Dan Danau itu berisi banyak ikan dan menjadi berkat dan sumber hidup bagi kota-kota sekelilingnya. Sedangkan di Laut Mati, sekelilingnya gersang dan tak ada yang sanggup hidup di situ karena kadar garamnya terlalu tinggi.

Apa beda antara Galilea dan Laut Mati?

Laut mati hanya menyimpan air yang masuk dan tak keluar lagi, sedangkan Galilea hanya menjadi penyalur saja. Air yang masuk langsung keluar lagi. Dan air yang masuk dari mata air Gunung Hermon itu tak pernah berhenti.

Berkat adalah untuk disalurkan, bukan disimpan. Harta kekayaan adalah berkat Tuhan.

-*-

Foto: Pixabay

Perempuan dengan HIV di Mata Putrinya

Iyya akui, Umi itu seorang wanita hebat. Iyya selalu pengen jadi kayak Umi tapi bukan berarti Iyya harus jadi seorang perempuan dengan HIV. Umi itu tangguh, Iyya tau HIV bukan penyakit yang mudah untuk diakui dan diberitahukan kepada orang lain, tapi Umi sanggup menerima semua ini. Semenjak Iyya kecil mungkin Iyya jauh dari Umi, tapi Iyya tau semua Umi lakukan demi Iyya, Umi bertahan merasakan sakit demi Iyya.

[Sampai sini, mataku sudah membasah. Heh! Dasar gue penulis yang gampang nangis. Aku teruskan wawancara dengan Iyya … putri Hartini, narasumber naskahku.]

Umi selalu berusaha kasih yang Iyya mau. Sekalipun itu membuat Umi lelah, tapi Umi gak pernah ngeluh di depan Iyya.

Iyya salut sama Umi, selama ini Umi bertahan buat Iyya dan keluarga. Awalnya Iyya gak percaya Umi kena HIV tapi setelah Umi perjelas apa itu HIV, Iyya bisa lebih tenang. Bahkan sosok Umi buat Iyya  selalu belajar tegar, karena Iyya sendiri rapuh.

Melihat Umi yang tegar Iyya jadi lebih semangat untuk hidup lebih baik buat Umi dan buat keluarga.

Umi wanita yang terhebat. Beliau bisa sabar dalam keadaan apa pun. Bahkan di saat penyakitnya saat ini. Umi selalu jadi motivator buat Iyya.

[Aku membayangkan, di ujung WhatsApp sana, Iyya sedang diaduk-aduk emosinya, melebihi diriku yang lancang terus bertanya demi naskah ini tuntas, aku ambil pena dan membuat note untuk mengoreksi tuturan Iyya, bukan penyakit].

Cukup lama Iyya jauh dari Umi , ketemunya kalau lebaran dan liburan sekolah.

[Iyya sejak kecil diasuh oleh neneknya di luar Jawa, sedangkan Hartini, Uminya ada di Jakarta.]

Sedari umur 4 tahun Umi udah pergi ke arab. Dua tahun kemudian baru pulang.  waktu itu Iyya kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah itu Umi merantau ke Jakarta. Ya, sejak itu kami berjauhan terus, Ketemunya lebaran dan kalau Iyya liburan sekolah.

Peristiwa yang paling tak terlupakan adalah ketika Umi pulang dari Arab. Sekalipun dibilangin Umi gak jadi pulang hari itu, Iyya tetep nunggu Umi dateng walaupun udah larut malam.

Tapi penantian Iyya gak sia-sia akhirnya Umi jadi pulang malam itu dan beliin pesanan-pesenan Iyya. Karena Umi berangkat ke Arab demi beliin apa yang Iyya mau.

Umi korbanin diri sendiri demi kebahagiaan Iyya dan sikap Umi itu gak pernah berubah. selalu seperti itu.

[Air mata saya meleleh lagi. Mengimajinasikan Iyya kecil duduk di teras rumah neneknya di Lampung menanti Uminya datang hingga larut malam. Dan Umi beneran datang, ia secara khusus sewa mobil agar lekas sampai di tempat Iyya dan bisa bawa oleh-oleh yang banyak.]

Apa yang harus saya khawatirkan, Pak? Umi sekarang sehat-sehat aja. Penyakitnya juga kan gak mudah untuk menular, Pak ….

[Tepok jidat. Bodohnya aku menanyakan kekhawatiran itu pada Iyya!]

Iyya masih pengen banyak hal …. Iyya mau, orang-orang dengan HIV bisa punya semangat hidup seperti Umi dan pengen mengubah anggapan orang yang selalu beranggapan buruk tentang HIV. Tidak semua orang yang memiliki virus HIV itu adalah mereka yang melakukan hubungan (seks) bebas, narkoba, dll. Bisa saja kan mereka korban ….

[Iya. Umimu udah cerita tempo hari, tiga jam kami mengobrol di food court. Umimu dapat virus HIV dari seseorang yang dia nikahi. Dan pria itu awalnya selalu menyangkal sebagai biang penurunan kekebalan tubuh Umimu, Iyya.]

Makasih ya Iyya … kalau ada kisah yang mau dibagikan lagi, kirim pesan WA ke sini ya. Buku deadline besok. Senang dapat cerita dari Iyya.

[Aku closing wawancara. Padahal masih pingin dapat cerita seru lainnya.]

Iya, Pak sama-sama. Terima kasih juga udah mau terima cerita-cerita Iyya. Oh iya tadi ada yang belom dijawab …. Soal yang Iyya bantu buat kesehatan Umi. Mungkin Iyya gak bisa bantu apa-apa karena Iyya belom terlalu banyak tau tentang HIV apa lagi obat-obatnya.  Yang Iyya bisa lakuin sekarang berdoa dan semangatin Umi biar gak bosen minum obat dan bertahan demi keluarga.  Iyya selalu ingetin Umi minum obatnya.

[Aku bersyukur, wawancara itu aku lakukan saat sendiri di rumah, artinya istriku dan anakku yang suka mem-bully aku tidak melihatku bercucuran air mata. Besok naskah harus tuntas, kepercayaan dari Andy F. Noya dan Penerbit Buku Kompas padaku untuk menyusun naskah ini harus aku kerjakan dengan sepenuh hati. Mungkin, buku akan aku beri judul Hartini: Memoar Seorang Perempuan dengan HIV.]

Hapuskan

Hapuskan cemberut di wajahmu
jangan biarkan kerat-kerut itu mengotorinya
apalagi sampai air mata mengeruhkan mata jernihmu

Lihat! Di saat semua yang fana berdesakan
bertindihan, saling sikut dan injak
mendaki tiang kesia-siaan yang hampa puncaknya
kau duduk tenang di depan sang pemberi hidup
menikmati suara lembutnya membelaimu

Di saat dunia kering kerontang,
dan insan meranggas satu demi satu
dalam benci, dendam, dengki, dan angkara,
kau melangkah ringan di sisi sang pengadil
menikmati tangan kokohnya menggandengmu

Di saat dunia hiruk pikuk mencari damai
kau teduh tenteram dalam pelukan damai agung
Di saat dunia kacau balau karena tiada cinta,
kau dituntun mesra tangan lembut cinta sejati

damai itu memanggilmu hari ini
untuk menenteramkan hiruk pikuk itu,
dan cinta itu mengutusmu saat ini
untuk meneduhkan kekacauan itu..

hapuskan cemberut di wajahmu,
anugerah yang diberikan untukmu
terlalu indah untuk dicemari olehnya

 

Foto : Matahari terbenam di Seminyak (koleksi pribadi)

Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

Tidak terasa tahun 2016 sebentar lagi akan berlalu. Banyak peristiwa yang sudah kita alami dan lewati di tahun ini, dan saya percaya banyak berkat yang sudah kita terima, dan tentu saja banyak hikmah, pelajaran, atau teguran, yang sudah kita terima juga. Satu hal yang menghiasi ruang berita kita belakangan ini adalah tentang keriuhan politik di DKI Jakarta. Selain itu kita juga masih disuguhi berita-berita tentang kekerasan atas nama agama, bukan hanya di negeri kita tetapi dari berbagai belahan dunia. Dua hal ini membuat saya teringat akan suatu topik yang selalu menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan kasih karunia. Itu adalah topik tentang Pengampunan.

Bicara Kasih Karunia tidak mungkin tidak membicarakan tentang Pengampunan, karena kasih karunia secara sederhana berarti pengampunan yang diberikan Allah kepada manusia melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus di kayu salib. Apalagi kalau kita melihat kata “mengampuni.” Kata ini di dalam bahasa Inggrisnya berbunyi “forgive” atau “pardon”. “Forgive” datang dari akar kata “give” yang artinya “memberi” dan “pardon” dari akar kata “donum” yang artinya “hadiah”. Melihat kekerasan-kekerasan yang belakangan ini menghiasi ruang berita kita, topik pengampunan ini tentunya menarik untuk dibicarakan, karena Alkitab mengajarkan kita bahwa satu solusi terhadap lingkaran setan kekerasan adalah pengampunan.

Ada banyak ayat di dalam Alkitab tentang pengampunan, namun hari ini kita akan membaca dari kata-kata Yesus sendiri, ketika Dia mengajarkan murid-murid untuk berdoa. 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:12-15)

Mengampuni. Saya rasa kita semua setuju kalau mengampuni itu adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada saya, dengan segera saya menemukan seribu satu alasan untuk tidak mengampuni dia. Saya akan bilang: Dia harus diberi pelajaran, atau Dia harus tahu setiap perbuatan ada konsekuensinya, atau Dia harus belajar bertanggung jawab atas perbuatannya, dia yang salah, kenapa juga saya yang harus mengampuni?, bagaimana saya bisa mengampuni kalau dia tidak menyesali perbuatannya? Butuh waktu untuk kemudian bisa memutuskan untuk mengampuni atau memberi maaf.

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Kristus mengajarkan kita untuk mengampuni. Bahkan, Yesus di dalam Matius 6:15 tadi mengatakan bahwa jika “kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Oleh karena itu orang Kristen tidak punya pilihan lain kecuali mengampuni.

Saya tahu pernyataan ini akan membuat banyak orang gelisah. Oleh karena itu saya akan memberikan 2 buah alasan yang sangat baik, yang bisa menolong kita untuk mulai mengampuni.

Alasan yang pertama: mengampuni memutus mata rantai tudingan dan sakit hati, memutus lingkaran setan kebencian. Di Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Yunani yang umum dipakai untuk pengampunan bermakna secara harfiah “melepaskan”, “membebaskan diri” dari sesuatu.

Kadang mengampuni memang terasa tidak fair. Doktrin “karma” kadang terasa lebih “fair” bagi kita. Para ahli tentang Karma telah menghitung secara matematis berapa reinkarnasi yang diperlukan seseorang untuk mengimbangi semua perbuatan salahnya selama dia hidup: dibutuhkan 6,8 juta kali reinkarnasi.

Satu contoh kecil tentang memutus mata rantai ini bisa kita lihat dalam kehidupan pernikahan kita. Suatu hari isteri saya bilang kepada saya: “Kok kamu bisa lupa ultah ibumu sendiri”.

Saya menjawab: “lho, bukannya kamu yang tugasnya mencatat ultah orang-orang?
Dia membalas: “jangan salahin aku dong, kan ibumu!”

“Iya, tapi minggu lalu kan aku minta kamu untuk mengingatkan aku!”
“Gila kamu ya – kan ibumu. Masak ultah ibu sendiri ga bisa diingat?”

“Kenapa aku harus ingat? Kan tugasmu untuk mengingatkan aku!”

Dialog ini bisa terus berlanjut sampai 6,8 juta kali, sampai salah satu dari kami berkata, “cukup! Aku akan menghentikan ini, memutus rantai ini, memutus lingkaran setan ini.” Dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan pengampunan, dengan mengatakan: “Ya, aku salah. Maafkan aku ya sayang..”

Mengampuni, meski kadang terasa tidak fair, menyelesaikan mata rantai tudingan dan sakit hati. Mengampuni artinya “melepaskan”, “membebaskan diri”, sedangkan Mendendam berasal dari kata yang berarti “merasakan kembali”. Mengampuni membawa kita untuk maju, tetapi mendendam mengikat kita pada masa lalu, kepahitan yang sudah terjadi, sakit hati yang sudah dialami, dan seterusnya. Martin Luther menulis tentang Adam dan Hawa. Alkitab mencatat mereka hidup 900 tahun lebih. Bayangkan bagaimana ketika mereka berantem, Hawa akan berkata: “kamu sih, ikutan makan buah itu” , dan Adam akan menjawab “kamu sih yang ngasih ke aku.”

Pengampunan, menawarkan sebuah jalan keluar. Mengampuni memang tidak menyelesaikan persoalan siapa yang bersalah atau apakah sudah adil atau belum, namun dengan mengampuni kita memberi kesempatan kepada sebuah hubungan untuk dimulai kembali, dimulai secara baru.

Seorang pujangga Rusia, Solzhenitsyn mengatakan, yang membedakan kita dengan binatang bukanlah kemampuan kita untuk berpikir, tetapi kemampuan kita untuk bertobat dan mengampuni.

Ketika kita mengampuni, kita melepaskan diri kita dari belenggu masa lalu sakit hati dan kepahitan. Ketika kita mengampuni, kita bukan saja melakukan firman Yesus. Lewis Smedes menulis, “pihak pertama yang dipulihkan ketika pengampunan diberikan adalah pihak yang memberikan pengampunan itu. Ketika kita dengan tulus mengampuni, kita membebaskan seorang tawanan, dan tawanan itu adalah diri kita sendiri.” Tidak mudah melakukannya memang. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya di Kejadian 45, dia berteriak dan menangis dengan suara nyaring. Pengampunan yang diberikannya adalah kemerdekaan bagi dirinya.

Alasan yang kedua mengapa kita harus mengampuni adalah pengampunan sanggup mengubahkan penjahat yang paling jahat sekalipun. Kekuatan dahsyat dari pengampunan adalah transformasi. Sebuah novel klasik yang sangat terkenal, Les Miserables karya Victor Hugo, melukiskan ini dengan sangat baik.

Novel ini bercerita tentang Jean Valjean, seorang narapidana di Prancis. Valjean dihukum 19 tahun karena mencuri roti. Selama di penjara dia menjadi seorang yang sangat kuat dan tangguh secara fisik. Tidak ada yang bisa mengalahkan dia. Setelah dia menyelesaikan hukumannya dan keluar dari penjara, dia kesulitan mendapat tempat tinggal, karena di masa itu orang tidak mau berurusan dengan mantan napi. Untunglah ada seorang pastur yang menerima dia menginap di rumahnya. Malam harinya, Valjean bangun dan mengambil peralatan makan milik sang pastur yang terbuat dari perak, dan melarikan diri. Keesokan paginya, si pastur terkejut karena tiga orang polisi mengetuk pintu rumahnya. Mereka menangkap Valjean yang sedang berusaha menjual peralatan makan dari perak milik sang pastur. Akan tetapi, reaksi dari pastur ini mengejutkan mereka semua, terlebih-lebih Valjean. “Lho, kamu ini bagaimana sih? Untung kamu balik lagi ke sini. Kamu lupa ya, kalau tempat lilin ini juga aku berikan buat kamu? Ambillah, ini juga dari perak, dan kalau dijual harganya 200 francs!”. Valjean terkesima, dia tidak tahu harus bicara apa. Si pastur ini meyakinkan para polisi bahwa Valjean bukan pencuri, peralatan makan dan tempat lilin itu adalah pemberiannya. Setelah para polisi pergi, si pastur memberikan tempat lilin dan peralatan makan itu kepada Valjean dengan pesan: “jangan lupa, kamu sudah berjanji akan memakai uang ini untuk memulai hidup sebagai orang yang jujur.” Valjean tidak lupa, dan seumur hidupnya dia hidup jujur dan membaktikan dirinya untuk melayani sesamanya.

Ketika kita mengampuni, kita sedang melakukan “pembedahan rohani”. Kita memotong bagian yang bersalah/berdosa dari orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Kita memisahkan dia dari perbuatan jahat/salahnya. Tadinya kita menyatakan bahwa dia melakukan kesalahan/kejahatan kepada kita. Namun sekarang kita mengubah identitas dia. Dia dijadikan baru dalam memori kita. Sekarang dia bukan lagi orang yang menyakiti kita, tetapi orang yang membutuhkan kita. Dia membutuhkan pengampunan kita, dan kita memberikannya.

Memberikan pengampunan, dalam dunia nyata memang tidak sederhana. Seorang pemerkosa yang diampuni tetap harus menjalani hukumannya di penjara, akan tetapi ketika korbannya memberikan pengampunan kepadanya, si korban membebaskan dirinya dari belenggu kesakitan dan sekaligus memberikan identitas baru kepada si pelaku, sebagai yang telah diampuni.

Yesus memberi teladan yang sempurna kepada kita tentang mengampuni dan memulihkan, ketika dia mengampuni dan memulihkan Petrus yang tiga kali menyangkal dia. Petrus tidak perlu tenggelam dalam rasa bersalah karena penyangkalannya. Tidak, dia dipulihkan dan menjadi sokoguru Gereja. (Yohanes 21)

Mengampuni memutus mata rantai tudingan dan kepahitan, membebaskan kita dari sakit hati dan kepahitan derita seorang korban, dan mengampuni mempunyai kuasa untuk mengubahkan si pelaku kejahatan/yang berbuat salah kepada kita.

Apa yang telah Allah lakukan melalui Yesus Kristus juga sama. Anak tunggal Allah diutus ke dalam dunia bukan untuk menghakimi kita yang berdosa, tetapi untuk menyatakan pengampunan Allah. Yesus yang tidak berdosa menempatkan diri sebagai terhukum, untuk melepaskan dari identitas lama kita sebagai orang berdosa dan memberikan identitas baru kepada kita sebagai anak-anak Allah.

16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yohanes 3:16-18)

Oleh karena itu, kita tidak bisa menolak ketika Dia berkata: 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Dan Paulus menulis juga: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)

Teladan pengampunan kita adalah Tuhan yang telah mengampuni kita, karena itu pengampunan kita juga tidak diberikan batas, sampai berapa kali kita mengampuni. Yesus mengatakan kita mengampuni 70 x 7 kali terhadap saudara yang berbuat dosa kepada kita (Matius 18).

Harapan bagi bangsa ini, harapan bagi dunia ini adalah ketika kita yang telah menikmati pengampunan oleh kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, hidup dalam pengampunan itu, dan melepaskan pengampunan setiap kali pengampunan dibutuhkan. Seperti doa Fransiskus dari Asisi, Jadikan kami alat damai-Mu, di mana ada kebencian, biarlah kami melepaskan pengampunan.

 

Foto : Taman Getsemani, Bukit Zaitun, Yerusalem (koleksi pribadi)

Aleph, Nikmatnya Orgasme Spiritual

Tragedi selalu membawa perubahan radikal dalam hidup kita, perubahan yang berhubungan dengan prinsip yang sama: KEHILANGAN. Secara teori setiap kehilangan adalah untuk kebaikan kita; namun pada praktiknya, saat itulah kita mempertanyakan keberadaan TUHAN dan bertanya pada diri sendiri: Apa yang sudah kulakukan sehingga pantas menerima hal ini?

Ada banyak cara yang dapat dilakukan ketika didera galau. Bagi yang suka berjalan, melakukan perjalanan ke tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi dan bertemu dengan orang-orang baru pasti akan membuat diri bersemangat dan dapat membangkitkan kembali asa yang meredup.

Bagi sebagian orang, menyepi dan mengasingkan diri di satu tempat akan membuatnya lebih mendekatkan diri pada sang Khalik dan memahami dirinya.

Bagaimana dengan perjalanan menyusuri kenangan, kembali ke satu masa yang jejaknya menyakitkan?

I learned long ago that what in order to heal my wounds, i must have the courage to face them – [Paulo Coelho]

Seorang penulis besar seperti Paulo Coelho melakukan perjalanan menyusuri masa lalu untuk berdamai dengan orang-orang yang pernah disakitinya dalam perjalanan hidupnya di satu masa. Setidaknya, ada delapan perempuan pada kehidupan sebelumnya yang harus ditemuinya untuk membereskan ganjalan yang membuatnya menggalau.

Coelho menerima tantangan dari J, sahabat dan guru spiritualnya untuk keluar dari rutinitas, melakukan perjalanan untuk menemukan siapa dirinya. Ia memutuskan melakukan perjalanan tak biasa untuk menjumpai para pembaca bukunya di kota-kota yang dilalui jalur kereta api terpanjang dunia, Trans-Siberian Railway. Sebuah perjalanan yang dimulai dari Moskow ke Vladivostok melewati 7 zona waktu dan menempuh jarak 9,288 km.

Di Moskow, Coelho berjumpa dengan Hilal; perempuan muda berbakat yang sedang galau apakah akan terus mengembangkan talentanya sebagai seorang violist atau tidak? Perempuan berdarah Turki ini banyak mendapatkan inspirasi dari buku Coelho yang dibacanya.

Karenanya, Hilal merasa perlu melakukan sesuatu sebagai balas budi dan memaksa untuk ikut serta dalam rombongan Coelho. Kisah perjalanan Coelho ini dituangkan dalam Aleph.

Aleph adalah satu titik pada Semesta yang mengandung energi supra, ketika berada pada titik tersebut; seseorang akan merasakan sensasi yang luar biasa yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Orgasme Spiritual! Coelho menyusuri masa lalunya dengan masuk ke dalam Aleph, namun untuk bisa menembus batas waktu itu; Coelho memerlukan paduan energi yang ada dalam diri Hilal.

Aleph mengobok-obok rasa, membuat sedikit banyak mengerti dan memahami satu perjalanan tak biasa yang mewarnai hidup. Tentang ikatan rasa yang terjalin di antara satu masa, tentang ikatan rasa yang kuat yang terjalin antara dua orang atau lebih, ENERGI ILAHI.

Jangan khianati anugerah yang telah diberikan padamu, pahamilah apa yang terjadi dalam dirimu dan kau akan pahami apa yang terjadi dalam diri semua orang.

Terkadang TUHAN izinkan semua masalah terjadi bukan karena DIA tak mampu untuk menghalaunya, namun semua itu untuk menguji batas iman kita. Ketika sampai pada satu titik dimana asa hanya tinggal sekali tiup mati; JANGAN pernah lepaskan imanmu! TUHAN tidak pernah diam. Terkadang kita perlu melakukan hal tak biasa agar kita bisa belajar sesuatu yang baru untuk memaknai karunia yang dianugerahkanNYA bagi kita. Prosesnya mungkin dan akan sangat menyakitkan, namun bersamaNYA segala sesuatunya terasa lebih indah.

Apa yang kamu lakukan ketika sedang galau?

… aku berdoa meminta kekuatan untuk mengatasi semua tantangan, untuk menerima segala konsekuensi, dipermalukan, dihina, ditolak, dan dibenci, semua demi nama cinta yang kukira takkan pernah ada namun ternyata ada.

Dan aku sudah berada begitu dekat untuk mencapai hal itu. Aku sekarang tidur di sebelah kompartemenmu, yang ternyata kosong karena Tuhan memutuskan agar orang yang tadinya akan menempati kompartemen itu mundur pada saat terakhir. Wanita itu tidak membuat keputusan tersebut; aku yakin benar itu keputusan dari atas …

Tak ada yang terjadi secara kebetulan! Bukan secara kebetulan jika Aleph menyembul di antara buku perjalanan yang saya temukan di tumpukan buku lama tak bersampul saat hendak mencari buku bacaan di Gramedia sebulan jelang akhir 2014 lalu.

Saya bukan Coelho minded, namun dua bukunya yang dilahap dengan cepat di pertengahan dan akhir 2014 kemarin adalah bagian dari perjalanan spiritual; Aleph dan Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis.

Percayalah sekalipun tidak seorang pun percaya padamu!

Aleph bukan buku perjalanan biasa. Mungkin akan menjadi sebuah bacaan yang membosankan atau malah membingungkan bagi sebagian orang. Dia adalah bacaan yang akan membawamu pada sebuah perenungan tentang makna kasih Ilahi, tentang cinta yang tak biasa, tentang pengorbanan dan berat ringannya kadar iman.

Aleph mengajak langkah menyusuri perjalanan masa kecil menjejak di sebuah bukit dan bersulang secangkir kopi hitam pada Semesta. Mengingatkan diri yang tak punya apa-apa selain bersyukur masih diberi kesempatan oleh Yang Empunya Hidup melewati 2014 meski jatuh bangun, disikat sana sini, diproses hingga berdarah-darah, dimana air mata adalah teman setia sepanjang hari dan hanya pada DIA semua pengaduan disematkan. Pun bersyukur, dituntun memasuki 2015 untuk tetap tegak teruskan langkah.

Biarlah aku mengingatMU dengan tenang dan dengan tekat kuat, bahkan saat aku sulit berkata bahwa aku mencintaiMU.

TUHAN inilah hidupku, kuserahkan padaMU
segala cita-citaku, masa depanku menjadi milikMU
Jadikan kami terangMU, di tengah keglapan dunia
membawa bangsa-bangsa kepadaMU, TUHAN ini kerinduanku

bagiMU TUHAN seluruh hidupku, pakailah TUHAN bagi kemuliaanMU
genapi seluruh rencanaMU, sampai bumi penuh kemuliaanMU

Sarat dengan pesan moral dan spiritual, pula diperlukan kepekaan untuk menyelami setiap pesan yang tertuang lewat untaian katanya. Carilah tempat perhentian yang ‘kan membuat hati teduh dan pikiran tenang. Buku adalah racun! Membaca akan membuatmu haus, bijaklah dalam memilih dan meneguk pelepas dahagamu; selamat menggapai orgasme spiritualmu, saleum.

 

Olive Bendon

Catatan: Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis. Laman asli tulisan ini lihat di:

Penulis adalah Travel Blogger | Old Grave Lover |  Citizen Journalism | Volunteer for The War Graves Photographic Project
Foto: Olive Bendon

Sensasi Sate Satu Meter ala Para Bangsawan Jawa

Memasuki Restoran Harum Manis benar-benar bisa memberi pengalaman berbeda bagi pengunjungnya. Suasana Jawa klasik langsung terasa begitu kita berada di bagian dalam restoran.

Banyak restoran mewah di Jakarta yang menyajikan suasana kemewahan ala Eropa, namun Harum Manis memilih menyajikan romantisme ala para bangsawan Jawa. Empat tiang kayu besar di tengah ruangan terasa seperti pendopo di rumah-rumah Jawa. Ornamen tradisional Jawa pun sangat menonjol dengan warna cokelat kayu yang dominan.

Alunan musik Jawa yang terdengar makin menegaskan nuansa keningratan yang ingin diberikan oleh resto ini kepada pengunjungnya. Namun uniknya, kebanyakan tamu yang masuk ke restoran ini adalah para ekspatriat, terutama dari Jepang. Ada juga ekspat asal Eropa dan Korea yang sering berkunjung.

“Restoran ini memang berkiblatnya ke Jawa, konsepnya ningrat. Karena kebanyakan tamu expat yang datang, maka bumbu dan cita rasanya kami sesuaikan. Yang jelas semua bumbu berasal dari bumbu lokal, seperti pala, kapulaga, dan sebagainya,” kata Chef Beni Iskabul saat menemani saya menikmati suasana di Harum Manis.

Lihat saja nama-nama ruangan yang diberikan, sangat berbau Jawa ningrat. Nama ruangan seperti Pringitan, Gandhok, Pendopo, Senthong Kanan dan sebagainya menggambarkan konsistensi mengangkat budaya Jawa sebagai nuansa restoran.

harum-manis-interior-petraonline

Menu yang ditawarkan di Resto Harum Manis adalah lumpia, martabak telur, soto Betawi, risol, soto Bandung, sop buntut, soto ayam, sop ikan, sop iga, sop buntut, bebek panggang, ikan bakar, bebek bakar, kambing guling, nasi liwet, nasi ulem, nasi rawon, nasi campur, nasi timbel, kepiting soka, gurame goreng, aneka olahan sate, aneka macam nasi, dan berbagai makanan penutup. Ada pula paket keluarga, paket makan malam yang mewah, serta paket rijsttafel, dan paket catering acara pernikahan.

Restoran Harum Manis berada di Pavilion Apartment, Jl. KH Mas Mansyur Kav. 24, Apartemen Pavilion, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10220, Indonesia . Ini sangatlah mudah dikunjungi dari wilayah Sudirman, Kuningan, SCBD, Thamrin, , serta Bursa Efek Jakarta, dan wilayah sekitarnya.

Jam operasional restoran Harum Manis dari hari Senin sampai Minggu, untuk makan siang buka antara jam 11.30 sampai jam 15.00. Makan malam dari pukul 18.00 sampai 23.00.

 

Sate Satu Meter

“Di sini juga salah satu menu andalan kami adalah sate. Sate Satu Meter namanya. Ini benar-benar sangat diminati pengunjung,” kata Chef Beni lagi.

Satu Satu Meter memang layak menjadi andalan. Sajian sate dari berbagai dari berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai jenis bentuk sate disajikan lengkap dalam susunan sepanjang satu meter. Alas deretan satenya pun tidak main-main, yaitu bilah bambu panjang yang dimodifikasi sehingga ada arang dan panggangan satenya di bagian tengah.

Dari sate maranggi, sate madura, sate sapi, sate kambing, sate pentul, sate cumi, sate lilit dan seterusnya lengkap disajikan dalam satu kali hidangan. Sajian sate ini dtambah lagi dengan tumis kecipir. “Dalam sehari, kami bisa menghasilkan sekitar 22-25 meter sate jika dihitung-hitung. Itu berarti sekitar 600 tusuk sate. Sate termasuk menu favorit di sini,” kata Chef Beni lagi.

Ada lagi satu menu andalan, yaitu Udang Bakar Banjarmasin. Udang yang dipakai memang harus datang dari wilayah Banjarmasin, atau setidaknya dari Kalimantan. “Udang dari Kalimantan tekstur beda, warnanya pun beda. Udang Kalimantan warna dagingnya merah kuning,” kata Chef Beni.

Hampir semua hidangan di Harum Manis disajikan dalam porsi besar, rata-rata porsi untuk empat orang. Satu hidangan yang juga sangat digemari di sini, yaitu Bebek Panggang Special Harum Manis.

Tampilannya juga terlihat mengundang selera. Bebek satu ekor dipotong menjadi beberapa potong yang selanjutnya dipanggang dengan bumbu spesialnya khas Harum Manis. Pendampingnya ada nasi campur yang terdiri dari nasi putih, kuning, merah, dan hijau yang di mix dengan serundeng dan taburan dari kacang mete.

Selain menu makanan yang rata-rata porsi besar, Harum Manis juga menyediakan banyak jenis minuman. Berbagai jenis minuman tradisional bisa ditemukan di Harum Manis.

Dua minuman yang layak dicoba di sini adalah Es Teh Sari kelapa dan Es Teh Kweni. Kedua minuman ini termasuk dalam jajaran minuman yang direkomendasikan di Harum Manis. Berbahan dari dasar air teh, kemudian yang ditambah dengan potongan buah kweni dan juga potongan dari kolang-kaling berwarna hijau. Wanginya kweni membuat minuman sangat segar.

“Memang sebaiknya jika ingin menikmati makanan di sini pengunjung mesti booking karena sering kali kapasitasnya yang 154 kursi tidak mencukupi untuk melayani banyaknya pengunjug, sering terjadi waiting list,” kata Fani Moe, Marketing & Communication Manager Harum Manis.

Di sela-sela perkembangan restoran mancanegara yang banya bermunculan di Jakarta, seiring banyaknya warga asing maupun warga Indonesia asli yang gemar makan makanan khas luar negeri, kehadiran Harum Manis yang menawarkan masakan khas Indonesia benar-benar menjadi kekhasan tersendiri.

Dan ternyata, restoran seperti ini pun dengan nuansa Jawa yang kental malah diserbu oleh para pekerja ekspatriat yang sangat ingin mencari suasana dan pengalaman baru dalam menikmati cita rasa kuliner.

 

Foto: Restoran Harum Manis

Simson yang Unik dan Paradoks

Tadi malam kami menonton theater di Sight & Sound, Lancaster Philadhelphia dengan judul Simson, suatu kisah yang diangkat dari kitab Hakim-hakim di Alkitab. Hak. 13-16. Dalam kisah itu, intinya Simson terlahir untuk menjadi orang yang melaluinya Allah bekerja untuk mnyelamatkan Israel dari penjajahan Filistin.

Kehidupan Simson dalam kisah itu unik dan paradoks. Dia unik, karena ia dilahirkan dari seorang perempuan mandul. Malaikat Tuhan datang kepada perempuan itu dan berkata: ‘Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur; sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.

Dia paradoks karena dia sangat kuat sekaligus sangat lemah. Ia memiliki kekuatan fisik luar biasa karena Roh Tuhan sekaligus memiliki kelemahan daging yang dikuasai nafsu. Seorang diri dia bisa mengalahkan seribu orang Filistin yang menyerang dia hanya dengan sebuah rahang keledai (15:5).

Tetapi ia dikalahkan oleh seorang wanita bernama Delila, dengan menyerahkan rahasia kekuatannya kepada wanita itu.

Diakhir cerita itu, Simson mati bersamaan dengan kematian para raja dan ribuan tentara Filistin yang sedang pesta. Tuhan memberikan kekuatan terakhir kepada Simson untuk merobohkan rumah dimana mereka berpesta dalam jumlah yang besar. Tuhan memakai Simson untuk menghancurkan Filistin dan membebaskan Israel dari kekuasaan Filistin.

Dalam teater itu, kisah Simson diakhiri dengan makna dari cerita itu bagi kita umat manusia. Kisah Simson adalah bayangan dari kisah Kristus yang melaluinya Allah membebaskan kita dari kuasa dosa dan kuasa maut.

Semua manusia telah dikuasai dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan patut mendapat hukuman maut. Tetapi Allah dalam kasih-Nya yang besar telah mengutus Anak-Nya yang Tunggal yang dilahirkan secara unik dari kandungan perawan Maria. Kristus hidup dengan natur paradoks.

Dia Allah sejati sekaligus manusia sejati. Dia mati disalib untuk membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut.

Saat Natal Tiba Lebih Cepat di Pusat Belanja

Fotoin aku di sini!” demikian permintaan si ibu setengah teriak ke anaknya seorang lelaki ABG, yang buru-buru mengarahkan smartphone warna putih ke si ibu.

Sang ibu membetulkan kaca mata hitam yang ditarik ke atas sehingga menyerupai bando di kepala, plus dengan kaos putih ketat dan celana jeans panjang sebetis, berdiri condong ke pohon Natal yang penuh dengan hiasan. Cantik lah gaya si ibu.

Ketika si ABG bersiap mengabadikan dengan smartphone..”Ibu maaf, dilarang mengambil gambar di sini,” tiba-tiba seorang petugas keamanan muncul.

Saya sempat mendengar lebih jauh perdebatan antara si ibu yang sudah bergaya dengan petugas keamanan. Intinya, si petugas keamanan mengatakan bahwa ini pernak-pernik perhiasan Natal bukan properti publik karena dijual, dan kebetulan memang ditata seapik mungkin biar pengunjung tertarik pada perhiasan-perhiasan Natal ini.

Nah, wajah kesal si ibu tak bisa disembunyikan. Dia pun meninggalkan titik yang memang dipenuhi dengan perhiasan Natal dan pohon Natalnya itu yang ada di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan tersebut.

Peristiwa ini saya saksikan langsung minggu lalu, masih jauh dari masa-masa perayaan Natal di gereja. Jujur saja, bukan cuma mal di Jakarta Selatan ini yang bisa dilihat oleh pengunjung telah memasang pernak-pernik Natal, banyak pusat belanja telah melakukannya.

Rupanya, Natal datang lebih cepat di pusat-pusat perbelanjaan.

Gereja padahal baru merayakan Minggu Adven Pertama pada hari Mimggu ini, 27 November 2016. Akan ada empat Minggu Adven dirayakan dalam setiap ibadah, sehingga puncaknya pada 25 Desember saat seluruh umat kristiani merayakan hari kelahiran Kristus.

Bisa dilihat di wikipedia makna dari Adven:

Adven diambil dari kata Latin Adventus yang artinya adalah Kedatangan. Dalam masa Adven umat Kristen Katolik Roma maupun Protestan menyiapkan diri untuk menyambut pesta Natal dan memperingati kelahiran dan kedatangan Yesus yang kedua kalinya pada akhir zaman.

Dan Natal, narasinya selalu tentang suka cita, kebahagiaan.

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan. (Lukas 2:10-11)

Akan tetapi, kalau sudah masuk ke ranah bisnis, semua itu bisa berubah. Suka cita Natal pun bisa “dibelokkan” menjadi suka cita belanja saat Natal. Natal penuh harga diskon. Berbahagialah belanja saat Natal, karena banyak potongan harga. Inilah spirit komersialisasi Natal.

Jadi, saat si ibu tadi kesal karena dilarang oleh petugas keamanan untuk berfoto ria di dekat pernak-pernik Natal di sebuah mal, ya itulah “spirit bisnis Natal”. Kalau nggak beli, cuma mau jeprat-jepret foto-foto, ya maaf, enggak bisa dengan tenang bergaya.

Narasi Natal yang sesungguhnya, yaitu suka cita dan damai sejahtera, memang tidak bisa diganti dengan pernak-pernik unik di mal. Spirit Natal yang sesungguhnya tak akan pernah membuat kita misuh-misuh, atau menggerutu.

Meski tidak semua orang bisa merayakan Natal dengan baju baru ke gereja, atau meletakkan sestoples kastengel di meja, tetap saja Natal akan selalu memberi memori kebahagiaan.

Tak sabar rasanya merayakan Natal bersama keluarga, bersuka cita dalam jalinan silaturahmi dengan handai taulan.

Selamat menjalankan Minggu Advent Pertama.

 

Foto: Pixabay