Mencari Pekerjaan yang Ideal?

Anda pernah berganti pekerjaan?

Saya sudah tiga kali. Yang sekarang adalah pekerjaan saya yang keempat. Ada beberapa alasan mengapa saya pindah kerja.

Pekerjaan pertama saya di maskapai penerbangan Jepang adalah yang paling berkesan. Pahit dan manis bercampur-aduk di sana. Yang paling tak terlupakan adalah satu hal. Bayangkanlah, gara-gara saya masih karyawan baru dalam masa training, saya salah memprogram reservasi hingga keberangkatan pesawat nyaris delay dan perusahaan rugi biaya satu seat penumpang seharga ribuan dollar.

Saya berhenti bukan karena itu, tapi karena maskapai itu berhenti beroperasi di Indonesia waktu itu. Sesungguhnya saya senang bekerja di sana, walau pernah punya atasan ekspatriat yang kalau emosi suka membanting meja… (ngeri!)

Sebagai pekerjaan pertama, saya belajar sangat banyak di sana. Pekerjaan itu nyaris sempurna untuk saya. Nilai minus pekerjaan itu buat saya hanya satu: lokasinya bukan di Jakarta, tapi jauh di Bali.

Tempat saya kerja yang kedua adalah maskapai penerbangan asing lainnya. Sebenarnya ini adalah pekerjaan impian saya sejak kuliah. Bisa kerja di perusahaan itu adalah dream came true. Tapi ternyata keadaannya tidak seperti yang saya kira. Saya tidak betah bekerja di sana. Lingkungan pekerjaannya tidak kondusif. Saya hanya dua tahun di sana sementara teman-teman yang tidak tahu keadaan yang sebenarnya, masih menyayangkan karena saya meninggalkan perusahaan itu. Saya ambil hikmah, rupanya tidak semua impian kita seindah yang kita harapkan.

Pada pekerjaan saya yang ketiga, saya betah tujuh tahun. Yang paling berkesan dari perusahaan itu adalah suasana persahabatan sesama rekan kerja dan rasa kekeluargaan dengan atasan yang ekspatriat. Gajinya kecil (hahaha) dan jenjang karir lambat sekali tapi karyawan betah di sana. Pada akhirnya saya (dan yang lain) keluar juga karena kemudian ada perubahan yang merusak kenyamanan itu, sehingga saya putuskan tak ada lagi yang bisa saya pertahankan di sana.

Tempat kerja saya berikutnya, hampir sama, suasana persahabatan dengan rekan kerja terasa enak, walau gaji dan karir tak menjanjikan (hehehe). Bagi saya, yang membedakan pekerjaan ini dari semua pekerjaan sebelumnya adalah bidang pekerjaannya!

Kali ini saya merasa klik sekali dengan bidang pekerjaan ini. Saya suka dan merasa passion saya memang di bidang itu. Baru kali ini saya merasa secocok ini dengan bidang pekerjaan saya, setelah empat kali pindah kerja.

Ada juga faktor-faktor lain yang tidak kondusif di lingkungan pekerjaan ini, tapi karena saya menikmati sekali bidang pekerjaan saya, saya berusaha untuk tidak mau terdistraksi. Saking excited, saya bahkan pernah mengalami keanehan, yaitu rasa ketidaksabaran hari segera berganti pagi karena ingin segera ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, dan saya segera mulai bekerja dari pagi walau itu belum mulai jam kerja, dan tak peduli walaupun lembur tidak dibayar di malam harinya.

Lalu saya simpulkan, memang benar kata orang, lakukanlah apa yang kita sukai. Do what you love. Kalau tak dapat pekerjaan yang kita sukai, love what you do. Itulah kunci kebahagiaan dalam dunia kerja. Saya baru sadar bahwa apa yang terjadi di pekerjaan saya yang kedua dan ketiga adalah sikap love what you do, sedangkan pekerjaan pertama dan yang sekarang, adalah passion.

Juga saya setuju dengan kata orang, bahwa melakukan apa yang kita sukai itu terasa menyenangkan, tak perlu dipaksa, kita menikmati dan bisa lupa waktu, layaknya kita mengerjakan hobi.

Sejauh ini, bagi saya, pekerjaan ini adalah yang paling ideal dari semua pekerjaan yang pernah saya lakoni. Dan setelah bekerja hampir delapan belas tahun, saya mengambil kesimpulan sendiri (anda boleh tidak setuju, hehehe…) sebagai berikut:

Jika anda mencari pekerjaan yang ideal atau sempurna, lupakan. Tak akan pernah ada. (Mungkin ada sih, tapi itu mungkin satu di antara seribu.)

Pernah saya dan teman membuat list faktor-faktor bahan pertimbangan, karena bingung apakah ingin tetap di situ atau pergi mencari pekerjaan baru. Seperti ini:

1. Gaji/karir
2. Suasana lingkungan kerja/interpersonal relation
3. Bidang pekerjaan/passion

Teman saya itu pindah kerja ke sebuah grup perusahaan terbesar Jepang. Baru masuk seminggu dia sudah stress. Nomor 1 ada di sana tapi nomor 2 tidak ada dan nomor 3 agak minim. Gaji besar, jabatan tinggi, tapi katanya, semua orang seolah saling menjatuhkan, menghasut dan menjerumuskan. Pekerjaannya pun sangat menekan bathin.

Lalu seorang teman lain, juga baru pindah kerja ke tempat lain. Dia memiliki nomor 1 dan 2, gaji besar dan rekan kerja yang kooperatif, tapi dia tidak menikmati pekerjaan itu. Aslinya, dia adalah tipe pekerja belakang meja, tapi pekerjaan yang ini mengharuskannya sering terjun ke lapangan. Dan itu membuatnya tidak bahagia.

Dalam sebuah reuni, kami membahas tentang pekerjaan kami masing-masing dan akhirnya kami menyimpulkan bahwa tak ada pekerjaan yang ideal. Kita hanya harus memilih prioritas, memilih yang paling bisa kita tolerir, dari semua faktor di atas.

Saya sendiri lebih tak bisa menolerir bekerja pada bidang yang tidak saya sukai, sehingga pada kondisi terburuk, saya akan lebih memilih pekerjaan yang tidak dapat nomor 1-nya. Prioritas saya adalah menikmati hidup melalui pekerjaan. Materi dan jabatan bisa menyusul. Yang terpenting adalah kita melakukan tugas kita seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Seperti tertulis di Amsal 10:16; Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa.

Juga seperti di Amsal 10:22: Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Bagaimana dengan anda?
Masih penasaran ingin mencoba mencari pekerjaan yang ideal?
🙂

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

2 thoughts on “Mencari Pekerjaan yang Ideal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest