Mampu Bertahan dalam Masa Sulit?

Kemarin, sepulang kantor saya menjemput anak dari tempat les bimbel ke tempat les musik. Biasanya jarak tempuh paling lama 30 menit. Tapi kemarin, saking macetnya, nyaris dua jam. Dalam lima meter saja, mobil kami nyaris 30 menit tak bergerak.

Untunglah guru les musiknya ternyata berhalangan, jadi kami tak perlu kuatir terlambat. Kami jadi bisa langsung pulang atau pergi lagi ke acara kebaktian malam di gereja.

Selama dalam kemacetan itu, mungkin karena kebosanan, anak saya yang berumur 9 tahun itu mengeluh terus.
Aku lapar, Ma. Aku haus, Ma. Aku pegal, Ma.

Saya kebetulan hanya membawa roti dan dia segera memakannya. Tapi saya lupa membawa minuman karena biasanya dia membawa sendiri dari rumah. Lalu anak saya pun cegukan. Dia marah. Lalu dia mengeluh lagi. Dia terus-terusan menyalahkan saya. Ini gara-gara Mama. Kenapa kita lewat jalan ini. Kenapa kita tidak belok kiri saja tadi. Kenapa kita tidak ke mal saja tadi makan dulu. Semua gara-gara Mama.

Saya yang sudah letih dan pegal juga, nyaris ikut kehilangan kesabaran. Dengan berusaha bercanda, saya sahuti: Memang, semua salah Mama. Ya sudahlah, mau diapakan lagi. Terimalah kenyataan.

Sebab kami tak bisa lagi putar balik. Jangankan putar balik, bergerak saja sudah mepet dengan motor-motor yang nyaris menyerempet, dan jalannya kecil. Luar biasa macetnya sore kemarin itu.

Tapi anak saya tidak bisa diam. Seperti cacing kepanasan di dalam mobil. Dia menginjak ranselnya. Dia berdiri. Dia duduk menghadap ke belakang. Dia menyender di pintu mobil. Dan beberapa kali dengan gemas memukul lengan saya.

Dalam keadaan stuck dua jam itu, ketika kita tak bisa berbuat apa-apa, segalanya terasa sangat membosankan dan menyebalkan, dan potensial membuat kita emosi.

Saya jadi sempat merenung.

Dengan melihat sikap anak saya, saya melihat refleksi. Mungkin dalam hidup kita yang kadang menyebalkan ini, kadang kita bersikap seperti anak kecil. Ketika kita dalam masalah yang tak bisa kita atasi, kita tak bisa menahan diri, tak bisa sabar, tak bisa tenang, tak bisa ambil jalan keluar dan hanya bisa menyalahkan orang lain.

Mungkin, saya pikir, seperti gurauan saya, sesekali dalam hidup ini, ketika keadaan di luar kendali kita, mungkin tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali diam dan menerima keadaan, dan berkata: Ya sudahlah, mau diapakan lagi. Terimalah kenyataan.

Inilah salah satu faktor yang membedakan anak kecil dan orang dewasa. Kemampuan mengatasi keadaan dengan tenang, bisa beradaptasi dengan keadaan, mampu bertahan dalam masa sulit, adalah bukti kedewasaan.

Jika kita masih sering mengeluh dan menyalahkan orang lain atas keadaan yang terjadi, mungkin kita perlu mengingat lagi, berapa sih sebenarnya usia kita? 9 tahun atau 45 tahun? 🙂

-*-

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest