Mengapa Tertipu Ajaran Sesat?

Lebih dari sepuluh tahun lalu saya ditelepon oleh sahabat istri saya, yang juga jadi sahabat saya tentunya, untuk mengajak saya bergabung dengan dia di Pondok Nabi di Bandung bersama kelompok pimpinan M. Sibuea.
Dia mengatakan bahwa kiamat akan terjadi pada 10 November. Spontan saya jawab; “Lho? Yang saya tahu 10 November itu hari Pahlawan,” karena saya kira dia bercanda. Eeehhh ternyata serius. Dan ironisnya lagi dia sudah tinggal di situ bersama suami dan anak-anaknya. Rumah dan mobilnya sudah dijual, anak-anak keluar dari sekolah dan mereka pindah ke Pondok Nabi untuk menyambut hari kiamat itu.
Waduh… Saya dan istri sungguh kaget luar biasa. Mereka adalah sahabat sekaligus pernah bertetangga dengan istri saya. Penolakan saya membuat dia tak menelepon lagi. Saya coba dialog tapi tak direspon. Ternyata tidak sedikit mereka yang terseret oleh pengajaran M. Sibuea. Kisah akhir dari kelompok ini bisa kita lihat di google. Hal semacam ini juga pernah terjadi di Amerika.
Betapa mudah orang tertipu ajaran sesat dan tidak sehat. Dan selalu ada penyesat yang PAKAI ayat-ayat Kitab Suci, dan selalu ada pula pengikutnya yang tersesat dalam kemurnian dan kepolosannya, dan berani berkorban pula, baik harta bahkan nyawa.
Kepiawaian penyesat dan keluguan pengikut seperti api ketemu bensin. Nyamber dan membakar. Faktor utama terjadinya hal ini saya pikir bertolak dari pemberhalaan kitab suci. Kitab suci dan pengajarnya disetarakan dengan Tuhan. Mengapa?
Jika seseorang tidak menemukan Tuhan yang sesungguhnya, maka dia akan mempertuhankan sesuatu.
Betapa pentingnya kita waspada senantiasa sebagaimana nasehat Rasul Petrus kepada orang Kristen di perantauan. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru selamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2Pet. 3:17-18.
Alternatif dari pertumbuhan adalah kemunduran. Jika kita tidak lagi bertumbuh berarti berada dalam situasi kemunduran.
Apa yang dapat membuat kita bertumbuh? Tidak lain adalah firman Tuhan.
Paulus berpesan kepada Timotius, “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2Tim 3: 14-17.
 Foto: Pixabay

 

0 Likes

Daltur Rendakasiang

Alumnus FMIPA UI dan SAAT Malang | Pendeta Gereja Lutheran Indonesia Immanuel, Newington, New Hampshire, USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This