“Rogue One: A Star Wars Story”, Harapan Melawan Kehancuran

Tampang Mad Mikkelsen yang muncul pada adegan dramatis pertama di layar lebar saat menonton Rogue One: A Star Wars Story benar-benar membuat saya berpikir,”Waduh penjahatnya dia lagi, bakalan sadis nih film.”

Mad Mikkelsen adalah jaminan mutu tokoh antagonis kelas wahid, penjahat kakap kelas sadis. Lihat saja deretan filmnya sebagai antagonis atau penjahat, serial film James Bond Casino Royale, dokter psikologi sadis dalam serial Hannibal si pemakan manusia, bahkan yang terbaru sebagai pembunuh lintas dimensi di film Doctor Strange.

Namun ternyata alur cerita yang berjalan tidak sesuai perkiraan saya. Si antagonis ini malah jadi pusat jalan cerita dari film “sempalan” alias spin off dari Star Wars.

Rogue One menjadi film prolog untuk rangkaian cerita Star Wars. Tidak ada kisah Luke Skywalker dan jedi, meskipun ketika penutupan film Star Wars sebelumnya, The Force Awaken, tahun lalu ditutup dengan penampakan Luke.

Jadi, jika kita tidak mengikuti kisah Star Wars dari awal, film ini masih enak untuk dinikmati. Spin-off Star Wars ini menjadi film pertama dari rangkaian seri Star Wars Anthology yang sedang dibuat.

Balik lagi ke Mad Mikkelsen. Ternyata dia berperan sebagai Galen Erso, seorang ilmuwan Galactic Empire yang menciptakan Death Star, sebuah senjata penghancur massal yang diinginkan Imperial Military untuk menghancurkan Rebellion.

Death Star sendiri telah muncul beberapa kali sebelumnya dalam beberapa sekuel Star Wars. Ini senjata mematikan yang bisa menghancurkan satu planet dalam sekali pancaran laser.

Galen Erso rupanya berubah pikiran, meski dia tak kuasa untuk menahan terciptanya alat paling berbahaya sepanjang kisah Star Wars ini, Galen meletakkan kelemahan tersembunyi pada alat ini.

Kekhawatiran Galen terhadap keselamatan anaknya, Jyn Erso (Felicity Jones), membuat gadis kecil ini harus diselamatkan dan dipercayakan kepada Saw Gerrera (Fores Whitaker). Jyn Erso, anak Galen, pada akhirnya bertugas sekaligus berambisi mencari data dan peta yang diperlukan untuk menghancurkan Death Star.

Petualangan Jyn saat beranjak dewasa membawanya ke markas pusat Rebel Alliance. Di markas tersebut, Jyn ditawarkan sebuah misi, yaitu menemukan ayahnya dan mencari tahu kelemahan dari Death Star.

Jyn yang lama tak bertemu ayahnya, menerima misi tersebut, dan bergabung bersama Kapten Cassian Andor (Diego Luna) dan K-2SO (Alan Tudyk). Di tengah perjalanan, Jyn bertemu dengan Bodhi Rook (Riz Ahmed) – pilot Imperial yang membelot pada Rebellion, serta Chirrut Imwe (Donnie Yen) dan Baze Malbus (Jiang Wen) yang bergabung untuk membantunya melaksanakan misi.

Galen Erso memberi informasi tentang kelemahan Death Star lewat pilot Bodhi Rook. Hologram bicara dari Galen yang jadi pijakan Jyn untuk menerobos ke markas pembuatan Death Star di planet Kyber.

Pada akhirnya, misi hidup dan mati itu adalah mengambil peta struktur Death Star di dalam markas Kyber. Perang besar di angkasa pun terjadi, Aksi kungfu nan magis dari Chirrut Imwe yang diperankan aktor kungfu Donny Yen sangat mewarnai film ini.

Jadi, bayangkan. Galen Erso yang ilmuwan andalannya Darth Vader tiba-tiba memberi kelemahan soal Death Star, senjata mematikan. Jyn Erso cuma tahu infonya dari hologram ayahnya yang berbicara. Bahkan misi “bunuh diri” ke markas Imperial Military saja cuma dibantu oleh sebagian kecil pasukan Rebel Alliance.

Benar-benar kecil sekali kemungkinannya bahwa misi akan berhasil. Lebih dari itu, jika pun misi menerobos areal musuh berhasil, tidak ada keyakinan yang cukup pula untuk memastikan bahwa informasi dari Galen Erso itu benar.

“Kita punya harapan!. Pemberontakan ini dibangun di atas harapan, bukan begitu?” kata Jyn Erso. Satu kata magis ini–“harapan”–mengubah dan menggugah sikap pasukan Rebellion.

Film ini mementaskan sebuah tema besar. Harapan. Sebuah kata yang semakin sulit kita dalami maknanya.

Banyak orang yang lebih memegang teguh pada rasa ketakutan–“rasa Darth Vader”–untuk mengambil keputusan, bukan pada harapan untuk mencapai tujuan.

“Takut akan terjadi A, maka kita ambil keputusan B”

“Takut tidak berhasil begini, maka kita putuskan langkah begitu”

Itulah yang sering kali kita pikirkan dalam mengambil keputusan, atau saat ingin mencapai tujuan.

Saat tokoh pemberontak Saw Gerrera berteriak nyaring kepada Jyn Erso,”Selamatkan Rebellion, selamatkan impian!” Saat itulah Jyn Erso yakin, bahwa impian harus dibangun dari harapan.

Jika hanya takut pada Darth Vader dan kekaisarannya, semua usaha akan jadi sia-sia karena semua hanya bersifat antisipatif. Namun, misi inilah kali pertama, harapan bahwa Rebellion selangkah lebih maju.

Keinginan membangun segala sesuatu dan mencapai sebuah tujuan harus dilandasi dengan harapan. Dengan harapan, kita tak akan mudah putus asa meski keinginan yang hendak dicapai masih terasa jauh.

“I’m one with the Force, and the Force is with me.” Chirrut Imwe

0
0 Likes

Job Palar

Wartawan, penyuka traveling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest