February 28, 2020

Tak Mampu Beli Sisir

Tadi pagi, (bukannya ingin menyalahkan cuaca), karena hujan, saya agak kesulitan mendapatkan kendaraan pesanan online. Akhirnya saya dapat juga, bukan mobil, tapi ojek online, karena waktu yang sudah mepet, walau masih agak gerimis, saya ambil saja.

Saya tiba di stasiun  MRT sambil berlari-lari mengejar waktu, agar tidak terlambat.

Di bagian dalam dinding lift, kebetulan ada cermin, jadi saya merapikan rambut dengan jari-jari. Rambut saya kusut karena gerimis hujan dan karena helm ojek. Di dalam lift ada dua orang lain yang tak saya kenal, dua-duanya wanita. Yang lebih tua, diam saja. Yang lebih muda, dengan tatapan mencela, berdesis: “Sisir mahal sih, ya…”

Saya nyaris tak percaya dengan apa yang saya dengar. Apakah dia sedang mengejek saya yang tengah menyisir rambut dengan jari? Apakah dia tengah menyindir saya tidak mampu membeli sisir?

Tapi saya tidak menghiraukan. Sebab segera setelah itu saya sudah keluar lift, dengan terburu-buru.

Tapi ucapan orang itu masih terngiang di telinga saya. Dan saya masih ingat rambut orang itu juga bukan seindah iklan shampoo. Sesama rambut kusut kok merasa punya hak mencela? Nyinyir sekali dia.

Kalau posisi saya tadi adalah teman saya si D yang tukang berdebat, dia akan segera membalas orang itu: Siapa sih lu? Memang kenapa kalau gue nggak pakai sisir? Apa urusan lu? Masalah buat lu?

Kalau itu adalah teman saya si P yang centil tapi menyentil, dia akan membalas: Idih, nggak pakai sisir juga nggak masalah, Sis, rambut saya lembut dan mudah diatur, seperti habis direbonding, cuma pakai jari aja cukup kok!

Kalau tadi itu teman saya si Y yang tak suka basa-basi, dia akan membalas: Berisik lo, urus aja rambut lo sendiri, sisir rambut lo tuh kusut kayak cacing pita! Ngaca sebelum ngomong!

Ada rasa greget tertahan yang kemudian saya tertawakan mengingat kejadian pagi itu. Seperti kata teman saya. Lucu benar manusia jaman sekarang, suka sekali mengomentari orang lain, suka sekali mencampuri urusan yang bukan urusannya.

Kalau saja tadi pagi saya tidak buru-buru, atau mungkin jika dalam keadaan mood sedang emosi, saya bisa saja membalas ejekan orang di lift berambut kusut yang tak saya kenal itu. Rambutnya lebih kusut daripada saya tapi kok beraninya menyindir saya tidak mampu membeli sisir?

Yang membuat saya ingin terbahak adalah, apa iya tampang saya sebegitu miskinnya hingga dia – orang yang tak kenal saya- berani mengatai saya kemahalan beli sisir?

Saya sama sekali tidak tersinggung. Saya hanya takjub keheranan. Kok bisa ya, ada orang, tak dikenal, seenak jidat berkomentar, mengurusi orang lain, mengejek, menghakimi orang yang tak dia kenal?

Andai dia tahu di rumah kami kebetulan banyak sisir (karena anak-anak sering asal menaruh, jadi saya beli banyak sekalian), dan tadi itu saya hanya merasa tidak sopan jika menyisir rambut di dalam lift (fasilitas umum terbuka, bukan ruang rias toilet), jadi saya pikir lebih sopan pakai jari-jari saja…

Tapi memang kita tak bisa mengatur pikiran dan mulut orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita saja.

Saya berusaha menertawakan kejadian itu dengan mengingat lagu Iwan Fals. Temanya sama, sama-sama tak mampu. Kalau di lagu itu, masalahnya tak mampu beli susu, kalau saya, tak mampu beli sisir. Hahaha.

Dia beruntung sifat saya bukan seperti teman saya si D, P atau Y, yang pasti akan balas mendampratnya. Saya memang tipe yang menarik diri, memilih menjauhi orang yang potensial menimbulkan konflik atau masalah.

Atau mungkin saya harusnya menjadi seperti teman saya si S, yang suka bercanda, yang jika diejek tak mampu beli sisir, akan menjawab: “Iya nih, tanggal tua, belum gajian. Boleh pinjam sisirnya Mbak? Tapi Mbak nggak kutuan, ketombean, atau pitak, kan?”

Hidup memang harus diakali. Jangan terlalu serius. Banyakin humor saja. Diejek juga, bawa ketawa saja. Mungkin orang itu yang punya masalah. Seperti kata lagu Iwan Fals: Hidup sudah susah, jangan dibikin susah.  

Saya pun teringat pendeta saya yang selalu menggaungkan prinsip: Gunakan kata-kata yang lembut!

Seperti di buku suci:

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kolose 4:6).

Mino Situmorang

A Mother.Wife.Writer.Acctnt.

View all posts by Mino Situmorang →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest