Mengampuni yang Tak Terampuni

Entah sejak kapan selalu suka dan tertarik untuk membaca tentang Afrika terlebih dengan alam dan kehidupannya. Tiga tahun lalu saat menemukan buku ini di salah satu toko buku langganan, semakin membuka mata hati untuk terus belajar menghargai sekitar.

Belajar tentang kasih akan sesama dan kasih dari atas yang tak pernah habis serta mencoba memahami jalanNya. Membaca buku ini dari awal hingga akhir akan membawa jiwa kita menyelami makna hidup, keindahan kasih dan pengampunan.

Felicien terisak, aku merasakan rasa malunya. Dia melihatku sesaat, mata kami bertemu. Aku mendekatinya, menyentuh tangannya dengan lembut, dan dengan tenang kukatakan apa yang ingin kukatakan.

“Aku mengampunimu“

Kurang lebih 1 juta manusia tak berdosa dari suku Tutsi dan Hutu moderat tewas dalam pembantaian etnis di Rwanda selama 100 hari yg dikenal dengan Rwanda genocide 17 tahun silam. Berawal dari terbunuhnya Presiden Juvenal Habyarimana seorang Hutu yang tengah giat menggalang rekonsiliasi antara Hutu yang mayoritas dengan Tutsi yang minoritas.

Secara fisik dua etnis itu sebenarnya memiliki segunung kesamaan, hanya dibedakan oleh bentuk hidung dan postur tubuh; kaum Hutu memiliki hidung lebih pesek dan lebih pendek sedang Tutsi sebaliknya. Habyarimana bersama Presiden Burundi Cyprien Ntarymira menjadi korban ditembak dalam pesawat yang ditumpangi pada 6 April 1994.

Disinyalir, peristiwa penembakan keji itu dilakukan sebagai aksi protes kelompok militan terhadap misi presiden Habyarimana untuk mewujudkan persatuan etnis di Rwanda. Kelompok militan atau interahamwe (mereka yang bersama bergerak menyerang) memandang manusia sebagai kecoak dan ular yang ditakdirkan untuk dibasmi, karena tak layak hidup berdampingan dengan mereka yang sebelumnya adalah tetangga, sahabat bahkan keluarganya sendiri.

Kisah pembantaian Rwanda dapat disaksikan lewat film Sometimes In April atau Hotel Rwanda, beberapa buku juga telah dituliskan oleh saksi hidup dari peristiwa tersebut. Ketika berada di pihak korban, apa yang akan anda lakukan saat mendapat kesempatan bertemu muka dengan seorang pimpinan pemberontak, pembunuh kejam yg telah menganiaya dan menghabisi nyawa keluarga anda, ibu dan saudaramu? Mencaci maki, menyiksa atau membunuhnya?

Left To Tell, Mengampuni Yang Tak Terampuni adalah sebuah catatan perjuangan hidup Immaculée Ilibagiza yg selamat dari kejaran Interahamwe dengan bersembunyi selama 91 hari di dalam kamar mandi kecil terhimpit bersama 7 wanita sebangsanya di rumah seorang Hutu, Pendeta Murinzi.

Suatu perjuangan bathin untuk melawan amarah terhadap para pembunuh yang tak lain adalah sahabat, keluarga dan tetangga. Orang-orang yang selama ini berhubungan baik dengan keluarganya tiba-tiba berbalik 180 derajat menjadi bejat dan brutal menghabisi nyawa orang-orang yang dikasihinya.

Perjuangan meredam dendam digantikan dengan uluran kasih kepada si pembunuh yang seharusnya digampar atas kejahatannya, perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan, perjuangan pemulihan hati, mempertahankan iman disaat semua yg dikasihi direnggut secara tidak berperikemanusiaan dan tetap berharap pada satu nama yang punya Kasih dan Kuasa dalam hidup.

“Apa artinya semua itu, Immaculee? Orang itulah yang membunuh keluargamu. Aku membawanya kepadamu untuk ditanyai, jika kamu mau. Tetapi kamu mengampuninya! Bagaimana kamu bisa melakukannya? Mengapa kamu mengampuninya?”

Aku menjawabnya dengan kebenaran “Pengampunan adalah semua yang harus kuserahkan.”

Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman,pengharapan dan kasih, dan yg paling besar diantaranya ialah kasih (1 Kor 13:13)

Ketika kemanusiaan dilukai oleh perseteruan karena berselisih paham, pemikiran, prinsip, etnis dan apa pun itu; hanya satu yang bisa merekatkannya KASIH. Cinta dan Kasih yang tulus dari hati akan membuat cara pandang dan dunia berbeda.

Suatu hari nanti, ketika pundi-pundi terpenuhi dan restu dari atas mengalir,  maka aku kan bertualang ke sini, sendiri atau berdua atau beramai-ramai hayuk waelaaaaah.

Salam kasih, cinta dan damai buat semuanya? [oli3ve].

 

Olive Bendon

Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis. Laman asli tulisan ini lihat di:

Penulis adalah Travel Blogger | Old Grave Lover |  Citizen Journalism | Volunteer for The War Graves Photographic Project

Foto: obendon.com

1 Like

Olive Bendon

Travel Blogger | Old Grave Lover | Citizen Journalism | Volunteer for The War Graves Photographic Project

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This