Nyala Api di Semak Duri

Renunganku dipagi ini.

Suatu fenomena yang sangat menarik. Suatu nyala api yang keluar dari semak duri, tetapi semak duri itu tidak dimakan api. Saya coba merenungkannya dan menuliskannya pagi ini.

“Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.” Kel 3:2

Api itu merupakan cara Malaikat TUHAN menampakkan diri-Nya. Mengapa Ia memilih cara penampakan seperti itu? Apa arti dari penampakan itu?

Hal umum yang kita ketahui api butuh sesuatu yang membuatnya menyala, semak duri salah satunya. Tapi api ini tak butuh topangan dari apapun didunia ini untuk membuatnya menyala.

Api ini memiliki kemampuan self sufficient, artinya mampu menghidupi dirinya sendiri dengan kuasa dan kekuatannya sendiri. Allah tidak membutuhkan apa-apa dari dunia ini untuk keberadaan-Nya. Allah adalah Allah yang self-sufficient.

Kedua, pada umumnya api dengan mudah dan otomatis menjilat habis semak duri. Tak ada semak duri yang antiapi atau tahan api. Apa yang membuat semak duri itu tidak termakan api? Jelas sekali hal itu bukan karena kekuatan si semak duri menahan api, melainkan kekuatan api itu sendiri yang menahan diri untuk tidak membakarnya habis. Dalam kitab Nabi Yeremia, murka Allah dilukiskan seperti api yang mengamuk.

“Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!” Yer. 4:4.

Mengapa api itu menyala ditengah semak duri? Kita tahu semak duri keluar dari bumi sebagai akibat kutukan atas dosa Adam dan Hawa.

“Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;” Kej 3:17,18.

Penampakan itu menyiratkan bahwa Allah sedang menahan murka-Nya atas perbuatan manusia yang berdosa. Penampakan-Nya kepada Musa bukan dalam rangka untuk menghukum, melainkan menyelamatkan. Allah sedang hendak menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di Mesir.

Di era Perjanjian Baru, Allah menampakkan diri-Nya melalui kedatangan Anak TunggalNya Yesus Kristus, dalam rangka menyelamatkan umat-Nya.

0
0 Likes

Daltur Rendakasiang

Alumnus FMIPA UI dan SAAT Malang | Pendeta Gereja Lutheran Indonesia Immanuel, Newington, New Hampshire, USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest