“Semoga Kamu Mendapatkan Hidayah”

Ini dia kalimat yang sering banget sekarang kita baca di media sosial. Sedikit-sedikit, jika perdebatan atau perang posting di akun media sosial makin tinggi tensinya, keluarlah kalimat sakti “semoga kamu mendapatkan hidayah”.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, hidayah artinya “petunjuk atau bimbingan dari Tuhan”. Merujuk dari “semoga dapat hidayah”, ini menyiratkan yang mengucapkan duluan sudah dapat hidayah dan lawan bicaranya belum dapat.

Apalagi sekarang, menjelang Pilkada DKI Jakarta, di mana isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) “digoreng-goreng” dengan tujuan memenangkan pasangan calon tertentu yang menjadi peserta kontestan Pilkada.

Perang ide dan gagasan sudah bergeser jadi perang keimanan. Parahnya lagi ini justru SARA ini lebih menentukan daripada program apa yang terbaik dari masing-masing pasangan calon. Sampai Tuhan “diminta-minta” untuk memberikan hidayah ke pihak-pihak tertentu.

Tapi di kehidupan Kristen itu unik. Hidayah enggak bisa kita dapatkan serta-merta meski kita sudah mencari hidayah itu.

Di kekristenan yang terjadi adalah kita mesti PERCAYA dulu, baru kita bisa memperoleh dan merasakan hidayah. Petunjuk dari Tuhan sedahsyat apapun, senyata apapun–misalkan gunung tiba-tiba terbang dan pindah dari sisi kiri ke kanan–tak akan ada gunanya. Yang terjadi malah kita akan sibuk membahas “kenapa gunung itu bisa pindah? Bagaimana analisis tekstur tanahnya? Elevasinya?” dan segala analisis yang njelimet.

Namun, jika kita percaya terlebih dahulu bahwa Yesus mati, lalu hari ketiga Dia bangkit dari antara orang mati, mengalahkan maut dan kegelapan buat menebus dosa manusia, maka segala sesuatu akan menjadi lebih mudah dicerna. Bahkan hidayah sekecil apapun kadarnya, kita langsung bisa mensyukurinya.

1 Kor 15:17: Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.

Menjadi Kristen memang tidak seperti yang biasa kita alami di kehidupan sehari-hari, dimana kita biasanya merasakan terlebih dahulu baru percaya.

Tunggu sampai kita sendiri yang di Danau Toba, baru kita yakin dan benar-benar percaya bahwa pemandangan Danau Toba memang indah, kalau enggak bisa juga kita hanya bilang “aaah ini permainan sudut pandang kamera saja”, “jangan-jangan sebenarnya nggak indah-indah amat”, “ini cuma karena dioprek-oprek di software foto,” dst.

Paling parah, saking siriknya dengan kehebatan seseorang mencapai sesuatu dan kita enggak percaya atas apa yang dicapai, lalu kita langsung memberi stempel “HOAX!”

Nah di kekristenan semua serba terbalik jadinya, kan. Hancurkan dulu ego, singkirkan perasaan penuh analitis dan dialektika, percayai sepenuhnya bahwa Kristus mati dan bangkit buat menebus dosa manusia, setelah itu barulah hidayah itu mendapat jalannya. Baru setelah itu, hidayah bisa kita rasakan.

Dan Paskah di tahun 2017 ini terasa pas, setelah kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dalam ibadah subuh penuh khidmat, bolehlah kita mengucapkan dengan takzim:

“Semoga kalian semua mendapatkan hidayah”.

 

Foto: pixabay.com

0 Likes

Job Palar

Wartawan situs berita sinarharapan.net, penyuka traveling bersama keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This