The Great Wall, Tembok dalam Diri Kita?

Minggu lalu saya dan keluarga menonton film The Great Wall. Karena belum sempat membaca resensi atau menonton trailernya, saya sama sekali tidak punya clue sebelum menonton film ini, dan jadinya sungguh penuh kejutan saya terpukau selama menonton film ini.

Film ini berkisah tentang tentara bayaran William Garin (Matt Damon) dan temannya Tovar, mengembara mencari mesiu (Black Powder) hingga mencapai dataran China. Lalu mereka menjadi tawanan di sana, tapi kemudian ikut membantu melawan serangan monster Tao Tie.

Sebuah film kolosal yang membuat saya merinding. Efek suaranya mampu mendramatisasi pertarungan. Efek visualisasinya sangat terasa hidup, lokasi latar belakang film atau landscape-nya juga megah. Bahkan koreografi aksi laga terasa rapih dan memukau.

Akting Matt Damon sebagai William, yang jago memanah, bahkan membuat saya menganga. Bunyi gendang pertanda perang membuat saya degdegan. Lampu lampion terbang lambang berduka, membuat saya terkesima saking indahnya. Lalu balon gas terbang yang dipakai untuk perang, membuat saya melotot terkagum-kagum. Kemudian serbuk hitam yang jadi bahan peledak luar biasa, rasanya bisa membuat jantung saya copot. Lalu bagian yang mengharukan, ketika pemuda petugas kunci yang mengorbankan dirinya meledak demi keselamatan Komandan Lin.

Adegan yang penuh ketegangan bercampur dengan sentuhan drama dan dialog lucu, memang membuat film ini menarik dan bikin penasaran dari awal hingga akhir.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari film ini, diantaranya sebagai berikut:
• Semua orang berhak berubah. Masa lalu bisa buruk, tapi masa kini tak harus sama
• Punya tujuan membuat hidup menjadi ada arah, asalkan jangan tujuan keserakahan
• Harta memang potensial menimbulkan keserakahan, tapi rasa kemanusiaan dan persahabatan bisa menghancurkan keserakahan itu
• Keserakahan manusia tak tertandingi oleh makhluk apapun, bahkan makhluk monster buas seperti TaoTie.
• Saling mempercayai itu perlu, terutama dalam kerjasama, kadang kita bahkan perlu mengorbankan diri demi tujuan bersama
• Milikilah teman yang baik, sebab pertemanan harus saling membuat lebih baik, bukan yang malah menjerumuskan
• Hidup ini memang sudah berat, tapi tak ada salahnya melihat sedikit celah humor untuk sedikit meringankannya (Saya tertawa melihat dialog lucu William dan Tovar yang saling menyindir dengan humor yang sarkastis).

Tapi di antara pesan-pesan moral film seperti di atas tadi, yang jadi fokus saya adalah satu hal. Pertanyaan William dalam film ini, ketika pertama kali melihat Tembok Raksasa Cina, adalah juga pertanyaan saya: Untuk apa membangun tembok sebesar ini?

Tembok raksasa sepanjang 8.851 km itu dibangun oleh manusia mencapai 800.000 orang sekitar dua ribu tahun. Luar biasa panjangnya!

Untuk apa membangun tembok sebesar itu, jika bukan karena ada ancaman yang besar juga dari luar?

Rupanya tembok itu dibangun bukan hanya untuk menghindari ancaman dari kerajaan negeri seberang (Mongolia), tetapi ada sesuatu yang ternyata jauh lebih berbahaya, jauh lebih mematikan daripada orang Mongol. Yaitu monster Tao Tei.

Kita sendiri, mungkin memiliki ‘tembok’ pribadi, masing-masing. Kita membuat batasan diri dari dunia luar untuk menjaga diri kita. Tembok dari diri kita mungkin terbangun perlahan oleh kekecewaan dan luka-luka dari luar diri kita.

Insting dasar manusia adalah melindungi diri sendiri. Refleks seperti tumbuhan putri malu jika disentuh langsung menutup diri. Siput dan kura–kura memiliki tempurung yang keras sebagai perlindungan diri dari musuhnya. Bunglon melindungi dirinya dari musuh dengan cara mengubah warna kulitnya sesuai tempatnya.

Tembok memang perlu melindungi kita, tapi juga bisa membuat kita tidak bebas melihat dunia luar yang mungkin bisa membuat kita lebih baik. Selalu ada positif dan negatif dari tembok diri ini. Tapi yang terbaik adalah berdamai dengan diri sendiri dan membuka diri dengan tetap waspada, sebab orang yang paling kuat bertahan adalah mereka yang fleksibel pada perubahan dan perbedaan.

Apa jenis ‘tembok’ diri anda?
Kekecewaan di masa lalu? Ekspektasi yang tak tercapai? Dikhianati? Tersakiti? Diperlakukan tidak adil? Dizalimi?

-*-

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest