Merayakan Natal Jangan Parsial

Natal baru akan diperingati pada 25 Desember, tapi suasananya sudah terasa sejak akhir November ini di mana-mana.

Dan suasana Natal yang khas dan itu-itu saja saban tahun adalah suasana gembira mengarah hura-hura, pesta, hadiah, baju baru, pohon terang, Santa Claus, lagu-lagu Natal dan sebagainya.

Dari kecil juga saya larut dalam suasana seperti itu kok. Saya senang sekali kalau Natal tiba. Banyak kue, baju baru, pohon terang, orang-orang saling berkunjung, lagu Natal, acara-acara gerejawi, maupun natalan di komunitas.

Tapi di mana Yesusnya? Kalaupun membicarakan Yesus, cukup berhenti pada Yesus sebagai bayi saja.

Sudah lama saya menyadari bahwa jarang sekali yang memaketkan Natal dengan Paskah. Kotbah Bang Alex Nanlohy di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, pada Jumat pekan lalu, kembali menyegarkan kesadaran itu.

Bisa jadi karena jaraknya di kalender yang berjauhan juga. Atau, jangan-jangan kita ini memang cenderung ingin senang-senangnya saja dan itu dimanfaatkan dunia.

Apa hubungannya Natal dan Paskah? Iyalah ada hubungannya. Natal ada hubungannya dengan DOSA. Yesus lahir hanya untuk kemudian menuju bukit Golgota untuk menebus DOSA kita.

“Hadiah Natal sejati bukanlah yang bertumpuk di bawah pohon (terang), tapi yang tergantung di kayu salib,” kata Bang Alex.

Syair lagu berikut ini mungkin menarik untuk direnungkan:

Waktu kecil kita merindukan Natal
Hadiah yang indah dan menawan
Namun tak menyadari seorang bayi tlah lahir
Bawa keselamatan ‘tuk manusia

Waktu pun berlalu dan kita pun tahu
Anugerah yang ajaib dari Bapa
yang relakan AnakNya disiksa dan disalibkan
di bukit Kalvari kar’na kasih

Karena kita Dia menderita
Karena kita Dia disalibkan
Agar dunia yang hilang diselamatkan
Dari hukuman kekal

***

Tak apa kalau saat kecil kita tumbuh dengan pemahaman yang keliru. Belum terlambat untuk memiliki kesadaran yang baru.

Yes! Memikirkan Natal sekaligus harus memikirkan karya Tuhan sebagai satu kesatuan yang utuh. Jangan sepotong-potong. Jangan hanya mau senang-senangnya, tapi tak mau merasakan sakitNya.

Merasakan sakitNya pun bukanlah akhir (jangan kau kuatir itu). Ada kebangkitan dari kematian, yang mendatangkan pengharapan dan sukacita yang sejati.

Lalu dari kebangkitan, ada kenaikan ke surga yang memberikan kepastian akan tempat kita di sana. Dari kebangkitan, ada karya Roh Kudus yang mendampingi orang percaya sampai Yesus datang kembali kedua kali.

Beriman Kristen tak bisa parsial. Sebab yang parsial itu berbahaya.

Berpotensi dimanfaatkan industri untuk meraup keuntungan ekonomis dari kecenderungan kita menyukai hura-hura. Berpotensi melumpuhkan iman, kalau hanya berhenti pada penderitaan belaka.

===

Foto: Pixabay/Devanat

0 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This