“Gemuk Ya Sekarang?”

Siapa yang pernah dikomentarin begitu? Saya sih sudah sering banget.

Pertama-tama, saya tidak menampik kenyataan saya gemuk. Mau bagaimana lagi…hidup di bumi Indonesia dengan nasi padangnya yang maknyooooos, untuk saya sih mustahil menahan hasrat makan ini.

Kedua, saya juga enggak akan mau membalas pernyataan orang yang ada tendensi “meledek” atau “menghina” fisik dengan ungkapan serupa. Saya tidak akan mau mengatakan seseorang itu gemuk atau kurus dalam arti yang negatif. Mengapa? Maaf, saya enggak level untuk meledek fisik orang. Saya sekali-sekali tidak akan mau.

Begini. Sebelum ngomong gemuk atau kurus, coba pikir dulu, kira-kira kita nyaman nggak kalau dibilang seperti itu. Sama halnya dengan menanyakan kepada perempuan yang sudah menikah, apakah dia sudah hamil atau belum atau perempuan yang belum menikah, kapan nikahnya, atau kepada laki-laki usia produktif, sudah dapat kerja atau belum.

Saya enggak akan menanyakan hal-hal seperti itu. Orang bilang, itu kan bentuk perhatian, tapi menurut saya bukan. Jika sebuah pernyataan atau pertanyaan sudah tidak menyamankan pihak yang ditanya, itu bukan perhatian namanya. Itu namanya menyusahkan orang lain.

Kalau kita bilang pada orang lain: gemuk ya sekarang? Itu maksudnya apa? Perhatian? Basa basi? Atau hanya sebuah pernyataan untuk mengkonfirmasi bahwa diri sendiri ini langsing dibanding orang yang kita bilang gemuk?

Kalaupun iya itu perhatian atau basa-basi, lebih baik cari kalimat lain yang menunjukkan perhatian atau membuka percakapan, deh. Soalnya, sekalipun yang bersangkutan emang beneran gemuk, pasti dia enggak suka dibilang gemuk.

Mengapa? Karena gemuk itu punya citra negatif dibanding langsing. Dan sekalipun yang punya badan gemuk itu merasa baik-baik saja dengan tubuhnya, tapi ucapan yang bertendensi negatif itu tetap aja tidak sejuk untuk telinga dan hati.

Orang bilang, perkataan orang enggak usah dimasukin ke hati. Iya, itu betul. Tetapi, alangkah baiknya jika kita menjaga perkataan kita agar sebisa mungkin tidak berdampak negatif pada orang lain. Iya kan?

Jadi mulai sekarang, sekalipun untuk kasih perhatian atau basa basi, enggak usah kita bilang: gemuk banget ya sekarang, atau, kok kurus banget sih kayak kurang gizi. Ingat, kita sungguh lebih berharga dibanding hanya menjadi golongan orang yang komen-komen soal gemuk kurus, sudah nikah belum, sudah punya anak belum, sudah kerja belum.

Ada segudang topik menarik untuk dibahas, seperti impian kita apa, produksi terbaru Teater Koma, musik klasik, buku-buku bermutu yang wajib dibaca, debat capres Amrik. Oke, oke, ini topik menarik menurut saya.

Tapi intinya, ada banyak hal yang bisa dibahas selain pertanyaan dangkal macam gemuk kurus, nikah atau enggak, punya anak atau nggak. Be smart and wise, oke?

 

Rouli Esther Pasaribu
Penulis adalah pengajar paruh waktu di Program Pascasarja Kajian Wilayah Jepang UI.

Foto: Pixabay

0 Likes

Job Palar

Wartawan situs berita sinarharapan.net, penyuka traveling bersama keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This