Hoax dan Fitnah, Mengapa Ia Merupakan Kekejian

Ada ungkapan lama yang mengatakan, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Saya kira, pepatah kuno ini memiliki landasan pemikiran yang tepat sekali. Bahwa fitnah, adalah perilaku yang sangat jahat, lebih jahat dari pembunuhan.

Tuhan, sejak semula juga sudah mengingatkan kita betapa mengerikannya dosa fitnah itu. Fitnah adalah salah satu bentuk dusta yang dipandang keji oleh Tuhan. Di dalam Amsal 6:16-19, saksi dusta adalah satu dari tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya. Saksi dusta juga adalah satu dari 10 Hukum Taurat.

Belakangan ini kita sering mendengar kata hoax. Kurang lebih artinya dekatlah dengan fitnah.

Fitnah berakar dari dusta. Kata Yunani yang dipakai untuk dusta adalah “Pseudomartureo” yang juga berarti bohong, tidak benar, khianat, tidak setia ataupun palsu. Sedang hoax merupakan serapan dari bahasa Yunani “Hocus” yang artinya untuk menipu.

Hoax memang dimaksudkan untuk menipu orang lain dengan menyebarkan informasi-informasi palsu. Benang merahnya, fitnah dan hoax sama-sama dilandaskan pada dusta, sesuatu yang palsu dan menipu.

Motifnya macam-macam. Bisa urusan bisnis, politik, agama, menjatuhkan kredibilitas orang lain, membunuh karakter, dan sebagainya. (Baca: 7 Tips Mengatasi Hoax yang Wajib Kamu Coba)

Alkitab menyatakan perilaku ini sangat terlarang dan harus kita jauhi. Mengapa?

Pertama, fitnah, hoax dan sejenisnya adalah ciri khas Iblis dan mereka yang melakukannya adalah ‘anak’ iblis.
Penjelasannya begini, Alkitab berkata iblis adalah bapa dari segala pendusta (Yohanes 8:44). Kalau kita melakukan keinginan-keinginan iblis, maka kita menjadikan iblis sebagai bapa kita. Jelas, Allah dan iblis bertentangan dan berseberangan. Di saat kita melakukan kehendak iblis, maka kita ada di pihak yang berseberangan dengan Tuhan.

Kedua, fitnah dan hoax itu menimbulkan pertengkaran dan perpisahan.
Fitnah dan hoax memang ditujukan untuk menipu orang lain dan menyebabkan perpecahan. Amsal 16:28 berkata orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib. Fitnah, hoax, berita palsu, informasi yang menyesatkan, sudah pasti akan menimbulkan kesalahpahaman dan pertengkaran. Fitnah itu seperti gada atau pedang atau panah yang tajam (Amsal 25:18), ia sangat melukai. Kalau dipakai untuk memisahkan teman dengan teman, ini sangat efektif. Bukan hanya teman, bahkan bisa membuat saudara bertengkar, seperti yang disebut dalam Amsal 6:19: “Seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Imbasnya bisa sangat mengerikan dan menakutkan.

Lantas, apakah ganjaran bagi si pemfitnah atau penyebar hoax? (Baca juga: Melawan Hoax)

Pertama, pemfitnah akan dipermalukan dan dijauhi
Fitnah tidak berlandaskan kepada kebenaran. Kalau terungkap, hanya akan mempermalukan pelakunya dan akhirnya mereka akan dijauhi orang lain. Kitab 1 Petrus 3:16 menyatakan bahwa ketika orang-orang korban fitnah tetap hidup dengan benar, maka pemfitnah-pemfitnahnya justru dipermalukan karena fitnahannya sendiri. Seperti pepatah, menepuk air di belanga terpercik muka sendiri.

Selain dipermalukan, Alkitab juga dengan jelas mengatakan bahwa pelaku fitnah akan ditinggalkan orang. Dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat Korintus, Rasul Paulus meminta mereka untuk tidak bergaul dengan beberapa kalangan orang yang menyebut dirinya saudara tapi mereka salah satunya adalah pemfitnah. (1 Korintus 5:11).

Kedua, pemfitnah kehilangan peluang masuk ke dalam kerajaan Allah
Ada sejumlah contoh dalam Alkitab yang bisa menjelaskan hal ini. Salah satunya adalah ketika ada seorang muda kaya raya bertanya kepada Yesus, perbuatan baik apakah yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal (Matius 19:16-26). Yesus berkata: “Turutilah segala perintah Allah.” Salah satunya adalah tidak mengucapkan saksi dusta, atau memfitnah orang lain.

Ketiga, yang berkaitan langsung atau merupakan efek langsung dari ganjaran kedua, yaitu: pemfitnah akan dihukum berat oleh Tuhan.
Kalau Allah sudah tidak berkenan, maka yang ada adalah penghukuman. Kalau Amsal menyebutkan saksi dusta adalah satu dari tujuh kekejian di mata Tuhan, Rasul Paulus juga menilai begitu. Paulus mengkategorisasikan fitnah sebagai salah satu dosa paling memuakkan dalam daftar yang ditulisnya dalam kitab Roma 1:18-32. Dan murka Tuhan nyata bagi pendosa-pendosa semacam ini. Pada bagian lain kitab Roma, yakni di Roma 3:8, Paulus menuturkan bahwa orang yang memfitnah orang lain layak mendapat hukuman dari Tuhan.

Jelas tak ada manfaat apapun yang bisa dipetik dari penyebaran berita palsu atau hoax, karena mereka akan termasuk golongan para pemfitnah yang sangat dibenci oleh Tuhan. Pemfitnah termasuk golongan pengikut iblis, sang bapa dari segala dusta. Pemfitnah hanya akan menceraikan hubungan baik antara teman dan saudara. Ia seperti palu, gada, dan panah, yang sangat melukai hati, membunuh karakter, bahkan menimbulkan kejahatan lain yang mengerikan.

Pada akhirnya, berdiri pada barisan pemfitnah dan pengikut iblis, hanya akan membuat kita mendapat hukuman Tuhan. Dalam hidup mereka juga hanya akan ditinggalkan banyak orang dan dipermalukan. Siapa mau? Semoga tak ada di antara kita.

Baca artikel lain: Tips Praktis Memastikan Berita Hoax atau Bukan

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This