Menyingkap Praktik Pembuatan Bejana pada Zaman Yesus

Pada peristiwa Yesus mengubah air menjadi anggur pada pesta perkawinan di Kana di Galilea (bisa dibaca di Yohanes 2:1-11), tersebutlah mengenai tempayan-tempayan yang disediakan untuk pembasuhan kaki. Kalau dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, tempayan disebut stone jars, yang artinya, bejana itu berbahan batu bukan tanah liat.

Tentang budaya pembuatan bejana batu di zaman Yesus Kristus itu makin tersingkap setelah arkeolog berhasil menggali sebuah gua berisi workshop pembuatan bejana dan perkakas batu di Galilea. Gua itu diperkirakan berusia 2.000 tahun lebih.

Gua berisi bahan batu kapur dan bejana belum jadi dari zaman kuno ini termasuk temuan langka, hanya ada dua lokasi yang pernah digali para arkeolog Israel. Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya perkakas batu dalam ritual pembasuhan yang dipraktikkan kaum Yahudi.

Yonatan Adler, pengajar di Universitas Ariel dan direktur penggalian gua itu, mengatakan kebanyakan orang Israel pada masa lalu menggunakan pot dan bejana dari tanah liat. Tapi dalam praktek hukum pembasuhan dari yang najis atau kashrut, mereka juga menggunakan bejana batu.

Orang Yahudi biasanya mempraktikkan ritual itu kalau bersentuhan dengan sesuatu yang dinajiskan, macam bangkai binatang, penyakit kulit, dan sebagainya. Atau ketika memakai perkakas pada makanan yang tak boleh dicampur, macam daging dan susu.

Tambang batu kapur dan workshop bejana batu itu berada dalam sebuah gua buatan. Peneliti menemukan inti kapur yang digunakan untuk membuat bejana di mesin bubut, pahatan di dinding, dan limbah lain dalam proses pembuatan perkakas batu.

Kalau mengutip kata Adler, sampah-sampah produksi mengindikasikan bahwa workshop ini kebanyakan memproduksi cangkir bertangkai dan mangkuk berbagai ukuran. Perkakasnya diperdagangkan di Galilea dan sekitarnya.

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This