Perkataan Yang Menyenangkan

Waktu remaja, saya ingat ibu saya selalu mengingatkan saya untuk berhati-hati memilih teman bergaul. Tak disangka, sampai usia sedewasa ini pun ternyata dalam hidup ini kita tetap harus cermat dalam menyeleksi pertemanan, sebab menjadikan teman atau sahabat berarti membuka pintu bagi orang itu untuk masuk dalam kehidupan kita. Sedikit banyak kehadirannya akan memengaruhi hidup kita. Hidup kita bisa lebih baik, atau jadi lebih buruk.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah komunitas, ada seorang teman baru yang terlihat asyik, lucu, gaul, pokoknya fun banget. Kami semakin dekat, dan tadinya saya pikir dia akan jadi sahabat baru saya (dalam hati saya tertawa; emak-emak punya sahabat baru nih yeee).

Tapi waktu memang menunjukkan keaslian pribadi seseorang. Setelah beberapa lama saya dekat dengannya, saya merasa ada yang berbeda. Teman ini memang sungguh menyenangkan, tapi bigosnya luar biasa. Biang gosip. Tanpa saya sadari, hubungan saya menjadi kurang baik dengan beberapa orang karena salah kaprah oleh omongannya. Teman ini rupanya suka membuat sensasi dengan menyampaikan omongan seseorang ke orang lain dan menambahkan bumbu-bumbu yang merusak makna omongan orijinalnya. Dan hal itu potensial disalahartikan oleh pihak lain. Sebab watak manusia sungguh berbeda, dan cara pandangnya juga beraneka ragam, dan itu tak bisa kita kendalikan, serta kesalahkaprahan kata-kata ini bisa menyebabkan perang.

Lama-lama saya merasa, sejak dekat dia saya bawaannya jadi agak gelisah. Gosip melulu. Bawa berita buruk melulu. Bawa cerita omongan orang lain melulu. Setelah memerhatikan dari beberapa kejadian, saya memutuskan lebih baik menarik diri dari pertemanan kami. Yang biasanya kami nyaris chatting tiap hari, perlahan mulai saya kurangi dan nyaris tak pernah saya balas lagi jika tak dirasa ada yang penting.

Dia sadar dengan perubahan itu. Beberapa kali dia menanyakan kok nggak pernah balas chat lagi dan tak mau ketemuan lagi. Saya tidak menjawab dengan apa-adanya, sebab saya yakin efeknya akan panjang lagi. Maka dengan klise saya jawab sibuk. Sejujurnya, hidup memang lebih seru dengannya, penuh tawa canda, tapi hidup saya lebih baik tanpa dia. Lebih tenang dan damai. Dengannya saya hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tanpa ada pengembangan diri yang positif.
Ada beberapa hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut, seperti di berikut ini:

1. Pilihlah teman yang positif, yang membuatmu semakin baik.

Ada seorang teman yang disebali teman lain karena jarang muncul hang out. Tapi saya suka dan kagum sama dia karena dia memang sedang sibuk ambil kursus untuk pengembangan diri dan bisnis. Saya belajar banyak darinya.

2. Jangan mudah terbawa berita atau terhasut.

Bukalah wawasan, dengarlah berita tapi seleksi dengan akal sehat, banyak-banyak bertanya pada orang bijak, supaya tahu mana yang betul mana yang hanya provokasi. Berpikir positif lebih baik daripada berburuk sangka.

3. Janganlah menjadi pembawa gosip atau kabar burung, atau kabar buruk.

Seperti tertulis di Amsal: Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Sedapat-dapatnya jadilah pembawa berita positif dan damai. Terkadang, sekalipun omongan orang lain benar, kita tak perlu menyampaikannya pada orang lain. Itu bisa membuat perpecahan. Marilah berusaha membawa berita yang benar dan positif dengan bijak. Hati-hatilah dengan ucapan kita sebab itu bisa membawa teman atau musuh.

Untuk kenyamanan hidup, mungkin kita perlu menutup pintu bagi pembawa gosip, orang picik, provokator atau perusak kedamaian. Cukup saksikan mereka sesekali dari balik kaca jendela rumah anda yang tertutup. Anda pun tak sudi jadi orang yang demikian, bukan?

-*-

Foto: Pixabay

3 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This