Hidup Bersama, Perlu Pengorbanan

“Hidup bersama, perlu pengorbanan.”

Saya lupa mendengar atau membaca tulisan itu di mana. Tapi saya menyetujuinya.

Dalam sebuah perjalanan wisata ke luar negeri, seorang teman saya yang sering tur backpack bercerita. Dalam setiap rombongan, pasti ada saja anggota yang merepotkan. Anggota yang rese, trouble maker atau biang keladi masalah. Dan biasanya orang itu adalah tipe orang yang egois. Tak bisa berbagi.

Perjalanan terakhir mereka, dipelopori oleh seseorang yang sama sekali belum pernah ke luar negeri. Sebutlah namanya si Siti. Karena kebetulan dia tidak bekerja seperti yang lain, yang lain dengan senang hati membiarkan si Siti ini membuat rencana jadwal perjalanan. Tapi, sejak awal orang ini malah sudah merepotkan. Minta dibookingkan reservasi, minta dibayari dulu, bayarnya juga belum lunas sampai tiba di luar negeri, lalu dia tak membuat jadwal tur perjalanan ternyata, dan pada akhirnya hanya mau ke pergi ke tujuan wisata yang dia mau saja, padahal yang lain ingin juga tur ke tempat lainnya.

Sudah bisa diduga akhir perjalanan itu meninggalkan konflik. Tentu saja yang lain merasa kapok tak mau lagi pergi dengan Siti si egois tadi.

Yang paling membuat teman saya kesal adalah, setelah lewat beberapa hari, si Siti ini masih menagih uang lagi, dengan kata-kata kasar, mengatakan bahwa harusnya dia tidak membayar sebanyak itu, padahal waktu sebelum pulang sudah diadakan hitung-hitungan dan sudah selesai dengan damai. Jumlah yang dia tagih itu pun tak seberapa, dan setelah dicek ternyata uang itu malah tak dia keluarkan. Sepertinya dia memang bermasalah dengan keuangan.

Tapi, teman saya itu dengan rela membayar jumlah itu, demi menjaga hubungan. Dirugikan uang tak seberapa, katanya, tak masalah, asal hubungan tetap baik. Dewasa sekali sikap itu.

Teman saya itu mengatakan, dia mengambil hikmah dari hubungan pertemanan itu. Dia bilang; Wah jangankan pernikahan, pertemanan pun perlu pengorbanan ya!

Betul. Hubungan bertetangga pun, hubungan rekanan pekerjaan pun perlu pengorbanan. Dan teman saya yang lain dengan berkelakar menambahkan; Hubungan majikan dengan pembantu rumah tangga pun perlu pengorbanan majikan, yang mengurut dada mengorbankan perasaan melihat ulah PRT yang kerjanya tak becus dan hobi main ponsel terus.

Seorang teman yang ahli dalam bidang psikologi pernah mengatakan bahwa salah satu bukti kematangan pribadi seseorang atau disebut kedewasaan, adalah kemampuan berbagi dengan orang lain. Berbagi adalah salah satu bentuk dari ‘berkorban’. Kita memberi dari kepentingan diri kita demi kepentingan orang lain juga.

Untuk setiap hubungan, kita perlu siap dengan resiko dirugikan, dimanfaatkan atau disakiti. Itulah mengapa perlu kasih. Kasihlah yang membuat kita rela dengan pengorbanan itu, secara sadar mau menerima sikap yang sebenarnya tak layak kita terima. Itu menunjukkan kekuatan dan kebesaran jiwa kita.

Hidup memang penuh dengan bermacam hubungan. Tapi memang, demi kelancaran hubungan itu, setiap orang harus siap ‘mengorbankan’ sesuatu, dalam berbagai bentuk. Waktu, materi, atau perasaaan.

Jika tak siap berkorban, mungkin seperti kodok, lebih baik tinggal di bawah tempurung saja?

-*-

0
1 Like

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest