Lebih Baik Diam atau Bicara?

Apa yang paling menggiurkan di media sosial seperti facebook, twitter, path, dll?

Yaitu, kita ‘bebas’ mengatakan (menulis) apa saja yang kita inginkan. Kadang saking bebasnya, kita menjadikan medsos seperti buku harian, menuliskan semua curhat, yang sebenarnya orang lain tak perlu tahu. Dan itu berbahaya.

Saya membuka blog lama dan menemukan bahan saat teduh ini. Saya kutip kembali, demikian:

Dorothy Nevill adalah seorang penulis Inggris yang hidup pada 1826-1913. Ia dikenal karena kepiawaiannya berbicara dan memengaruhi banyak orang pada zamannya. Suatu waktu ia pernah ditanyai tentang bagaimana seseorang dapat disebut memiliki kemampuan berbicara yang baik.

Ia menjawab,

“Seni percakapan yang benar bukan hanya mengatakan hal yang benar pada waktu yang benar, melainkan juga untuk tidak mengatakan hal yang salah dan tidak boleh dikatakan walau ada kesempatan sekalipun.”

Yakobus mengingatkan tentang pengaruh lidah yang luar biasa, bahwa anggota tubuh yang kecil ini sanggup mencetuskan perkara besar (ayat 5). Ya, tak jarang hal-hal susah dan senang, sedih dan gembira, tragedi dan komedi, justru berawal dari apa yang diucapkan lidah.

Lalu, apakah itu berarti lebih baik diam daripada berbicara? Tidak.

Yang harus kita lakukan bukan “tidak memakai” lidah-dalam arti tidak usah bicara, melainkan “memakai” lidah dengan baik, yakni berbicara untuk sesuatu yang benar pada saat yang benar. Kalau pun harus berdiam diri, berdiam diri dengan benar pula. Untuk itu, kita perlu memasang kekang pada lidah (Yakobus 1:26).

Orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah orang yang hanya akan berkata-kata kalau ia tahu betul kata-katanya itu benar, berarti, menghibur, menopang, dan menjadi berkat bagi yang mendengarnya.

Dan, memilih diam kalau ia tahu apa yang akan dikatakannya tidak jelas kebenarannya, tidak berarti apa-apa, tidak menjadi berkat; malah menyakiti, menimbulkan gosip, dan permusuhan.

TAKLUKKAN LIDAH, BUKAN DENGAN TIDAK MENGGUNAKANNYA. MELAINKAN DENGAN MENGENDALIKANNYA
(e-Renungan Harian, Rabu, 8 Desember 2010, by AYA)

Artikel saat teduh ini mengingatkan saya kembali, tentang seni berkomunikasi dan cara mengekang lidah. Dari dulu memang sudah terpikir untuk mengaplikasikannya dengan status/tulisan di medsos seperti di FB, tapi kadang masih suka kelepasan, hehehe.

Hmmm.., memang susah sekali mengendalikan organ tubuh yang satu ini.

-*-
Foto: Pixabay

3 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This