Kloning Manusia: Kontroversinya dan Pandangan Alkitab

Zhong Zhong dan Hua Hua, sepasang monyet makaka yang kembar identik, lahir pada 5 Desember 2017 lalu. Kehadiran mereka mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Keduanya adalah primata pertama yang tercipta melalui kloning.

Teknik kloning yang dipakai untuk menciptakan monyet kembar itu sama dengan yang dipakai untuk menciptakan Dolly, si domba kloning, yang lahir pada 1996. Mereka tercipta melalui teknik somatic cell nuclear transfer (SCNT).

Kehadiran Zhong Zhong dan Hua Hua memanaskan kembali kontroversi mengenai kloning, khususnya kloning manusia.  Sejumlah negara sudah terang-terangan menolak dan melarang upaya atau penelitian apapun mengenai kloning manusia.

Penentang kloning manusia terutama adalah kaum rohaniawan yang menganggap kloning manusia itu bertentangan dengan Firman Tuhan. Selebihnya menganggap kloning tak etis sebab akan mengambil sel yang berasal dari embrio manusia dan itu sama saja dengan aborsi.

Tapi pemikiran ‘liar’ manusia tak bisa dicegah. Setidaknya dalam berbagai budaya populer, kloning pada manusia menjadi topik yang banyak menarik perhatian dan menginspirasi para pekerja seni. Mulai dari yang sekadar humor sampai yang serius di film layar lebar, serial televisi, sampai novel macam novel Chromosome 6 karya Robin Cook dan The Island, karya Michael Bay.

Kloning dalam Garis Waktu dan Sejarah
Kloning manusia berkembang sejalan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang biologi perkembangan, genetika, teknologi reproduksi, pembuahan binatang, dan kini: stem cell embrionik yang kontroversial itu. Manusia sukses membuat teknik reproduksi macam bayi tabung, di mana pembuahan sel telur manusia dilakukan di luar tubuh manusia, kemudian pada tahap embrio, ditanam ke dalam kandungan si ibu untuk kemudian bertumbuh sampai lahir dengan selamat. Di dunia penelitian hewan, teknik macam bayi tabung tadi dikembangkan dan diperbaiki untuk menghasilkan genom di laboratorium.

Menurut catatan sejarah, eksperimen kloning terawal dilakukan oleh ahli embriologi Jerman, Hans Spemann, pada akhir 1920-an. Lalu pada 1962, ahli biologi perkembangan Inggris, John Gurdon, mengklaim telah menghasilkan kodok dewasa dengan mentransfer nukleus dari sel kecebong ke sel telur kodok yang enucleated, meski dengan angka keberhasilan yang sangat rendah. Setelah tahap ini, peneliti mulai memikirkan untuk mengeksplorasi kemungkinan transfer sel itu di dalam dunia mamalia.

Sedangkan topik kloning manusia mulai hangat dibicarakan sejak1960-an ketika ahli genetika pemenang Nobel, Joshua Lederberg, mendorong ide mengenai kloning dan genetic engineering dalam tulisannya di The American Naturalist pada 1966. Dia terinspirasi oleh penelitian yang dilakukan sejak masa Hans Spemann sampai John Gurdon.

Sejak tulisan itu, perdebatan soal kloning manusia mengemuka, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Di sisi lain, penelitian terhadap hal-hal yang terkait dengan kloning pada manusia terus berlanjut. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh peneliti di Advanced Cell Technology di Worcester, Massachusetts. Mereka mengklaim bahwa mereka sukses menumbuhkan embrio manusia untuk memanen stem cell embrionik. Stem cell atau sel punca adalah sel yang bertugas membuat aneka sel dalam tubuh manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya, seperti membuat jantung kita berdetak, otak kita berpikir, ginjal membersihkan darah kita, mengganti kulit yang terkelupas, dan seterusnya. Stem cell adalah sumber untuk sel-sel baru.

Stem cell itu macam-macam. Salah satunya terdapat pada pada tahap awal perkembangan manusia, yakni saat embrio. Itulah sebabnya, stem cell ini disebut stem cell embrionik. Ilmuwan tertarik pada stem cell jenis ini sebab tugas alaminya adalah untuk membangun setiap organ dan jaringan di tubuh kita. Ia bisa berubah menjadi hampir semua jenis sel manusia. Sehingga, ia sangat cocok untuk memperbaiki organ kita yang sakit. Karena kemampuannya inilah, stem cell embrionik membuka jalan kepada kloning manusia.

Di sisi lain, perkembangan penelitian soal kloning di dunia hewan berkembang lebih pesat dan lebih jauh dari sekadar mentransfer sel amfibia. Paling populer adalah pengkloningan domba yang melahirkan Dolly. Dolly dikloning oleh Keith Campbell, Ian Wilmut, dan koleganya di Roslin Institute, University of Edinburgh, Skotlandia, serta perusahaan bioteknologi PPL Therapeutics dari Edinburgh. Domba betina ini lahir pada 5 Juli 1996 dan mati tujuh tahun kemudian karena penyakit paru-paru.

Dolly diciptakan dengan teknik somatic cell nuclear tranfer (SCNT), di mana nukleus dari sebuah sel dewasa ditransfer ke sel telur yang sedang berkembang (oosit) yang nukleusnya dikeluarkan. Sel hibrid ini kemudian distimulasi untuk melakukan pemisahan diri menggunakan kejutan listrik. Saat ia sudah berkembang jadi blastosit, sel ini ditanamkan ke seekor surrogate mother. Salah satu hal menarik dari Dolly adalah bahwa sel yang diambil dari mamalia dewasa ternyata bisa dikembangkan menjadi sel baru yang melahirkan individu baru.

Dengan teknik yang sama diciptakan monyet makaka dari China: Zhong Zhong dan Hua Hua, buah penelitian tim ilmuwan dari Institute of Neuroscience of the Chinese Academy of Sciences di Shanghai. Peneliti yang dipimpin oleh Qiang Sun dan Muming Poo itu juga memakai teknik SCNT. Menurut Muming Poo, pentingnya penelitian mereka adalah untuk menciptakan hewan-hewan identik secara genetik untuk keperluan eksperimen hewan. Makaka pemakan kepiting itu biasanya dipakai sebagai model untuk mempelajari atherosclerosis. Poo juga menyebut kemungkinan dampaknya pada penelitian ilmu saraf, seperti penanganan masalah parkinson dan alzheimer.

Tapi tak urung keberhasilan mereka menimbulkan pertanyaan lanjutan. Kalau pada primata sukses, bagaimana dengan manusia? Bukankah manusia juga bagian dari keluarga primata?

Dina Fine Maron, pada 24 January 2018 lalu, kemudian menulis artikel di Scientific American yang menyatakan bahwa kesuksesan kloning monyet hanya akan memantik perdebatan etika yang baru. Meski di sisi lain, itu akan banyak bermanfaat dalam riset medis.

Kloning, Pandangan Publik, dan Alkitab
Kloning pada manusia masih lebih banyak ditolaknya ketimbang didukung. Ian Wilmut sendiri, meski sukses mengkloning domba, tidak menyarankan kloning manusia. Sebab pada hewan saja tingkat kesuksesannya rendah dan mereka mesti memakai sel yang diambil dari hewan dewasa untuk mencapai tahap embrio, yang kemudian gagal berkali-kali.

Tapi sikap yang ada di luar sana masih terbelah. Publik Amerika Serikat sendiri ada yang menolak dan ada yang mendukung ide kloning manusia. Sebuah survei yang diadakan Gallup pada Mei 2002 menghasilkan pendapat, 90 persen orang menolak kloning untuk menciptakan seorang anak, 61 persen menolak kloning embrio manusia untuk riset medis. Sebanyak 52 persen setuju saja dengan riset medis yang menggunakan stem cell yang diambil dari embrio manusia. Sedang 51 persen setuju kloning sel manusia dewasa untuk kebutuhan riset medis.

Well, perdebatan dan kontroversi kloning manusia memang berputar di sekitar topik stem cell embrionik. Sebab stem cell diambil pada saat embrio manusia memasuki tahap blastocyst, atau sekitar 4-5 hari setelah pembuahan. Saat itu embrio sudah mengandung 50-150 sel. Saat stem cell diambil, itu akan menghancurkan blastocyst, yang sama saja dengan ‘membunuh’ embrio itu.

Kalau membandingkan upaya mengkloning hewan dan kloning manusia, kita melihat dua respons yang sama sekali berbeda. Kloning hewan masih bisa diterima oleh banyak orang, ketimbang kloning manusia.

Hal ini ada hubungannya dengan pernyataan di kitab Kejadian 1:28, yang menyebutkan bahwa manusia ditugaskan untuk berkuasa atas segala yang hidup, yang bergerak di Bumi. Jadi, jika kloning pada hewan akan menguntungkan manusia, sebagai contoh misalnya kloning pada sapi kemungkinan akan menghasilkan sapi yang memproduksi lebih banyak susu yang akan mencukup kebutuhan manusia, maka tidak ada hambatan dalam kasus ini.

Tapi ini berbeda dengan kloning pada manusia. Alkitab menggambarkan dengan sangat jelas bahwa penciptaan hewan dan manusia itu berbeda. Manusia diciptakan dengan cara yang khusus dan terpisah dari hewan. Pada Kejadian 2:6 dan Kejadian 2:8 disebutkan bahwa Tuhan berkuasa atas hewan, dan tak pernah disebutkan manusia berkuasa atas manusia lain.

Setiap pembuahan sel telur, termasuk dari hasil kloning, adalah individu yang baru. Untuk menyempurnakan teknik kloning dibutuhkan beberapa eksperimen dan banyak embrio akan hancur dalam proses itu. Menengok percobaan di Massachusetts, embrionya mati sebelum tumbuh cukup untuk menghasilkan stem cell.

Kloning manusia sangat dekat berkaitan dengan isu aborsi dan permulaan riil hidup manusia. Bila ada kerusakan dalam pertumbuhan klon, maka solusinya adalah aborsi. Lebih jauh lagi, tidak ada ahli biologi, bahkan yang akrab sekali dengan tubuh manusia, yang akan membantah fakta yang jelas bahwa semua pengkodean DNA yang diperlukan untuk membangun ciri fisik setiap individu, ada di dalam pembuahan sel telur. Tidak ada informasi genetik baru yang pernah ditambahkan pada sebuah embrio yang hidup dan bertumbuh. Embrio adalah manusia sejak semula. Dan menurut Alkitab (Keluaran 20:13) dan seluruh standar etika, sangat salah secara intensif membunuh kehidupan manusia tak berdosa.

Kloning juga bertentangan dengan institusi keluarga secara biblikal. Sebab memproduksi kloning manusia yang tak pernah punya dua orang tua, proses kloning hanya akan bertentangan dengan dotrin keluarga yang diperintahkan Tuhan di Kitab Kejadian.

Mungkin bagi mereka yang tak menerima otoritas Alkitab, mereka hanya menganggap Penciptaan sebagai suatu mitos, dan jelas menolak standar institusi yang agung seperti keluarga dan dominion manusia, sebagaimana juga kekudusan manusia yang serupa dan segambar dengan Allah (Kejadian 1:27).

Jangan lupakan juga fakta bahwa stem cell non-embrionik sudah terbukti secara laboratorium dan klinis sukses dan tak perlu mengorbankan nyawa manusia. Sebagai contoh, stem cell telah berhasil diekstraksi dari area hippocampal dan periventricular di otak, umbilical cord blood, pancreatic ducts, folikel rambut, biopsi kulit, dan liposuctioned fat.

PUSTAKA
Liu, Zhen; Cai, Yijun; Wang, Yan; Nie, Yanhong; Zhang, Chenchen; Xu, Yuting; Zhang, Xiaotong; Lu, Yong; Wang, Zhanyang; Poo, Muming; Sun, Qiang (24 January 2018). “Cloning of Macaque Monkeys by Somatic Cell Nuclear Transfer”

Lederberg Joshua (1966). “Experimental Genetics and Human Evolution”. The American Naturalist. 100 (915): 519–531

Maron, Dina Fine (24 January 2018). “First Primate Clones Produced Using the “Dolly” Method – The success with monkeys could ignite new ethical debates and medical research”. Scientific American.

Mark Looy and Ken Ham, The Scientific and Scriptural Case Against Human Cloning
A Preliminary Comment, Answersingenesis.org, November 27, 2001

Spemann, Hans Embryonic development and induction
New Haven : Yale University Press ; London : H. Milford, Oxford University Press, 1938

The President’s Council on Bioethics, Human Cloning and Human Dignity: An Ethical Inquiry
President’s Council on Bioethics, 2002

0
0 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest