Rambut pun tak sama hitam!

Akhir-akhir ini hampir tiap pagi saya melewati sekolah Perancis yang di Jakarta Selatan. Saya suka melewati sekolah itu sekalipun pas lewat sana pasti macet karena bentrok dengan jam masuk sekolah. Kenapa? Seolah sedang melewati kota Paris, hehehe

Saya suka melihat anak-anak sekolah itu. Ada yang berambut merah, berkulit mengilap, bermata biru, bahkan berambut gimbal. Mereka lucu-lucu dan unik-unik. Model pakaian mereka juga bermacam-macam. Ada yang hanya pakai sepatu kets dan T-Shirt. Ada yang kasual dengan kaos dan celana pendek. Ada yang rapi memakai rok dan kemeja. Ada juga penampilan punk atau rocker seperti Avril Lavigne dengan rambut berwarna-warni.

Dan para ibu yang mengantar juga berpenampilan berbeda. Ada yang hanya memakai dress pendek, ada yang mengenakan tank top dan celana pendek, ada juga berkemeja belel yang berkerah rendah. Yang terlihat lebih formil hanya para ayah yang mungkin setelah mengantar anak langsung pergi ke kantor. Mereka sudah rapi berkemeja dan dasi, bahkan mengenakan setelan jas. Kadang ada yang terlihat berpenampilan seperti pemain film Man in Black.

Apa yang saya pikir menarik dari hal ini? Busana anak-anak sekolah itu. Mereka berbusana bebas. Bukan seragam seperti di sekolah anak saya.

Anak saya pernah bertanya. Mengapa harus memakai seragam sekolah? Yang saya ingat, salah satu alasan pemberlakuan seragam adalah untuk menyamakan siswa, dengan kata lain supaya tidak terlihat perbedaan antara siswa yang mampu dan kurang mampu, melalui penampilannya.

Sebaliknya, jika dilihat dari sejarah, pemakaian seragam sekolah ini dimulai pada abad ke-16, diberlakukan untuk sekolah rakyat kalangan bawah di Inggris, dengan tujuan membedakan murid sekolah gratis dengan sekolah kalangan atas yang berbayar.

Pertanyaan ini menggelitik saya. Seperti halnya alasan seragam sekolah ini, mungkinkah sejak awal bersekolah, kita secara tidak sadar telah diajarkan untuk selalu sama dengan orang lain? Untuk terpaksa seragam, diharuskan sama dengan orang lain? Seragam? Sama?

Mengapa kita bukannya diajarkan menerima perbedaan sejak awal? Bahwa penampilan itu tak harus sama, status sosial tak harus ditutupi, bahwa memang hidup itu adalah perbedaan dan keanekaragaman, dan itulah yang harus bisa kita terima dan hadapi. Mungkinkah hal ini ada hubungannya dengan kondisi yang marak akhir-akhir ini, seperti sikap rasisme yang memaksakan persamaan, dan menimbulkan rasa permusuhan pada pihak yang dianggap berbeda?

Anak saya yang bersekolah di sekolah swasta, pernah bercerita tentang temannya yang harta orangtuanya berlimpah-limpah. Dia sempat membandingkan dirinya dengan temannya itu. Jawaban saya simpel saja: Kamu anak Mama, bukan anak Mama temanmu. Terimalah kenyataan perbedaan itu (Sejak itu anak saya tidak lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain).

Pertanyaan saya berikutnya adalah, kenapa kita lebih fokus mengurusi penampilan luar? Mengapa kita tidak lebih fokus pada mental daripada lahiriah. Di sebuah sekolah bergengsi di Jawa, muridnya bebas bergaya apa saja, tapi mereka adalah murid-murid unggulan dan berprestasi, juga berdisiplin tinggi.

Bukankah pendidikan moral lebih penting dari sekedar harus mengenakan sepatu warna hitam seragam? Rambut awut-awutan tapi disiplin dan berprestasi lebih baik daripada kelimis, tukang bully dan tidak bisa bertoleransi?

Menurut saya, takkan terhindarkan, sekalipun diberi seragam tetap saja seseorang bisa menonjolkan kelas ekonominya, misal dengan mobil jemputan mewah, tas, aksesori, dan lainnya. Jadi seragam semata tak selalu bisa mencegah kecemburuan sosial, bukan?

Ini hanya pikiran saya. Intinya bukan soal seragam. Bukankah lebih baik sejak dini ditanamkan bahwa perbedaan (kelas sosial, ras, agama, budaya, dll) itu memang ada dan kita harus bisa menerimanya? Kita harus bisa toleransi dan tenggang rasa dalam segala perbedaan itu. Alih-alih mencoba memaksa menyamakan atau menyeragamkan hanya dengan melalui pakaian, bukankah lebih baik berfokus pada moralnya, menerima bahwa kita semua memang berbeda, rambut di kepala boleh sama tapi warna rambut pun ada yang berbeda, kan?

Marilah terima kenyataan, bahwa kita memang berbeda. Warna rambut pun tak selalu sama!

Seperti pelangi, perbedaan itu indah. Kita tak harus selalu sama. Yang paling indah adalah ketika kita bisa hidup berdampingan dengan damai dalam segala perbedaan kita.

-*-

Foto: Pixabay

0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This