Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

Tidak terasa tahun 2016 sebentar lagi akan berlalu. Banyak peristiwa yang sudah kita alami dan lewati di tahun ini, dan saya percaya banyak berkat yang sudah kita terima, dan tentu saja banyak hikmah, pelajaran, atau teguran, yang sudah kita terima juga. Satu hal yang menghiasi ruang berita kita belakangan ini adalah tentang keriuhan politik di DKI Jakarta. Selain itu kita juga masih disuguhi berita-berita tentang kekerasan atas nama agama, bukan hanya di negeri kita tetapi dari berbagai belahan dunia. Dua hal ini membuat saya teringat akan suatu topik yang selalu menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan kasih karunia. Itu adalah topik tentang Pengampunan.

Bicara Kasih Karunia tidak mungkin tidak membicarakan tentang Pengampunan, karena kasih karunia secara sederhana berarti pengampunan yang diberikan Allah kepada manusia melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus di kayu salib. Apalagi kalau kita melihat kata “mengampuni.” Kata ini di dalam bahasa Inggrisnya berbunyi “forgive” atau “pardon”. “Forgive” datang dari akar kata “give” yang artinya “memberi” dan “pardon” dari akar kata “donum” yang artinya “hadiah”. Melihat kekerasan-kekerasan yang belakangan ini menghiasi ruang berita kita, topik pengampunan ini tentunya menarik untuk dibicarakan, karena Alkitab mengajarkan kita bahwa satu solusi terhadap lingkaran setan kekerasan adalah pengampunan.

Ada banyak ayat di dalam Alkitab tentang pengampunan, namun hari ini kita akan membaca dari kata-kata Yesus sendiri, ketika Dia mengajarkan murid-murid untuk berdoa. 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:12-15)

Mengampuni. Saya rasa kita semua setuju kalau mengampuni itu adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada saya, dengan segera saya menemukan seribu satu alasan untuk tidak mengampuni dia. Saya akan bilang: Dia harus diberi pelajaran, atau Dia harus tahu setiap perbuatan ada konsekuensinya, atau Dia harus belajar bertanggung jawab atas perbuatannya, dia yang salah, kenapa juga saya yang harus mengampuni?, bagaimana saya bisa mengampuni kalau dia tidak menyesali perbuatannya? Butuh waktu untuk kemudian bisa memutuskan untuk mengampuni atau memberi maaf.

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Kristus mengajarkan kita untuk mengampuni. Bahkan, Yesus di dalam Matius 6:15 tadi mengatakan bahwa jika “kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Oleh karena itu orang Kristen tidak punya pilihan lain kecuali mengampuni.

Saya tahu pernyataan ini akan membuat banyak orang gelisah. Oleh karena itu saya akan memberikan 2 buah alasan yang sangat baik, yang bisa menolong kita untuk mulai mengampuni.

Alasan yang pertama: mengampuni memutus mata rantai tudingan dan sakit hati, memutus lingkaran setan kebencian. Di Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Yunani yang umum dipakai untuk pengampunan bermakna secara harfiah “melepaskan”, “membebaskan diri” dari sesuatu.

Kadang mengampuni memang terasa tidak fair. Doktrin “karma” kadang terasa lebih “fair” bagi kita. Para ahli tentang Karma telah menghitung secara matematis berapa reinkarnasi yang diperlukan seseorang untuk mengimbangi semua perbuatan salahnya selama dia hidup: dibutuhkan 6,8 juta kali reinkarnasi.

Satu contoh kecil tentang memutus mata rantai ini bisa kita lihat dalam kehidupan pernikahan kita. Suatu hari isteri saya bilang kepada saya: “Kok kamu bisa lupa ultah ibumu sendiri”.

Saya menjawab: “lho, bukannya kamu yang tugasnya mencatat ultah orang-orang?
Dia membalas: “jangan salahin aku dong, kan ibumu!”

“Iya, tapi minggu lalu kan aku minta kamu untuk mengingatkan aku!”
“Gila kamu ya – kan ibumu. Masak ultah ibu sendiri ga bisa diingat?”

“Kenapa aku harus ingat? Kan tugasmu untuk mengingatkan aku!”

Dialog ini bisa terus berlanjut sampai 6,8 juta kali, sampai salah satu dari kami berkata, “cukup! Aku akan menghentikan ini, memutus rantai ini, memutus lingkaran setan ini.” Dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan pengampunan, dengan mengatakan: “Ya, aku salah. Maafkan aku ya sayang..”

Mengampuni, meski kadang terasa tidak fair, menyelesaikan mata rantai tudingan dan sakit hati. Mengampuni artinya “melepaskan”, “membebaskan diri”, sedangkan Mendendam berasal dari kata yang berarti “merasakan kembali”. Mengampuni membawa kita untuk maju, tetapi mendendam mengikat kita pada masa lalu, kepahitan yang sudah terjadi, sakit hati yang sudah dialami, dan seterusnya. Martin Luther menulis tentang Adam dan Hawa. Alkitab mencatat mereka hidup 900 tahun lebih. Bayangkan bagaimana ketika mereka berantem, Hawa akan berkata: “kamu sih, ikutan makan buah itu” , dan Adam akan menjawab “kamu sih yang ngasih ke aku.”

Pengampunan, menawarkan sebuah jalan keluar. Mengampuni memang tidak menyelesaikan persoalan siapa yang bersalah atau apakah sudah adil atau belum, namun dengan mengampuni kita memberi kesempatan kepada sebuah hubungan untuk dimulai kembali, dimulai secara baru.

Seorang pujangga Rusia, Solzhenitsyn mengatakan, yang membedakan kita dengan binatang bukanlah kemampuan kita untuk berpikir, tetapi kemampuan kita untuk bertobat dan mengampuni.

Ketika kita mengampuni, kita melepaskan diri kita dari belenggu masa lalu sakit hati dan kepahitan. Ketika kita mengampuni, kita bukan saja melakukan firman Yesus. Lewis Smedes menulis, “pihak pertama yang dipulihkan ketika pengampunan diberikan adalah pihak yang memberikan pengampunan itu. Ketika kita dengan tulus mengampuni, kita membebaskan seorang tawanan, dan tawanan itu adalah diri kita sendiri.” Tidak mudah melakukannya memang. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya di Kejadian 45, dia berteriak dan menangis dengan suara nyaring. Pengampunan yang diberikannya adalah kemerdekaan bagi dirinya.

Alasan yang kedua mengapa kita harus mengampuni adalah pengampunan sanggup mengubahkan penjahat yang paling jahat sekalipun. Kekuatan dahsyat dari pengampunan adalah transformasi. Sebuah novel klasik yang sangat terkenal, Les Miserables karya Victor Hugo, melukiskan ini dengan sangat baik.

Novel ini bercerita tentang Jean Valjean, seorang narapidana di Prancis. Valjean dihukum 19 tahun karena mencuri roti. Selama di penjara dia menjadi seorang yang sangat kuat dan tangguh secara fisik. Tidak ada yang bisa mengalahkan dia. Setelah dia menyelesaikan hukumannya dan keluar dari penjara, dia kesulitan mendapat tempat tinggal, karena di masa itu orang tidak mau berurusan dengan mantan napi. Untunglah ada seorang pastur yang menerima dia menginap di rumahnya. Malam harinya, Valjean bangun dan mengambil peralatan makan milik sang pastur yang terbuat dari perak, dan melarikan diri. Keesokan paginya, si pastur terkejut karena tiga orang polisi mengetuk pintu rumahnya. Mereka menangkap Valjean yang sedang berusaha menjual peralatan makan dari perak milik sang pastur. Akan tetapi, reaksi dari pastur ini mengejutkan mereka semua, terlebih-lebih Valjean. “Lho, kamu ini bagaimana sih? Untung kamu balik lagi ke sini. Kamu lupa ya, kalau tempat lilin ini juga aku berikan buat kamu? Ambillah, ini juga dari perak, dan kalau dijual harganya 200 francs!”. Valjean terkesima, dia tidak tahu harus bicara apa. Si pastur ini meyakinkan para polisi bahwa Valjean bukan pencuri, peralatan makan dan tempat lilin itu adalah pemberiannya. Setelah para polisi pergi, si pastur memberikan tempat lilin dan peralatan makan itu kepada Valjean dengan pesan: “jangan lupa, kamu sudah berjanji akan memakai uang ini untuk memulai hidup sebagai orang yang jujur.” Valjean tidak lupa, dan seumur hidupnya dia hidup jujur dan membaktikan dirinya untuk melayani sesamanya.

Ketika kita mengampuni, kita sedang melakukan “pembedahan rohani”. Kita memotong bagian yang bersalah/berdosa dari orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Kita memisahkan dia dari perbuatan jahat/salahnya. Tadinya kita menyatakan bahwa dia melakukan kesalahan/kejahatan kepada kita. Namun sekarang kita mengubah identitas dia. Dia dijadikan baru dalam memori kita. Sekarang dia bukan lagi orang yang menyakiti kita, tetapi orang yang membutuhkan kita. Dia membutuhkan pengampunan kita, dan kita memberikannya.

Memberikan pengampunan, dalam dunia nyata memang tidak sederhana. Seorang pemerkosa yang diampuni tetap harus menjalani hukumannya di penjara, akan tetapi ketika korbannya memberikan pengampunan kepadanya, si korban membebaskan dirinya dari belenggu kesakitan dan sekaligus memberikan identitas baru kepada si pelaku, sebagai yang telah diampuni.

Yesus memberi teladan yang sempurna kepada kita tentang mengampuni dan memulihkan, ketika dia mengampuni dan memulihkan Petrus yang tiga kali menyangkal dia. Petrus tidak perlu tenggelam dalam rasa bersalah karena penyangkalannya. Tidak, dia dipulihkan dan menjadi sokoguru Gereja. (Yohanes 21)

Mengampuni memutus mata rantai tudingan dan kepahitan, membebaskan kita dari sakit hati dan kepahitan derita seorang korban, dan mengampuni mempunyai kuasa untuk mengubahkan si pelaku kejahatan/yang berbuat salah kepada kita.

Apa yang telah Allah lakukan melalui Yesus Kristus juga sama. Anak tunggal Allah diutus ke dalam dunia bukan untuk menghakimi kita yang berdosa, tetapi untuk menyatakan pengampunan Allah. Yesus yang tidak berdosa menempatkan diri sebagai terhukum, untuk melepaskan dari identitas lama kita sebagai orang berdosa dan memberikan identitas baru kepada kita sebagai anak-anak Allah.

16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yohanes 3:16-18)

Oleh karena itu, kita tidak bisa menolak ketika Dia berkata: 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Dan Paulus menulis juga: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)

Teladan pengampunan kita adalah Tuhan yang telah mengampuni kita, karena itu pengampunan kita juga tidak diberikan batas, sampai berapa kali kita mengampuni. Yesus mengatakan kita mengampuni 70 x 7 kali terhadap saudara yang berbuat dosa kepada kita (Matius 18).

Harapan bagi bangsa ini, harapan bagi dunia ini adalah ketika kita yang telah menikmati pengampunan oleh kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, hidup dalam pengampunan itu, dan melepaskan pengampunan setiap kali pengampunan dibutuhkan. Seperti doa Fransiskus dari Asisi, Jadikan kami alat damai-Mu, di mana ada kebencian, biarlah kami melepaskan pengampunan.

 

Foto : Taman Getsemani, Bukit Zaitun, Yerusalem (koleksi pribadi)

4 Likes

Sammy Ladh

Just a bastard saved by grace. Studied English literature and Theology. Founder of Yayasan Rumah Impian Indonesia and a humble servant at Shine Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This