Kasus Suap dan Penyeru-Penyeru Tuhan

Hari-hari ini sedang ramai dibahas kasus suap hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) dalam kasus dugaan suap yang menimpa hakim mahkamah konstitusi Patrialis Akbar.  Nama lain yang ikut dibicarakan dalam kasus itu adalah Basuki Hariman, pengusaha yang diduga menyuap.

Kasus ini sedang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Saya tak mau komentar soal kasusnya sendiri. Hanya setahu saya, kalau penangkapan hasil OTT sulit sekali (kalau tidak mau bilang mustahil) lolos dari jerat hukum.

Hari ini saya ingin menanggapi saja respons khalayak mengenai profil Patrialis dan Basuki. Keduanya dicitrakan sebagai sosok yang relijies.

Jadi, salah agamanya? Jelas tidak dong.

Ajaran agama yang diyakini oleh Basuki Hariman jelas mengharamkan perilaku suap menyuap ini.

Buat yang belum tahu, Alkitab di Keluaran 23:8 jelas-jelas berisi hukum mengenai suap. Bahwa praktik suap itu dilarang Tuhan.

“Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.”

Praktik suap itu dilarang oleh Tuhan sebab suap itu: membutakan mata dan memutarbalikkan perkara.

Hukuman untuk pelaku dan penerima suap itu ada di kitab Ayub 15:34-35:

“Karena kawanan orang-orang fasik tidak berhasil, dan api memakan habis kemah-kemah orang yang makan suap. Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan, dan tipu daya dikandung hati mereka.”

Tapi bagaimana Basuki Hariman yang ditampilkan dalam citra di foto-foto yang beredar itu, begitu relijiesnya, kok bisa melakukan dugaan praktik suap?

Tulisan ini bukan bermaksud menilai kadar keimanan seorang Basuki Hariman atau mereka-mereka yang terkena kasus pidana dan kasus-kasus lainnya. Urusan keimanan itu adalah urusan dia sama Tuhan. Karena itu urusan hakim menghakimi adalah urusan Tuhan.

Hanya maksud saya adalah, kadang-kadang kita itu jangan terpaku atau terpesona pada tampilan luar seseorang.

Dalam kotbah di bukit, Tuhan Yesus sendiri berkata:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23)

Ini ada hubungannya dengan tulisan yang pernah saya terbitkan sebelumnya: “Memilih Buah, Memilih Jadi OMDO atau..”. Kisah tentang cara mengenali pribadi seseorang melalui buah perbuatannya. Seperti kata Yesus, buah yang baik itu lahir dari pohon yang baik.

Bagaimana mengenali buah yang betul-betul baik? Lihatlah perbuatannya. Kalau mengutip kotbah Yesus, buah yang baik dikenali dari sejauh apa dia melakukan kehendak Tuhan.

Nah, intinya, jangan deh menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Meski tampak relijies, belum tentu dia pribadi yang melakukan kehendak Tuhan.

Buat kita, tentu ini pun sebuah peringatan. Kadang-kadang kita ingin terlihat baik, ingin terlihat relijies. Tapi kalau itu hanya simbol atau sekadar untuk dilihat saja, ya tak ada gunanya. Toh nanti ketika Tuhan Yesus datang kembali, segala hal-hal yang sifatnya hanya simbolik dan sekadar untuk dilihat saja, itu sia-sia. Dia malah tak kenal kita. Kan berabe.

0
1 Like

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest