Pergaulan yang Buruk Merusak Kebiasaan yang Baik

Saya teringat bacaan renungan harian beberapa tahun lalu. Ada sebuah kelakar yang membandingkan orang Indonesia dan orang Singapura. Orang Indonesia, yang biasanya kurang disiplin lalu lintas dan suka buang sampah sembarangan, jika tinggal di Singapura akan menjadi disiplin dan buang sampah pada tempatnya. Sebaliknya, orang Singapura jika tinggal di Indonesia, akan berubah menjadi tidak disiplin dan suka buang sampah sembarangan.

Ini memang hanya kelakar, dan kebenarannya tidak absolut, tapi tanpa niat memburukkan bangsa sendiri, hal ini menggambarkan bahwa pengaruh lingkungan memang sungguh kuat. Jika lingkungan kita baik, kita akan baik. Sebaliknya, jika lingkungan kita buruk, kita akan bersikap buruk pula.

Bicara soal lingkungan, saya teringat dulu waktu bekerja di bandara internasional Ngurah Rai, Bali, saya berada pada lingkungan yang sedikit relatif agak ‘bebas’. Berhubung teman-teman di sana rata-rata adalah pendatang (dari Jakarta dan luar negeri), waktu luang kita biasanya dihabiskan untuk jalan-jalan atau sesekali ke kafe (namanya juga di Bali ya).

Waktu itu, kalau kami malam mingguan dan pulang larut malam dari kafe, saya merasa berdosa, padahal saya nggak ngapa-ngapain, cuma nongkrong sama teman-teman, paling hanya duduk minum fruit punch (bukan miras), mendengarkan live music, dan ngeliatin mereka yang pada ajep-ajep mengikuti irama musik atau live band.

Lingkungan itu tidak mengubah saya. Saya tidak jadi berubah menjadi anak malam (hanya memperluas wawasan saya saja tentang dunia malam, hehehe). Saya tetap tidak suka miras dan tak suka disko.

Sisi buruk yang paling nyata dari pergaulan ini bagi saya pribadi adalah, saya akan kecapaian karena pulang larut malam dan jadi mengantuk hingga susah bangun untuk pergi ke gereja di hari Minggu pagi. Selebihnya, saya tetaplah anak rumahan yang biasa, yang setelah kembali ke Jakarta tak pernah lagi pergi ke kafe.

Lingkungan yang saya pikir lebih ‘negatif’ daripada yang di Bali tadi, justru adalah perusahaan tempat saya bekerja terdahulu. Saya yang masih singel berada di departemen yang semuanya laki-laki (yang sudah menikah) dan hampir semua mereka adalah tukang selingkuh. Setiap hari hobi mereka adalah ngomong yang ngeres-ngeres, dan sekalipun dengan bercanda, mereka sering memaksa meminjamkan film bokep pada saya dan selalu saya tolak, dan mereka selalu meledek saya, hahaha. Sebenarnya mereka rekan kerja yang baik dan humoris, tapi saya ngeri juga karena sudah ada kejadian dua dari istri mereka yang datang ke kantor melabrak suaminya karena ketahuan selingkuh. Saya tak lama bekerja di sana.

Setelah keluarga, lingkungan terbaik yang pernah saya miliki adalah persekutuan di kampus. Bahkan setelah alumni pun, kami masih aktif berkomunikasi dan saling mendukung. Kadang, jika saya butuh tempat curhat atau minta pendapat, yang akan saya hubungi adalah teman saya di persekutuan dulu. Rasanya sudah jadi seperti saudara, seolah kita memiliki sebuah keluarga baru, keluarga rohani. Yang paling saya sukai adalah dua orang teman yang selalu rajin menanyakan apa yang saya ingin mereka doakan, sekalipun mereka sering pindah-pindah tempat ke negara lain, dan kami berkomunikasi hanya lewat email.

Dua orang teman ‘pendoa’ inilah yang paling saya favoritkan dan ingin saya jadikan teladan, karena memberi pengaruh yang sangat positif bagi saya secara pribadi. Teman atau sahabat ada banyak, tapi mereka yang tanpa pamrih peduli pada kita mungkin hanya sebilangan jari. Merekalah yang tetap menjaga saya berada pada jalur positif, walau kami tinggal berjauhan.

Banyak teman yang hanya muncul ketika ada kepentingan, tapi teman sejati tulus datang ketika kita ada masalah atau tidak, ketika dia ada kepentingan atau tidak, dan orang-orang ini memiliki standar moral yang benar. Dan orang-orang seperti itu sungguh diperlukan bagi dunia ini. Orang-orang yang kehadirannya membawa kebajikan dan kedamaian, bukan perpecahan atau perselisihan.

Akan selalu ada lingkungan yang buruk di sekitar kita. Kita bisa memilih pergaulan atau lingkungan kita. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah sikap diri kita sendiri. Apakah kita juga membawa pengaruh positif atau negatif pada lingkungan, sebab kita mau tak mau harus tetap bergaul di tengah lingkungan yang terburuk sekalipun.

Seperti kata nats; “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

-*-

Foto: Pixabay

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest