May 30, 2020

Kurang Memelas

Suatu hari beberapa perwakilan dari sebuah BUMN datang ke kantor Yayasan kami. Mereka mengutarakan rencana mereka untuk melakukan kunjungan ke asrama anak-anak dampingan kami. Yang akan datang berkunjung adalah paguyuban pensiunan BUMN tersebut. Kami tentu saja menyambut rencana itu dengan gembira. Dengan antusias kami menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh Yayasan kami, dan kemudian membawa mereka melihat-lihat kondisi kantor dan asrama, serta bertemu dengan anak-anak
yang kebetulan baru kembali dari sekolah

Setelah berkeliling dan bercakap-cakap dengan beberapa relawan dan beberapa anak yang tinggal di asrama, mereka pun meminta diri. “Kami akan hubungi lagi ya, mas,” ujar seorang wanita yang kelihatannya adalah pemimpin perwakilan itu. “Nanti kami akan memutuskan apakah kami jadi berkunjung atau tidak,” demikian ujarnya dan mereka pun pergi.

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar dari teman-teman di kantor bahwa rombongan paguyuban pensiunan BUMN tersebut tidak jadi berkunjung. Mereka memutuskan untuk mencari tempat yang lain. Saya heran dan menanyakan alasannya, dan jawaban yang diberikan mengejutkan saya, “Alasannya karena anak-anak di tempat kita kurang memelas pak.”

Sejenak saya terkejut, namun kemudian kami semua tertawa terbahak-bahak. Frasa “kurang memelas” adalah penghiburan yang menyenangkan untuk memulai hari itu. Akan tetapi setelah pulang ke rumah hari itu, saya berpikir cerita ini harus direnungkan lebih mendalam, dan dibagikan di sini.

Visi Yayasan Rumah Impian Indonesia adalah transformasi anak jalanan dan anak beresiko menjadi pribadi- pribadi yang mandiri dan berdampak bagi sesama. Kami bekerja keras menjangkau anak-anak yang bekerja di jalanan, yang putus sekolah dan anak-anak yang beresiko putus sekolah, karena kami ingin semua anak dapat memiliki impian dan meraih impiannya melalui proses yang layak. Setelah menjangkau anak-anak seperti itu, kami juga mendampingi keluarga-keluarga mereka. Kami menyediakan pendampingan pola
asuh bagi keluarga-keluarga dan pendampingan belajar bagi anak-anak. Dalam proses menolong anak-anak meraih impian, kami menyediakan fasilitas pengasuhan di asrama yang kami beri nama “Hope Shelter”.

Asrama ini adalah tempat bagi anak-anak yang membutuhkan pengasuhan karena orang tua mereka tidak dapat memberikan pengasuhan yang layak bagi mereka. Anak-anak yang mengalami eksploitasi atau anak-anak yang beresiko tinggi mengalami eksploitasi, adalah anak-anak yang diterima di asrama kami. Memang “wajah memelas” tidak termasuk dalam kriteria yang kami pakai untuk menilai apakah seorang anak bisa diterima atau tidak, namun kondisi anak-anak yang diterima itu tentu saja lebih buruk daripada sekedar
“memelas”.

Di Hope Shelter, anak-anak ini akan diajak untuk menemukan impian mereka kembali. Mereka diasuh dalam suasana yang bersahabat dan penuh kasih sayang. Bukan saja para pengasuh yang bersama mereka, tetapi seluruh pengurus Yayasan terlibat, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari sebuah keluarga besar Yayasan Rumah Impian Indonesia. Oleh karena itu, akan sulit untuk menemukan wajah-wajah memelas di antara anak-anak yang tinggal di asrama. Yang akan ditemui adalah anak-anak yang ceria,
positif, dan penuh gairah mengejar impian-impiannya.

Sejak 2006 hingga sekarang, kami telah menyaksikan anak-anak yang tadinya “memelas” karena kehilangan impian, kembali bangkit mengejar dan meraih impian mereka. Ada yang kini bekerja sebagai chef, bidan, dan hotelier. Ada juga anak-anak yang sedang berjuang menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Kami menyebut mereka para pejuang impian, atau the dream troopers.

Jadi, memang Anda tidak akan menemukan wajah memelas di Yayasan kami. Akan tetapi, Anda bisa menjadi bagian dari impian kami untuk menolong anak-anak yang masih “memelas” di sudut-sudut Yogyakarta, untuk menemukan kembali impian mereka dan menjadi dream troopers. Anda bisa menyebut saya pemimpi, tapi saya percaya saya tidak sendirian. Saya berharap suatu hari Anda bergabung dengan kami, dan menjadi saksi bagi sebuah dunia impian yang menjadi kenyataan.

Sammy Ladh

Just a bastard saved by grace. Studied English literature and Theology. Founder of Yayasan Rumah Impian Indonesia and a humble servant at Shine Jogja.

View all posts by Sammy Ladh →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest