Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

Saya sedang gemas. Gemas sekali. Komputer saya sudah hampir dua minggu ini mengalami error. Orang yang menanganinya tidak bisa menuntaskan sampai ke pihak yang bertanggungjawab di bidang itu. Andai itu bidang ekspertis saya, saya akan segera menanganinya. Tapi penanganannya harus tingkat internasional alias di kantor pusat, Tokyo, sebab di dalam komputer itu ada program yang level sekuritinya tingkat atas. Apa daya tangan tak sampai.

Masalahnya, saya sedang berada pada masa yang ‘kritis’. Tugas-tugas menumpuk dan deadline di depan mata. Ini ibarat, betapa gemasnya ketika kita ingin buru-buru tapi mobil mogok, atau bahkan mesinnya mati. Atau dalam keadaan emergensi ingin menelepon seseorang tiba-tiba ponsel mati.

(Kata teman saya, pilihan kata saya salah, bukan gemas, tapi gondok.)

Oh. Gondok. Betul.
Saya benar-benar gondok. Gondok, yang seperti, ketika kau ingin buru-buru makan spageti, sendoknya jatuh ke kotoran. Tak ada sendok, kan mana enak makan spageti pakai jari?
Ibarat, ketika kau ingin mengirimkan email yang sudah banyak-banyak kau ketik eh tiba-tiba laptop kehabisan baterai dan mati.

Gondok. Dongkol. Bête. Jengkol.Pete. (Eh? Lho? Kok bisa berirama gitu ya? Hehe.) (Dongkol.. bukan tongkol lho yaaaa)

Saya sampai jadi agak malas masuk kantor. Bayangkanlah orang yang yang terbiasa grasa-grusu, tiba-tiba harus diam tak melakukan apa-apa, itu bagaikan penjara kecil. Kalau dalam versi film kartun yang lebay, saya mungkin akan bisa berubah seperti Hulk yang melempar komputer saya pada orang yang tidak bisa menyelesaikan masalah komputer saya itu.

Di satu sisi, kalau mau, saya sebenarnya bisa ambil sikap bodo amat. Saya bebas main, dengan dalih karena tidak bisa bekerja dengan komputer. Saya bisa main HP, main ke luar kantor, mengobrol kesana-kemari, bahkan ngopi dan ngemil-ngemil di pantry kantor.

Tapi masalahnya tak sesederhana itu. Ini urusan tanggungjawab. Ini urusan integritas. Jadi saya tetap harus bekerja, baik dengan cara manual, atau cara lainnya, dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (hehe), agar kondisi pekerjaan tetap berlangsung dengan kondusif.

Dan tetap saja, ada yang tak lagi bisa dilakukan dengan manual. Kita sudah ketergantungan pada teknologi. Dan itulah yang membuat gondok. Yang membuat kita bagaikan orang tua yang kehilangan tongkat, bagaikan orang rabun yang kehilangan kacamata.

Karena sudah berhari-hari menahan gondok, saya takut jadi gondokan betulan, hahaha. Maka, pagi ini, sekalipun macet dan saya sudah sempat mau tambah gondok karena terancam telat ke kantor, saya memutuskan satu hal: Saya tak mau gondok.

Jadi, sambil menunggu taksi yang saya pesan online (karena sedang promo, lumayan cyin, hihi), saya menuju kafe pastry Perancis, dan membeli sekaligus tiga macam roti! (Ini lapar apa doyan? Hahaha.)

Saya beli roti Real Ganache yang bag croissant berkubah coklat lumer, lalu egg tart, dan grain croquet monsieur (saya hanya lihat bentuknya seperti sandwich, tidak tahu cara bacanya, haha.)
Pagi-pagi saya perlu mood booster, dan itu adalah makanan enak, pikir saya. Benar saja! Setelah menikmati egg tart yang lembut dan enak banget itu, lalu real ganache yang coklat lumernya sampai belepotan di bibir saya, saya pun bisa agak tenang, hahaha…

Yang ingin saya bicarakan di sini adalah hal kecil ini. Jika kita terus berpusat pada hal-hal buruk saja, tak akan ada habisnya. Mencari hal buruk itu paling mudah. Itu kenapa seorang yang paling cemerlang pun dengan sengaja dicari-cari kekurangannya agar bisa dijatuhkan (if you know what I mean 🙂 ).

Yang terbaik adalah,

berpalinglah pada hal-hal kecil yang menyenangkan. Hal-hal besar yang bikin gondok itu rupanya hanya akan menguras energi dan emosi.

Bahkan kata teman saya, bisa bikin kita sakit jantung. Lebay sih, tapi benar. Hahaha.

Maka saya pun mulai berhasil mengatasi kegondokan saya. Bukan hanya karena roti perancis yang enak itu, tapi karena kemudian saya mulai melihat sudut pandang yang lain.

Karena ada waktu luang ini, saya jadi sempat menulis blog lagi di ponsel saya. Saya jadi sempat menelepon ibu saya. Jadi sempat menelepon anak. Jadi sempat membaca-baca. Jadi ada waktu mendengar musik. Jadi sempat mencari makanan enak. Bahkan sempat mengedit-edit foto di ponsel, dan melihat-lihat gambar lukisan bagus di kalender, karena tak ada lagi yang menarik yang bisa dilihat di kalender (karena hanya sedikit tanggal merahnya, hahaha).

Sampai saat ini komputer saya masih error. Tapi saya barusan sudah minum jus buah dan sebentar lagi akan makan kue oleh-oleh dari rekan yang baru dari luar kota. Itu adalah juga hal-hal kecil yang menyenangkan.

Masih gemas? Masih gondok? Masih dongkol? Masih tongkol? #eh… ?

Masih, sedikit. Tapi sebentar lagi juga hilang.

Bye-bye, gondok…!
-*-

0
0 Likes

Mino Situmorang

A Mom.Wife.Writer.Acctnt.

One thought on “Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

  • February 23, 2017 at 18:07
    Permalink

    Masalah kecil sebaiknya diabaikan agar tidak membebani pikiran ini.
    Salam santun

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest