Pembukaan UUD 45 dan Bisik-bisik Tawa yang Mengikutinya

Sangat menarik ketika seorang kawan memberikan link berita soal Kepala Sekolah di sebuah SMP di Riau yang menyatakan bahwa siswa Kristen tidak pantas membacakan Pembukaan UUD 45 saat upacara.

Si kepala sekolah mengatakan,”Kalimat ‘Dengan Rahmat Allah’, itu harus dibaca dengan ‘Alloh’, kalau Kristen kan dibaca ‘Allah’. Jadi yang pantas jadi pembaca Pembukaan UUD 1945 itu adalah Islam dan Siswa Kristen tidak pantas membacanya,” katanya. Dia bahkan menambahkan,”Kalau siswa Kristen bacanya ‘Allah’ malah jadi bahan tertawaan.”

Saya pernah mengalami ini. Saya bersekolah dasar di Jakarta. Saat itu zaman masih Eyang Suharto yang berkuasa. Panggilannya masih Bapak Jenderal Suharto, nah kemudian di akhir-akhir masa kekuasaannya sudah mulai berubah jadi HMS kepanjangan dari Haji Muhammad Suharto.

Jadi meski sudah lama berlalu, sekelebatan momen itu masih menempel di ingatan. “Traumatis” mungkin nama tahapannya.

Saat itu, saya bersekolah di sebuah Sekolah Dasar Negeri di wilayah Utan Kayu, Jakarta Timur. Kelas saya kebagian jadi petugas upacara bendera. Saya kebagian membacakan Pembukaan UUD 45, itu pun sebenarnya bukan tugas awal yang ditunjuk Pak Guru sebagai wali kelas saya.

Tadinya saya ditunjuk sebagai pemimpin upacara yang bertugas untuk teriak-teriak di tengah lapangan untuk atur barisan dan memberi aba-aba sesuai jalannya upacara. Namun, nyali saya kurang cukup besar buat berdiri di tengah lapangan dan jadi pusat perhatian.

Jadi penebusan dosanya, saya memilih membaca Teks Pancasila atau Pembukaan UUD 45. Saya masih ingat “perebutan” untuk mendapat tugas itu dengan satu orang kawan (Supri, dimana kau sekarang ya?). Akhirnya saya kebagian membaca Pembukaan UUD 45.

Masalahnya, saat dites itu, saya hanya disuruh baca sampai satu alinea di awal saja. Jadi wali kelas mungkin tidak ngeh dengan “kejanggalan” yang akan terjadi.

Tibalah saat hari-H saya bertugas membacakan naskah Pembukaan UUD 45 di tengah lapangan. Ketika hendak membaca, seingat saya suasana memang hening, enggak ada yang berani bicara saat upacara bendera. Dan saat itu, di tengah keheningan, angin semilir perlahan… Bah! Macam drama Korea saja.

Tibalah saya membaca dengan lantang. “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”

Dan, sepersekian detik kemudian yang terdengar adalah “grrrrrrr”, semacam kebisingan yang terpendam tetapi menyeruak ke udara. Satu atau dua detik, saya berhenti membaca.

Saya ingat dalam bayangan saya, ketika melongok ke arah para peserta upacara dengan menurunkan sedikit map berisi teks Pembukaan, teman-teman saling berbisik, malah banyak yang tertawa terkikik-kikik, guru-guru rata-rata senyum-senyum simpul.

Ya, saya membaca kata dalam kalimat itu bukan “Alloh” atau “Owloh” seperti yang biasa dieja kawan-kawan muslim, tetapi sesuai apa yang diajarkan di gereja dan keluarga saya, saya mengucapkan “Allah”.

Dan, genaplah apa yang dibilang Bapak Kepsek dari SMP di Riau itu: kalau siswa Kristen bacanya “Allah” malah jadi bahan tertawaan. Jadi, saya tahu persis bahwa untuk pendapat yang satu ini, ada benarnya si Pak Kepsek.

Saya ingat sekali sempat berkata,”Enggak bakalan lagi mau baca Pembukaan UUD 45.” Saya malu jadi bahan tertawaan.

Tetapi keluarga di rumah berkata lain. “Karena kau membaca dengan lafal ‘Allah’ makanya teman-temanmu tahu, begitulah orang Kristen diajarkan membaca dan melafalkan. ‘Allah’. Jadi, kenapa mesti malu?” begitulah orang tua saya membesarkan hati.

Kita sama-sama tahu, bahwa Pembukaan UUD 45 dan segenap isi UUD 45 tidak ditujukan untuk satu golongan saja. Itu berlaku dan layak dipegang teguh oleh seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

Jadi, pendapat tentang Pembukaan UUD 45 hanya pantas dibacakan oleh agama tertentu jelas tidak berdasar. Kesepakatan para pendiri bangsa jelas kalimat di atas merujuk pada kesadaran bahwa perjuangan hingga berhasil membebaskan Indonesia dari penjajahan adalah juga berkat anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan Yang Maha Esa adalah juga Tuhan yang diakui oleh seluruh umat beragama di Indonesia sebagai Pencipta Semesta yang Tunggal, seperti yang tertulis pada sila pertama Pancasila, yang juga termaktub di Pembukaan UUD 45.

Penting untuk diketahui bahwa istilah “Allah” sebenarnya telah ada dan digunakan di wilayah Timur Tengah jauh sebelum agama-agama Samawi ada. Perbedaan pelafalan itu sendiri sebenarnya merupakan kewajaran yang terjadi di Indonesia, yang memiliki suku bangsa yang beraneka ragam dan logat bahasa yang berbeda-beda.

Perbedaan pelafalan itu sejatinya tidak mengubah makna. Orang Sunda terbiasa dengan lafal “Alloh”, orang Jawa sering melafalkannya dengan “Awloh” atau “Owloh”. Suku-suku di Indonesia Timur sering melafalkannya “Ala” tanpa bunyi jelas huruf “h” di belakang kata. Bahasa Indonesia resmi dibaca dan ditulis dengan abjad A-L-L-A-H.

Namun, masih ada rasa penasaran saya: kalau kawan yang beragama Hindu atau Buddha membacanya bagaimana ya? “Alloh” atau “Allah”? Sampai sekarang belum terjawab, dan enggak penting-penting amat memang untuk dicari jawabannya. Cuma…penasaran aja.

 

Foto: mahkamahkonstitusi.go.id

0 Likes

Job Palar

Wartawan situs berita sinarharapan.net, penyuka traveling bersama keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This