Pasangan Hidupmu Berubah Sikap? Ini Dia Tahap Penyesuaian yang Kamu Harus Tahu

Ada kecenderungan peningkatan angka perceraian saat usia perkawinan masih berusia muda. Barangkali penyebabnya karena kegagalan dalam penyesuaian antara suami-isteri.

Untuk itu, alangkah baiknya jika pasutri mengenali pola penyesuaian perkawinan. Berikut ini hasil penelitian Cinde Anjani dan Suryanto dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga:

 

Fase bulan madu

Merupakan fase yang paling indah karena masing-masing pihak berupaya membahagiakan pasangannya. Pada fase ini para pasangan tidak berupaya untuk menonjolkan perbedaan yang terjadi, melainkan saling menutupi kelemahan masing-masing dan mengabaikan adanya kekurangan pasangannya.

 

Fase pengenalan kenyataan

Hal-hal yang memerlukan adaptasi dalam fase ini antara lain dalam hal kebiasaan pasangan. Kebiasaan pasangan suami istri yang paling sering muncul dalam penelitian ini adalah:

– pasangan, baik suami maupun istri terkejut atau kaget dengan perubahan sikap yang terjadi pada pasangannya;

– pasangan suami istri belum terbiasa dengan perubahan sikap yang terjadi pada pasangannya di awal pernikahan;

– salah satu pasangan ingin mengubah kebiasaan pasangannya;

– salah satu pasangan menginginkan pasangannya tersebut masuk dalam kehidupannya;

– salah satu pasangan menginginkan agar pasangannya lebih dapat menerima kebiasaan-kebiasaan serta menerima keadaan dirinya apa adanya.
Fase Kritis Perkawinan

Fase ini adalah fase paling rawan yang mungkin akan mengancam kehidupan rumah tangga setelah mengenal kenyataan yang sebenarnya. Tingginya pendidikan bukanlah jaminan bahwa pasangan ini bisa beradaptasi dengan baik dan dapat menyelesaikan permasalahannya.

Masalah seksual juga bisa menjadi salah satu sumber masalah terutama bila pasangan tidak terbuka dalam masalah seksual. Fase kritis akan semakin meruncing ketika ada keterlibatan keluarga salah satu pasangan.

Hal itu berdampak karena salah satu pasangan dihadapkan pada kebimbangan dan kedekatan emosional antara keluarga atau suami/istrinya.

 

Fase menerima kenyataan

Suami istri menjalankan perkawinannya dengan cara-caranya sendiri atau terdapat aturan yang harus disepakati kedua belah pihak. Semua berpulang pada diri masing-masing dan tahu kapasitasnya dalam rumah tangga.

Sehingga kehidupan rumah tangga dapat berjalan dengan baik walaupun perbedaan di tengah-tengah mereka. Kedua pasangan ini banyak belajar dan berkaca pada orang-orang yang sudah berpengalaman.

 

Fase kebahagiaan sejati

Kebahagiaan merupakan salah satu tujuan perkawinan. Perbedaan bukanlah penghalang bagi pasangan untuk meniti tujuan jangka panjang dalam perkawinan dan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi ada juga keluarga yang menjalani hidup rumah tangga apa adanya, artinya tidak menetapkan kebahagiaan sebagai tujuan rumahtangga.

Pasangan ini melihat rumah tangga sebagai amanah, sehingga dijalaninya apa adanya, Karena itu keluarga yang demikian ini tidak memuat aturan-aturan yang ketat dalam rumahtangga. Apabila kebahagiaan gagal dicapai, anak seringkali dijadikan sebagai alasan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Walau terjadi perceraian, anak seringkali dijadikan tujuan, karena menurutnya anak adalah masa depan yang harus dijaga.

Nah, berdasarkan hasil penelitian itu, coba periksa pernikahan Anda. Sampai pada fase apa pernikahan Anda?

 

Purnawan Kristanto

Catatan: Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis.

Laman asli tulisan ini lihat di: http://renungan.purnawan.web.id/?p=632

Penulis adalah writer | trainer | humanitarian volunteer | video & photo hobyist | jazz & classic lover | husband of priest | father of two daughters |

0
0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest