Minoritas dan Toleransi

Aku Kristen. Minoritas di negeri ini. Dulu, ini tidak jadi masalah. Sekarang, kok sangat bermasalah ya?

Entah karena dulu aku bersekolah di sekolah Katolik sejak SD hingga SMA, atau karena belum ada media sosial. Entahlah.

Yang aku rasakan adalah rasa senang memiliki banyak teman dari berbagai agama. Teman sekolahku hanya sedikit yang non Kristen dan Katolik. Hanya segelintir yang beragama Budha, Hindu dan Muslim.

Sementara itu, tetangga rumahku kebanyakan muslim. Setiap lebaran, ibuku tidak perlu memasak. Kami selalu mendapat kiriman makanan dari tetangga kiri, kanan, depan, belakang bahkan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

Lumayan. Bisa bertahan 3 hari. Sebenarnya bisa bertahan seminggu sih, kalau saja adikku yang nomor 5 tidak rakus.

Setiap Tahun Baru–aku tinggal di Medan, biasanya kami menerima tamu setiap Tahun Baru, bukan pada saat Natal–ibuku bingung. Kami harus mengirimkan makanan ke banyak tetangga yang telah mengirimkan kami makanan pada saat Lebaran.

Lumayan banyak. Tapi kata ibu, itu tidak menjadi soal, karena kita harus saling memberi. Sensasi mengirimkan itu yang sungguh aku rasakan. Tanpa pamrih. Tanpa curiga.

Sering juga terjadi, aku, kakak, dan adikku mengajak tetanggaku yang muslim untuk ikut ke gereja kalau ada perayaan Natal sekolah minggu. Nanti dapat bingkisan, kataku saat itu membujuknya. Jadilah kami beramai-ramai ke perayaan Natal. Senang sekali.

Menjadi minoritas semakin terasa ketika aku kuliah dan memasuki dunia kerja. Aku ikut dalam Persekutuan Mahasiswa di fakultasku. Biasanya kami mendapatkan sebuah aula berukuran sedang untuk beribadah.

Namun, pernah suatu kali, ada perintah dari Dekan bahwa banyak mahasiswa yang keberatan kalau kami melakukan ibadah di aula tersebut. Alasannya, kami tidak membersihkan aula setelah memakainya.

Tentu saja ini mengejutkan. Kami sangat tahu diri. Kami sudah dipinjamkan ruangan untuk beribadah, maka pasti setelah selesai beribadah, kami membersihkannya, bahkan lebih bersih dari sebelum kami memakainya.

Tapi kami menurut saja. Tidak perlu berbantah-bantahan. Kami beribadah di halaman kampus.

Hal ini berlangsung tidak lama. Hingga akhirnya kami boleh memakai sebuah bangunan terpisah tidak terlalu jauh dari fakultas. Tempat itu terbuka. Kurang terawat. Sebelum beribadah, kami harus membersihkannya.

Sementara teman-temanku yang muslim mendapatkan sebuah mushola bagus di halaman fakultas. Dilarang iri. Sudah sangat sering aku mengajari diriku untuk tidak boleh iri. Aku terbentuk menjadi orang yang sangat bertoleransi, tidak perlu berdebat kalau tidak diperlukan.

Memasuki dunia kerja semakin terang benderang. Aku bahkan pernah menjadi satu-satunya perempuan nonmuslim di antara 7 pria nonmuslim lainnya. Jumlah karyawan sekitar 170-an.

Untungnya aku sudah terlatih ketika di kampus. Bertoleransi, menghargai perbedaan, mengalahkan ego, menjadi makananku sehari-hari.

Akhirnya memang, mereka sangat menghargai keberadaanku. Sendirian menjadi nonmuslim dalam satu divisi yang berjumlah 30 orang tidak membuatku menangis. Aku bahagia. Inilah kesempatanku menunjukkan warna seorang pengikut Kristus.

 

Luciana Siahaan

Penulis adalah Ketua Dewan Teruna Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)

Foto: Pixabay.com

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This