‘Teror’ UN dan Efek Ketegangannya

“Teror” Ujian Nasional vs Pendidikan yang Membebaskan

Saat si sulung kelas 3 SMP, berlakulah aturan UN yg menciptakan ketegangan psikis murid dan ortu secara masif itu. Entah kenapa, saat itu kami ikut-ikutan cemas menanti pengumuman. Tetapi, si sulung malah rileks dan terkesan cuek; bikin kami makin stres. Tak sedikit pun terlihat di mukanya bahwa dia tegang, kayak bukan mengikuti dan menunggu hasil UN malah, justru emaknyalah yg degdegan.

Begitu halnya saat dia ikut UN di SMU, biasa saja doi, kagak ada kesan khawatir, sementara kami dan terutama ibunya, kembali tegang. Tiap ditanya, jawabnya selalu, “biasa aja.” Kayak nggak lagi mengikuti UN. Santai banget. “Aduh….cueknya, anak ini,” kataku berkali.

Tetapi adiknya, perempuan, alamak… Tegang luarbiasa hingga kami ikut tertekan sampai pengumuman. Yg paling parah dampaknya, selesai UN SMU, maaf, haidnya sampai terganggu berbulan-bulan. Akhirnya kubawa periksa ke dokter spesialis di RS PGI Cikini, juga disuruh konsul ke psikolog. Ternyata, penyebabnya, si nona itu terlalu tegang sebelum dan sesudah UN–yakni menunggu pengumuman. Akibatnya, itu tadi, haidnya sempat berhenti.

Nah, si nona bontot, mirip dng abangnya. Terkesan cuek, dan tiap ditanya emaknya selalu dijawab “biasa aja.” Ia malah asyik hangout dng teman-temannya selesai UN dan… Bermain futsal.

Sebagai ortu, saya akhirnya paham dan bisa merasakan yg dirasakan umumnya ortu saat anak mereka menghadapi UN; suatu siksaan kurasa. Selalu ada kekhawatiran, anak tak mampu mengerjakan soal ujian karena berbagai faktor dan takut tak lulus. Tak siap bila anak gagal UN. Itu sungguh menegangkan selain menyebalkan.

Sebagai penganut ‘kemerdekaan jiwa dan bathin’, saya termasuk yg ikut menolak model dan pola UN yg berlaku nasional. Pula tak percaya bahwa angka, nilai, IPK, merupakan jaminan kesuksesan seseorang di masa depan. Saya penganut (bahwa) tujuan utama pendidikan untuk membuka wawasan, membangun kerangka pikir kritis, menanamkan logika dan nalar, dan membentuk insan yg beradab berbudi pekerti. Keahlian bisa diperdalam sesuai minat masing-masing.

Saya, pun pengagum sains dan Iptek, namun tidak menginginkan pendidikan formal yg menciptakan robot-robot pengejar angka atau IPK. Proses pendidikan atau ajar mengajar itu mestinya menyenangkan, matematika dan ilmu eksakta lain seharusnya menarik, bukan jadi momok yg mengerikan bagi murid/siswa. Metode pengajaran dan muatan kurikulum di negara ini yg belum mampu menjadikan bersekolah itu sebagai kegiatan yg menyenangkan selain amat perlu. Sementara, ada banyak negara yg telah berhasil membuat sekolah yg asyik atau tidak menekan murid macam Finlandia, Swedia, Jerman, Belanda, dll.

Sistem pendidikan Jepang dan Korea, atau Singapura, tidak kusukai karena membuat siswa dan mahasiswa mudah depresi meski mampu melahirkan lulusan berkemampuan tinggi. (Jumlah siswa dan mahasiswa penderita stres dan depresi terbilang tinggi di negara-negara tersebut).

Masih berharap saya, suatu saat ada Mendikbud yg mampu menciptakan sistem pendidikan dan muatan kurikulum yg membuat murid dan siswa merasa senang bersekolah, tidak tertekan, dan manakala menghadapi ujian tidak harus ketakutan atau depresi hingga berdampak buruk

macam yg dialami putriku yg paling besar itu, misalnya.

Oh ya, jujur saja, rasanya saya enjoy atau ingin ke sekolah sejak SD dan SMP di Samosir dan SMU di Jakarta, hanya karena teman. Ya, ketemu teman-teman. Pelajaran dan saat belajar di kelas, sering kurasakan jam-jam yg mengerangkeng, menyiksa, jadi… karena itulah kemudian ikut pendukung Ivan Illich yg mendekonstruksi sistem pendidikan yg kaku itu. Juga jadi pengikut band aliran psikidelik-pro rock, Pink Floyd lewat lagunya ‘Brick on The Wall’ yg legendaris itu.

“We don’t need no education
We don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers, leave them kids alone
Hey, teacher, leave us kids alone.”

Itu dalam maksudnya.

Begitupun, tetaplah kita beri respek pada guru, terutama yg memahami kemelut murid/siswa. Mereka pun “korban” sistem ciptaan para birokrat-teknokrat, dari zaman ke zaman.

0
0 Likes

Suhunan Situmorang

corporate law's speaker | legal counsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest