Indigo dan Karunia

Belakangan ini saya banyak ditanyakan tentang fenomena anak Indigo. Yang dimaksud dengan anak Indigo adalah anak-anak yang mempunyai kemampuan khusus yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Anak-anak ini memiliki indera yang terbuka terhadap hal-hal supranatural. Mereka bisa melihat, mendengar, merasakan sesuatu yang belum terjadi, atau meramalkan sebuah peristiwa di masa depan dengan tepat.

Bagaimana menjelaskan anak Indigo ini dari perspektif Kristen? Sebagai pendeta di gereja aliran Karismatik Pentakosta, dunia supranatural jelas bukanlah dunia yang asing. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjelaskannya melalui perspektif Karismatik Pentakosta yang saya pahami.

Indigo sering dikaitkan dengan karunia. Karunia bagi gereja Karismatik Pentakosta adalah karunia Roh Kudus dan jalan yang dipakai Allah untuk bertindak di dalam kehidupan/lingkup kehidupan manusia secara adikodrati. Peter Wagner merumuskan karunia-karunia sebagai berikut: Dari 1 Korintus 12:8-10: 1. Nubuat; 2. Bahasa roh; 3. Tafsir bahasa roh; 4. Kata-kata hikmat; 5. Kata-kata pengetahuan; 6. Membedakan roh; 7. Kesembuhan; 8. Mukjizat; 9. Iman.

Dari Efesus 4:11 dan Roma 12:7-8: 10. Rasul; 11. Menginjili; 12. Mengajar; 13. Gembala; 14. Melayani; 15. Menasehati; 16. Membagi-bagikan; 17. Kepemimpinan; 18. Kemurahan.

Dari ayat-ayat lain: 19. Pertolongan; 20. Kepengurusan; 21. Hidup lajang; 22. Hidup miskin secara sukarela; 23. Kemartiran; 24. Memberi tumpangan; 25. Misionaris; 26. Doa syafaat; 27. Mengusir setan (Lihat C. Peter Wagner, Pertumbuhan Gereja dan Peranan Roh Kudus, Malang: Gandum Mas, 1992).

Kata “karunia” sendiri datang dari kata bahasa Yunani Kharismata, yang berasal dari kata Kharis, yang berarti gratis. Oleh karena itu, Kharismata hanya diterima. Bahkan untuk menerima saja pun adalah suatu karunia. Dalam kaitan dengan anak Indigo pertanyaannya akan menjadi, siapakah yang bisa menerima kharismata itu? Di dalam lingkup gereja Karismatik Pentakostal, karunia adalah pengalaman supranatural yang bersifat radikal dan di luar kekuatan manusia, sehingga tidak bisa dijelaskan dengan rasio saja tetapi dengan pengalaman secara menyeluruh. Pengalaman ini berkaitan dengan kehidupan iman seseorang, yaitu karunia yang diterima sesudah seseorang menyambut Kristus sebagai juruselamat dan mengalami kepenuhan Roh Kudus, atau pengalaman adikodrati yang menuntun seseorang datang kepada Kristus. Jadi Kharisma atau karunia adalah sesuatu yang supranatural.

Pemahaman di atas tentu sulit untuk menjawab fenomena anak Indigo, karena pada anak Indigo bakat/kemampuan adikodrati itu datang tanpa ada kaitannya dengan pengalaman spiritual Kristiani.

Pemahaman lain tentang karunia adalah pendekatan teologi yang memahami bahwa kharisma atau karunia adalah bakat yang sudah diciptakan, yang bisa dibangkitkan oleh Roh Kudus. Oleh karena itu setiap orang pasti diberi kharisma, namun ada orang yang menolak mengaktifkan karunia yang diberikan kepadanya.

Jadi, bagaimana dengan anak Indigo? Apakah kemampuan adikodrati mereka itu dapat disebut karunia? Kalau mengacu pada pemahaman yang kedua, maka ya, itu adalah karunia. Hanya saja karunia itu diaktifkan sendiri oleh Roh Kudus tanpa campur tangan manusia. Ingat bahwa karunia itu hanya diterima, artinya kepada siapa itu diberikan, itu adalah prerogatif dari Sang Pemberi.

Pertanyaan berikutnya yang timbul adalah, apakah itu tidak membahayakan? Sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa rancangan Allah bagi anak-anakNya adalah rancangan kebaikan bukan kejahatan (Yeremia 29:11). Jadi pertanyaannya sebenarnya adalah bagaimana karunia yang dimiliki anak Indigo itu menjadi sesuatu yang membangun imannya, dan kemudian pada akhirnya membawa berkat bagi tubuh Kristus. Anak Indigo yang lahir dalam keluarga Kristen harus didorong menanggapi karunia adikodrati ini dengan mendekatkan diri kepada sang Pemberi karunia. Karunia yang dilengkapi dengan pengenalan yang baik akan sang Pemberi karunia, saya percaya, akan mempertajam karunia yang sudah diterima. Bukan itu saja, karunia itu pun dapat dipergunakan dengan lebih maksimal untuk mendatangkan berkat.

Karunia bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi harus disyukuri. Anak Indigo adalah karunia bagi keluarga. Gereja pun harus menyambut anak Indigo sebagai bagian dari karunia Allah bagi tubuh Kristus, dan memberikan bimbingan agar karunia itu membawa berkat bagi Tubuh Kristus dan membawa kemuliaan bagi Allah, Sang Pemberi karunia.

Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. (Yoel 2:28-29)

Follow me on Twitter: @sammy_ladh
0
0 Likes

Sammy Ladh

Just a bastard saved by grace. Studied English literature and Theology. Founder of Yayasan Rumah Impian Indonesia and a humble servant at Shine Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest