Tidak Semua Orang Makan Nasi

Tahun 2002, saya pertama kali tinggal di Jepang seorang diri, dalam jangka waktu cukup lama, yaitu satu tahun. Saya tinggal di Jepang, tepatnya di kota Kanazawa, prefektur Ishikawa, karena saya mengikuti program Japanese studies. Usia saya saat itu masih paruh pertama 20-an.

Saya tinggal di asrama internasional bersama-sama para mahasiswa asing lainnya dari berbagai negara, mulai dari negara-negara di Asia, Amerika, Eropa, Australia. Yang dari benua Afrika kebetulan enggak ada.

Masing-masing penghuni asrama diberi satu kamar yang meskipun sangat kecil, tapi ajaibnya bisa muat dapur, kulkas kecil, WC plus shower plus wastafel, tempat tidur, meja belajar, lemari, dan beranda untuk jemur baju. Pokoknya bisalah untuk melangsungkan aktivitas hidup sehari-hari di kamar sempit itu.

Terus terang saja, satu hal yang bikin galau ketika awal-awal datang ke Kanazawa adalah perihal saya tidak punya rice cooker. Maklumin deh, dasar orang Indonesia, sekalipun roti, pasta, mie itu secara teori bisa menggantikan nasi, tapi kalau belum makan nasi, rasanya saya belum makan beneran.

Persoalannya, mau beli rice cooker baru itu lumayan mahal juga, dan mikir “hanya” dipakai setahun, sayang uangnya. Selama dua minggu pertama, saya numpang masak nasi di tempat teman Indonesia yang punya rice cooker atau saya makan nasi di kantin kampus.

Saat makan bersama beberapa teman Indonesia, salah seorang di antara teman-teman ini, punya “hobby” suka menelusuri tempat pembuangan sampah di sekitar kampus untuk cari barang-barang elektronik layak pakai.

Akhirnya saya “nitip” rice cooker ke teman saya ini (eh buseeet, di Jepang kok nyari rice cooker bukan di toko tapi di tempat sampah?).

Beberapa hari kemudian, saya ingat banget, pukul 7 pagi, bel kamar saya berbunyi. Masih setengah tidur (sebelum punya anak, saya itu afternoon person, jam 7 masih nyenyak, baru bangun itu paling cepat jam 8 pagi, tapi setelah punya anak, hidup saya sekarang dimulai dari jam 4 pagi) saya berjalan menuju pintu dan membukanya.

Di depan pintu berdiri teman Indonesia, tersenyum lebar dan membawa rice cooker. “Ini!” Ujarnya sambil menyodorkan benda yang saya nanti-nantikan itu.

Saya sangat senang menerima rice cooker dari tempat sampah itu, karena tidak menduga akan mendapatkannya secepat itu. Berulang kali saya mengucapkan terima kasih dan sepanjang hari itu saya sangat senang.

Hari itu saya ingin berbagi kebahagiaan, jadi saya menceritakan kegembiraan saya pada salah seorang teman saya yang berasal dari Polandia. Di akhir cerita, ia menanggapi,

“Kayaknya untuk Rouli, rice cooker itu penting banget ya. Rouli makan nasi tiap hari ya.”

Saya jawab,”Iya, emang Gosha (nama teman saya) enggak?”

Ia menanggapi,”Enggak.”

Saya tanya lagi, “Jadi Gosha makan apa tiap hari?” (Dalam bayangan saya saat itu, semua orang itu pasti butuh makan nasi).

Teman saya menjawab, “Terutama sih roti. Kadang jagung. Tapi kita (maksudnya orang Polandia) jarang makan nasi. Nasi kita jadikan sebagai salah satu bahan salad.” (beneran, ada ini salad nasi. Untuk kita “aneh”, tapi itulah salah satu budaya kuliner Polandia).

Hari itu, pertama kalinya saya sadar, bahwa tidak setiap orang di dunia ini makan nasi sebagai makanan pokok. Dan ngga ada yang salah dengan itu. Teman saya sehat-sehat aja tuh tanpa nasi. Dan saya juga baik-baik aja tanpa salad nasi.

Saya rasa kita semua harus terbuka menerima keberagaman.

Keberagaman SARA, keberagaman budaya, keberagaman pola pikir. Jauh-jauh deh dari fanatisme berlebihan, dari merasa diri paling benar sendiri.

Bukannya apa-apa, kita ini tidak hidup hanya dengan orang-orang yang sama dengan kita aja. Justru kalau dilihat dari perspektif global, yang tidak sama SARA, budaya, pemikiran dengan kita itu malah lebih banyak. Jadi ya sudah tugas setiap makhluklahhhhh untuk mengusahakan perdamaian dengan setiap orang di muka bumi ini.

Tidak semua orang makan nasi. Tidak semua orang makan roti. Dan sungguh, berbeda-beda itu tidak apa-apa, asal selalu ada sikap saling menghormati perbedaan itu.

Rouli Esther Pasaribu

Penulis adalah pengajar paruh waktu di Program Pascasarja Kajian Wilayah Jepang UI.

Foto: Pixabay

1 Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This