Maria: Dapatkah Seorang Lewi menjadi Ibu Mesias?

Bukanlah hal yang aneh bahwa status Yesus Kristus sebagai Mesias kerap kali dipertanyakan—suatu hal yang sudah terjadi bahkan sejak hari-hari pertama pelayanan-Nya. Sayangnya, bahkan masalah kemesiasan Yesus sendiri sering kali, baik dari segi konteks asal-usul jasmaniah-Nya maupun arti kemesiasan itu sendiri, tidak diketahui oleh banyak orang yang menyebut diri sebagai orang Kristen!

Lazimnya, dari segi silsilah keturunan, orang Kristen hanya mengenal sosok Mesias sebagai Anak Daud: mengimani serta mengamini bahwa Yesus adalah keturunan Daud, pendiri Kerajaan Israel yang baru—sebuah Israel Surgawi.

Dasarnya sederhana saja: cukup merujuk Matius 1:1–16 dan Lukas 3:23–38. Keduanya jelas menunjukkan Daud dalam daftar silsilah Yesus.

Namun, yang sering kali dipermasalahkan para penggugat iman Kristen adalah kedua silsilah tersebut berakhir pada diri Yusuf, suami Maria. Padahal, demikian argumentasi mereka, sebagaimana dikatakan oleh Perjanjian Baru sendiri, Yusuf bukanlah ayah biologis Yesus.

Karena Yesus hanya anak angkat Yusuf, maka darah Daud tidak mengalir dalam darah-Nya. Jadi, menurut logika mereka, klaim Mesias sebagai Anak Daud tidak sah dan tidak dapat diterapkan pada diri Yesus.

Gereja sebenarnya telah menjawab pertanyaan seperti ini sejak awal, dengan menegaskan bahwa Maria pun adalah seorang keturunan Daud. Namun, dari mana sumbernya? Ada sementara orang Kristen yang menjawab bahwa karena kedua daftar silsilah Yesus dalam kitab Matius dan Lukas berlainan dalam merujuk keturunan Daud.

Matius merujuk anak Daud yang bernama Salomo sebagai awal cabang silsilah Daud-Nya sedangkan Lukas merujuk nama Natan sebagai cabang silsilah Daud Yesus, maka hal itu berarti bahwa sebenarnya hanya salah satu di antara kedua pohon silsilah itu yang merupakan pohon silsilah Yusuf sementara yang lainnya menunjukkan pohon silsilah Daud dari pihak Maria.

Tradisi Gereja sendiri, yang diwakili oleh kitab apokrifa Proto-Evangelium Yakobus, memberikan sebuah penjelasan lain mengenai silsilah Daud yang dimiliki oleh Maria. Tidak seperti keempat Injil, kitab ini bahkan mencantumkan nama orangtua Maria, yaitu Yoyakhim dan Anna.

Yoyakhim disebutkan sebagai seorang Yehuda kaya keturunan Daud sementara Anna sebagai seorang Lewi. Dari sini, akar Yehuda Maria disingkapkan sementara akar Lewinya semakin ditegaskan, sesuatu yang sebelumnya disebutkan secara tersirat mengenai hubungan darah antara Maria dengan Elisabet, istri Imam Zakaria dan ibunda Yohanes Pembaptis, dalam Lukas 1 ayat 36 dan seterusnya. Demikian pula dengan akar Yehudanya.

Jadi, jelas bahwa Maria memiliki darah Yehuda sekaligus Lewi. Masalahnya, bagaimana gelar kemesiasan dapat diterapkan kepada Yesus Kristus berdasarkan garis silsilah Maria ini? Jawabannya harus dilihat dari kacamata ajaran dan adat-istiadat Yahudi, budaya di mana Yesus dilahirkan dan hidup.

Orang Yahudi memiliki pemikiran yang menarik mengenai siapa orang yang disebut sebagai Yahudi. Secara garis darah, orang Israel selalu menekankan garis patrilineal. Karena itu, dalam Alkitab, ketika merujuk garis silsilahnya, hanya kaum prialah yang disebutkan namanya. Setiap orang Yehuda tulen otomatis tidak diragukan keyahudiannya.

Namun, ketika pernikahan campuran semakin lazim terjadi di tengah bangsa Yahudi (Judah/Yehuda), sebuah kodifikasi keagamaan disusun untuk menetapkan siapa yang disebut sebagai orang Yahudi dari hasil percampuran bangsa itu.

Kitab Ezra, yang dibuat beberapa abad sebelum kelahiran Yesus, menetapkan bahwa seseorang yang berasal dari orangtua campuran otomatis dianggap sebagai seorang Yahudi apabila ibunya seorang Yahudi. Sebaliknya, apabila ibunya seorang non-Yahudi, anak-anaknya tidak otomatis dianggap sebagai keturunan Yahudi. Kecuali jika mereka memeluk agama Yahudi (Judaism/Yudaisme).

Baik orang Yehuda maupun Lewi secara agama sebenarnya sama-sama disebut Yahudi dalam konteks bahwa mereka adalah keturunan Israel yang menganut Yudaisme. Adapun Yudaisme sendiri mengikat mereka dalam kepercayaan terhadap Tanakh (Taurat, Kitab Para Nabi, dan Tulisan Suci)—disebut Perjanjian Lama oleh orang Kristen.

Sebutan orang Yahudi juga mencakup suku-suku Israel lainnya (contohnya Paulus, seorang suku Benyamin) maupun orang bukan keturunan Israel jika mereka memeluk Yudaisme, yang disimbolkan oleh kepercayaannya terhadap Tanakh.

Sebagai catatan, di masa Yesus, dan sampai zaman kini, ada pula orang keturunan Israel yang tetap setia kepada Taurat tetapi tidak mengakui kitab para nabi dan tulisan suci setelah Taurat sebagaimana yang dilakukan orang Yahudi. Mereka ini dikenal dengan nama orang Samaria.

Dari sini jelas bahwa apakah Maria bisa disebut sebagai orang Yahudi atau tidak sudah terjawab. Dari segi darah dan iman, jelas Maria adalah orang Yahudi (baik sebagai penganut Yudaisme sekaligus berdarah Yehuda, asal dari suku Raja Daud). Jadi, gelar kemesiasan untuk Yesus, baik dari segi darah maupun keagamaan, bahkan sekalipun lewat silsilah Maria, tetaplah sah menurut hukum Yahudi.

Berkaitan dengan gelar Mesias untuk Yesus dan kaitan-Nya dengan silsilah keturunan-Nya, ada suatu hal yang terlupakan oleh kebanyakan orang Kristen dan tidak banyak diketahui oleh orang non-Kristen.

Pada masa Yesus, orang Yahudi bukan hanya mengharapkan seorang Mesias, tetapi memiliki suatu pemahaman mesianisme yang berpegang pada dua oknum mesianis, yakni sosok keturunan Daud yang menjadi mesias politis (raja), yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi dan membangun sebuah kerajaan Israel yang baru. Kemudian, sosok keturunan Harun dan Lewi yang menjadi mesias keimaman/nabi, yang akan membimbing kehidupan rohani bangsa Israel.

Dengan demikian, dari segi keturunan jasmaniah saja, belum lagi pengajaran dan keberadaan-Nya, Yesus Kristus memiliki dua kualitas Mesias yang memang dinantikan oleh orang Yahudi: sebagai seorang Yehuda (dari garis ayah Maria maupun Yusuf, ayah angkat-Nya) Dia berhak atas takhta Daud dan sebagai seorang Lewi (dari garis keturunan ibunda Maria) Dia berhak atas gelar imam besar.

Triplex munus Jesu Christi. Peranan yang dijabarkan panjang-lebar dalam Surat Ibrani 7–10 ini merupakan pengakuan iman kristiani bahwa Yesus telah menjalankan ketiga tugas kemesiasan-Nya sebagaimana tuntutan Perjanjian Lama: tugas kenabian (Ulangan 18:14–22), tugas keimaman (Mazmur 110:1–4), dan tugas kerajaan (Mazmur 2).

Itulah sebabnya Perjanjian Baru, yang diimani Gereja, menyebut Yesus Kristus dengan gelar “Nabi, Raja, Imam.”

 

Nino Oktorino

Penulis adalah pemerhati sejarah

 

Foto: Pixabay

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This