Mental Oleh-oleh Sama dengan Mental Koruptor?

Suka minta-minta oleh-oleh itu sebenarnya baik nggak, sih?

Ada seorang teman, sering sekali dapat oleh-oleh. Dari Amerika, dari Jepang, Eropa, bahkan cuma dari luar kota. Terkadang oleh-olehnya barang-barang bermerk dari luar negeri. Bagus-bagus, unik, lucu dan keren. Kadang iri juga melihatnya. Senangnya bisa seperti dia.

Selidik punya selidik, dia memang punya banyak teman. Temannya yang banyak itu ada di mana-mana dan sering ke mana-mana. Tapi bukan karena banyak teman itu dia sering dapat oleh-oleh. Melainkan karena dia juga suka memberi oleh-oleh.

Rupanya teman ini punya prinsip. Saya suka prinsipnya: Saya tak mau minta oleh-oleh jika saya nggak mau balas memberi oleh-oleh.

Memang, teman ini rajin sekali membawa oleh-oleh dari manapun dia pergi. Dan seringnya membawa makanan. Bahkan hanya pergi ke Bandung pun, selalu banyak cemilan yang akan dia bawa. Dia suka memberi oleh-oleh, tapi iklas memberi oleh-oleh pada mereka yang meminta walau nggak pernah balas bawain oleh-oleh.

Sementara itu, saya juga punya kenalan (bukan teman dekat), yang sangat rajin menodong oleh-oleh. Sendirinya, kalau pergi-pergi, tak pernah bawa apapun. Selalu ngeles kalau ditagih.

Dari yang dua itu, tipe seperti yang manakah kita?

Oleh-oleh itu apa sih sebenarnya? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oleh-oleh adalah sesuatu yang dibawa dari bepergian, bertujuan untuk dikenang. Jadi pada dasarnya, oleh-oleh itu lebih bersifat psikologis daripada konsumeristik.

Dalam bahasa Jepang, oleh-oleh disebut omiyage. Budaya di Jepang, membawa omiyage dari perjalanan untuk kolega dan keluarga adalah kewajiban moral, yang bermakna sebagai ungkapan maaf untuk ketidakhadiran selama pergi melancong. Tak main-main, omiyage menjadi sebuah bisnis besar di Jepang. Jadi bagi orang Jepang, oleh-oleh itu wajib. Tak perlu ditagih, pasti diberikan. Jadi, wisatawan membeli souvenir sebagai hadiah bagi mereka yang tidak melakukan perjalanan. Ini adalah inisiatif pribadi. Bukan tekanan dari luar. Lebih ke prakarsa dari diri sendiri. Sehingga, akan malu jika pihak lain yang memintanya.

Terdengar remeh, tapi mencari oleh-oleh itu kadang merepotkan, seperti mencari kado. Misalnya, mau beli kerupuk udang, eh dia alergi nggak ya? Beli gelang, eh dia nggak suka pakai gelang kali ya? Beli baju, ukurannya apa ya, suka warnanya atau modelnya nggak, ya? Banyak pertimbangan yang bisa jadi bikin pusing. Belum lagi harganya, terus ukuran dan beratnya, lalu ribet bawa bagasi, belum kalau nanti tidak bisa lewat imigrasi.

Seorang sahabat pernah mengeluh. Tidak bisakah orang meminta oleh-oleh cerita atau kisah serunya saja, untuk menambah wawasan dan pengalaman, melihat foto dan mengenal budaya baru? Mengapa harus meminta oleh-oleh barang yang merepotkan orang lain? Kecuali jika menitip oleh-oleh yang memang urgen dan hanya ada di sana dan tak lupa menitipkan uang untuk membelikan, itu masih bisa diterima. Jangan sampai oleh-oleh membuat kita jadi tak bisa menikmati perjalanan kita.

Seorang rekan kerja pernah berkata: Mental orang yang suka meminta oleh-oleh sama dengan mental gratisan, dan sama dengan mental koruptor. Agak tajam memang bahasa kalimat ini. Tapi mungkin saja itu benar.

Oleh-oleh itu kan, nggak ada yang gratis. Meminta oleh-oleh sama saja kita meminta orang lain mengeluarkan biaya untuk kita tanpa alasan khusus. Itu sama saja memeras orang lain. Setuju, nggak?

Mungkin lain kali, sebelum kita menodong orang dengan meminta oleh-oleh, baiknya kita berpikir, seperti prinsip teman saya tadi: Apakah saya juga mau membawa oleh-oleh untuk orang lain? 🙂

1 Like

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This