Masih Seperti yang Dulu

Reuni. Sebuah kata yang bagai mesin waktu, yang bisa menerbangkan kita dengan instan ke masa lalu.

Orang-orang seolah tak pernah bosan reuni. Padahal apa yang kita kenang di masa lalu mungkin sudah tidak relevan.  Mungkin karena banyak hal konyol yang bisa dikenang kembali. Dalam sebuah reuni terkadang ada momen kejujuran. Yaitu momen di mana sesuatu yang dulu dirahasiakan sekarang diungkap (seperti tax amnesty dong, hehe). Saya sungguh tidak menyangka ketika seorang teman rupanya masih menyimpan rasa kesal sama seorang teman lain, hanya karena dulu tidak ikut ditraktir makan. Lalu ada juga yang masih musuhan padahal sudah lupa dulu akar masalahnya apa.

Lalu, “Astaga, kamu nggak berubah ya!” kata seorang teman, A, kepada teman lainnya, B. Menurut A, si B masih galak dan berjiwa provokator. Dan si C, katanya, masih sama, kalem dan sensitif. Dan tentang saya, katanya terlihat banyak berubah, sekarang lebih tenang dan bijak (hahaha), mungkin karena tuntutan karir, ya, tambahnya. Kami hanya tertawa-tawa. Mungkin di memorinya masih tertinggal kenangan dulu ketika remaja kami enggak bisa diam, di mana-mana mengobrol dan ngakak-ngakak. Lalu pada saya dia berbisik: “Si D kok masih sama aja kayak dulu ya, egois, pelit, perhitungan, sirikan, nggak mau kalah, banyak membual dan gengsinya tinggi.”

Pada akhirnya acara reunian itu memang jadi momen yang membuat kami menertawakan masa lalu, sambil introspeksi, membandingkan dengan diri kami yang sekarang, dan pulang dengan pertanyaan, apa iya saya belum berubah? Atau, apa iya saya sudah berubah? Apakah saya masih sama saja seperti dulu (seperti lagu lawas milik Dian Pisesha yang sering diputar kakak saya di masa saya kecil)?

Aku masih seperti yang dulu?

Saya kagum pada seorang teman, si Q, yang rajin mengevaluasi dirinya. Dia penganut ajaran orang bijak yang mengatakan: Jangan bandingkan diri anda dengan orang lain, tapi bandingkanlah dengan diri anda sendiri. Dia membuat resolusi dan menjadi parameter untuk membandingkan dirinya yang sekarang dengan dirinya tahun lalu, dan seterusnya.

Dalam sharingnya, pernah dia menemukan pola pikirnya masih ada yang sama dengan pola pikir dirinya waktu remaja. Dan dia berjuang keras mengubah hal itu. Misalnya, sikap mementingkan diri sendiri, pamer atau membual untuk mendapatkan pengakuan, dan suka memberontak pada peraturan. Itu kan sikap remaja puber kita banget, masa masih sama saja sekarang? Katanya.

Sikapnya itu membuat saya berpikir, apakah tanpa kita sadari, masih samakah pola pikir kita sekarang dengan masa dulu? Seperti seseorang yang saya kenal, umur 45 tapi pola pikirnya sama saja dengan anaknya yang berumur 15 (ukuran bodi saja yang lebih besar dari anaknya).

Bicara tentang perubahan, menarik bila mengamati metamorfosis kupu-kupu. Prosesnya terjadi cukup panjang dan lama namum sederhana. Daur hidup kupu-kupu dimulai dari telur menjadi ulat  lalu menjadi kepompong. Jika telah sempurna, kupu-kupu keluar dari kepompong tersebut,dan menjadi kupu-kupu dewasa.

Fase pupa atau kepompong berlangsung dengan waktu yang bervariasi, ada yang berkisar beberapa minggu, bulan, bahkan ada yang sampai tahunan. Fase pupa merupakan fase yang amat penting karena pada fase inilah dipersiapkan perubahan yang besar. Sel-sel larva akan berubah membentuk sayap, kaki, mata, dan bagian-bagian tubuh lainnya. Pada fase ini memerlukan energi yang sangat besar, sebelum masuk fase dewasa. Pada fase dewasa ini bertanggung jawab atas kelangsungan jenisnya dan menentukan dimana individu-individu baru akan berkembang.

Jika dianalogikan dengan perubahan pada kupu-kupu, hidup kita juga dibentuk terus, diubahkan dari sifat kanak, menjadi dewasa, prosesnya lama, berkali-kali, berulang-ulang ditempa, dimurnikan, dibentuk, hingga hasil akhirnya sempurna, seindah kupu-kupu dewasa.

Seperti pada fase pupa/kepompong, mungkin sama dengan fase menuju kedewasaan bagi manusia, kedewasaan memang perlu energi besar, untuk mengendalikan diri dan memikul salib. Dan pada usia dewasa kita memikirkan untuk menjadi pribadi yang menjadi teladan bagi generasi berikutnya, bukan malah sama saja dengan pola pikir generasi yang jauh lebih muda daripada kita.

Kembali ke reuni tadi, ada satu hal yang paling saya sesalkan, yaitu seorang yang teman yang, dulu adalah orang yang sangat toleran, entah mengapa kini terlihat sangat rasis, baik dalam ucapan dan status-status di media sosial, yang sering meresahkan dan potensial mempropagandakan perselisihan dan perpecahan. Padahal kami sama-sama pernah duduk di bangku universitas terbaik di negeri ini dan juga kuliah di salah satu kampus terbaik di negara orang (dia bahkan lebih lama tinggal di luar negeri). Rupanya kita tak bisa berharap orang lain akan lebih terbuka matanya karena sudah melihat dunia luar, atau akan membuat wawasan dan pola pikirnya berubah lebih mengglobal karena sudah melihat lebih banyak keanekaragaman. Kalau begitu, lantas apa yang bisa kita harapkan dari mereka yang level pendidikannya lebih rendah dengan wawasan yang lebih sedikit? Lalu masihkah berlaku pepatah: Katak di bawah tempurung? Atau harus diganti menjadi : Katak leyeh-leyeh di atas tempurung berjemur pakai kacamata hitam?

Saya menghibur diri dengan membaca tulisan di jurnal resolusi teman si Q tadi:

Jika anda belum berubah, tidak apa-apa, belum terlambat, berubahlah sekarang juga. Hidup adalah perubahan dan pelajaran yang berkesinambungan. Long life learning. Jangan jadi orang lain. Jadilah diri sendiri, dengan versi yang lebih baik. Be you, but better. Jangan sama lagilah pola pikir kita di masa lalu dengan sekarang. Seperti metamorfosis kupu-kupu, janganlah berlama-lama menjadi kepompong yang terbungkus buruk rupa, marilah segera berubah, bertransformasi menjadi lebih cantik setiap hari.

Amin.

(Dan saya masih senyum-senyum teringat seorang teman membuat lelucon: Dalam sebuah reuni, seorang teman yang sudah keluar dari rumah sakit jiwa menyanyikan sebuah lagu, yang membuat semua orang kabur dari tempat reunian. Lagu apakah itu? :))

(Daftar pustaka/kutipan dari : http://www.kelasipa.com/2015/04/penjelasan-proses-metamorfosis-kupu-lengkap.html)

-*-

0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This