Saat Natal Tiba Lebih Cepat di Pusat Belanja

Fotoin aku di sini!” demikian permintaan si ibu setengah teriak ke anaknya seorang lelaki ABG, yang buru-buru mengarahkan smartphone warna putih ke si ibu.

Sang ibu membetulkan kaca mata hitam yang ditarik ke atas sehingga menyerupai bando di kepala, plus dengan kaos putih ketat dan celana jeans panjang sebetis, berdiri condong ke pohon Natal yang penuh dengan hiasan. Cantik lah gaya si ibu.

Ketika si ABG bersiap mengabadikan dengan smartphone..”Ibu maaf, dilarang mengambil gambar di sini,” tiba-tiba seorang petugas keamanan muncul.

Saya sempat mendengar lebih jauh perdebatan antara si ibu yang sudah bergaya dengan petugas keamanan. Intinya, si petugas keamanan mengatakan bahwa ini pernak-pernik perhiasan Natal bukan properti publik karena dijual, dan kebetulan memang ditata seapik mungkin biar pengunjung tertarik pada perhiasan-perhiasan Natal ini.

Nah, wajah kesal si ibu tak bisa disembunyikan. Dia pun meninggalkan titik yang memang dipenuhi dengan perhiasan Natal dan pohon Natalnya itu yang ada di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan tersebut.

Peristiwa ini saya saksikan langsung minggu lalu, masih jauh dari masa-masa perayaan Natal di gereja. Jujur saja, bukan cuma mal di Jakarta Selatan ini yang bisa dilihat oleh pengunjung telah memasang pernak-pernik Natal, banyak pusat belanja telah melakukannya.

Rupanya, Natal datang lebih cepat di pusat-pusat perbelanjaan.

Gereja padahal baru merayakan Minggu Adven Pertama pada hari Mimggu ini, 27 November 2016. Akan ada empat Minggu Adven dirayakan dalam setiap ibadah, sehingga puncaknya pada 25 Desember saat seluruh umat kristiani merayakan hari kelahiran Kristus.

Bisa dilihat di wikipedia makna dari Adven:

Adven diambil dari kata Latin Adventus yang artinya adalah Kedatangan. Dalam masa Adven umat Kristen Katolik Roma maupun Protestan menyiapkan diri untuk menyambut pesta Natal dan memperingati kelahiran dan kedatangan Yesus yang kedua kalinya pada akhir zaman.

Dan Natal, narasinya selalu tentang suka cita, kebahagiaan.

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan. (Lukas 2:10-11)

Akan tetapi, kalau sudah masuk ke ranah bisnis, semua itu bisa berubah. Suka cita Natal pun bisa “dibelokkan” menjadi suka cita belanja saat Natal. Natal penuh harga diskon. Berbahagialah belanja saat Natal, karena banyak potongan harga. Inilah spirit komersialisasi Natal.

Jadi, saat si ibu tadi kesal karena dilarang oleh petugas keamanan untuk berfoto ria di dekat pernak-pernik Natal di sebuah mal, ya itulah “spirit bisnis Natal”. Kalau nggak beli, cuma mau jeprat-jepret foto-foto, ya maaf, enggak bisa dengan tenang bergaya.

Narasi Natal yang sesungguhnya, yaitu suka cita dan damai sejahtera, memang tidak bisa diganti dengan pernak-pernik unik di mal. Spirit Natal yang sesungguhnya tak akan pernah membuat kita misuh-misuh, atau menggerutu.

Meski tidak semua orang bisa merayakan Natal dengan baju baru ke gereja, atau meletakkan sestoples kastengel di meja, tetap saja Natal akan selalu memberi memori kebahagiaan.

Tak sabar rasanya merayakan Natal bersama keluarga, bersuka cita dalam jalinan silaturahmi dengan handai taulan.

Selamat menjalankan Minggu Advent Pertama.

 

Foto: Pixabay

0 Likes

Job Palar

Wartawan situs berita sinarharapan.net, penyuka traveling bersama keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This