Ketika Rumah Ibadah dan Agama Jadi Kedok Para Penyamun

Tak ada yang lebih menakutkan ketika melihat rumah ibadah menjadi sarang penyamun. Itulah yang ditemukan Yesus ketika mendatangi Bait Allah, begitu Dia memasuki Kota Yerusalem.

Bait Allah berubah jadi pasar. Ada jasa penukaran uang (sebab mata uang asing diharamkan sebagai persembahan), jual beli hewan kurban. (Matius 21:12-13). Pasar itu muncul sebab diduga telah terjadi monopoli oleh Imam dan pedagang, untuk pengadaan hewan kurban. (Baca e-santapan harian edisi 13 Maret 2017)

Umat yang membawa kurban sendiri, meski merasa sudah mengikuti ketentuan, akan dipersulit saat uji kelayakan. Mereka yang tak lolos uji kelayakan, akan terpaksa membeli di pasar di Bait Allah. Sampai-sampai burung merpati, kurban bagi yang miskin, juga dikuasai oleh mereka.

Belajar dari pengalaman, orang-orang, termasuk yang miskin, akhirnya terpaksa membeli kurban di pasar itu, meski itu pasti menyulitkan mereka.

Komersialisasi di rumah ibadah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Yesus yang melihat itu jadi jengkel dan marah lalu menjungkirbalikkan meja penukar uang dan bangku pedagang merpati. “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun,” kata Yesus.

Bagaimana kalau “Rumah Doa” telah berubah menjadi “Sarang Penyamun”?

Sarang bagi para penyamun adalah tempat bagi mereka untuk berkumpul, menyimpan hasil kejahatan, dan kemudian merencanakan kejahatan demi kejahatan.

Apa jadinya kalau rumah ibadah kemudian menjadi tempat para penjahat berkumpul, menyimpan hasil kejahatannya, dan merancangkan kejahatan-kejahatan lainnya? Apa jadinya kalau rumah ibadah tak ubahnya kedok untuk menutupi kejahatan?

Tak ada yang lebih mengerikan dan menakutkan kalau penyamun, pencuri, dan penipu sudah memakai agama dan rumah ibadah sebagai kedoknya.

Rumah ibadah seharusnya jadi tempat pertobatan. Ya, kita semua memang berdosa dan jahat di mata Tuhan. Tapi melalui karya penyaliban Yesus, dosa dan kejahatan kita akan dihapuskan. Rumah Tuhan seharusnya menjadi tempat penyembuhan semacam itu.

Itulah yang kemudian diteladankan Yesus, setelah mengusir para penukar uang dan pedagang. Yesus kemudian menerima “orang-orang buta” dan “orang-orang timpang”, lalu menyembuhkan mereka.

Dia ingin menegaskan, rumah Tuhan seharusnya menjadi tempat siapa saja yang berdosa, untuk disembuhkan. Bukan malah memelihara dosa dan merancangkan dosa lainnya.

Foto:

0
0 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest