Selumbar dan Orang-Orang yang Gemar Menghakimi

Waktu kecil saya suka sekali membuat mainan sendiri dengan bahan-bahan yang bisa saya temukan di mana saja. Maklum, dulu jarang sekali orangtua membelikan saya mainan.

Kalau hendak bermain tembak-tembakan, maka saya akan membuat sendiri pistol-pistolan atau senapan, entah itu dari pelepah daun pisang, atau dari papan bekas. Dengan golok dan gergaji, saya akan berusaha membuat mainan yang terbaik, dibandingkan teman-teman saya.

Dalam proses pembuatan pistol-pistolan dari papan, saya akan menghasilkan serbuk gergaji. Nah, unsur yang terkecil dalam serbuk ini, itulah yang disebut selumbar atau bintik serbuk gergaji. Kecil sekali ukurannya. Bisa dikatakan seperti debu saja.

Lucunya, selumbar sekecil itu di mata ternyata bisa dilihat dari jauh oleh orang yang disebut Yesus dalam Matius 7 sebagai “orang yang munafik”. Anehnya, mereka bisa melihat selumbar yang sangat kecil itu, sementara balok di matanya sendiri tak kelihatan.

Itulah menghakimi. Menghakimi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “berlaku sebagai hakim terhadap”. Dalam pemahaman saya, jelas kata ini hanya pantas disandangkan kepada mereka yang berprofesi sebagai hakim.

Sedang kalau bukan hakim, maka kata ‘penghakiman’ menjadi negatif. Orang yang menghakimi (padahal bukan hakim), biasanya adalah orang yang merasa lebih tahu, lebih pintar, lebih benar, dan ‘lebih-lebih’ yang lain.

Orang yang menghakimi (padahal bukan hakim) adalah orang yang abai mengoreksi diri sendiri sebelum menilai orang lain.

Mereka ini adalah orang yang mampu melihat selumbar di mata orang lain tapi tak bisa melihat balok di matanya sendiri. Parahnya, mereka juga merasa mampu mengeluarkan selumbar yang sangat kecil itu di mata saudaranya, sementara balok besar di matanya sendiri tak dilihat dan tak bisa dikeluarkannya.

Mereka orang yang merasa mampu menelanjangi kesalahan dan kekeliruan orang lain. Sementara dia sendiri merasa sebagai orang yang suci, orang yang paling benar.

Kata Yesus kepada orang-orang macam ini: “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Matius 7:1-2)

Hal-hal itulah yang kita lihat dalam kenyataan hari-hari ini. Ada golongan orang yang gemar sekali menghakimi orang lain (padahal mereka bukan hakim) tanpa terlebih dahulu melakukan koreksi terhadap diri sendiri. Mereka, kata Yesus, adalah orang munafik.

Pada hari-hari ini pula kita melihat perkataan Yesus menjadi kenyataan. Mereka mulai dihakimi pula dengan penghakiman yang mereka pakai. Mereka mulai diukur pula dengan ukuran yang mereka pakai.

Jelas, bahwa menghakimi bukanlah perilaku yang benar. Nanti kita akan dihakimi dan diukur dengan cara yang sama yang kita pakai. Saya berdoa agar saya dan kita semua dijauhkan dari sikap semacam itu. Saya juga berdoa supaya sebaliknya, saya dan kita semua bisa bertumbuh jadi sosok yang rendah hati dan penuh belas kasih. Itulah jalan hidup orang yang benar.

 

Foto: Pixabay/3dman_eu

0
2 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest