April 2, 2020

Jika Kau Patah Hati

Sekitar bulan Juli 2019 lalu, media sosial diramaikan oleh pemberitaan mengenai seorang wanita yang diduga beragama Katolik, yang membawa anjing ke dalam masjid.

Diam-diam saya mengikuti berita ini dan mengamati berbagai macam komentar, kecaman, hujatan terhadap perempuan tersebut. Tidak sedikit netizen yang mengatakan bahwa ini adalah dampak dari toleransi beragama yang kebablasan, yang diberikan kepada kaum minoritas di negeri kode +62 ini. Berbagai kecaman bermunculan hingga ada penjelasan dari salah satu anggota keluarga mengenai kondisi kejiwaan wanita tersebut, namun tidak juga mengurangi hujatan dari netizen yang merasa diri maha benar.

Bulan September 2019, masih baru-baru ini, gereja dan kalangan Kristen kembali digemparkan oleh pemberitaan mengenai seorang pastor bernama Jared Wilson, pastor muda dari sebuah gereja besar di Amerika yang meninggal karena bunuh diri. Bagaimana mungkin? Itulah pertanyaan yang muncul mungkin hampir sejuta kali di akun media sosial milik sang pastor. Banyak yang menyesalkan tindakan beliau memilih langkah pintas tersebut untuk mengakhiri hidupnya. Dan bagi orang awam, sepertinya keputusan Pastor Jared adalah keputusan yang bodoh mengingat dia adalah seorang hamba Tuhan. Banyak yang tidak tahu, setelah ditelusuri lebih lanjut, Pastor Jared ternyata mengalami depresi berat.

Banyak di antara kita yang tidak mengetahui bahwa masalah keimanan adalah salah satu penyebab masalah timbulnya gangguan kejiwaan. Kegagalan dalam melayani, tidak berjalannya fungsi pelayanan kategorial, kegagalan dalam misi penggembalaan dan tekanan hebat yang dialami para gembala jemaat dalam menjalankan misi penggembalaannya dalam menghadapi jemaat dengan problema imannya masing-masing, serta karakter tiap-tiap jemaat yang unik, dan problema kehidupan mereka sehari-hari, adalah sumber depresi.

Tanggal 10 Oktober, dunia memperingati hari kesehatan mental. Lalu bagaimana gereja mempersiapkan diri dalam menghadapi masalah kesehatan mental?

Gereja diharapkan tidak hanya menjalani misi pelayanan Alkitabiah dan doa tetapi lebih dari itu gereja diharapkan lebih peka untuk memandang permasalahan ini lebih dalam bagi para jemaatnya.

Adalah seorang pastor Anton Boisen yang mengidap skizofrenia menghabiskan dua puluh tahun di rumah sakit jiwa. Ketika beliau dinyatakan sembuh dari sakitnya, Boisen mengatakan: “Kalau seorang Kristen patah kaki, ia dapat disembuhkan, bahkan gereja dan lembaga Kristen lainnya dapat berperan membiayai pengobatannya hingga sembuh. Namun jika ada seorang Kristen yang ‘patah hati’, maka ia akan dilempar ke rumah sakit jiwa dan dilupakan oleh gereja.”

Untuk itulah pentingnya peran medis, spiritual dan psikologis dalam proses penyembuhan masalah mental dan jiwa. Ketiga hal tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dicerai-beraikan karena memang peran tiga serangkai ini sangat mendukung proses penyembuhan. Gereja menjalankan fungsinya sebagai pendampingan bagi jemaat dengan masalah ini. Keterlibatan gereja dalam proses ini tentunya akan sangat memengaruhi pertumbuhan gereja dan pelayanannya ke dalam dan ke luar agar tumbuh dan berkembang menjadi gereja yang sehat dengan jemaat yang sehat.

Kalau semua orang Kristen yang mengalami ‘patah hati’, lalu terbuang dan dilupakan oleh gereja, bagaimana gereja dapat bertumbuh menjadi besar? Atau apakah gereja hanya menjadi tempat peribadahan dengan jemaat yang datang dengan kegelisahan hatinya lalu pulang dengan kesedihan jiwanya?

Seperti Mazmur pada ratapannya: “Hai jiwaku, mengapa susah serta gelisah dalam hidupmu…” dan tak ada yang menyembuhkannya?

-*-

Saitioma Sinaga.

Sarjana Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest