Surat untuk Intan

Intan Olivia Marbun. Kudengar kau sudah pulang nak. Sonang ma ho dilambung ni Tuhani, da boru.

Pasti amang dan inongmu berkeluh, cepat kali nak? Belum puas pasti mereka menyayangimu. Melihat kau tumbuh besar. Kelucuanmu pasti takkan bisa mereka lupakan seumur hidupnya.

Tapi aku yakin, tabahnya mereka itu. Sebab kekuatan untuk menanggung semua itu bukan dari diri mereka sendiri, kan? Tapi datangnya dari Tuhan.

Karena Tuhan sendiri yang bilang sama kita di Matius 11:28. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Kurasa, karena Tuhan itu terlalu sayangnya sama kau nak. Jadi, dipanggil-Nya kau pulang cepat-cepat. Meski caramu pulang, tak seorang pun ingin membayangkannya.

Tapi entahlah dengan pelempar bom itu ya nak. Tak bisa kutebak kedalaman hatinya. Apakah di hatinya sama sekali tak ada cinta?

Atau jangan-jangan, karena hatinya memang sudah keras, nak. Sekeras batu oleh kesumat, oleh kemarahan, oleh kebencian. Tak tahu pun kita apa sebabnya, apa alasannya.

Entah alat pengukur apa yang bisa mengukur kedalaman kebencian dalam hati, nak. Kalau bisa diukur, mungkin bisa kita cari tahu, apa sesungguhnya obat untuk menyembuhkannya.

Tapi biarpun begitu, kumaafkannya dia nak. Orangtuamu pun pasti juga sudah memaafkannya.

Sebab, dalam Doa yang diajarkan Yesus sama kita, kan sudah selalu kita bilang: “Ampunilah kami akan dosa-dosa kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Hanya saja, Intan, boru nami. Sedihnya hati ini saat melihat kebencian semacam yang diperlihatkan orang-orang itu, ternyata merajalela di dunia ini. Di Afrika sana. Di Suriah. Di Irak. Dan masih banyak lagi.

Nyawa manusia terlalu murah. Anak-anak, perempuan, pemuda, orangtua, dikorbankan hanya demi kepentingan sesaat, hanya untuk memuaskan syahwat.

Agak khawatir aku nak. Pengebom dan para otak di baliknya itu, atau siapapun, hendak membawa kebencian yang merusak itu ke negeri kita yang bineka tunggal ika ini. Tolong sampaikan pada Bapa di Surga ya nak, tolong jauhkan negeri ini dari kerusakan seperti itu.

Tapi, kekhawatiranku tak besar-besar kali kok, boru. Kenapa? Karena Allah Bapa di Surga sudah berjanji melindungi kami yang kau tinggalkan kan? Dan tak ada kesulitan yang terlalu besar yang tak bisa ditanggung orang yang berharap padaNya, kan?

Dann.. ada satu lagi hal yang bikin aku pun tak terlalu khawatir. Karena masih banyak orang baik di negeri ini, boru.

Mereka orang baik yang bisa menghargai perbedaan. Orang baik yang tahu bertimbang rasa. Mudah-mudahan kami yang tertinggal ini dan orang-orang baik itu, bisa sama-sama memperjuangkan negeri kita ini supaya menjadi besar bersama keragamannya.

***

Kalau kulihat fotomu yang manis itu, Intan Olivia Marbun, langsung teringatnya aku sama putra terkecilku. Kuperkenalkanlah sama kau ya. Namanya Yabes. Sebentar lagi dua tahun umurnya. Hampir dekatlah sama umurmu kan?

Lucu kali dia itu yang sedang belajar bicara. Pula tak bisa diam berlarian ke sana kemari seperti tak pernah kehabisan energi.

Kadang dia bikin kesal juga kalau sudah marah atau memaksakan sesuatu. Tapi tak kurang-kurang sayang kami, orangtuanya.

Kudoakan supaya panjang umurnya. Bisa tumbuh besar dia dan menjadi saksi bagaimana Indonesia tetap bisa berdiri. Biar dia ikut menjadi salah satu penjaga bineka tunggal ika ini.

Kalaupun tidak begitu, tak apa-apa. Belajarnya kami ini tentang rasa kehilangan, seperti halnya kedua orangtuamu, boru.

Dan yakinlah kami, takkan habis Intan-Intan dan Yabes-Yabes lain di negeri ini, yang akan besar dan menjadi penjaga keberagaman ini.

Dan hari ini kutanamkan juga dalam hati, bahwa kepergianmu tak sia-sia sama sekali.

Baik-baiklah di sana ya boru.

#RIPintan #we4give

Foto: Istimewa/Detikcom

2 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This