Kopi Luwak dan Kekudusan Keluarga

Kami berkunjung ke pengrajin kopi luwak. Di sana kami ditunjukkan kotoran hewan luwak. Terlihat butiran-butiran kopi utuh yang menggumpal bersama kotoran lain.

“Biji kopi ini akan diolah menjadi kopi luwak yang harganya mahal,” kata pemandu. Anak saya bergidik melihatnya.

“Tidak usah jijik. Biji-biji kopi ini akan kami pisahkan dari kotoran, lalu dicuci hingga bersih. Setelah itu dijemur. Setelah kering, kulit ari dipecah dan dibuang. Setelah itu, disangrai dengan panas tinggi dan ditumbuk,” terang sang pemandu.

Proses pembuatan biji kopi luwak ini mirip dengan prinsip pengudusan. Arti kata “kudus” atau qadosy (Ibrani) adalah “terpisah” atau dipisahkan. Orang Kristen yang dikuduskan adalah orang yang dipisahkan dari “kotoran” dosa, supaya dapat menjalin relasi dengan Allah.

Mengapa? Karena Allah itu kudus. Maka manusia harus dalam kudus, atau terpisah dari dosa, supaya dapat berhubungan kembali dengan Allah.

Dalam perjanjian lama, seorang imam akan ditahbiskan dalam upacara istimewa. Dia dikuduskan untuk melaksanakan ritual-ritual keagamaan, sebagai perantara antara Allah dengan umat Israel.

Seluruh umat Israel sebagai satu bangsa juga dikuduskan bagi Allah. Mereka dipisahkan dari bangsa-bangsa lain. Mereka tidak sama dengan bangsa-bangsa lain. Jadi yang menjadikan Israel sebagai bangsa yang kudus adalah hubungan mereka dengan Allah. Dalam pengertian ini ‘kudus’ mengacu kepada pengungkapan tertinggi hubungan perjanjian Israel dan Allah.

Dalam perjanjian baru, umat Allah yang dikuduskan ini meluas ke bangsa-bangsa lain, yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Umat percaya ini bergabung dalam sebuah entitas bernama gereja.

Gereja berisi orang-orang yang telah diselamatkan dan dipisahkan agar Allah dapat menjalin hubungan dengan manusia. Sedangkan unit terkecil dari gereja adalah keluarga. Keluarga inti atau batih terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Namun ini dapat diperluas dengan kehadiran sanak-keluarga lain yang masih ikut mengindung.

Allah menghendaki agar umat-Nya [baca: keluarga] hidup dalam.

Imamat 19:2b, berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku TUHAN, Allahmu, kudus.” Allah itu kudus, karena itu umat-Nya pun harus kudus.

Karakter umat harus mencerminkan karakter Allah. Allah adalah kudus, artinya Ia bebas terhadap dunia. Allah menguduskan manusia, artinya memilih mereka sehingga menjadi milik-Nya. Allah besar dan baik oleh karena Allah adalah kudus. Tidak ada kejahatan di dalam kebaikan-Nya.

Pada waktu kita diminta untuk hidup kudus, tidak berarti bahwa kita menyamai kemuliaan Allah ini. Kita tidak bakal mampu. Kita dipanggil untuk mencerminkan dan merefleksikan karakter moral dan tindakan Allah. Sebagai keluarga yang telah dipanggil, dipilih dan dikuduskan Allah kita harus senantiasa hidup di dalam standar kekudusan Allah.

Beberapa orang memaknai kekudusan dalam makna sempit, yaitu berkaitan dosa seksual. Misalnya, topik utama dalam menjaga kekudusan pernikahan adalah soal kesetiaan dengan pasangan.

Padahal kehidupan kudus lebih luas daripada itu. Keluarga hidup kudus apabila masing-masing keluarga menjalankan peran masing-masing sesuai perintah Allah.

Seorang suami wajib mengasihi isterinya. Seorang istri hormat dan tunduk kepada suaminya. Dia menjadi penolong yang sepadan. Seorang bapa mendidik anaknya untuk takut kepada Tuhan. Seorang ibu mengasuh anak-anak. Memenuhi segala kebutuhan mereka. Anak-anak patuh kepada orangtua.

Kekudusan keluarga dapat dibentuk apabila masing-masing pribadi dalam keluarga dengan hati yang terbuka mau senantiasa belajar untuk meneladani Allah sebagai PRIBADI yang MAHAKUDUS. Apabila ini tercipta dengan mantap di dalam keluarga maka keluarga ini dapat mempolakan kehidupan yang sama kepada sesama.

Kristus dalam hidup dan sifat-sifat-Nya adalah teladan tertinggi kekudusan Allah. Dalam Dia keadaan kudus bahkan lebih daripada hanya tidak berdosa: itu adalah penyerahan-Nya yang seutuhnya kepada kehendak dan maksud Bapa. Dan untuk itu Yesus telah menguduskan diriNya sendiri (Yoh 17:19).

Kekudusan merupakan keniscayaan bagi keluarga Kristen sebab kita diibaratkan sebagai cabang pohon anggur. Kristus adalah pokok anggur tempat kita menempel. Ini adalah cara agar cabang pohon senantiasa menikmati segala sesuatu yang berasal dari pokok pohon. Bagian yang dapat kita nikmati dari Allah salah satunya adalah kekudusan.

 

Purnawan Kristanto

Tulisan ini dikutip sudah seizin penulis.

Laman asli tulisan ini lihat di: http://renungan.purnawan.web.id/?p=795

Penulis adalah writer | trainer | humanitarian volunteer | video & photo hobyist | jazz & classic lover | husband of priest | father of two daughters |

2 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This