Mengapa Kristiani tak Lagi Berdebat

Perdebatan mengenai teologi Kristen/Katolik telah lama selesai, meskipun masih bermunculan aliran atau sekte yang membawa semangat “pemurnian,” antara lain melalui kehadiran gereja-gereja yang disebut injili, kharismatik, yang di wilayah-wilayah persebaran seperti Indonesia, kadang menimbulkan friksi dengan jemaat dari denominasi gereja-gereja yang sudah lama mapan dan berorganisasi di bawah PGI (Protestan) atau KWI (Katolik).

Namun, tak sampai menimbulkan ketegangan atau segragasi yang tajam di antara sesama jemaat, sebab selain (mungkin) faktor minoritas hingga spektrum atau magnitudenya tak terasa, teologia Kristen/Katolik agaknya telah final dan tak lagi membutuhkan tafsir dan pembuatan kanonik baru; telah mapan, selesai, tinggal bagaimana menginternalisasi dan mengimplementasikan.

Tantangan gereja di abad kini, lebih menyangkut kegamangan menghadapi perubahan zaman dan sosial, juga menjawab isu-isu global yang harus diakui, kadang membuat gereja gagap menjawab, misalnya, kloning manusia, pengakuan LGBT, menguatnya kecenderungan sekularisasi dan free thinker yang memuja akal, logika, nalar, menuntut empirisme dan menganggap irasionalisme sebagai suatu sikap kebodohan.

Pula menghadapi gelombang ideologi yang membenarkan penumpukan modal dan kecenderungan warga dunia menganggap kapitalisme sebagai “tuhan” baru yang lebih menyenangkan dan powerful. Menghadapi manusia kini yang lebih suka memburu kekuasaan di bidang finansial dan industri dan dengan memiliki kemampuan finansial yang kuat merasa yakin akan bisa memenuhi kubutuhan maupun kesenangan–yang biasa disindir sebagai hedonisme.

Menyikapi pertumbuhan ideologi kemakmuran berikut implikasinya dan menjadi idaman manusia-manusia post modernisme yang menginginkan kemakmuran di dunia sekaligus keselamatan surgawi dan ditampung beberapa gereja dengan cerdik, merupakan tantangan sekaligus kegelisahan gereja-gereja konservatif yang di Indonesia berhimpun dalam PGI atau KWI. Juga masih ragu atau gamang menghadapi desakan konvensi-konvensi global yang semakin memberi kebebasan bagi individu dan sulit membantah pencapaian sains-teknologi, serta pertumbuhan free thinker dan pendukung hak-hak LGBT.

Artinya, mengenai aliran teologis, agaknya bukan lagi persoalan signifikan bagi gereja-gereja dan pengikut atau jemaat. Pengakuan atas kebebasan individu mengikuti atau meyakini yang dirasa paling cocok telah tertanam dan menjadi sikap masing-masing jemaat, bukan lagi isu penting.

Hasilnya, perbedaan atau ketidaksamaan aliran, tak lagi menimbulkan friksi atau ketegangan dengan yang tidak sama aliran akibat saling klaim kebenaran masing-masing, yang dampaknya menciptakan segragasi atau pemisahan sosial–walau ada pengikut gereja non PGI atau KWI, misalnya, begitu tegas menolak yang mereka yakini sinkretisme.

Itu pula yang mengakibatkan gereja tak mudah bila berkeinginan membentuk atau menggerakkan sikap politik dengan mempengaruhi jemaat. Peran rohaniawan (pastor, pendeta, uskup, ephorus, bishop) lebih diposisikan atau diperlakukan oleh jemaat sebagai pemimpin organisasi gereja, bukan tokoh sentral atau jadi acuan utama dalam menjalankan keyakinan. Diakui sebagai rohaniawan namun tidak sebagai penentu utama dalam membangun konstruksi iman dan rambu-rambu menyangkut keyakinan.

Dengan kondisi seperti itu, gereja (khususnya di bawah PGI dan KWI) sulit membentuk sikap politik jemaat, dan memang sebaiknya tidak perlu. Gereja lebih berfungsi sebagai rumah doa yang memfasilitasi peribadatan dan penampung kegelisahan jemaat; rohaniawan-rohaniawan yang bergiat di dalamnya berperan sebagai guru atau pembimbing urusan spiritual-kerohanian, pemimpin ritual keagamaan, bukan pekerja lembaga/organisasi gereja yang mencampuri urusan administrasi, materi-aset-uang, hingga sikap politik jemaat.

Itu menurut pandangan saya, barangkali saja tidak betul seluruhnya. ***

* Untuk mereka yg sering menanyakan dan meminta pandangan saya.

* Bila tertarik memberi tanggapan/komen, hendaknya kontekstual dan tidak mengarah ke sindirian pada siapapun.

0
0 Likes

Suhunan Situmorang

corporate law's speaker | legal counsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest