Tag Archives: Pilkada

Antara Identitas dan Kualitas (Tips Memilih Pemimpin)

Di Indonesia, walaupun bukan semuanya, masih ada fenomena kalau jadi pemimpin harus membuat aturan atau kebijakan baru yang berbeda dengan pendahulunya. Penekanan yang berbeda ini bukan di proses atau hasil dari kebijakan itu, tapi pada “keberbedaan”nya dengan sang pendahulu. Mau bagus atau tidak, yang penting beda. Mau pendahulunya tadinya sudah punya program bagus yang bisa diteruskan atau memang harus dirombak atau diganti, itu tidak penting. Yang penting adalah “Saya harus segera beri gebrakan. Gebrakan yang berbeda. Gebrakan yang akan membuat orang, terutama pemilih saya, terkesima.”

Ini berarti masih ada (kalaupun bukan banyak) pemimpin di Indonesia yang lebih mengutamakan masalah identitas daripada kualitas. Walaupun bukan berarti keduanya bisa saja seiring sejalan, tapi penekanan yang lebih besar pada identitas, di banyak hal, belum tentu membawa banyak manfaat. Alih-alih mengendapkan dulu dan menimbang sedalam-dalamnya apa yang harus diputuskan, dalam beberapa kejadian di tingkat nasional maupun daerah, tampak beberapa pemimpin yang cenderung ingin cepat-cepat untuk menunjukkan identitasnya sebagai pejabat berwenang yang baru.

Kecenderungan ini sebenarnya yang perlu jadi prioritas pertimbangan kita sebagai rakyat ketika kita diberi kesempatan untuk memilih pemimpin, seperti pada masa pilkada ini. Perlu menjadi prioritas, ya karena ini kecenderungan yang masih khas di Indonesia.

Jika kita sebagai rakyat mau hidup kita di negeri ini aman, damai, dan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik, ya pilihlah pemimpin yang menekankan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yang berkualitas, bukan pemimpin yang menekankan kejelasan identitasnya pada setiap kebijakan yang dibuatnya. Bukan pemimpin yang menekankan “Ini lho kebijakan saya”, tapi yang mengedepankan “kebijakan yang matang dipikirkan untuk kepentingan bersama”.

Jadi, sudah tahu siapa yang mau dipilih di Pilkada nanti? ?

Melawan Berita Hoax

Sebelum era kampanye pilkada DKI Jakarta, istilah hoax mungkin belum seramai sekarang. Padahal, istilah ini sudah lama sekali dikenal.

Hoax berasal dari kata hocus yang artinya “untuk menipu”. Segala yang disebut hoax dimaksudkan untuk menipu. Istilah ini sudah ada sejak akhir abad ke-18.

Begitu pun informasi-informasi yang sekarang dikategorikan sebagai hoax, memang ditujukan untuk menipu.

Sebagai wartawan, melakukan check and recheck terhadap setiap informasi yang kami terima atau baca, adalah sebuah standar.

Berita yang kami terbitkan, seharusnya berangkat dari informasi-informasi yang sudah diverifikasi kebenarannya alias fakta.

Masalahnya, sekarang ada begitu banyak media atau yang menyebut dirinya media. Sulit sekali memastikan bahwa sekian banyak media itu sudah menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang benar.

Oleh sebab itu, alih-alih mengharapkan media, tak ada salahnya masyarakat awam pun menerapkan check and recheck saat menerima informasi apapun. Terutama berita atau informasi yang beredar di dunia maya dan media sosial.

Untungnya, sekarang sudah ada tools yang bisa kita manfaatkan.

Kalau polisi beberapa waktu lalu punya kampanye melawan kejahatan bernama Turn Back Crime, sekarang pun sudah ada kampanye melawan hoax yang disebut Turn Back Hoax.

Tools ini diciptakan oleh Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Ia berbentuk ekstensi peramban. Datanya berdasarkan mekanisme crowdsourcing.

Artinya, kitalah yang berinisiatif melaporkan konten-konten Internet yang diduga sebagai hoax. Kemudian mereka akan menyatukannya jadi satu basis data.

Kita bisa mengunjungi basis data ini melalui PC atau perangkat mobile di website data.turnbackhoax.id. Ia bisa menjadi rujukan bagi kita untuk memilah informasi-informasi yang beredar di dunia maya.

Supaya input yang diterima tak salah, para pengguna bisa saling memverifikasi laporan yang masuk. Tata cara untuk melapor bisa dibaca di sini.

Foto: Pixabay.com

Tulisan ini dikutip dari blog sendiri: http://bangdeds.com/2017/01/09/melawan-hoax/